
Di episode kali ini mengandung konten 18++, mohon bijak dalam membaca.
Happy Reading π€
πΌπΌπΌπΌπΌ
"Maaf Pak boleh saya bertanya? Apa Bapak sedang terluka? Apa perlu saya panggilkan Dokter?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut pengacaranya itu.
"Oh tidak perlu. Malah aku ingin menyuruhmu menunggu di depan pintu." Kata Rendi sambil mengerakkan tangannya.
"Menunggu? Maksudnya bagaimana Pak?" tanya Harun yang binggung dengar perintah Rendi.
"Kau jaga di depan pintu, bila perlu aku butuh bodyguard ku juga untuk berjaga menemanimu. Mereka kemana?" tanya Rendi sambil menenggok kanan-kiri.
"Mereka sedang ngopi di luar, tapi hanya dua orang Pak, sisanya saya pulangkan." Jawab Harun.
"Itu tak masalah." Dengkus nya, "Pokoknya malam ini jangan sampai ada yang boleh masuk atau mengetuk pintu menganggu ku di dalam. Termasuk Dokter atau suster." Tegasnya.
"Memang kenapa Pak?" tanya Harun semakin penasaran.
"Aku ada tugas negara. Kamu nggak usah banyak bertanya, cukup kerjakan apa yang aku perintahkan tadi." Perintahnya dan berlalu masuk ke kamar rawatnya.
Rendi mengunci pintu lalu menarik hordeng, untuk menutup kaca di sebelahnya.
Dia berjalan menghampiri Indah yang tengah duduk terdiam. "Mas kenapa di kunci dan di tutup?" tanya Indah dengan polosnya.
"Nanti aku beritahu." Ucap Rendi kemudian menaruh salep di atas meja dan melepaskan jarum infusan di punggung tangannya.
"Mas apa yang kamu lakukan?" tanya Indah dengan kaget melihat apa yang Rendi lakukan. Dia langsung turun dari tempat tidur dan menghampiri Rendi. "Kamu tidak boleh lakukan ini, kamu masih butuh cairan." Dengan cepat Rendi merekatkan plester ke punggung tangannya.
"Aku sudah sembuh. Jarum ini sangat menganggu aktivitasku." Katanya yang langsung memeluk Indah dan menuntutnya untuk naik lagi ke tempat tidur.
"Aktivitas? Memang kamu mau ngelakuin apa? Biar aku yang bantu." Tanya Indah yang masih binggung, karena Rendi sendiri tidak menjelaskan. "Kamu harus pasang lagi jarum infusnya," Indah mulai menurunkan kakinya namun Rendi langsung mendekapnya dari belakang.
"Itu tidak perlu, malam ini aku hanya butuh kamu." Lirihnya di telinga Indah, entah kenapa bulu kuduk Indah seakan merinding.
"Apa sekarang kita bisa melakukannya?" pinta Rendi sambil mencium leher Indah supaya dia merasa sedikit bergairah
__ADS_1
"Maksud kamu... Melakukan itu?" tanya Indah ragu-ragu.
"Ya...." Jawab Rendi dengan hembusan nafas di telinga Indah yang makin membuat dirinya merasa geli tak karuan.
"Tapi ini.... Di rumah sakit Mas.... Aaakkhhhh... Lagian kamu kan sedang sakit, apa tidak tunggu.... Kamu sembuh saja?" tanya Indah sambil merem melek, merasakan lidah Rendi yang lincah bermain di lehernya.
Rendi langsung mengangkat tubuh Indah dan menaruhnya di pangkuannya, kini mereka saling berhadapan. "Kamu pikir aku selemah itu?" tanya Rendi sambil memegang dagu Indah dengan satu tangannya.
Indah merasa ada benda keras yang tertindih di bawah bokongnya, "Aku tidak bilang begitu Mas... Aku.... Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan." Katanya dengan nada terbata-bata.
"Kita lihat saja siapa yang akan kelelahan." Timpalnya, "Apa kau siap melakukannya sekarang?" tanya Rendi sambil mengelus bibir Indah.
"Nanti kalau ada orang......."
Cup..... Bibirnya langsung saja Rendi serang. "Tidak akan ada yang datang. Aku jamin." Kata Rendi meyakinkan Indah.
Cup.... Dia kembali meraup bibir manis istrinya atas bawah, dan mencari lidah untuk dirinya hisap. Tangannya perlahan menarik dress keatas dan melepaskannya, Rendi memainkan ciumannya lagi. Tangannya kini meraih pengait bra untuk membukanya dan langsung saja dia lempar.
Pemandangan yang Indah dengan dua buah gundukan di sana. Dengan cepat Rendi merebahkan tubuh Indah dan dia mulai melepaskan semua pakaiannya, "Mas....." Kata Indah sambil mengigit bibir bawah, terlihat dia sangat takut.
"Kamu tidak perlu takut, aku akan main pelan-pelan." Kata Rendi kemudian dia menarik celana segitiga yang Indah kenakan. Nafsunya kini sudah sangat bergelora, dengan cepat Rendi memburu buah dada Indah untuk dirinya hisap, dengan satu tangannya mengelus-elus area sensitif milik istrinya itu.
Indah mulai menarik-narik bantal yang menyangga kepalanya, dengan tubuh yang melonjak menggeser kesana kemari, seperti ada sesuatu yang hendak ia keluarkan.
Rendi melebarkan kedua paha Indah dan perlahan memasukkan pisang raja miliknya, membuat Indah merintih kesakitan.
"Eeemmmmm." Dengan cepat bibir Rendi membungkam bibir Indah supaya dia tidak berteriak, padahal baru setengah yang di masukkan tapi dia sudah merasa kesakitan.
"Sedikit lagi Ndah, kau tahan ya." Kata Rendi dengan sekali hentakkan dia memasukkan semua tanpa menyisakan seujung pun.
Akhirnya jos juga.
Batin Rendi, merasa bahagia dan nikmat yang luar biasa.
Cup...... Air mata Indah kini mengalir, merasakan sakitnya malam pertama. Dengan cepat Rendi menghapusnya, lengan Indah Rendi tuntun untuk mengalungkan di tengkuknya.
Kini tubuh Rendi sudah mulai maju mundur, membuat Indah makin tidak karuan.
__ADS_1
"Mas... Aku tidak tahan lagi..." Lirih Indah sambil meringgis.
"Sabar sayang.... Sebentar lagi...." Rayu Rendi sambil meremas-remas buah dada dengan penuh nafsu.
"Aku mau pipis.... Mas..." Kata Indah dengan nafasnya yang sudah tersengal-sengal.
Rendi mempercepat memompanya naik turun, tangan Indah dengan refleks meremas pundak Rendi.
Dan mereka mendesah secara bersama. Nikmat mana lagi yang kau dustakan wahai Rendi Pratama.
Breess........ Semua cairan miliknya dia tumpahkan kedalam milik Indah, sekujur tubuh Indah sangat lemas. Dia juga sudah mencapai klimaks, sama-sama merasakan nikmatnya.
Sekarang Indah hanya bisa bengong, dengan aktivitas yang dilakukan bersama Rendi.
Untung saja di dalam kamar itu kedap suara, jadi suara desah dan desis mereka. Tidak begitu nyaring terdengar dari luar.
Apa gini rasanya malam pertama? Sakit sekali, tapi agak aneh.
Batin Indah.
Rendi membaringkan tubuhnya di samping Indah sambil memeluknya, "Apa sakit sekali?" tanyanya, Indah hanya mengangguk pelan.
"Tidak apa-apa sayang, nanti juga kamu akan ketagihan." Rendi mengecup kening istrinya, "Aku mencintaimu."
Aku juga mencintaimu Mas.
Batin Indah. Kemudian mereka berlanjut untuk berciuman sambil memejamkan kedua matanya.
βοΈβοΈβοΈ
30 menit sebelumnya, terlihat ibu dan ayahnya Rendi datang lagi ke rumah sakit dengan membawa beberapa kantong plastik di tangannya.
Dua bodyguard itu berjaga di depan sama halnya dengan Harun yang tengah duduk. Santi mendekati pintu mencoba membukanya, "Maaf Bu Santi, Pak Rendi tidak boleh di ganggu." Kata Harun mencoba mencegahnya.
"Apa maksudmu tidak boleh di ganggu. Saya ingin memberikan makanan." Sahut Santi agak sewot.
"Maaf Bu ini perintah dari Pak Rendi, beliau ada tugas negara."
__ADS_1
"TUGAS NEGARA??" Kata Santi dan Mawan berucap secara bersamaan.