
"Saya suaminya, Indah biar pulang bareng saya." Sontak Rendi memotong ucapan Indah.
"Oh ya sudah Tante pulang dulu, jangan lupa buat besok ya Ndah." Kata Nissa sambil tersenyum dan masuk ke mobil.
"Ah iya Tante." Jawab Indah.
Rendi merangkul bahu Indah dan mengajaknya, masuk ke dalam mobil. "Hayu Ndah." Indah menurutinya.
"Mas kok kamu bisa tau aku di sini?" tanya Indah sedikit cemberut.
"Aku nggak sengaja aja lihat kamu," sahutnya sambil mengusap tengkuk.
"Kamu habis dari mana sih?" tanya Rendi.
"Ketemu Nella." Sahut Indah seraya memalingkan wajah.
"Eemm kamu... Kamu masih marah sama aku?" tanyanya rada kikuk.
"Menurut kamu." Sahutnya singkat.
"Indah aku nggak ada hubungan apa-apa lagi dengan Siska. Kamu harus percaya sama aku." Ucapnya membela diri, namun Indah hanya terdiam dengan wajah kesal.
Sepertinya dia benar-benar marah, tapi kenapa wajahnya manis sekali.
Gumam Rendi senyam-senyum, kemudian dia meraih laptopnya dan menaruhnya di kedua paha Indah.
"Kamu mau ngapain Mas?" tanya Indah merasa binggung.
"Ah sebentar, kamu harus lihat ini." Sahut Rendi sambil mengetik-ngetik laptop tersebut.
"Kamu jangan ajarin aku lihat video mesum ya Mas," ucap Indah dengan nada sedikit tinggi.
"Ssttt..." Rendi menempelkan satu jarinya ke bibir Indah supaya dia berhenti ngoceh.
Rendi memperlihatkan rekaman CCTV itu yang sudah di kirim oleh Harun kepadanya.
Supaya Indah bisa percaya dan tidak salah paham lagi.
"Gimana?" tanyanya yang kemudian menutup laptop dan menaruhnya kembali.
"Ah bisa saja kan itu hanya rekayasa kamu." Ucapnya yang masih saja tidak percaya.
"Hei dari mana rekayasa nya? Kamu harus percaya sama aku, aku ini kan suamimu." Kata Rendi sambil menunjuk dirinya sendiri.
Indah langsung menatap Rendi. "Suami?" Indah memiringkan bibirnya, "Kamu sendiri tidak pernah menganggap ku sebagai istrimu. Sudahlah nyalakan mobilnya aku mau pulang." Wajah Indah kembali mengarah ke kaca mobil.
__ADS_1
Degg, seketika saja omongan Indah jadi menusuk hati Rendi, mulut Rendi seakan terkunci. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Rupanya kali ini Indah seakan sudah merasa tidak mempercayainya 100%.
Rendi mengelai nafas kemudian menjalankan mobilnya, sesekali dia melirik Indah yang masih saja cemberut dengan memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil, suasana menjadi sangat canggung
Aku kira dengan memberitahu rekaman ini dia bisa percaya sama aku, hah... Ternyata nggak, Apa selama ini aku terlalu sering menyakitinya?
***
Sampailah tepat di depan rumah Rendi, dengan wajah yang masih terlihat tidak suka Indah langsung membuka pintu mobil namun lengannya di hentikan. "Indah... Indah tunggu sebentar." Rendi kemudian menutup pintunya lagi.
"Kamu nggak ada niat untuk bilang ke Mamah kan soal masalah semalam, apa lagi pas aku sudah kasih buktinya," ucap Rendi agak mendekat dengan Indah.
Apa dia sengaja kasih aku bukti supaya aku tidak memberitahu ibunya, tidak heran juga sih.
Indah hanya menjawab dengan anggukan kepala, dia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah yang di susul dengan Rendi di belakang.
"Indah..." Panggil Santi yang sedang duduk di sofa, membuat langkah kaki Indah dan Rendi terhenti.
Mereka berdua menoleh ke arah ruang tamu yang ternyata ada Rio juga di sana. Hati Rendi merasa gugup tidak karuan.
Rio ngapain dia ke sini? Apa dia ngadu sama Mamah?
"Sayang Indah, sini Mamah mau ngobrol sama kamu." Indah berjalan menghampiri mertuanya dan duduk di samping. Terlihat ada sebuah kotak besar di atas meja.
"Ngomong aja Kak." Sahutnya santai sambil menyender.
"Ke kamar gue aja, gue mau ngomong empat mata."
"Lebay ammm...." Rendi langsung menarik lengan adiknya dan menuntunnya ke kamarnya, untung tidak sampai copot karena tarikannya lumayan kasar.
๐ธ๐ธ๐ธ
"Indah sayang... Kamu mau kan lanjut kuliah lagi?" tanya Santi dengan nada lemah lembut.
"Mamah sudah daftarkan kamu lagi ke universitas kamu yang dulu, jadi besok kamu bisa langsung ke kuliah lagi." Lanjutnya lagi seraya menyentuh tangan menantunya.
"Mamah serius?" tanya Indah dengan expresi sumringah.
Santi tersenyum, sambil mengangguk. "Jelas serius lah, kapan Mamah bohong sama kamu."
"Tapi aku nggak ada..."
"Soal biaya kuliah kamu tenang saja. Mamah sudah bayar sampai kamu jadi sarjana."
"Mamah..." Kata Indah yang langsung memeluk mertuanya, air matanya pun mengalir tidak terasa. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan tapi kebahagiaan.
__ADS_1
Ya Allah terima kasih, sudah kasih mamah mertua sebaik ini.
Dan aku nggak menyangka akhirnya bisa kuliah lagi.
Tidak terasa air mata Indah sudah membasahi pundak Santi, Santi pun merasa pundaknya basah. Dia melepaskan pelukannya, "Hei sayang kenapa kamu menanggis?" tanyanya sambil mengusap air mata di pipi menantunya.
"Ini air mata kebahagiaan kok Mah, terima kasih ya Mah." Ucap Indah kemudian mengecup kedua tangan mertuanya.
๐บ๐บ๐บ
Sementara itu kakak beradik itu masuk ke dalam kamar, dan Rendi langsung mengunci pintu.
"Lu ada apa sih Kak?" tanya Rio merasa binggung. Mereka duduk di sofa kamar.
"Rio, gue mau cerita sama lu soal semalam." Rendi langsung menceritakan secara rinci, dia juga membuka laptop dan memperlihatkan rekaman itu ke Rio.
Tapi setelah Rio mendengarkan cerita Rendi dan memperlihatkan rekaman itu, Rio seakan tidak peduli akan masalah semalam.
"Lu ngapain cerita semuanya ke gue, pake ngasih tau rekaman segala. Nggak penting banget." Ucap Rio acuh tak acuh.
Rendi dibuat kesal, tapi dia mencoba untuk tenang dan berbicara secara baik-baik kepada adiknya yang sama-sama keras kepala itu.
"Rio, lu kan tau sendiri masalah semalam Indah salah paham sama gue."
Rio tersenyum aneh, "Oh gue tau, maksud lu ngasih tau ke gue. Biar gue nggak ngadu ke Mamah gitu Kak?" Rendi mengangguk.
"Lu tenang aja, kali ini lu aman Kak, soalnya Indah sendiri yang meminta gue nggak bilang ke Mamah. Tapi suatu saat kalau gue sendiri pergokin lu lagi, lu nggak bakal gue ampuni."
Degg, ucapan Rio menjadi seolah-olah sedang mengancam Rendi saat ini.
Kok sekarang aku mikir dia yang jadi kakak aku sih.
Pikir Rendi dalam hati, setelah selesai mengobrol mereka berdua turun dan menghampiri ibu Santi dan Indah di ruang tamu.
"Kalian sudah selesai ngobrolnya? Emang ngomongin apa sih?" tanya Santi menatap kedua anaknya.
Mereka berdua duduk. "Ah biasa Mah, urusan laki-laki." Sahut Rendi sambil nyengir.
"Itu apaan Mah?" tanya Rendi sambil menunjuk kotak besar yang ada di atas meja.
"Oh ini, ini pelataran buat Indah masuk kuliah lagi besok." Jawab Santi lalu mengambil surat formulir dan menyerahkan ke Indah. "Indah nanti kamu isi ini dan besok bisa langsung masuk kuliah ya? Nanti, biar Rendi yang hantar kamu."
...๐Jangan Lupa Like๐...
...๐บDan Kasih Rate 5๐บ...
__ADS_1