
Apa dulu Indah juga seperti ini setelah menikah dengan Pak Reymond?
Batin Wulan.
"Sudah selesai, Mas," ucap Wulan sambil menyeka keringat pada dahinya.
Mereka berdua berdiri tepat didepan meja rias dengan kaca besar. Rio melihat wajahnya sendiri didepan pantulan kaca.
Tampan sekali aku.
Batin Rio.
"Dasinya belum. Kau pakaikan aku dasi sekalian," pinta Rio.
Wulan mengambil dasi diatas kasur.
"Aku tidak bisa cara memakaikannya, Mas."
"Apa kau dulu tidak sekolah?"
Apa maksudnya? Kalau aku tidak sekolah tidak mungkin aku bekerja jadi OB. Dia ini bertanya atau sedang menghinaku?
Batin Wulan.
"Aku tanya, apa kau tidak sekolah?!" nadanya sedikit meninggi.
"Tentu saja aku sekolah ... aku lulusan SMA," sahut Wulan dengan yakin.
"Sombong juga kamu, ya? Aku yang sarjana saja tidak sombong."
Deg.......
"Siapa yang sombong? Aku cuma menja-"
"Sudah sana pergi ke meja makan! Aku bisa memakai dasiku sendiri!" pekiknya mengusir dengan wajah kesal.
Apa aku salah bicara? Bukannya aku cuma menjawab pertanyaannya? Kenapa dia terlihat seperti marah?
Batin Wulan.
Wulan keluar dari kamar Rio dan kini sudah berjalan menuju meja makan. Matanya terbelalak kaget kala melihat seorang wanita paruh baya tengah sarapan bersama Adiknya.
"Bu Santi," ucap Wulan.
Santi langsung melihat kearah. "Wulan ... kamu baru selesai mandi? Ayok makan bareng," ajak Santi sambil tersenyum.
Bu Santi kok pagi-pagi kesini. Ada apa ya?
Batin Wulan.
Wulan langsung duduk dan mengambil nasi goreng diatas piring, tak lama Rio turun dari tangga. Ia menarik senyum menawan untuk Santi.
"Mamah ... kok Mamah pagi-pagi tumben kesini?" Rio melihat kearah pintu utamanya, seakan mencari-cari seseorang.
"Mamah kesini sendirian?" tanyanya lagi.
"Iya, Mamah sendiri. Mamah ingin sarapan bersama keluarga baru kamu," sahut Santi.
__ADS_1
Rio langsung duduk disebelah Wulan. "Mau aku ambilkan sarapan, Mas?" tanya Wulan seraya bangun.
"Ya," jawab Rio singkat.
Wulan menuangkan satu centong nasi goreng diatas piring dengan ayam goreng diatasnya, segera ia letakkan didepan Rio.
Santi memperhatikan Wulan yang tengah melayani sarapan Rio. Ia merasa sangat bahagia, namun wajah anaknya itu sedari tadi cemberut saja. Jauh dari kesan bahagia.
Semoga saja Wulan dan Rio memang berjodoh, aku tau Rio tidak suka dengan Wulan. Tapi aku yakin nanti mereka bisa saling mencintai, sama halnya dengan Rendi dan Indah.
Batin Santi.
"Kebetulan Mamah kesini, apa Mamah hari ini akan ke butik?" tanya Rio.
"Iya, memang kenapa?"
"Mamah bisa tidak nanti siang ajak Wulan ke salon dan belanja ke Mall?"
"Bisa, memang Wulan mau kesana? Nanti biar Mamah yang antar."
Kenapa Mas Rio memintaku untuk ke salon dan ke Mall?!
Batin Wulan.
"Nanti tolong panjangkan rambut Wulan juga, Mah. Pas di salon nanti," pinta Rio.
"Panjangkan?" Santi menarik alis matanya keatas, merasa heran. Karena rambut Wulan saja pendek sebahu.
"Iya. Bilang pada salonnya untuk menyambung rambut. Aku tidak suka dengan wanita yang berambut pendek," ejek Rio melirik sekilas pada Wulan.
"Oke. Nanti Mamah yang urus. Apa ada lagi?"
Santi tersenyum pada Wulan dan Rio, tapi wajah menantunya terlihat begitu tertekan.
"Iya ... iya, nanti Mamah akan buat Wulan menjadi cantik."
Aku tidak yakin juga sih kalau jadi cantik.
Batin Rio.
Rio menatap wajah Clara yang tengah menghabiskan setengah nasi goreng diatas piring.
"Clara sayang ... bagaimana semalam kamu tidur? Apa nyenyak?"
Clara melihat kearah wajah Rio yang berada didepan. "Nyenyak Kak, kasurnya empuk. Tapi nanti malam aku mau tidur sendiri saja ... Kak Wulan bisa tidur bersama Kakak."
Jadi semalam Rio dan Wulan tidak tidur sekamar?
Batin Santi.
"Memangnya kamu tidak takut? Kalau takut tidak apa kok," sahut Rio santai.
"Tidak Kak. aku kan sudah besar."
Besar apanya? Jelas-jelas kamu masih kecil, sayang.
Batin Rio.
__ADS_1
***
Hari ini adalah hari dimana Reymond alias Rendi kembali memegang perusahaan. Tapi sebelum ia kembali bekerja dengan normal, ia sudah menyuruh Dion untuk mengumpulkan seluruh karyawan dari dua kantornya itu untuk berkumpul didepan halaman kantor.
Bisa dibilang ingin memberikan suatu pengumuman terlebih dahulu. Kini Reymond, Rio, Hermawan dan yang lain sudah berdiri didepan. Berhadapan pada beberapa kumpulan karyawan.
Dion memberikan Reymond microphone supaya suaranya terdengar begitu jelas dan sampai ke telinga semua orang didepannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakahtu," ucap Reymond memberikan salam.
"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakahtu," jawabnya serempak bersamaan.
"Perkenalan saya Reymond Alexander alias Rendi Pratama. Mungkin sebagian kalian ada yang sudah tau, tapi ... ada juga yang belum tau. Tapi intinya disini saya adalah Rendi Pratama, pemilik sekaligus CEO dari perusahaan Pratama Group A dan perusahaan Pratama Group A2. Tapi saya hanya memegang satu perusahaan saja ... yaitu perusahaan ini, dan perusahaan Pratama Group A2 secara resmi dipegang oleh Rio Pratama, Adik saya ...."
"Saya tidak akan memindahkan atau memecat karyawan dari Andra Pratama, asalkan kalian bisa menaati dan mampu bekerja dibawah Rio Pratama. Andra Pratama sudah tutup buku di perusahaan saya. Dan mulai sekarang tetap panggil saya dengan sebutan Reymond. Pak Reymond Alexander Pratama. Itu adalah nama baru saya ... sekian pengumuman ini. Saya harap kalian bisa bekerja seperti biasa dan kembali ketempatnya masing-masing."
"Baik, Pak!!"
Pengumuman singkat itu langsung Reymond bubarkan, seluruh karyawannya sudah pergi meninggalkan Reymond, Rio, Hermawan dan Dion disana.
"Jadi kamu tetap ingin memakai nama Reymond? Bukannya lebih baik mengganti dengan Rendi Pratama di KTP kamu?" tanya Mawan.
"Tidak, Pah. Aku suka namaku yang sekarang. Wajahku juga sudah berubah, aku merasa nyaman di panggil Reymond. Mungkin nanti hanya perlu ditambahkan Pratama pada belakang namaku."
"Yasudah kalau begitu ... Papah pamit pergi ke kantor dulu."
"Iya, hati-hati Pah."
Hermawan sudah berjalan menuju tempat parkiran dan masuk kedalam mobil dengan Jojo yang sudah menunggunya, mereka pergi meninggalkan kantor Reymond.
"Kak," panggil Rio.
Reymond menoleh padanya.
"Seluruh karyawan Om Andra sekarang adalah karyawanku. Lalu bagaimana dengan Tante Irene, apa dia jadi sekretarisku juga?" tanya Rio.
Irene sendiri tadi tidak hadir.
"Memangnya Om Andra belum mengganti sekretarisnya?"
"Belum. Masih Tante Irene, tapi dia sedang hamil sekarang."
Deg.......
Hamil?! Kasihan juga dia ditinggal oleh Om Andra. Tapi memang sudah seharusnya seperti itu.
Batin Reymond.
"Yasudah begini saja, nanti kalau hari ini dia tidak masuk ke kantor kau hubungi dia. Tanyakan masih ingin jadi sekretarismu atau tidak. Kalau misalkan tidak ... nanti Dion yang akan mencarikannya," jelas Reymond.
"Lalu asistenku bagaimana? Sekarang aku tidak punya asisten, Kak."
"Nanti Dion juga yang akan mencarikannya. Besok kau akan dapat asisten baru."
"Iya Kak. Yasudah, aku pergi dulu ke kantorku," ucap Rio pamit.
"Iya."
__ADS_1
^^^Kata: 1028^^^