Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 10. Indah milikku


__ADS_3

"Ya sudah Bayu sama gue aja. Bayu sama Om Inno ya?" Bayu mengangguk dan merentangkan lengannya.


"Jangan! Bayu mau aku ajak, aku rindu padanya," Indah lagi-lagi menolak menyerahkan Bayu kepada orang lain.


"Ayok Sus. Suster ikut saja." Tutur Indah sambil berjalan, Susi membuntut di belakangnya.


Bayu menatap Vinno sambil melambaikan tangannya, "Dadah Om Inno.... Om Inno ngga di ajak wee... Kacian...." Bayu seperti tengah meledek Omnya.


Vinno hanya mengerucutkan bibirnya dan membalas lambaian tangannya.


Indah langsung duduk di dalam cafe, cafe terlihat sangat ramai karena memang jam makan siang. Bayu, Indah dudukkan di kursi di sampingnya.


"Silahkan Mbak, mau pesan apa?" tanya sang pelayan wanita sambil menyodorkan buku menu.


"Bayu mau apa?" tanya Indah kearah Bayu yang sedang memegang bola di tangannya sedari tadi.


"Entang goleng." Sahut Bayu.


"Suster mau apa?"


"Tidak usah Non, saya sudah makan." Sahut Susi di samping Bayu.


"Saya pesan spageti satu, kentang goreng dua. Sama jus alpukat tiga. Yang satunya jangan kasih es batu, Mbak." Tutur Indah memesan makanan dan minuman untuk dia, Bayu dan juga Susi.


Pelayan itu mencatat. "Baik, silahkan tunggu sebentar Mbak." Ucapnya yang berjalan kearah dapur.


...🍁POV Reymond (Rendi)🍁...


Akhirnya selesai juga urusan kerjaan dengan Papah, rasanya begitu sangat kaku bicara padanya. Padahal dulu kita sering bercanda. Aku keluar dari kantor Papah dan menenggok kesana-kemari, tapi tidak melihat Indah. Apa dia sudah pulang?


Mendadak perutku keroncongan, dan melihat jam di pergelangan tanganku sudah masuk jam makan siang.


"Riz, kita makan di sini dulu yuk." Ajak ku pada Rizky yang berada di samping seraya mengerakkan kepala ke arah cafe di depan kantor.


"Oke, boleh deh." Rizky mengangguk, aku membuka pintu kaca cafe dan masuk. Cafenya sangat ramai sekali, rasanya malas makan di tempat ramai begini.


"Rey cari tempat lain aja yuk." Bisik Rizky di telinga ku.


"Hahahaha......" Tiba-tiba aku mendengar suara anak kecil yang sedang tertawa, suaranya seperti Bayu.


"Bunda ahh.... Bayu mau...." Mataku membulat, itu bener Bayu anakku, dia bersama Indah sedang duduk berdua di sana. Lebih baik aku menghampirinya.


Baru juga mulai melangkah, Rizky sudah memegang lenganku. "Budeg! Gue kan bilang cari tempat yang lain."

__ADS_1


"Riz. Lihat tuh ada Indah, gue mau kesana." Ucapku yang berjalan menghampiri Indah tanpa menghiraukan Rizky.


Dia melihat ke arahku dan tersenyum padaku, manis sekali. "Sa......"


"Indah..." Ucap pria yang tiba-tiba lewat di sampingku, mulutku sudah menganga memanggil kata sayang. Tapi keduluan oleh orang itu, siapa dia?


"Indah maaf ya, nunggu lama." Pria itu duduk di depan Indah, Indah tersenyum padanya. Indah tidak menyadari keberadaan ku, ternyata dia tadi tersenyum pada pria itu, bukan padaku. Sakit sekali rasanya.


"Iya, nggak apa kok Pak. Bapak langsung pesan saja. Maaf aku duluan makan." Tutur Indah seraya menyuap spageti di mulutnya, ternyata dia sudah janjian sama pria itu. Ada hubungan apa diantara mereka?


Apa mungkin mereka pacaran? Ah tidak, itu tidak mungkin. Indah wanita yang setia. Dia tidak mungkin menduakan ku, aku melangkah menuju mejanya, tapi tiba-tiba lenganku di tarik paksa oleh seseorang.


"Rey, ngapain sih bengong." Rizky orangnya, dia mengajakku duduk di meja tepat di sebelah meja Indah.


"Riz lihat Indah." Ucapku berbisik, "Siapa pria di sampingnya?" tanyanya ku penasaran.


"Gue nggak tahu Rey, lu mau pesen nggak?" Rizky menyodorkan menu untukku, si Rizky ini tidak mengerti perasaanku. Dia hanya mikirin perutnya sendiri, rasanya nafsu makan ku hilang.


Dadaku terasa sangat sakit, aku tidak kuat melihat pemandangan seperti ini. Pria itu berbicara dengan Indah, Indah tampak tersenyum di ikuti dengan Bayu yang ikut tertawa karena candaannya. Aku tidak akan biarkan pria itu mengantikan posisiku di hati istri dan anakku.


Aku mengangkat bokongku dan menghampiri Indah. "Boleh aku ikut makan di sini?" tanya ku tiba-tiba, Indah dan pria itu saling menatapku.


"Bapak siapa? Kan bisa duduk di kursi lain, kenapa musti di sini." Ucap pria di depan Indah, kurang ajar sekali dia, berani menolak ku.


Indah hanya diam dan menatapku, lalu melengos. "Aku ingin duduk di sini dengan Indah." Ucapku lagi.


"Jangan Sus." Indah mencoba mencegahnya, "Bapak cari aja kursi yang kosong. Kan masih banyak." Tutur Indah lagi meneruskan, jelas sekali dia tidak mau aku di sini. Tanpa aba-aba aku langsung mengangkat tubuh Bayu dan duduk di samping Indah.


Aku memangku Bayu di pahaku, mata mereka berdua membulat, merasa heran mungkin. "Apa yang Bapak lakukan? Itu kursi anakku. Biarkan dia duduk, dia sedang makan kentang goreng." Indah mendengkus tak terima.


Aku memegang tangan kecil Bayu. "Sayang. Bayu, Om boleh kan duduk di sini?" tanya ku dengan lembut dan mencium rambutnya.


Bayu mengangguk. "Bolleh Om." Manis sekali kamu sayang, dia masih fokus makan kentang goreng.


"Mbak saya pesan dong." Ucapku pada sang pelayan yang lewat dan memesan makanan.


Pria di depanku tampak tidak suka dengan kehadiran ku, aku juga tidak suka padamu.


Indah menghela nafas dan melanjutkan makannya, "Kau siapa?" tanyaku pada pria di depan Indah.


"Kau yang siapa? Jelas-jelas kau yang datang tiba-tiba." Sinis sekali dia menatapku.


Aku langsung merangkul bahu Indah. "Aku adalah masa depan Indah."

__ADS_1


"Uhuk.....Uhuk.... Uhuk..." Indah langsung tersendak, aku segera memberikannya jus miliknya di atas meja.


Dia perlahan menyedotnya, "Pelan-pelan." Ucap ku.


"Apa maksud Bapak? Bapak gila?" Indah menggelengkan kepalanya, dan mengambil Bayu dari pangkuanku lalu mengendong nya. Tampaknya dia sangat marah, apa aku salah bicara tadi?


Dia mengambil beberapa uang di dalam dompetnya dan menaruh di atas meja. "Pak Steven maaf saya duluan." Ucapnya pada pria di depan. Dia berjalan keluar cafe, aku langsung bangun dan mengejarnya.


"Indah tunggu...." Aku memanggilnya, tapi dia tidak menoleh ku sama sekali.


Aku langsung memegang tangannya, untuk menghentikan langkah kakinya, "Aku mohon.... Kasih aku waktu untuk kita bicara." Ucapku di sampingnya, wajahnya masih melihat kearah depan.


Tiba-tiba seseorang dari belakang menepis tanganku dari tangan Indah. "Kau jangan kurang ajar! Jangan berani-berani pegang-pegang tangan wanita sembarangan!" Dia berbicara dengan nada tinggi. Siapa dia? Berani sekali bicara seperti itu padaku.


Tanganku sudah mengepal, aku berbalik badan dan langsung menonjok wajahnya.


Bugggghhhhhhh...... Ternyata dia pria yang tadi.


"Apa yang kau bilang hah? Aku kurang ajar? Jelas-jelas Indah milikku, dia......"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


^^^Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️^^^


__ADS_2