Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 70. Apa mungkin tespeck-nya yang rusak?


__ADS_3

Wajah Mawan terlihat sangat tidak ikhlas, ketika Indah menyebutkan nama itu, tapi pagi ini dia tidak ingin marah-marah, karena merasa tidak tega melihat Indah sakit.


"Biar Antoni saja yang kesini, kamu tidak perlu kesana."


"Iya, Pah."


"Yasudah. Papah berangkat kerja dulu, kamu baik-baik disini. Istirahat, jangan kemana-mana," ucap Mawan.


"Iya."


Bibir Mawan mendarat pada kening anak dan cucunya. Bayu sudah duduk menyender ditubuh Indah.


Dia berjalan keluar dari kamar Indah. Selang beberapa lama Mawan pergi kerja, Santi masuk kedalam kamar Indah dengan Susi. Tangan Santi memegang plastik hitam.


"Sayang. Kamu kenapa? Sakit?" tanya Santi seraya memeluk Indah.


"Aku tidak apa-apa kok, Mah."


Santi menoleh pada Bayu yang sibuk bermain mobil diatas kasur. "Susi kau urus Bayu dulu. Ajak dia mandi di kamar tamu dan suapi dia sarapan."


"Baik, Bu," sahut Susi seraya mengajak Bayu untuk keluar dari kamar Indah.


Tangan Santi membuka plastik yang dia pegang dan membuka kardus, ternyata isinya sebuah tespeck.


"Sayang, kamu coba dulu. Mamah masih penasaran kamu hamil atau tidak." Santi memberikan benda itu ke tangan Indah dan mengajaknya masuk kedalam kamar mandi.


"Tapi aku ragu, Mah," ucap Indah.


"Coba saja dulu sayang, sebentar. Mamah ambil mangkuk kecil untuk tempat air pipis kamu."


Santi pergi keluar dari kamar untuk mengambil mangkuk stainless di dapur dan balik lagi menemui menantunya, Indah masih menyender di ambang pintu kamar mandi. Badannya terasa begitu lemas.


"Ini." Santi memberikan mangkuk itu, Indah mengangguk dan menutup pintu kamar mandi.


Kakinya sudah berjalan mondar-mandir didepan pintu kamar mandi, masih berharap dan penasaran akan hasilnya.


Semoga saja Indah hamil lagi, iya. Semoga saja.


Batin Santi penuh harap.


Setelah beberapa menit Indah keluar dengan memegang tespeck itu. Tapi wajahnya terlihat sangat kecewa.


Santi memeluknya, "Kenapa sayang? Bagaimana hasilnya?" tangannya sudah mengambil alih benda itu dari tangan Indah.


Hasilnya begitu mengecewakan, hanya ada garis satu yang berarti hasilnya negatif.


"Negatif?!"

__ADS_1


"Iya, Mah. Aku juga ragu kalau aku hamil, maafkan aku ya?" tanya Indah, air matanya langsung berlinang.


Santi mengajak Indah duduk diatas kasur di sebelahnya, tangannya menyeka air mata Indah. "Kenapa kamu minta maaf? Ini bukan salah kamu."


Santi masih belum yakin dalam hati, benar atau tidak hasil itu. "Apa mungkin tespeck-nya yang rusak? Apa kita periksa saja ke Dokter, untuk memastikan hasilnya sayang," ajak Santi.


"Tidak perlu, Mah. Aku memang tidak hamil kayaknya," tolak Indah.


Santi memeluk tubuh Indah dan mencium keningnya, matanya masih melihat pada benda di tangannya.


Aku masih ragu dengan hasilnya, apa mungkin alatnya rusak? Harusnya kemarin aku beli jangan satu, biar hasilnya lebih akurat. Dilihat dari kondisi Indah, aku yakin sekali dia seperti wanita hamil.


Batin Santi.


***


Setelah Siska menikmati hasil uang dari menusuk dan membakar Rendi. Dia segera berobat keluar negeri untuk mengobati penyakitnya itu.


Sama halnya dengan Rendi, dia juga berhasil menyembuhkan kanker rahimnya di Singapura. Hasil kemo dan operasi pengangkatan rahimnya berjalan dengan lancar. Walau kenyataannya dia tidak akan mempunyai keturunan selamanya.


Kalau tahu akan terjadi seperti ini. Siska jadi menyesal membuang bayinya dulu, entah dia masih hidup atau tidak sekarang. Siska juga pernah mencarinya di panti asuhan, barang kali bayi itu ada yang mengambil dan menitipkan disana. Tapi tidak ada hasil dan caranya untuk mengetahui siapa bayinya itu.


Karena mengingat lagi kalau bayinya dulu tidak sedarah dengannya, mungkin cocok dengan darah ayahnya.


Dia ingin mencoba memastikan lagi untuk mencari tahu lewat DNA ayah dari anaknya, tapi sepertinya tidak bisa. Karena hubungan diantaranya tidak baik.


Siska juga punya skill menggoda pria sangat jitu. Tidak diragukan lagi, karena dulu saja dia mampu menaklukkan hati Mawan dan Rendi.


Siska sekarang juga berhasil mendapatkan Haris dan menikmati uangnya.


Mereka memang tinggal satu atap selama beberapa bulan, tapi Haris belum pernah mengajaknya untuk menikah. Siska sendiri sama saja, pikirannya hanya uang dan kepuasan semata. Tidak pernah berubah dari dulu.


Haris sudah rapih memakai setelan jas, tapi tangannya mendorong koper seraya berjalan menuju meja makan. Sudah ada Siska tengah duduk menunggu.


"Mas. Kamu bawa koper? Mau kemana?" tanya Siska sambil mengunyah sarapan.


Haris menaruh koper didekat kursi yang sekarang ia duduki. "Aku hari ini mau pergi keluar kota sayang."


Siska menghentikan sarapannya sejenak. "Keluar kota? Kenapa kau tidak bilang padaku? Aku tidak kamu ajak?"


"Tidak, kamu di rumah saja," sahut Haris.


"Kok tumben sih? Berapa lama kamu pergi?"


"Seminggu."


Siska mengerucutkan bibirnya. "Kok kamu jahat sih, Mas! Aku kesepian dong!"

__ADS_1


"Kamu 'kan bisa shoping atau kemana." Haris tidak menghiraukan ucapan Siska yang tengah merengek ingin ikut.


Haris mempercepat sarapan dan bangun dari duduknya, "Ya sudah. Aku pergi dulu, kamu jaga diri baik-baik ya," ucap Haris seraya mencium kening Siska.


"Iya, kamu jangan selingkuh Mas."


"Tidak sayang, kamu juga jangan selingkuh." Haris meraih koper dan mendorongnya untuk keluar dari rumah.


Kenapa dia pergi tidak ajak aku? Tumben sekali. Ah tapi bodo amat deh, yang penting dia memberikanku uang. Aku bisa shoping ke Mall.


Batin Siska.


Dia bangun dari duduk. Kakinya melangkah menuju kamar untuk mengambil tas, dia hari ini ingin menghambur-hamburkan uang yang Haris berikan padanya.


***


Sementara itu, pagi-pagi Rio sudah datang ke kantor Mawan. Dia ingin mengadu tentang apa yang dia lihat semalam, semakin Mawan membenci Reymond. Itu akan lebih bagus dan menguntungkan baginya.


Rio sudah berada didepan pintu ruangan Mawan. Tangannya mengepal dan terangkat.


Tok ... Tok .... Tok.


"Pah."


"Masuk," sahut Mawan dari dalam.


Ceklek.....


Dia berjalan masuk dan duduk diatas sofa.


Mawan terlihat sangat sibuk dan menatap layar laptop didepannya.


"Papah lagi sibuk?" tanya Rio.


Mawan memiringkan kepalanya, melihat pada Rio. "Tidak. Sebentar ya."


"Iya, Pah."


Setelah selesai menyeleksi foto-foto model untuk prodak kosmetik perusahaannya, Mawan melipat laptop dan berpindah duduk disamping Rio, diatas sofa.


"Ada apa?" tanya Mawan.


Rio mengambil ponselnya dari saku jas, memperlihatkan foto Reymond yang sedang memberikan kartu nama didepan Siska, tubuh mereka begitu dekat.


Mata Mawan terbelalak. "Apa maksud kamu? Kenapa tunjukkin foto si mesum ini?! Ini tidak penting Rio!" pekik Mawan kesal.


Sudah kuduga sebelumnya, dia memang pria mesum yang suka main wanita. Aku tidak akan merestui hubungan dia dan Indah! Secepatnya Indah harus putus dengannya!

__ADS_1


Gerutu Mawan.


__ADS_2