Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 109. Bagaimana caranya


__ADS_3

"Memangnya sampai sekarang, kau tidak merasa aku ini sudah berubah? Ya ... walau sedikit, aku jauh lebih baik dari dulu, kan?" tanya Rio.


Wulan masih saja terdiam dengan pandangan mata yang berpusat kedepan, tidak melihat wajah Rio yang berada dibawah.


"Bukannya sudah kewajiban istri ikut dengan suaminya, kemanapun dia pergi? Kau tidak ingin ikut bersamaku? Kau sama sekali tidak merasa rindu, jika jauh dariku, Wulan?" Rio mengangkat tubuhnya untuk bangun dan memegangi kedua pipi istrinya. "Kenapa kau diam saja? Apa yang ada didalam pikiranmu?"


"Aku bisa ikut dengan Mas Rio. Tapi ada syaratnya," jawabnya dengan hati-hati.


"Apa? Syaratnya aku tidak boleh berbuat kasar lagi, kan?" terka Rio seraya mencium pipi istrinya.


"Iya, itu yang pertama. Tapi ada syarat yang kedua."


"Apa itu?"


"Ayah, Ayah mengizinkanku."


Rio menghela nafasnya dengan lega. Setidaknya Wulan masih ingin tinggal di rumahnya, walau syarat yang kedua terkesan berat.


"Yasudah, nanti aku izin pada Ayah."


***


Keesokan harinya.


Rio dan Wulan menuruni anak tangga\, keduanya sudah mandi dan berpakaian rapih. Namun tadi pagi sempat ada drama karena Wulan mual-mual melihat Rio yang tel*nj*ng. Hasilnya mereka mandi sendiri-sendiri dan Wulan segera keluar dari kamar saat Rio ingin memakai pakaian.


"Selamat pagi Kak Reymond, Indah, Bayu dan Clara," sapa Rio seraya duduk di ruang makan.


"Pagi," sapa mereka serempak.


"Wulan, semalam kamu tidur dimana? Kok aku tidak melihatmu saat malam-malam aku terbangun?" Indah mencoba basa-basi, ingin memulai obrolan.


"Aku tidur di kamar tamu dengan Mas Rio, Indah," jawab Wulan seraya duduk di samping Rio.


"Ah kau ini Rio! Tau begitu aku tidur sekamar dengan Indah," cicit Reymond.


"Kakak ini lebay! Setiap hari juga tidur sekamar, baru malam ini doang, 'kan?"


"Iya sih. Eemm ... bagaimana? Sudah kau tanyakan?" Reymond mengerakkan bola matanya kearah Wulan, seakan mengisyaratkan pada adiknya.


"Sudah Kak, tapi nanti aku beritahu Kakak," lirihnya sambil menarik turun alis matanya.


Reymond mengangguk pelan dan meneruskan sarapannya.


"Mas Rio mau sarapan dengan apa?" tanya Wulan.


Diatas meja sudah ada nasi goreng dan juga roti. Tapi dilihat dari penampakannya, nasi goreng itu seperti bukan buatan Wulan.


"Siapa yang bikin nasi goreng? Kau atau Bibi?" tanya Rio.

__ADS_1


"Bibi, Mas."


"Aku mau roti saja."


"Aku ambilkan." Wulan mengambil satu lembar roti di tangannya. "Mau pakai selai apa?" tanyanya lagi.


"Coklat."


Wulan mengangguk dan membuka toples kaca yang berisi selai coklat. Lalu mengolesi pada permukaan roti tawar itu.


"Oya Wulan. Kau 'kan masih ada libur sehari di Restoran. Jadi hari ini, kau temani aku ke kantor, ya?"


"Temani ke kantor? Maksud Mas Rio bagaimana?"


"Kau ikut ke kantor denganku."


"Memang mau apa ke kantor Mas Rio? Mas Rio mau mengajakku bulan madu lagi?"


Reymond dan Indah saling memandang dan tersenyum, melihat percakapan mereka berdua.


"Iya, kita bulan madu ke kantorku."


Wulan mengangguk pelan dan meletakkan roti itu diatas piring kosong yang berada didekat Rio.


"Kalau kamu ikut dengan Rio, apa boleh sementara Clara dan aku disini?" tanya Indah pada Rio dan Wulan.


"Tapi Clara hari ini harus masuk sekolah lagi, Indah. Ayah sudah mendaftarkannya," kilah Wulan, mendadak ia seperti tersinggung.


"Bukannya Clara home schooling?"


"Iya, tapi sekarang dia 'kan sudah sehat. Akan lebih baik jika sekolah di tempatnya. Lagian, dia juga bisa bersosialisasi dan mempunyai banyak teman nanti," papar Wulan.


"Iya, bagus itu. Yasudah nanti aku saja yang ikut--"


"Sayang, kamu hari ini pulang saja ke rumah Papah. Kamu dan Bayu dari kemarin main terus dengan Clara. Kamu juga harus banyak istirahat. Kasihan Dedek bayi kita, jangan sampai kamu kecapekan," sela Reymond seraya mengelus perut Indah yang sudah membesar. Usia kandungannya sekarang memasuki enam bulan.


Padahal aku masih ingin terus bersama Clara. Tapi, ucapan Mas Reymond ada benarnya juga.


Indah mengangguk samar. "Iya, deh. Aku dan Bayu pulang ke rumah."


"Nah, begitu dong! Kan cantik kalau nurut begini," kekeh Reymond seraya mengecup lembut kening istrinya.


***


Di kantor Rio.


Sudah hampir dua jam, Wulan hanya duduk-duduk di sofa dan melihat Rio yang tengah sibuk menatap layar laptopnya. Lama-lama bosan juga kalau begini terus, pikirnya dalam hati.


Wanita itu bangun dari duduknya. "Mas Rio ingin aku buatkan kopi? Aku buatkan ya, Mas?"

__ADS_1


"Tidak usah, ada OB disini. Nanti aku suruh dia saja," tolak Rio dengan mata yang masih sibuk menatap kerjaannya.


"Tidak apa-apa, aku saja yang membuatnya, ya?" Wulan melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Aku bilang tidak usah, Wulan!" tegas Rio seraya menatap tajam kearahnya.


Wulan berjalan lesu untuk duduk lagi ke sofa, wajahnya langsung cemberut.


"Kau bosan menemaniku di kantor?"


"Aku tidak bosan menemani Mas Rio, cuma aku bosan karena tidak ada aktivitas, Mas," keluh Wulan dengan wajah memelas, menatap pada Rio.


"Kau ingin mengerjakan sesuatu?"


Wulan mengangguk semangat. "Iya."


"Yasudah, kemarilah." Rio menggerakkan tangannya, seolah meminta istrinya untuk mendekat padanya.


"Aku ngapain?" tanya Wulan saat ia sudah berdiri didekat meja kerja Rio.


Pria itu berdiri di hadapannya, ia membuka gesper, membuka kancing celana dan juga resletingnya. Kemudian, ia menarik celana luar dan dalam miliknya sampai diatas lutut. Hingga memperlihatkan benda keras dan panjang yang tegak berdiri.


Wulan tercengang dan membulatkan netranya, ia menutup mulut dengan salah satu tangan, lalu berlari menuju kamar mandi.


"Oek ... Oek ... Oek."


Rio menepuk jidatnya sambil geleng-geleng kepala, ia makin heran dengan tingkah istrinya. Ternyata bukan hanya mual melihat Rio polos di bagian atas, tapi ia juga mual saat Rio polos di bagian bawah.


"Astaga! Wulan ini kenapa sih? Aku baru saja ingin mengajaknya bercinta, tapi dia malah kabur ke kamar mandi," dengus Rio.


Ia menarik kembali celana da lam dan luarnya, tidak lupa memakai gesper. Kemudian, menghampiri istrinya didalam kamar mandi.


"Wulan, kau kenapa? Masa lihat burungku saja kau mual? Memang segitu menjijikkannya?" tanya Rio seraya memijit tengkuk belakang istrinya dengan wajah cemberut karena kesal.


Wulan menarik secarik tissu dan ia usap bibirnya yang basah bekas air.


"Aku tidak\, tau. Sepertinya aku benar-benar tidak sanggup melihat Mas Rio tel*nj*ng\, tadi pagi juga begitu 'kan\, Mas? Perutku seperti di remas-remas rasanya." Wulan memegangi perutnya yang sudah kosong tanpa makanan.


"Kok bisa begitu? Bukannya kau sering melihatku tel*nj*ng? Apa ada yang salah dengan tubuhku? Apa tubuhku sekarang jelek di matamu?"


Wulan menggeleng cepat dan berbalik badan, menatap wajah Rio. "Tidak, Mas. Sumpah ... tubuh Mas Rio tidak ada yang salah. Masih bagus seperti saat pertama kali aku melihatnya."


Sengaja di puji-puji, karena Wulan takut Rio marah dan salah paham padanya. Ia sendiri binggung kenapa bisa seperti ini.


"Aku mual bukan di buat-buat kok, Mas. Sumpah ...," ucapnya dengan tulus.


Rio menghela nafasnya dengan berat. "Iya, aku mengerti. Tapi masalahnya aku ingin mengajakmu bercinta, Wulan!" kedua tangannya merengkuh pinggang Wulan. "Bagaimana caranya bercinta dengan masih berpakaian lengkap, dan tidak membuatmu mual?"


^^^Kata: 1098^^^

__ADS_1


__ADS_2