
Indah mencoba melepaskan dekapan Rendi yang sangat erat, Rendi juga menggesek-gesekkan juniornya di bokong Indah.
"Mas ih... Malu tau." Ucap Indah mencoba melepaskan lengan Rendi di perutnya, tapi susah sekali. Sampai akhirnya Santi memelintir telinga Rendi.
"Kamu ini mesum! Nggak sopan di depan orang tua."
"Aww...." Rendi menjerit dan melepaskan dekapan Indah. "Sakit Mah ampun..." Ucapnya, dia langsung duduk di atas sofa sambil menyender dengan bibir manyun.
"Kamu mending suruh asisten mu bawa pakaian ganti untuk kamu dan Indah. Kasihan dia mau mandi kayaknya,"
"Pakaian ganti? Memang buat apa?"
"Kita menginap malam ini Mas..." Sahut Indah.
"Oh iya sayang." Rendi langsung menelepon Dion.
Malam hari tepat tengah malam, ketika Hermawan, Santi dan Indah sudah terlelap tidur. Rendi malah sibuk bergumam.
...🍁POV Rendi🍁...
Aku benar-benar tidak suka menginap di rumah sakit, tapi memang benar siapa juga yang betah apalagi jadi orang sakitnya, aku tiduran di sofa yang menurutku sih tidak empuk. Tak seempuk sofa di rumahku, ya jelas aku kan orang kaya, hehehe.
Aku melihat Papah juga merasa kasihan, dia sampai masuk kerumah sakit gara-gara rindu dengan Indah. Aku juga mungkin sama kalau jauh darinya, ah tidak-tidak aku tidak mau jauh darinya.
Papah tidur sangat nyenyak. Begitu juga dengan sayangku dan mamah. Mereka tidur di bawah beralaskan kasur, kasur yang empuk dan nyaman. Bantal dan selimut menemani mereka.
Tidak seperti diriku yang tidur di sini tanpa bantal dan selimut, sejujurnya aku tidak butuh. Aku hanya butuh Indah di sampingku. Ngomong-ngomong aku baru inget malam ini kan ada jadwal tugas negara. Ah menyebalkan, kenapa tiap ingin melakukannya selalu saja ada hambatan.
Indah juga kenapa dia lupa dengan janjinya, mau aku membangunkannya kasihan, tapi juniorku bangun terus. Sangat tegak di balik celana joggerku. Aku merabanya, aku coba elus-elus supaya dia lemah. Tapi tetap saja, malah tambah keras.
Aku bangun dan menyenderkan punggungku, "Bagaimana bisa tidur kalau lagi kepengen kayak gini." Lirihku pelan, apa lagi sambil memandangi wajah Indah. Aku malah tambah nafsu.
Aku berdiri dan keluar dari ruang inap untuk menghirup udara segar dan menghilangkan rasa nafsu di dadaku.
Ceklek.... Pelan-pelan saja aku buka, takut mereka terbangun.
__ADS_1
Aku duduk lagi di kursi dingin di depan, ada si Jojo tengah bermain ponsel sambil berdiri agak menjauh.
"Jo..." Panggilku padanya seraya melambai tangan.
"Iya Pak Rendi." Dia berjalan menghampiriku.
"Belikan aku kopi hitam." Dari pada nggak bisa tidur dan tidak ada yang menemani, mending aku ngopi iya, kan? Aku suka sekali dengan kopi. Padahal aku punya penyakit asam lambung, tapi tidak apalah. Daripada aku kesepian di sini.
Aku juga bukan pria perokok, malah aku tidak suka pada asapnya.
"Ini Pak kopinya," ucap Jojo menaruh kopi secara perlahan di kursi di sampingku
Tak lama suara gagang pintu terdengar, aku menenggok dan ternyata Indah keluar sambil mengusap-usap matanya dan membereskan rambut.
"Mas kamu di sini, aku kira kemana." Wajahnya begitu cantik, sebenarnya memang dari dulu dia sudah cantik. Hanya saja aku belum mencintainya, jadi tidak begitu memperhatikan letak kecantikannya.
Aku menggeser kan kopi agak jauh untuk Indah duduk. "Sini duduk." Ujarku menepuk kursi, Indah langsung duduk di sampingku.
"Sayang kenapa bangun?" Aku bertanya sambil membelai pipi merah mudanya.
"Aku laper Mas.... Kayaknya aku kepengen roti bakar." Indah memegang perutnya, kebiasaan kalau kebangun malem pasti dia suka laper.
"Sayang kamu ngidam ya?" tanyaku dengan wajah sumringah, apa benar tugas negaraku membuahkan hasil.
"Mas aku laper, bukan ngidam. Kamu nggak mau cariin aku makanan?" tanyanya dengan wajah melas.
"Jo..." Aku memanggil lagi asisten Papah, dia langsung menghampiri.
"Tolong belikan....."
"Mas...." Indah menyela ucapan ku. "Aku pengen kamu yang belikan. Bukan orang lain." Pintanya, aku sangat shock. Lagi-lagi aku berfikir dia beneran ngidam, aku harus lakukan test segera untuk memastikan.
Aku berdiri dan mengulurkan tangan. "Mau aku yang beliin roti bakar, apa mau ikut denganku belinya," ajakku.
Dia mengangguk dan tersenyum senang. Langsung mengandeng tanganku untuk pergi membeli roti bakar tengah malam.
__ADS_1
"Jo. Kalau Mamah tanya, aku pergi cari makanan dengan istriku ya," ucapku memberitahu pada Jojo.
"Iya Pak." Dia menjawab dengan agak membungkuk.
Pertama kita pergi ke kantin rumah sakit, tapi pelayan bilang persediaan rotinya habis. Kita berjalan keluar rumah sakit, tepat di parkiran. Udaranya cukup dingin, Indah juga merasa menggigil dengan kaos panjang yang ia kenakan. Aku melepaskan jaket untuk dirinya pakai.
Aku membuka pintu mobil untuk dirinya masuk. "Mas kita cari di sekitar sini aja, nggak usah naik mobil." Dia menolak.
"Tapi udaranya dingin sayang nanti kamu masuk angin." Aku merayunya karena takut dia sakit.
Indah menggelengkan kepala, "Kan aku pakai jaket, aku lagi pengen aja jalan kaki sama kamu." Pintanya, aku mengangguk pelan dan menutup lagi mobil.
Aku menggandeng tangannya, menyusuri pinggir jalan raya. Suasana juga masih ramai, tidak sepi seperti dugaan ku sebelumnya, sepertinya ini kali pertama aku jalan kaki agak jauh.
Lututku terasa sakit, aku memberhentikan langkahku sambil sedikit membungkuk mengusap-usap lutut.
"Sayang apa ini tidak terlalu jauh? Kita naik mobil saja ya." Pintaku.
"Masa jauh, kamu ini manja Mas...." Sahutnya dengan wajah meledek. Dia tetap kekeh ingin jalan kaki, aneh? Apa beneran dia lagi ngidam. Semoga saja.
Setelah jalan cukup jauh akhirnya kita ketemu kedai roti bakar, aku langsung memesan 2 porsi dan duduk menunggu. Kedainya begitu sepi hanya kita berdua di sana.
"Mas aku mau makan di sini saja ya,"
"Iya sayang."
Indah berdiri. "Aku mau pipis Mas... Aku cari toilet dulu ya." Ucapnya. Aku juga ikut berdiri dan mengantarnya mencari toilet.
Ceklek....
Dia membuka pintu toilet wanita, aku langsung segera menyelinap ikut masuk. Mumpung tidak ada yang melihat. Toiletnya begitu bersih dan wangi, tidak membuatku mual. Kayaknya bisa buat tempur di sini. Hahahaha.
"Mas kau mau apa aku mau pipis dulu." Dia memegang perut bagian bawah, aku langsung membantunya membuka celana.
Dia menolak. "Ih Mas, aku bisa sendiri. Kamu sana keluar ini kan toilet wanita." Indah berbicara dengan nada agak tinggi.
__ADS_1
Aku langsung menutup bibirnya dengan tanganku. "Sayang...." Lirihku berbisik. "Pipis saja dulu, habis ini kita tempur ya."
^^^🌾 Bersambung......🌾^^^