
"Hei apa yang kau katakan?! Jangan bicara omong kosong!" pekik Mamah, seraya mencoba melepaskan pelukan ku. Tapi aku menahannya.
"Mamah ... Apa Mamah sudah melupakanku? Aku anak kesayangan Mamah, kan? Wajahku sudah berubah karena operasi plastik pada saat kecelakaan! Wajah tampan anakmu ini sudah tidak mirip dengan Ayah Alex, tapi aku tetap anakmu. Rendi yang selalu Mamah marahi! Mamah desak untuk menikah! Mamah desak untuk mempunyai keturunan!"
Tak terasa air mataku menetes, terjatuh di atas bahu Mamah. Tubuh Mamah sekarang terdiam, kenapa? Semoga Mamah percaya padaku.
"Kenapa setelah aku sudah mempunyai nya, aku kehilangan semuanya?! Ini semua memang salahku! Salahku gara-gara dulu tidak mendengarkan ucapan dari Mamah. Kalau saja dulu aku tidak berniat menjenguk Om Andra! Aku tidak akan meninggalkan kalian semua! Mah aku mohon ... Walau semuanya tak percaya. Tapi aku tahu Indah dan Mamah percaya padaku, bantu aku Mah. Bantu aku berkumpul dengan anak dan Istriku, aku hanya punya Mamah. Tidak ada yang lain."
"Rendi ..."
Deg.....
Apa aku tidak salah dengar? Mamah memanggil namaku?
Aku melepaskan pelukan, mataku terbelalak. Wajah cantik Mamah sudah becek terkena air mata! Mamah menanggis?!
Aku memegangi kedua pipinya dan menyeka air mata, "Mamah ... Apa Mamah percaya padaku? Aku Rendi?" tanyaku penuh harap.
Mamah menghentakkan tubuhku untuk menjauhinya.
Plakkk.....
Dia menamparku?! Lagi-lagi aku di tampar?! Kenapa?! Aku lelah sekali di perlakukan seperti ini.
Tubuhku seakan lemas, bahkan aku sudah tersungkur di lantai. Semuanya sia-sia saja, lebih baik aku mengarang cerita, dari pada jujur tak ada yang percaya.
Mamah masih terdiam dan berdiri mematung. Lebih baik aku pulang saja dari sini, harapanku telah sirna. Aku bangun berbalik badan, baru satu langkah. Sontak lenganku di tarik paksa sampai tubuh ku berbalik menghadapnya, dia memeluk tubuhku.
"Kau bodoh! Kemana saja kau selama ini?! Kau membuat Mamah hampir mati, Ren."
Deg.....
Apa?! Jadi Mamah percaya padaku, aku merasa Mamah sedang menanggis saat ini. Tubuhnya juga bergetar. Aku membalas pelukannya, seraya mengelus punggungnya. Ku kecup bahu Mamah.
"Mamah ... Mamah percaya aku Rendi kan, Mah?"
"Bagaimana bisa seorang ibu tidak percaya anaknya sendiri! Kamu kebanggaan Mamah Ren. Anak yang Mamah sayang! Mamah tidak mungkin bisa jauh darimu."
Benar ternyata, Mamah percaya padaku. Ternyata meyakinkan seorang wanita jauh lebih gampang. Mungkin karena hati mereka sangat lembut, walau awalnya kasar. Tapi mereka percaya, Mamah dan Indah memang mirip. Tidak salah kalau Mamah lebih menyayanginya daripada diriku.
Mamah melepaskan pelukanku dan mengajakku duduk. "Kamu harus jelasin pada Mamah, bagaimana ceritanya," dia memegangi tanganku begitu hangat.
__ADS_1
Aku mulai menceritakan kembali semua kejadian pada malam itu sampai tiga tahun berlalu, Mamah terlihat serius mendengarkan. Hampir tidak ada yang terlewat sama sekali, sangat detail dan rinci aku menceritakannya.
Setelah ku ceritakan semuanya, aku juga bercerita tentang syarat aku di bebaskan oleh Papah, syarat yang sangat berat menurutku.
"Kenapa kamu tidak jujur saja pada Papah kalau kamu Rendi, sayang?" tanya Mamah seraya mengoleskan ku cream dari Dokter tadi.
Dia mengolesinya secara perlahan pada wajahku.
"Mamah, aku tidak bisa. Ini sangat sulit, Indah pernah jujur sama Papah. Tapi Papah tidak percaya padanya, tapi tidak masalah Mah. Yang penting Mamah percaya denganku sekarang."
"Sekarang kamu mau gimana? Rencana kamu sekarang apa? Mau balas Jalang dulu dan tanya siapa yang di belakangnya?"
"Aku sebenarnya ingin berkumpul dulu dengan Indah dan Bayu. Mamah .... Aku takut Papah menjodohkan Indah dengan Rio, dia masih istriku, Mah."
Aku seperti mengadu pada Mamah, lagian sama siapa lagi. Cuma Mamah yang bisa membantuku sekarang.
"Itu tidak akan terjadi, kamu tenang saja," Mamah mengelus punggung tanganku, rasanya begitu lega. Setengah beban ku hilang.
"Tapi aku ingin Mamah jangan cerita dulu ke siapapun, aku butuh waktu untuk mempersiapkan nya."
"Baiklah terserah kamu. Kamu mau tinggal di mana? Mau ke rumah kamu yang dulu? Mamah pegang kuncinya."
Akhirnya Mamah mengajak ku tinggal di apartemen, apartemen milikku sendiri. Sudah lama sekali aku tidak kesini, terakhir kali sudah beberapa tahun. Penghuni apartemenku juga banyak, di sebelah ada Dion juga. Dia masih tinggal di apartemen sebelah apartemen ini.
Mamah membuatkan ku susu panas dan menaruhnya di atas meja. Dia duduk di sofa di sampingku.
"Kamu ingin bertemu Indah? Mamah akan meneleponnya, meminta Irwan untuk mengantarnya ke sini."
"Ini sudah malam Mah, lagian kasihan kalau ke sini. Papah juga tidak akan mengizinkan."
"Tidak Ren, kamu ..."
"Mah mulai sekarang panggil aku Reymond saja, jangan sebut Rendi lagi," ucapku menyela ucapan Mamah.
"Baiklah. Mamah sudah pesan mobil baru untukmu. Nanti besok akan di kirim. Kamu butuh apa lagi sekarang?"
"Tidak ada Mah, Mamah sekarang pulang saja, ini sudah malam," bukan maksud aku mengusir, cuma memang benar ini sudah jam 7 malam. Takut Papah cariin istrinya juga.
"Mamah ingin menemanimu di sini, Mamah ingin menginap."
"Tapi, bagaimana kalau Papah curiga?"
__ADS_1
"Kau tenang saja, serahkan pada Mamah. Semuanya akan beres!" seru Mamah dengan yakin.
Aku mengangguk seraya berdiri, lebih baik aku mandi saja dulu. Badanku terasa sangat lengket, "Ya sudah, aku mandi dulu ya Mah."
Aku berjalan menuju kamar mandi, aku membuka dan menutup pintu. Aku mengisi air pada bathtub kamar mandi dan melepaskan pakaian.
Setelah itu, aku masuk dan berendam di dalam. Rasanya nikmat sekali, berendam di air hangat. Aku menyenderkan punggungku seraya memejamkan mata.
Aku akan memikirkan rencana buat besok, untuk menangkap si Jalang itu.
Setelah beberapa lama.
"Mas ..."
Deg....
Aku membelalakkan kedua matamu, aku seperti mendengar suara Indah. Apa hanya perasaanku saja?
"Mas Reymond."
Deg....
Iya benar itu Indah, apa dia kesini? Bagaimana bisa? Aku menarik senyuman dengan mata yang berbinar-binar.
Aku mengangkat tubuhku untuk bangun dan langsung membuka pintu kamar mandi.
Ceklek....
"Sayang ..."
Benar Indah, aku tidak bermimpi. Dia berada di depanku dan langsung memeluk tubuhku.
"Mas ... Kau lama sekali mandi, aku sudah tidak sabar rasanya," suaranya terdengar begitu manja.
Jantungku berdegup sangat kencang. Apa ini? Tidak sabar apanya?
Aku mengecup keningnya, ku pegang kedua pipi mulus yang sudah bersemu merah.
"Sayang ... Bagaimana bisa kamu di sini? Aku seperti mimpi saja."
"Sebenarnya aku ingin tidur di rumah Papah Antoni, karena aku tidak bisa tidur! Bayu juga merengek ingin bertemu Mamah Sarah. Terus aku telepon Mamah Santi, dia menyuruh sopirnya datang dan mengantarku. Tapi malah aku di antar ke sini," tutur Indah sambil cemberut.
__ADS_1