
Mata, hidung, mulut dan telinga. Semuanya masih seperti sama, tapi bentuk wajahnya kenapa bisa seaneh ini. Dada gue terasa begitu sesak, emosi gue tiba-tiba naik.
Ingin rasanya gue cekik Dokter yang sekarang berada di depan gue. Dia benar-benar tidak becus! Bisa-bisanya dia buat temen gue yang tampan ini menjadi BURUK RUPA?! Gue jadi kasihan sama istrinya nanti kalau dia melihatnya.
"Luka habis di operasi sudah kering Pak, kita tinggal tunggu Pak Reymond sadar." Ucap Dokter itu, gue diam dan tidak menyahutinya. Gue benar-benar kecewa padanya.
Dia memasang ventilator di mulut dan hidung Rendi, dia memeriksa tekanan darah dan juga selang infusan. Setelah itu dia pergi dari ruangan, gue juga sudah mual melihat Dokter itu lama-lama di sini.
Gue duduk di sofa di dalam ruang perawatan VVIP, gue mencoba bersikap tenang dan meredakan emosi gue. Dion mengambilkan botol air mineral di dalam kulkas dan memberikan pada gue. Dia juga tidak bisa berkomentar apapun mengenai kondisi Rendi, tapi gue masih penasaran sama Dion. Apa dia juga merasa kecewa?
Gue membuka botol dan menenggaknya.
"Pak, saya sedih melihat wajah Pak Rendi." Ucap Dion tiba-tiba.
Gue belum bertanya dia sudah mengatakan duluan.
"Sama Dion, apa lagi gue. Gue ngerasa perjuangan gue sia-sia, gue nggak nyangka bisa salah pilih Dokter."
"Apa.... Pak Rendi tidak bisa di perbaiki lagi wajahnya Pak?" Sambung Dion.
"Gue sih rencana mau mengajak dia ke luar negeri, tapi tunggu dia sadar. Tapi gue belum tahu di negeri mana."
"Nanti saya juga akan bantu carikan Pak, semoga saja ada jalan keluarnya." Sahut Dion dengan yakin.
Gue jadi benar-benar terharu dengan ucapannya. Dion selama ini ikut menjaga Rendi, bahkan dia tidak di bayar selama Rendi sakit. Gue sempat ingin membayar gajihnya, tapi Dion menolaknya dengan mentah-mentah. Alasannya cukup simpel. Katanya dia ikhlas menjaga 'Pak Rendi' gue tidak menyangka Rendi punya asisten sebaik Dion.
"Dion, lu katanya gue denger mau nikah sama Melly, tapi kapan? Apa sudah?" Tanya gue mencari topik baru.
Dion menundukkan kepalanya, "belum Pak, saya mengundur acara pernikahan saya. Nanti kalau Pak Rendi sudah sadar. Baru kami menikah." Sahut Dion.
"Lho kenapa? Memang Rendi yang akan jadi wali lu nikah nantinya?" Tanya gue heran. Menurut gue sih nikah mah nikah aja iya kan, ngapain nunggu Rendi.
"Sebetulnya saya ingin Pak Rendi dan istrinya menghadiri acara pernikahan saya Pak. Tapi sepertinya itu tidak mungkin." Sahut Dion, kenapa tiba-tiba wajahnya merasa sendu begitu.
"Menurut gue sih Dion, lu kalau mau nikah. Ya nikah aja. Tapi nunggu Rendi sadar saja, tapi kalau dia dateng gue rasa nggak mungkin. Lu bisa lihat kan kondisi dia sekarang." Tutur gue menjelaskan seraya menatap wajah Rendi.
"Lu izin ngomong apa ke Tante Santi? Kan lu selama ini tinggal di rumah sakit?"
"Saya izin pulang kampung Pak, sebenarnya pas hari pertama saya menjaga Pak Rendi. Saya di tanya oleh beliau tentang Pak Rendi yang menghilang."
Mata gue terbelalak. "Terus lu jawab apa? Lu nggak cerita kan?"
"Nggak Pak, saya hanya bilang saat itu sedang menemani saudara saya yang masuk rumah sakit."
__ADS_1
"Bagus deh, kita tunggu Rendi sadar baru kita tanya apa yang terjadi. Tapi gue masih takut kalau sampai Rendi tidak terima dengan wajahnya sekarang Dion." Ucap gue padanya, sebetulnya hampir setiap malam gue memikirkan hal itu. Gue takut Rendi tidak terima dengan wajah barunya sekarang.
...Setahun Berlalu...
Gue baru datang ke rumah sakit dan duduk di kursi panjang, ada Dokter di dalam ruangan Reymond sedang memeriksanya, tak lama Dion juga datang sambil memberikan beberapa lembar foto dan mengulurkan pada gue.
Karena penasaran gue jadi mengambilnya. "Foto siapa ini Dion?"
Gue melihat foto bayi yang sangat mengemaskan, di lihat dari wajahnya dia seperti seorang bayi laki-laki.
"Itu Bayu, anaknya Pak Rendi, Pak. Kemaren saya dan Melly habis main ke rumah Pak Mawan. Sambil menenggok Bayu, karena pas lahiran saya tidak sempat ke sana dengan Melly, kasihan Mbak Indah. Dia lahiran sesar. Tapi Alhamdulillah dia dan bayinya sehat dan selamat."
Lho ternyata Indah selama ini hamil? Kasihan sekali dia di tinggal pas lagi hamil. Gue nggak bisa ngebayangin gimana rasanya, Indah mungkin sangat sedih. Apa lagi kalau tahu kondisi suaminya sekarang.
"Syukur deh kalau begitu, gue juga ikut seneng. Anak mereka lucu sekali Dion. Oh namanya Bayu, dia mirip dengan Rendi ya, berapa usianya sekarang?" Tanya gue.
Dion mengangguk. "Dia sudah berusia 4 bulan Pak."
"Kau bodoh! Kau Dokter yang tidak berguna! Kau hanya menyiksaku. Keluar kau brengsek!!"
Mata gue dan Dion terbelalak, gue hafal betul suara siapa itu. Apa Rendi sudah sadar? Gue dan Dion saling bertatapan.
"Rendi."
"Pak Rendi."
Tapi Rendi terlihat sedang marah-marah, kenapa dengannya? Apa karena dia sudah tahu wajahnya yang buruk rupa itu?
"Rizky, apa itu lu?" Dia bertanya pada gue yang baru masuk. Dia masih berbaring di ranjang pasien, gue dan Dion menghampirinya.
"Iya Ren.... Ah maksud gue Reymond."
"Apa yang lu katakan? Siapa Reymond?" Tanya Rendi sambil melotot.
"Rizky, lu usir Dokter yang tidak berguna ini dari sini! Gue benci melihatnya." Umpatnya dengan emosi.
Dokter itu diam dan masih memeriksa tubuh Rendi, tapi Rendi tidak menghindarinya sama sekali. Seakan pasrah.
"Hei tuli. Kau bego atau tol*l!!! Aku bilang pergi ya pergi!" Rendi berbicara dengan lantangnya.
"Bapak baru sadar, sebaiknya Bapak perlu istirahat jangan terlalu banyak emosi." Sahut Dokter yang masih berada di samping Rendi, dia berkata dengan nada merendah.
"AKU EMOSI GARA-GARA KAU YANG TIDAK BECUS KERJA!! PERGI KAU BRENGSEK!!" Rendi terus menerus mengumpat Dokter itu, mungkin dia benar-benar tak terima atas apa yang terjadi.
__ADS_1
"Saya pergi dulu Pak, tolong tenangkan teman Bapak." Dokter itu berkata sambil menarik lengan gue agak menjauh dari Rendi.
"Beri dia obat ini, ini hanya obat penenang. Biar kan dia tenang, dia mungkin merasa tak terima atas apa yang terjadi. Berikan satu kapsul ya Pak." Tutur Dokter seraya memberikan botol obat dan keluar dari ruangan.
Gue langsung mengantongi botol itu di dalam saku jas. Dan berjalan menghampiri Rendi.
"Ren ada apa? Cerita sama gue?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
^^^Jangan lupa tinggalkan jejak like ❤️^^^