Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 78. Tinggal mati doang!


__ADS_3

Indah membuka mata secara perlahan, matanya terbelalak kaget. Dia sudah berada diatas kasur tengah berbaring, matanya melihat sekeliling ruangan kamar mewah itu.


Kepalanya menoleh pada jam weker digital yang berada pada nakas, jam itu menunjukkan pukul 19:02.


"Apa ini di Hotel?" tanya Indah pada diri sendiri seraya bangun dan berdiri.


Dia mencari-cari tas miliknya. Pada kasur, meja, nakas, dan sofa. Tapi tidak menemukan. Tiba-tiba perasaanya tidak enak, dia mengingat Bayu.


Apa Bayu baik-baik saja disana? Aku merasa seperti Bayu sedang menanggis disana? Apa aku jahat meninggalkan dia? Apa aku pulang saja?


Batin Indah.


Terdengar suara seseorang yang hendak masuk dari ruangan itu. Dia adalah Mawan, tangannya memegang segelas susu putih hangat.


"Kamu kok bangun? Kenapa?" tanya Mawan seraya menghampiri.


Indah memeluk tubuh Mawan. "Papah, kita pulang saja, Pah. Perasaanku nggak enak, aku mikirin Bayu," ucap Indah dengan sendu.


Mawan mengajak Indah untuk duduk diatas kasur bersebelahan. "Ini minum dulu susunya," ucap Mawan seraya memberikan susu itu ke tangan Indah.


Dia meminumnya sampai habis dan menaruh gelas itu diatas meja dekat kasur.


"Papah, aku kangen sama Bayu. Kita pulang saja, Pah," pinta Indah seraya memegang tangan Mawan.


"Kamu ini bagaimana? Kita baru juga sampai. masa sudah minta pulang. Bayu baik-baik saja disana, sayang."


"Aku mau telepon Mamah, Pah. Tapi ponsel aku dimana? Tas aku juga nggak ada." Mata Indah kembali berkeliling.


"Mungkin ketinggalan di mobil, biar Papah telepon lewat ponsel Papah saja."


Mawan mengambil ponsel pada saku jasnya dan menatap layar, ternyata sudah ada 5 panggilan tidak terjawab bertuliskan nama 'Istriku' sedari tadi ponselnya dia silent dan belum mengabari, kalau mereka sudah ada di Bandung.


Mawan segera menelepon balik dan menekan tombol speaker.


"Halo, Pah. Papah kemana saja? Kenapa telepon Mamah tidak di angkat-angkat, Mamah tadi telepon Indah, nomornya tidak aktif," ucap Santi dari sambungan telepon, nada suaranya terdengar sangat cemas.


"Maaf, Mah. Tadi Papah ada kerjaan sedikit. Bayu bagaimana? Apa dia sudah tidur?"


"Mamah sekarang sudah ada di Bandung dengan Bayu, Pah."


Deg......


"Apa?! Mamah di Bandung? Mamah pergi menyusul aku dan Papah?" tanya Indah sambil tersenyum senang.


Apa-apaan Mamah ini, kenapa malah ikut kesini.


Gerutu Mawan.


"Kenapa Mamah kesini sih?" dengkus Mawan.


"Papah. Maafkan Mamah, bukan Mamah mau mengacaukan liburan Papah dengan Indah. Mamah kasihan pada Bayu, tadi Antoni membawa Bayu kesini dan dia menanggis mencari Indah," tutur Santi.


"Yasudah, sekarang posisi Mamah ada dimana?"

__ADS_1


"Mamah di jalan Xxx, Pah."


"Tunggu sebentar, Papah kesana."


Mawan langsung mematikan telepon, dia mencium kening Indah. "Kamu baik-baik dulu disini, Papah tinggal sebentar."


Indah mengangguk. "Iya, Pah."


Mawan berdiri seraya melangkah meninggalkan Indah didalam kamar sendirian, dia juga langsung menuju pintu keluar Hotel dan mengendarai mobil.


Sekitar beberapa menit, akhirnya Mawan bertemu dengan Santi dipinggir jalan.


Dia tengah berdiri didepan mobil hitam sambil mengendong Bayu yang sudah tertidur. Ada Irwan juga disebelahnya.


Mawan mencium kening Santi. "Mamah masuk kedalam mobil, Papah," pinta Mawan.


Santi mengangguk dan langsung masuk kedalam mobil, duduk di kursi depan.


Mawan mengobrol sebentar dengan Irwan, entah apa yang dia katakan. Tapi Irwan hanya mengangguk-ngangguk saja.


Setelah selesai, Mawan ikut masuk dan mengendarai mobilnya bersama Santi dan Bayu.


Santi melirik kearah Mawan yang terdiam sambil menyetir mobil.


Maafkan Mamah, Pah. Mamah sudah berbohong, habis Papah sangat mencurigakan. Mamah jadi penasaran.


Batin Santi.


Maafin Oma sayang, kamu Oma jadikan alat untuk berbohong pada Opa. Padahal tadi kamu sedang enak-enak tidur, Oma malah bawa kamu kesini.


Batin Santi.


***


"Rasakan asap itu! Itu belum seberapa dari aku dulu, Jalang! Tidak ada pilihan lain. Kau mau menjatuhkan diri didepan atau dibelakang, hah? Karena sama saja kau mati, sekarang bicara padaku siapa orang yang menyuruhmu!" pekik Reymond mengancam.


Siska menelan saliva nya begitu kasar, dia sudah berada dititik yang membingungkan. Tidak bisa lari karena di ikat, sedangan dibelakang adalah kolam buaya, didepan ada kobaran api. Walau api itu tidak terlalu besar, tapi mampu membakar tubuhnya, apa lagi sudah ada pisau yang tertancap disana.


"Ren ... Ampuni aku, aku tidak mau mati. Aku mencintaimu," pinta Siska dengan nada memelas.


"Kalau kau tetap saja mengelak, aku akan biarkan saja kau seperti itu. Kau bahkan sulit bergerak, bukan? Kenapa kau tidak mengatakan saja sejujurnya! Siapa yang menyuruhmu itu!" pekik Reymond.


Bagaimana ini? Apa aku jujur saja padanya? Tapi kalau aku jujur, apa Rendi akan melepaskanku? Tapi kalau aku bisa lepas juga sama saja, nyawaku tetap terancam pada orang itu. Kenapa aku jadi serba salah begini, aku harus bagaimana?


Batin Siska.


Dia seperti patung diatas sana. Tapi tubuhnya sudah lumayan goyang-goyang karena kakinya terasa pegal. Asap dibawah juga semakin banyak, Ali sudah menambahkan beberapa kayu juga. Untuk membuat nafas Siska semakin sesak.


"Uhuk .... Uhuk."


"Kau pasti diberi uang waktu itu, kan? Berapa uangnya? Apa seharga nyawaku?!" seru Reymond dengan lantang.


Jalang bodoh! Kenapa dia tidak jujur sedari tadi, siapa dibelakangnya? Aku sungguh penasaran!

__ADS_1


Batin Reymond.


"Kau ingin aku jujur padamu, Ren?" tanya Siska.


"Ya."


"Aku akan jujur, asalkan kau menerima tawaranku," ucap Siska.


"Apa?"


"Bercerai dengan Indah dan menikah denganku."


Deg.......


"Brengs*k, kau! Itu tidak akan pernah terjadi! Sampai matipun Indah akan tetap jadi istriku!" umpat Reymond.


Kenapa susah sekali membuat dia membuka mulutnya? SIALAN! Di bayar berapa dia oleh orang itu.


Gerutu Reymond.


Mata Reymond melihat jam di pergelangan tangannya, yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.


"Lepaskan aku, Ren!" pekik Siska.


"Tidak, akan!"


"Uhuk .... Uhuk .... Uhuk." Dia kembali batuk-batuk.


"Turunkan aku dari sini!" pekik Siska, dia masih berusaha untuk bertahan. Walau sudah ada diposisi sulit.


Tak lama Harun datang menghampiri Reymond, matanya terbelalak melihat Siska diatas sana, dengan api dibawahnya dan melihat Reymond telanjang dada.


"Selamat malam, Pak Reymond," sapa Harun.


"Malam."


"Bapak kenapa tidak memakai baju?"


Reymond memegangi dada bidangnya, "Oh iya, ambilkan jas dan kemejaku diatas meja." Tangannya menunjuk kearah meja.


Harun mengangguk, tangannya mengambil pakaian itu dan membantu memakaikan pada badan Reymond.


"Jalang sudah mengaku belum, Pak?" tanya Harun berdiri disamping Reymond.


"Belum, padahal sudah aku ancam sedari tadi. Lihat saja kondisinya sekarang!" Reymond menunjuk tubuh Siska dari kejauhan.


"Padahal dia tinggal mati doang! Tapi susah sekali," dengkus Reymond kesal.


Dorr!.....


Dorr!.....


"Aaaarrggghhh!!!"

__ADS_1


__ADS_2