
"Berapa harga semua boneka ini Pak. Saya beli." Ucap Mas Rendi pada tukang boneka sambil memberikan beberapa lembar uang yang tak terhitung.
"Mas kau tidak perlu beli semuanya." Tapi Mas Rendi tidak mendengarkan ku.
"Vinno maafkan suamiku ya, nanti uang bonekanya aku ganti." Aku merasa tak enak hati karena sikap Mas Rendi padanya.
"Berapa memang uang yang kau pinjam sayang?"
"500 ribu Mas." Mas Rendi langsung memberikan uang itu pada Vinno.
"Tidak us...."
"Kau ambil saja Vinno tidak usah di tolak." Aku menyela ucapannya, kalau dia menolak Mas Rendi pasti akan marah.
"Ya sudah kalau gitu gue duluan Ndah." Aku mengangguk dan dia berlalu pergi.
Aku melambaikan tangan pada gadis kecil itu, dia langsung berlari dan memelukku. Hangat sekali pelukannya, "Sayang kau pilih yang mana?" Tanya ku sambil menunjuk.
"Sayang kamu kenapa...."
"Shelly." Panggil seorang wanita paruh baya yang menghampiri kami, menyela ucapan Mas Rendi.
Gadis kecil itu menenggok. "Bu Susan aku, mau di belican boneka pada Kakak ini." Ucapnya sambil menunjuk diriku.
"Terimakasih Mbak, maaf merepotkan, perkenalkan saya Susan ibu pantinya Shelly." Dia mengulurkan tangan aku pun membalasnya.
"Saya Indah. Dan ini suami saya." Aku juga mengenalkan Mas Rendi, dia juga berjabat tangan dengan Bu Susan.
Tak lama beberapa gerombolan anak menghampiri kami, mereka semua iri karena melihat Shelly yang sedang memegang boneka.
"Anak-anak kalian mau yang mana pilih saja." Ucapku, anak-anak itu langsung senang dan memilih bonekanya masing-masing.
"Mbak apa itu tidak kebanyakan, membelikan semua anak-anak boneka?" Tanya Bu Susan dia terlihat tak enak padaku.
"Sayang tapi aku kan....."
"Tidak apa Bu, suami saya yang membelikannya," sahutku menyela ucapan Mas Rendi.
"Terimakasih ya Pak, kalian berdua benar-benar orang baik."
"Sama-sama Bu." Aku menjawabnya.
Setelah itu aku dan Mas Rendi balik lagi berjalan menghampiri Mamah yang ku tinggalkan sendiri di tepi danau.
"Sayang kenapa kau tidak bilang ingin membeli boneka untuk gadis itu, aku kira kamu yang pengen." Ucap Mas Rendi dengan wajah kecewa.
"Lho memang kenapa Mas? Kamu tidak ikhlas kalau beli buat gadis kecil itu? Dia kasihan tadi menanggis gara-gara bonekanya basah di lempar ke danau."
"Tidak sayang aku ikhlas kok." Sahut Mas Rendi yang langsung merubah expresi wajahnya, tapi aku tau kok dia memang tidak ikhlas.
__ADS_1
Kepelitan mu nurun ke siapa sih Mas? Padahal Rio dan Mamah Santi orang yang royal. Apa kau anak pungut? Ah maafkan aku Mas, aku telah mengumpat mu.
"Mas kamu jangan pelit-pelit jadi orang, berbuat baik sama orang kan tidak membuatmu rugi, lagian itung-itung amal. Kan uangmu juga banyak." Tuturku dengan nada selembut mungkin.
Mas Rendi langsung terdiam, apa aku salah bicara padanya? Sepertinya aku sudah lancang menasehatinya, apa dia akan marah padaku?
"Mas maafkan aku. Aku bukan mak....." Sontak dia memelukku dengan erat.
"Aku yang harusnya minta maaf sayang, kau jauh lebih baik dariku. Mulai sekarang aku akan mencoba menjadi orang yang lebih baik lagi." Aku mengelus punggungnya.
Aku kira dia akan marah, ternyata tidak. Mas Rendi benar-benar sudah berubah. Kau membuatku makin klepek-klepek Mas....
...πππ...
Keesokan harinya.
Di kantor Andra, padahal perusahaan sudah di ambang kehancuran tapi lagi-lagi Andra masih saja melakukan kebiasaannya.
Kini dia tengah merayu Irene di dalam ruangannya, padahal Irene tadinya hanya ingin meminta tanda tangan.
Irene sendiri sangat merasa tak nyaman, lagian siapa sih wanita yang suka di perlakukan seperti itu? Tidak ada kan.
Dia tengah berdiri menghimpit Irene di tembok.
"Irene bagaimana jawabanmu soal kemaren? Apa kau ingin menjadi pacarku?" Tanya Andra seraya membelai pipi.
"Ma-maaf Pak... Sa-saya tidak bisa." Irene berbicara dengan terbata-bata.
"Ba-bapak bukan tipe saya."
"Bukan tipe mu? Lalu tipe mu orang seperti apa?" tanyanya mendesak.
Tok... Tok... Tok.
Cih menganggu saja.
Gerutu Andra.
"Masuk."
Ceklek....
"Pak saya sudah ada solusi untuk perusahaan Bapak." Ujar Anton dengan semangat.
Dia tersenyum. "Irene kau keluar!" Seru Andra mengusir Irene. Irene langsung buru-buru pergi.
Andra duduk di sofa. "Jadi apa?"
".............."
__ADS_1
πππ
Di rumah Rendi.
Indah berjalan menghampiri ibunya yang tengah memasak di dapur. Kalau bibi pembantu ia tengah mencuci baju.
"Mah..." Panggilnya, ini tumben banget Indah menghampiri ibunya di dapur, karena dia memang tidak bisa masak dan paling males kalau sudah urusan di dapur.
"Aku bantuin ya?" ucap Indah seraya mengambil pisau yang ibunya pegang.
"Tidak usah sayang... Biar Mamah saja." Ibunya menolak, dia tengah mengiris bawang merah.
"Ih nggak apa-apa, aku juga bisa kok cuma kayak gini doang." Sahutnya yang langsung mengambil talenan yang sudah ada irisan bawang merah.
"Awas perih sayang... Jangan sentuh mata." Tutur ibunya lalu dia menggoreng ayam di wajan yang sudah ada minyak panas.
"Mamah ini mau bikin apa?" belum sempat ibunya menjawab Rendi menghampiri Indah dan mendekapnya dari belakang.
"Aduh... Aduh, sayangku lagi ngapain? Mau belajar masak ya?" tanyanya dengan dagu yang sudah di bahu Indah.
"Mas... Sana." Sahut Indah mencoba menghindar, tapi tetap saja tubuh Rendi sudah lengket pada tubuhnya.
Tangannya pun ikut memegangi pisau. "Mas jangan ikutan sana ih...." Serunya.
Ibunya hanya tersenyum, tapi terlihat sangat bahagia.
"Lepasin aku nggak! Kalau nggak aku tempelin jari aku ke mata kamu, biar perih. Nih!" Indah langsung mengarahkan jarinya ke wajah Rendi.
"Jangan dong sayang, kamu udahan dulu motongnya ya..." Rendi menaruh pisau di atas meja.
"Memang kenapa? Kamu nggak percaya aku ikutan masak?" dia menoleh kearah wajah Rendi.
"Bukan... Ciuman dulu yuk." Bisiknya, sambil monyong.
"Ih mesum! Sana ah." Indah langsung menyenggol tubuh Rendi memakai bokongnya.
Justru juniornya jadi bangun. "Ah ya sudah deh... Aku tunggu jadinya saja." Dia melepas dekapannya.
"Padahal aku mau bantuin Mah." Ucap Rendi dengan wajah memelas kepada mertuanya.
Sarah hanya menjawab dengan senyuman di bibir.
...πPOV Rendiπ...
Setelah Indah dan Mamah selesai masak, aku bertiga duduk di meja makan. Aku sudah melahap nasi goreng dengan ayam goreng, begitupun dengan Mamah Sarah.
Tapi tidak dengan Indah yang hanya minum air putih, dan hanya memandangi masakan di atas meja, tumben sekali. Padahal dia yang sangat nafsu makan.
"Sayang kau tidak sarapan juga?" tanyaku sambil mengunyah.
__ADS_1
πΎJangan lupa tinggalkan jejak like, komen dan favorit kan ya.......πΎ