Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 114. Terimalah kekalahanmu!


__ADS_3

"Apa? Apa yang kau katakan?" tanya Wahyu.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Ayah! Ayah bisa tanyakan pada Wulan." Rio mengedikkan kepalanya saat melihat Wulan dan Clara datang menghampiri mereka bertiga.


"Mas ... ada apa?" tanya Wulan.


Wahyu langsung menoleh kearah putrinya. "Wulan, kau dulu putus dengan Dido karena apa?"


"Kok Ayah bertanya seperti itu? Itu sudah masa lalu, Ayah. Kenapa musti di bahas?" Wulan benar-benar malas kalau sudah membahas masalah itu, mengingat ada Rio juga disana.


"Wulan, apa kau cerita alasanmu putus dengan Dido pada Ayah? Apa kau bilang pada Ayah kalau Dido meninggalkanmu karena menikah dengan wanita lain?" tanya Rio dengan helaan nafas panjang, ia berusaha melepaskan rasa kesal di dadanya.


Wulan melihat Rio, Wahyu dan Dido secara bergantian. Mereka bertiga seperti tengah menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya.


"Tidak, Mas."


"Lalu? Apa benar yang dikatakan Rio barusan?" tekan Wahyu.


"Iya, benar Ayah. Dulu Kak Di--"


"Jangan panggil Kakak!" sela Rio.


"Pak Dido, aku dulu putus dengannya karena dia menikah dengan wanita lain. Dia meninggalkanku, Ayah," paparnya.


Wahyu membulatkan kedua matanya dan menatap tajam kearah Dido. Pria berkumis tipis itu membeku di tempat dan tidak mampu berkata-kata.


Si Wulan kenapa jujur? Gagal dong rencanaku, bisa-bisa Om Wahyu membenciku.


Wahyu kembali menatap lekat wajah putrinya. "Kenapa kamu tidak pernah cerita pada Ayah, Wulan? Ayah tidak pernah tau alasanmu putus dengannya, kamu hanya bilang kalian tidak berjodoh. Itu saja," lirihnya.


'Pantas saja Ayah bersikap baik dengan Dido, ternyata memang dia tidak tau betapa brengs*knya si Dido ini' batin Rio seraya melotot pada mantan asistennya.


Wulan meraih salah satu tangan Wahyu dan menggenggamnya dengan erat. "Aku tidak cerita karena menurutku itu tidak penting. Lagian dulu aku begitu prustasi Ayah, apa Ayah ingat saat aku berhenti kerja?" Wahyu menganggu pelan. "Iya, saat itu aku begitu patah hati karena putus cinta."


"Tapi kenapa kau musti berbohong, sih? Kau hanya bilang berhenti kerja karena habis tertabrak mobil."


"Iya. Alasannya itu tadi, karena aku menganggapnya tidak penting. Aku juga tidak mau menambah beban pikiran Ayah, aku tau Ayah capek jualan seharian," jelas Wulan.


Ya, memang Wulan ini selalu menyimpan masalahnya sendiri. Ia tidak pernah mau orang lain tau, meskipun itu adalah Ayahnya sendiri. Wulan ingat perjuangan Wahyu hidup bersamanya tanpa sosok seorang ibu, ditambah lagi Clara yang sakit-sakitan.


Meskipun Wulan belum bisa membahagiakannya, setidaknya ia tidak menambah beban pikiran ayahnya.


"Harusnya kamu jangan seperti itu sayang. Jangan ... jangan pernah menutupi semua masalahmu sendiri, Ayah tidak suka. Ayah merasa gagal menjadi Ayah untukmu." Wahyu mendekatkan dirinya untuk memeluk dan mengusap-usap punggung putrinya.

__ADS_1


"Tidak, Ayah tidak boleh bicara seperti itu. Ayah adalah Ayah yang terbaik untukku."


Melihat Wulan dan Wahyu memeluk satu sama lain, Clara juga ikut-ikutan memeluknya. Merasakan hangat dan nyamannya kasih sayang keluarga.


"Kalau Ayah sudah tau sekarang, aku minta Ayah jangan begitu akrab dengan Dido. Aku tau betul Dido masih mencintai Wulan, Ayah. Aku tidak mau seseorang merebut istriku!" tegas Rio.


Mereka bertiga melepaskan pelukan, Wahyu melihat wajah Rio yang menatapnya dengan penuh harap.


"Iya, mulai sekarang Ayah akan jaga jarak dengannya." Wahyu beralih menatap wajah Dido, pria itu masih diam mematung. "Om sudah memaafkanmu Dido, Om juga tau betapa baiknya kamu dulu pada Om dan Wulan. Tapi kalau alasan kamu putus dengan Wulan karena meninggalkannya ... Om pikir cukup sampai disini saja. Kau jangan temui Om, Clara ataupun Wulan. Turuti apa yang Rio katakan."


"Yes!" Rio tersenyum puas atas kemenangannya kali ini, namun tatapan matanya masih tajam mengarah pada wajah pria yang sudah berhasil ia kalahkan.


"Tapi, Om. Aku hanya ingin menjalin silaturahmi, apa tidak boleh?" tanya Dido dengan wajah sedih. Entah itu dibuat-buat atau memang benar ia sedih.


"Iya, Om tau itu. Tapi mulai sekarang rumah ini di tempati oleh Rio juga. Dia suaminya, Wulan." Wahyu mengelus pundak Rio sebentar dan melihat wajah menantunya yang sudah berseri-seri. Sungguh, Rio benar-benar bahagia.


"Om tidak mau mereka berantem hanya karena kehadiranmu. Maafkan Om, Dido," tambahnya.


"Tapi Om--"


"Tidak ada tapi-tapi!" sergah Rio.


"Ayok kita berempat masuk kedalam, katanya ada kabar gembira. Ayah belum tau itu," ucapnya seraya mengandeng tangan Clara, mengajaknya untuk masuk kedalam rumah.


"Mampus kau Dido! Terimalah kekalahanmu! Hahahaha!" kekeh Rio dengan puas sambil menunjuk-nunjuk pria didepannya.


"Mas ayok!" Wulan menarik lengan Rio.


Rio merangkul bahunya dan mencium keningnya dengan lembut, sambil berjalan masuk kedalam rumah. "Aku bahagia sekali Wulan, akhirnya Ayah memihakku."


"Iya, Mas. Aku juga bahagia."


"Ah, ini semua gara-gara kau sih! Coba dulu kau cerita pada Ayah penyebab putus dengan si Duda itu. Pasti Ayah akan membencinya," dengus Rio dengan wajah cemberut.


"Katanya tadi bahagia? Kok sekarang begitu?"


Rio langsung menarik senyumnya. "Tidak kok, aku benar-benar bahagia. Apalagi dengan hadirnya buah cinta kita." Rio mengelus perut Wulan dengan lembut. "Buatnya perjuangan ini Wulan, saat ranjangmu roboh. Untung saja kita jadi bercinta," kekehnya.


"Sebenarnya itu ranjang kuat lho, Mas. Aku juga heran kenapa bisa sampai roboh."


"Kuat apanya? Sudah rapuh begitu. Berapa tahun itu ranjang?"


"Mungkin waktu aku sekolah SMP. Iya ... aku ingat pas Ayah membelinya."

__ADS_1


Netra Rio membola dan menoleh kearah istrinya. "Kau serius?" Wulan mengangguk pelan. "Itu sudah lama sekali. Wajar kalau roboh! Tapi sekarang ranjang yang aku beli pasti kokoh. Kita bisa bercinta sepuasnya, Wulan."


Dasar mesum kamu, Mas.


***


Rio berdiri disamping Wulan yang tengah duduk di sofa bersama Wahyu dan Clara.


Ia merogoh kembali saku jasnya untuk memperlihatkan gambar hasil USG.


"Ini Ayah, coba lihatlah," ucapnya seraya meletakkan foto itu diatas meja.


Wahyu membulatkan matanya, lengannya terulur untuk mengambil selembar foto itu. Tetesan demi tetesan sudah mulai berjatuhan, ia tau hasil apa itu. Dan ia juga tau, betapa bahagianya dirinya, Wulan, Rio dan juga Clara.


"Wulan hamil? Benarkah? Ayah akan punya cucu?" Wahyu menatap wajah Wulan yang berbinar-binar, wanita itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Seketika itupun Wahyu memeluk dan mengelus perut putrinya. "Alhamdulilah, selamat sayang. Selamat ... Ayah sangat bahagia."


"Aku juga bahagia Ayah," jawab Wulan yang ikut-ikutan melow, kerena terharu.


"Kenapa Ayah dan Kakak menangis? Apa itu hamil Ayah?" tanya Clara dengan polosnya.


Wulan meraih tangan Clara dan tersenyum padanya. "Didalam perut Kakak, ada Dedek bayi sayang."


Mata Clara membulat sempurna. "Hore!! Sebentar lagi Clara punya temen. Clara sayang Kakak, sayang Dedek bayi." Gadis kecil itu naik keatas sofa dan memeluk Ayah dan Kakaknya.


Karena merasa iri tidak mendapatkan pelukan, Rio memberanikan dirinya untuk ikut memeluk mereka dan mencuri kecupan pada pipi istrinya.


"Aku juga bahagia Ayah."


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Yuk, buat yang masih suka dengan novel ini, bisa beri dukungannya. Vote, gift, like dan komen kalian aku tunggu.


Terima kasih 🖤


__ADS_2