
Dengan cepat Rendi mencopoti tali yang menempel di pinggang handuk kimono, ketika dia hendak melucuti handuk itu, sontak saja Indah terbangun dari tidurnya.
"Mas... Kau mau apa?" tanya Indah membelalakkan mata, karena bangun dengan kaget.
"Ah maaf sayang." Sahut Rendi mengelus pipi. "Ini handuk mu basah. Kenapa kau tidak melepaskannya? Bukannya aku sudah siapkan baju tidur untukmu." Ucap Rendi memberitahu dan langsung mengambil lingerie di lemari.
"Aku geli memakainya Mas." Sahutnya meringgis.
"Geli?" tanya Rendi sambil membolak-balik lingerie tersebut. "Ini seksi bukan geli." Sahutnya menunjuk hadiah dari ibunya itu. "Kamu pakai ini sayang nanti masuk angin." Kata Rendi merayu.
Indah duduk menyender di tepi ranjang. "Pakaian itu kurang bahan Mas, dan coba lihat celana d*l*m nya," ujarnya memegang kantong meny*n. "Bolong begini, punyaku bisa masuk angin." Tunjuknya sambil cemberut.
Rendi tertawa terbahak-bahak. "Ah... Hahahaha. Memang bisa 'ini' kamu masuk angin?" tanya Rendi dengan tangan nakalnya yang sudah memegang area yang di maksud.
"Ish... Jangan pegang! Geli." Kata Indah kaget dan langsung menepis tangan Rendi. "Ya aku nggak tau Mas. Habis modelnya kayak gitu,"
"Ya sudah kalau kamu nggak mau pakai, nggak papa." Kata Rendi mengelus rambut Indah.
"Beneran Mas? Kamu tidak marah?"
Rendi menggelengkan kepalanya, "Tapi lepaskan dulu handuknya nanti kamu masuk angin."
Perlahan Rendi membantu melepaskan, Indah pun hanya diam menurutinya, "Lalu mana baju gantinya?" tanya Indah yang sudah bertubuh polos.
"Kamu nggak perlu pakai baju sayang. Kan malam ini kita mau tempur, melaksanakan tugas negara." Sahut Rendi sambil mengolesi minyak angin ke perut Indah dan punggungnya, dengan kecup*n mesra tengkuknya.
"Aakkkhhhh... Geli Mas." Desisnya menggeliat.
"Kau tahan dulu sayang, aku mau mandi dulu." Ucap Rendi seraya menaruh botol minyak angin dan menarik selimut guna menutupi tubuh istrinya.
Krukuk-krukuk... Bunyi suara cacing di perut Indah sampai terdengar di telinga Rendi.
"Kamu lapar?" tanya Rendi sambil terkekeh. Indah hanya mengangguk.
"Mau makan apa?" tanya Rendi.
"Apa saja Mas." Sahut Indah.
"Pizza mau?" tanya Rendi lagi, Indah mengangguk dengan semanggat.
Rendi kemudian mengambil ponselnya dan berbicara lewat telepon kepada pelayan Hotel untuk memesan makanan dan minuman.
"Ya sudah kamu tunggu di situ, aku mandi dulu." Kata Rendi sambil perlahan membuka jas dan kancing kemeja. "Nanti kalau pesenan datang, biar aku saja yang mengambilnya, kamu jangan coba-coba bangun." Ucap Rendi sedikit mengancam.
__ADS_1
Indah mengangguk nurut, Rendi berjalan kearah kamar mandi.
🏵️🏵️🏵️
Ting... Tong... Bunyi suara bel dan sudah 30 menit berlalu Rendi mandi, tapi belum keluar juga dari semedinya. Masa iya Indah yang membukakan pintu dengan mengenakan selimut, kan porno. Lagian Rendi sendiri melarangnya.
Apa aku pakai lagi gaun ku, ah tapi malas. Pas pakainya aja ribet gitu.
Batin Indah.
Ting... Tong.
"Mas.... Mas Rendi.." Alhasil Indah memanggil Rendi yang masih asyik bermain sabun.
Ting... Tong.
"Mas.... Mas Rendi." Pekiknya lagi.
"Ada apa sayang? Apa kau sudah tidak tahan?" tanya Rendi keluar dari kamar mandi dengan buru-buru, sampai air di kakinya membuat becek di lantai. Bodohnya itu, dia tidak memakai handuk sama sekali. Alias bugil, mana juniornya sudah tegak berdiri seperti tiang listrik lagi.
"Mas Rendi kau benar-benar keterlaluan!" Kata Author.
Pemandangan yang membuat mata Indah ngeri, dengan cepat dia menarik selimut untuk menutupi wajahnya, "Mas... Astaga kamu sensor banget itu." Kata Indah.
"Bukan tidak tahan. Tapi...."
Ting... Tong. Suara bel lagi berbunyi.
"Oh pesenan." Sahut Rendi dengan wajah kecewa. Dia langsung berlari ke kamar mandi untuk dirinya mengambil handuk.
Kedubrrakkk..... Bukannya sampai ke kamar mandi dia malah terpeleset.
"Aaww..... Bokongku." Pekik Rendi.
Mendengar jeritan Rendi, Indah langsung membuka selimut, dan melihat Rendi tengah meringgis kesakitan sambil memegangi bokongnya, tapi expresi di wajah Rendi begitu lucu dan Indah tidak tahan untuk tidak tertawa. "Hahahaha... Kamu lucu banget Mas.... Hahahaha, lagian petakilan banget jadi orang." Kata Indah terpingkal-pingkal.
"Sayang... Jangan tertawa terus, bantu aku bangun." Ucap Rendi dengan memelas sambil mengulurkan tangannya meminta bantuan. Pinggangnya pun ikut kram.
"Ah maafkan aku Mas."
Indah langsung berdiri dan melilit selimut untuk menutupi tubuh polosnya, dia menghampiri Rendi untuk membalas uluran tangannya, mencoba menarik tubuh Rendi tapi justru dia ikut terpleset.
Kedubrakkkkk.....
__ADS_1
"Aaww....." Pekik Rendi lagi.
"Hahahaha...." Indah lagi-lagi tertawa, karena dirinya terpleset dengan posisi duduk di pangkuan Rendi, bokong Rendi lah yang jadi korbannya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, Rendi.... Rendi.
"Kamu sangat bahagia sekali ya melihat aku kesakitan." Ucap Rendi meringgis.
Indah langsung berdiri, menghentikan tawanya, "Maafkan aku Mas, kamu sangat lucu. Sini aku bantu." Ucap Indah mengulurkan tangan membantu Rendi dan kali ini berhasil.
Ting.... Tong, bunyi bel yang lagi-lagi menunggu. Mungkin pelayannya sudah tidak sabar.
"Sabar kali kampret!" Pekik Rendi marah-marah dengan masih mengelus-ngelus bokong yang benar-benar sakit, dia langsung menarik selimut yang Indah kenakan.
"Mas kau mau apa?" tanya Indah menahan selimut yang hendak Rendi tarik.
"Pinjem sebentar sayang. Kau mojok dulu di pintu." Ucapnya memohon.
Karena tidak tega Indah melepaskan selimut dan terpampang nyata tubuh polosnya, Rendi sempat menelan salivanya sambil geleng-geleng kepala. Dengan cepat Indah menutupi bagian tubuhnya dengan kedua tangan dan memojokkan tubuhnya di balik pintu.
Rendi melilit selimut itu ke pinggangnya ala-ala model sarung. Tapi ketika di pakai malah terlihat seperti memakai rok tutu. Indah mulai terkekeh lagi, tapi dia menahannya takut Rendi marah.
"Sayang. Kamu kalau mau ketawa, ketawa saja tidak usah di tahan." Sahut Rendi sambil menyingsing selimut, rasa sakit di bokongnya terjeda melihat istrinya yang terus saja tertawa. Walau dia yang jadi bahan tertawanya.
Ting... Tong...
"Nggak sabar banget. Nggak tau orang lagi kesakitan apa." Rendi mendengkus kesal.
Ceklek....
Rendi membuka pintu dengan wajah masamnya.
"Maaf Pak ini......" Ucapan pelayan Hotel wanita terhenti, dia justru ternganga melihat roti sobek punya Rendi yang berisi 8 potong di perutnya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Rendi dengan garangnya, "Sini pesennya," ujarnya yang langsung merebut dari tangan sang pelayan.
"Maaf Pak." Lirih pelayan itu dan Rendi langsung menutup pintu.
BRAAKKK...
"Ini sayang..." Ucap Rendi menyerahkan ke Indah yang masih di pojokan.
"Terima kasih Mas." Sahut Indah langsung menerimanya, dengan menurunkan pandangan karena malu dengan tubuhnya.
...🌾🌾🌾🌾🌾...
__ADS_1
Yuk dukung Author dengan cara like, komen, vote dan gift. Terimakasih sudah membaca ❤️ Jangan lupa favorit kan ya.....