
"KALIAN BISU? Jawab aku!"
"BERISIK! Bisa diam nggak!" Sentak pria di sebelah kiri, sambil menekan kuat lengan Indah supaya berhenti berontak.
"Aakkkhh sakit!!" Jerit Indah sambil meringis.
"Eh lu jangan kasar-kasar bego. Nanti di marahin bos." Ucap pria di sebelah kanan. Pria kiri itu melepas tekanannya, kini mereka berdua hanya memegangi lengan Indah. Namun sama saja, terasa sakit. Karena otot dan tangannya sangat kasar.
Ya Allah aku mau di bawa kemana? Aku takut. Mas Rendi tolong aku...
Batin Indah, dengan keringat dingin, dia merasa sangat ketakutan.
Aku harus tenang, Indah kau jangan panik. Tapi apa yang sebenarnya mereka inginkan dari ku?
"Pak lepasin aku. Siapa bos kalian?" tanya Indah pelan. Tapi mereka bertiga tidak menggubris ucapan Indah, mereka diam mematung.
"Lepasin aku..." Oceh nya lagi. "Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Akibat kebanyakan teriak Indah jadi tersendak, tenggorokannya sudah sangat kering.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk... Kalian nggak ada inisatif kasih aku air minum." Salah satu pria kekar itu saling menatap dan mengisyaratkan kode dari bola matanya.
"Cari warung yang agak sepi." Ucap pria sebelah kanan ke pria yang sedang menyetir.
"Kalian mau apa?" tanya Indah sambil melihat kanan kiri kearah dua pria itu.
Ckittttt....
Pria yang menyetir memberhentikan mobilnya, terlihat ada sebuah warung di seberang jalan. Salah satu mereka keluar untuk membelikan air mineral.
"Tolong....." Teriak Indah. "Eeemmmmm...." Seketika saja bibirnya di bekap.
"Jangan teriak," bisik pria itu, pria yang membeli air mineral tadi masuk mobil dan mobil itu melaju lagi.
Pria itu menyodorkan sebotol air ke depan wajah Indah, namun Indah hanya diam.
"Kenapa diam? Ini minum." Perintahnya.
"Bapak pasti memasukkan sesuatu ke dalam airnya," Indah menatap dengan penuh curiga.
"Tidak. Ini botolnya saja masih di segel." Indah langsung meraihnya dan memperlihatkan dengan benar. Ternyata memang iya masih di segel, dia segera membuka dan menenggaknya sampai habis.
Tringgg.... Tringgg. Suara ponsel pria di samping kanan bunyi dan langsung di angkat.
__ADS_1
"Halo Bos."
"....."
"Iya Bos."
"....."
Apa itu yang menelepon adalah bosnya?
Batin Indah.
"Siap Bos."
"....."
"Hei bosnya ketiga pria kekar ini tolong lepasin aku. Kenapa kau ingin menculikku?" tanya Indah dengan nada sedikit tinggi.
☘️☘️☘️
Sementara itu Rendi yang kian panik dia langsung mencoba menelepon sopirnya, namun nomornya sama sekali tidak aktif, dia menjalankan mobilnya secepat kilat untuk sampai ke kampus.
Sampainya di kampus dia malah kebinggungan? Rendi mondar-mandir seperti setrikaan, Indah sendiri bilang sudah di arah jalan pulang. Otomatis sudah nggak ada di kampus dong Rendi, kamu gimana sih!
Rendi mengambil ponselnya di saku jas untuk menelepon Rio.
"Rio apa lu tau dimana Indah?" tanya Rendi dengan cemas.
"Ngapain nanya gue, lu kan suaminya," sahutnya dengan ketus. Sepertinya Rio sendiri masih kesal dengan apa yang terjadi di cafe.
"Gue serius, tadi gue telepon dia. Terus sepertinya ada orang yang membawanya,"
"Apa maksud lu Indah di culik?"
"Kemungkinan iya, lu bisa bantu gue kan?"
"Iya... Nanti gue coba telepon temen-temen gue yang lain juga, buat nanyain keberadaan Indah."
"Oke, nanti kalau ada apa-apa lu kasih tau gue."
"Iya."
__ADS_1
Setelah menutup telepon, tak lama di hpnya berdering. Panggilan masuk bernama Indah yang tertera di layar hpnya, dengan cepat Rendi mengangkatnya.
"Halo Ndah, syukur kamu telepon. Tadi kamu kenapa? Sekarang di mana?" tanya Rendi yang kian penasaran.
"Maaf pak saya suster dari rumah sakit sejahtera mau memberitahu......"
"Apa sus? Rumah sakit. Istri saya kenapa?" tanya Rendi memotong pembicaraan suster itu.
"Maaf pak saya belum selesai bicara, di rumah sakit ada seorang pria bernama Agus. Apa bapak mengenalnya?"
Agus?
"Iya, dia sopir istri saya. Tapi apa istri saya ada di sana juga?"
"Hanya pak Agus saja pak, beliau pingsan dan di larikan ke rumah sakit. Ada polisi juga di sini, apa Bapak bisa kemari?"
"Baik, saya segera ke sana." Sahut Rendi menutup telepon, dia langsung masuk ke mobil. Kemudian menelepon Harun, Rio dan Dion juga untuk menemaninya ke rumah sakit.
***
Sampainya di rumah sakit, Rendi berlari untuk cepat ke ruang ICU di ikuti Rio, Dion dan juga Harun. Sopir itu mengalami iga patah, dan pipi sebelah bonyok. Ternyata pukulannya pria kekar itu nggak main-main.
"Selamat malam Pak." Ucap salah satu polisi. "Apa Bapak keluarga dari bapak Agus?" tanyanya di depan ruang ICU.
"Bukan Pak.... Dia sopir saya...." Sahutnya dengan nafas terengah-engah.
"Sepertinya pak Agus ini habis di pukuli orang sampai pingsan di jalan. Saya juga menemukan ini di tempat kejadian." Ucapnya menjelaskan sambil memberikan tas, syal dan ponsel. Itu semua milik Indah.
Rendi langsung memegangnya dengan erat. "Ini punya istri saya Pak, namanya Indah. Dia pulang kuliah dan di jemput Agus, saya sempat teleponan dengannya, terdengar dia seperti di bawa pergi oleh seorang laki-laki. Kemungkinan dia di culik." Ucap Rendi menceritakan dengan nada sendu.
Tak lama dokter laki-laki keluar dari ruangan itu dan bertanya kepada beberapa laki-laki yang ada di sana.
"Apa salah satu dari kalian keluarga pak Agus?" tanya Dokter
"Dia Sopir saya Dok.... Apa dia sudah sadar sekarang? Saya ingin bertemu dengannya," Sahut Rendi dengan cepat menjawab.
"Baik silahkan." Sahutnya menggerakkan tangan. Keenam laki-laki itu masuk dan mendengarkan cerita dari pak Agus, bagi Rendi dan semuanya ini merupakan kasus penculikan.
Tapi untung saja pak Agus masih ingat dengan orang yang menonjok dirinya dan plat mobil yang membawa Indah pergi.
Polisi lalu menyuruh seorang pelukis sketsa wajah, untuk menggambar wajah orang yang pak Agus beri keterangan.
__ADS_1
...💜💜💜💜💜💜💜💜💜...
... Jangan lupa tinggalkan jejak...