
Bu Santi kok tiba-tiba ke sini dan menghampiri ku? Tumben sekali? Dan siapa pria di sebelahnya? Kenapa dia memangku Bayu anaknya Pak Rendi?
Batin Anton.
Anton menatap heran pada mereka berdua, kalau sama Bayu tidak. Karena diakan hanya anak kecil yang mengemaskan.
Santi dan Reymond memesan makanan dan minuman. Hampir terasa hening sekali, Anton makin di buat binggung dan canggung.
"Kau bilang sama Andra. Bilang kalau kau harus pulang duluan ada urusan!" ucap Santi sambil makan, melihat pada Anton.
"Tapi kenapa Bu? Dan Ibu kenapa tiba-tiba menemui saya di sini?" wajah Anton begitu binggung.
"Aku ada urusan denganmu sebentar, kau jangan kasih tahu Andra dulu! Itu juga kalau kau masih ingin kerja dengannya!" ucapnya mengancam.
Kenapa jadi aku di ancam begini? Memangnya Bu Santi bisa memecat ku menjadi asisten Pak Andra? Bagaimana sih maksudnya? Aku makin binggung.
Batin Anton.
"Anton bodoh! Cepat telepon Andra dan bilang!" pekik Santi.
"Baik, Bu," jawab Anton seraya mengangguk dan memencet layar ponselnya untuk menghubungkan bosnya.
"Halo, Pak Andra."
"Ada apa?"
"Saya ada urusan sebentar Pak, jadi harus segera pulang. Tidak bisa mangantar Bapak, apa tidak apa-apa?"
"Urusan? Urusan apa?"
"Saya ingin mengantar Istri saya menemui ibunya," tutur Anton berbohong.
"Oh. Ya sudah tidak apa," sahut Andra dengan santai.
Anton sudah menutup teleponnya, mereka yang di depan juga sudah selesai makan. Reymond sudah menyalakan perekam suara untuk merekam percakapan Anton nantinya, dia mengantongi ponselnya pada saku jas.
"Anton. Kau harus bicara jujur padaku! Itu juga kalau kau ingin merasa aman sekarang!" tegas Santi.
Deg.....
Sebuah kalimat yang mampu membuat Anton menelan saliva, dia merasa begitu binggung tercampur takut, wajah Santi terlihat begitu serius.
"Baik, Bu."
"Terakhir kali kau yang mengubungi Rendi, ketika dia ingin menjenguk Andra! Tapi saat itu kau bilang padaku kalau Rendi tidak datang ke rumah sakit! Dan saat itu juga Rendi menghilang sampai sekarang! Jadi ... Yang ingin aku tanyakan sekarang, kenapa pada malam itu kau terus-menerus menelepon anakku Rendi! Jujur dan katakan!" desak Santi.
Anton menghela nafas seraya berkata. "Saat itu memang keadaannya darurat Bu, saya binggung harus menghubungi siapa kalau bukan Pak Rendi. Diakan keponakannya, dan saya juga tahu Pak Andra dan Pak Rendi begitu dekat."
"Tapi kenapa kau menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit? Apa tujuanmu."
__ADS_1
Deg.....
"Tidak ada. Saya hanya memintanya untuk menjenguk, memangnya salah kalau seorang keponakan menjenguk Omnya yang sedang kritis?" Anton malah berbalik bertanya
Santi mengangguk-angguk dan mulai mencerna jawab dari Anton. Ada yang masuk akal dari ucapan Anton, tapi dia tidak begitu percaya seratus persen.
"Selain menghubungi Rendi. Kau hubungi siapa?"
"Riana, anak Pak Andra."
"Selain Riana?" tanya Santi.
"Tidak ada Bu, hanya mereka berdua."
Santi terdiam sejenak, lalu meneruskan bertanya.
"Rio! Apa kau hubungi Rio juga?" tanya Santi, karena kedua anaknya juga keponakan Andra.
Anton menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu."
"Kenapa?"
"Saya tidak punya nomornya saat itu."
Ah benar! Rio bahkan tidak terlalu akrab dengan Andra, kecuali sekarang. Dulu juga kita semua tidak ada yang menjenguk Andra pada saat dia rumah sakit. Aku sendiri yang melarangnya.
Batin Santi.
Anton menggelengkan kepalanya, "Tidak, Bu. Saya berkata apa adanya."
"Oke, aku simpan perkataan yang keluar dari mulutmu. Kalau sampai kau berbohong padaku! Aku akan menyeret mu ke dalam penjara!" tegas Santi mengancam.
Santi dan Reymond langsung membayar semua yang mereka pesan. Setelah itu mereka pergi meninggalkan Anton sendiri.
Sepeninggalan mereka, Anton meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
*****
Malam hari di rumah Hermawan.
Selesai makan malam Indah langsung mengajak Bayu ke kamar, anaknya juga sudah mengantuk. Indah membaringkan tubuh Bayu dan menarik selimut di atas dadanya, tidak lupa mengecup kening. Indah juga ikut berbaring.
Baru juga mulai memejamkan mata, suara ponselnya bergetar. Tangannya terulur meraih ponsel, terlihat nama 'Reyna' di depan layar.
Indah langsung mengangkatnya, "Halo."
"Selamat malam sayang."
Suara laki-laki yang terdengar. Jelas itu adalah Reymond, Indah sengaja menyimpan nomornya dengan nama seorang wanita. Karena takut ketahuan Ayahnya.
__ADS_1
"Malam, Mas."
"Kamu dan Bayu lagi apa sayang? Sudah makan?" tanya Reymond, mereka berdua seperti tengah LDRan saja, sama-sama di Jakarta. Tapi tidak bisa bersama.
"Aku sedang berbaring, Bayu juga sudah tidur. Kami juga sudah makan," jawab Indah membalas semua pertanyaan dari suaminya.
"Kamu tidak tanyakan aku juga? Aku rindu padamu tahu!" seru Reymond dengan manja.
"Ah iya Mas, kamu sudah makan dan lagi apa?"
"Aku sudah makan sayang, aku juga lagi berbaring. Juniorku bangun, kayaknya aku ingin tempur lagi deh," nada suaranya saja sudah mendesah begitu. Salah satu tangannya tengah memainkan miliknya di dalam celana kolor.
"Kamu ini, kemarin kan sudah. Oya, kamu dan Mamah pergi kemana? Bayu bilang dia habis ke rumah sakit. Ada apa Mas? Apa kau sakit?"
"Tidak sayang. Ah kamu memang begitu perhatian padaku," sahut Reymond dengan pipi yang sudah merona, dia seperti tengah kasmaran.
"Terus kenapa ke rumah sakit? Mamah tidak beritahu aku juga Mas."
"Mamah mengajakku untuk melakukan tes DNA dengan Bayu."
Deg....
"Tes DNA?! Buat apa? Memangnya Mamah tidak percaya kamu anaknya?"
"Aku tidak tahu, katanya buat jaga-jaga saja, tapi tidak masalah. Oya tadi Bayu hebat sekali, di ambil darahnya tidak menanggis sayang."
"Masa sih Mas? Wah hebat ..."
Tok ... Tok ... Tok.
Ucapan Indah terhenti akibat suara ketukan pintu, dia juga merasa takut. Kalau orang yang di balik pintu adalah Ayahnya.
"Mas, sudah dulu ya. Ada yang mengetuk pintu."
Tanpa jawaban dari Reymond, dia langsung menutup sambungan telepon. Padahal suaminya di sana masih sibuk mengelus-elus juniornya sambil mendengarkan suara Indah.
Indah bangun dan membuka pintu kamarnya, tidak lupa membuka kuncinya juga.
Ceklek....
Benar saja, di depannya sudah ada Mawan. Dia tengah berdiri dengan mengenakan kaos putih dan celana kolor pendek berwarna hitam selutut. Tangannya kanannya memegang segelas susu dan sebelah kirinya memegang paper bag.
"Papah. Papah belum tidur?" tanya Indah, basa-basi. Ada sedikit rasa takut dalam hatinya. Takut Mawan mendengar percakapan dia dengan Reymond.
Wajah Mawan terlihat tanpa ekspresi. "Harusnya Papah yang nanya. Kenapa kamu belum tidur? Dan tadi Papah dengan kamu bicara dengan seseorang. Siapa?"
Deg....
"Oh tadi Nella, Pah. Dia hanya bercerita," sahut Indah berbohong.
__ADS_1
"Ini buat kamu," kedua tangan Mawan sudah terulur memberikan apa yang ada di tangannya.