Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 102. Terima kasih, Mas


__ADS_3

Dan pada akhirnya lagi-lagi Rio yang mengalah, ia dan Wulan hampir satu jam berkeliling kota Bandung hanya membeli satu bungkus mie instan dengan rasa ayam bawang. Walau kesal, setidaknya Rio bisa membuat wanita itu tersenyum saat bersamanya.


"Ini terakhir kau makan mie ya, Wulan!" tegas Rio sambil mengunci pintu saat mereka berdua masuk lagi kedalam kamar Hotel.


Kok terakhir? Mana bisa' batin Wulan.


"Eemm ... iya, Mas. Tapi Mas Rio tidak makan? Apa tidak lapar?"


"Tidak, aku mau langsung tidur. Ngantuk."


"Selamat tidur, Mas."


"Iya." Rio langsung melangkahkan kakinya menuju tempat tidur. Ia segera merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.


.


.


.


.


.


.


Pagi hari.


Deringan ponsel milik Rio terdengar begitu nyaring, hingga membuat dua insan yang tengah tertidur mulai terganggu. Namun hanya Wulan yang mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, ia menepuk pelan lengan Rio yang berada di perutnya.


"Mas ... bangun, Mas. Ponsel Mas Rio bunyi."


"Eemm ...," Rio hanya bergumam dengan mata yang tertutup rapat.


Panggil itu kembali berdering setelah sekali tidak diangkat. Wulan mengangkat tubuhnya dan kembali menepuk lengan suaminya. "Mas ... angkat dulu teleponnya, takutnya penting."


"Argh! Menganggu saja! Lagi enak-enak tidur juga!" gerutu Rio sambil membalik tubuhnya dan menarik lengannya pada perut Wulan.


Ia membuka matanya secara perlahan, tangannya segera mengambil ponsel diatas nakas dan tertera nomor baru pada layar.


"Halo, selamat pagi," ucap seorang wanita dari sambungan telepon itu. Suaranya begitu lembut dan sedikit menggoda.


"Ini siapa?" tanya Rio dengan suara serak.


"Aku Mitha Anastasya, ini dengan Pak Rio Pratama, bukan?"


"Iya, aku Rio. Kau Mitha siapa? Aku tidak mengenalmu." Rio mengusap-usap matanya yang terlihat agak buram.


"Aku seorang model di perusahaan Om Hermawan."


Mau apa modelnya Papah meneleponku?


"Dari siapa kau punya nomorku?"


"Dari Om Hermawan."


Papah? Ngapain Papah memberikan nomorku padanya.


"Maaf aku menganggu Bapak pagi-pagi."


"Ada perlu apa kau denganku? Kantorku tidak butuh model!"

__ADS_1


"Aku hanya ingin bertanya, apa setelah Pak Rio pulang dari Bandung kita bisa bertemu?"


Kok dia tau aku ada di Bandung?


"Kalau bukan masalah pekerjaan, aku tidak bisa. Aku orang yang sibuk!"


"Saya hanya ingin berteman dengan Bapak, kata Om Hermawan Bapak sedang butuh teman."


Apa-apaan sih Papah? Siapa juga yang butuh teman?


Rio langsung mematikan sambungan telepon dan menaruh ponselnya kembali diatas nakas. Namun tak lama wanita itu kembali meneleponnya, tapi panggilan itu Rio biarkan begitu saja.


Pria itu beranjak dari tempat tidur dan mengikuti Wulan yang hendak masuk kedalam kamar mandi. Ia langsung mengangkat tubuh wanita itu tanpa permisi. Hingga membuat Wulan tersentak kaget.


"Astaghfirullah, Mas ... aku kaget!"


"Masa? Ngomong-ngomong, milikmu masih sakit atau tidak?"


"Eemm ... Mas Rio, mau ... mau ...."


Cup~


Rio mengecup bibir Wulan sekilas dan menurunkan tubuhnya diatas bathtub. "Kita bercinta lagi, semalam 'kan gagal."


"Masih sakit tidak milikmu?" tanyanya lagi.


Tangan Rio perlahan menerobos masuk kedalam celana tidur Wulan dan menyentuh tubuh bagian bawahnya.


"Perih, tidak?" satu jarinya berhasil masuk kedalam sana.


"Eemm ... tidak, Mas ...," lirih Wulan seraya mengigit bibir bawahnya. Tubuhnya seketika meremang tak karuan kala jari tangan Rio bergerak naik turun.


"Bagus, kita bisa bercinta lagi." Rio menarik lengannya dan melucuti pakaiannya Wulan. Ia juga dengan cepat menghempas pakaiannya hingga keduanya sama-sama polos.


Eemm ...."


"Jangan bilang perih dan sakit! Kali ini tidak akan sampai tiga jam," tegur Rio.


"Iya, Mas. Tapi ... apa kita tidak sarapan dulu saja? Mas Rio bukannya belum makan dari semalam?"


"Ini aku sedang sarapan. Kau jadi sarapanku, Wulan," sahutnya dengan senyuman nakal.


Kedua tangan Rio memegang kepala Wulan, ia mendekatkan wajahnya untuk mengajaknya berciuman.


Cup~


Rio dengan ganasnya mengajak Wulan untuk olahraga pagi.


***


Di rumah Hermawan.


Mawan, Santi, Indah, Reymond dan Bayu tengah sarapan bersama di ruang makan, mereka menyantap sepiring nasi gorengnya masing-masing.


"Pak Reymond, maaf ... ada Pak Dion di luar menunggu Bapak," ucap Bibi pembantu yang datang menghampirinya di ruang makan.


"Suruh masuk saja, Bi. Aku sedang sarapan." Reymond tengah mengunyah nasi goreng itu didalam mulutnya.


"Saya sudah bilang, tapi katanya ada urusan penting dengan Bapak."


"Yasudah." Reymond meraih segelas air minum dan menenggaknya setengah. Lalu ia bangun dari duduknya. "Sayang, aku keluar dulu," ucapnya pada Indah yang sedang menyuapi Bayu.

__ADS_1


"Iya, Mas."


Reymond melangkahkan kakinya keluar dari pintu utama rumah Mawan. Ia melihat Dion tengah berdiri menunggunya.


"Selamat pagi Pak Reymond," sapanya dengan sedikit membungkuk.


"Pagi, ada apa Dion?"


Tangan Dion merogoh sesuatu yang berada di saku jasnya. Ternyata sebuah amplop putih.


"Ini hasil tes DNA-nya Pak, sudah keluar," ucap Dion seraya mengulurkan tangannya pada Reymond, memberikan amplop itu.


Pria tampan itu langsung merobek ujung amplop untuk mengambil isi didalamnya. Ia perlahan membuka dan membaca hasil tes DNA.


Netranya membola dengan sempurna. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Antoni dan apa yang dipikirkan oleh Rio. Kemiripan Clara dan Indah memang mutlak karena gennya sama.


Clara adalah adiknya, anak kandung Mawan dengan Siska.


Reymond begitu syok melihat tulisan COCOK pada kertas itu. Tapi ketahuilah, ia sangat senang. Perjuangannya tidak sia-sia untuk bisa menemukan adiknya Indah.


"Bagaimana hasilnya, Pak?" tanya Dion yang ikutan penasaran.


Reymond melihat kearah Dion dengan menampilkan senyuman terindah. " Clara adiknya Indah, Dion. Ternyata Siska tidak berbohong."


Dion ikut-ikutan senang dan menarik senyum bahagia. Bukankah sebagian kebahagiaan Reymond adalah kebahagiaan dia juga? Benar, kan?


"Syukurlah, Pak."


Reymond langsung berbalik badan dan berlari masuk kedalam rumah menuju ruang makan. Rupanya mereka semua sudah menyelesaikan sarapannya.


"Sayang ...," panggil Reymond seraya mencium dan memeluk istri tercintanya yang baru saja mengangkat bokongnya.


"Kau kenapa sih? Lebay banget," celetuk Mawan dengan tatapan sinis.


Reymond meregangkan pelukannya dan memegang kedua pipi Indah. "Aku sudah menemukan adikmu, Sayang!"


Deg~


Mata Indah membola dan langsung berbinar-binar. "Adikku? Benarkah? Siapa Mas?"


'Apa ini artinya Clara adalah anakku? Si anak penyakitan itu?' batin Mawan.


"Siapa adiknya Indah, Rey? Sudah pasti atau belum? Jangan buat istrimu sedih," ucap Santi yang tengah mengendong Bayu.


"Benar, Mah. Ini serius, sudah yakin seratus persen!" sahut Reymond dengan mantap.


"Lalu siapa?" tanya Santi lagi.


"Clara, Clara adiknya Indah!"


Deg~


Mata Santi dan Indah membelalak. "Clara?!" mereka sampai berucap bersama dan sama-sama kaget. "Bukannya Clara anaknya Pak Wahyu?" lagi-lagi Indah dan Santi berkata dengan ucapan yang sama.


"Dia anak adopsi dari panti asuhan yang sama dengan Shelly, Bu Susan sendiri yang mengatakannya."


Indah langsung mencium pipi kiri suaminya dan memeluknya dengan erat. "Alhamdulilah, akhirnya aku bertemu dengan adikku, Mas. Aku senang sekali. Terima kasih ... terima kasih, Mas."


"Iya sayang sama-sama."


Santi dan Mawan melayangkan pandangan, nampaknya kedua orang tua itu tidak bahagia sama sekali mendengar perkataan Reymond. Tapi keduanya punya alasan masing-masing.

__ADS_1


^^^Kata: 1081^^^


__ADS_2