
Indah langsung lari ke luar kamar. "Hah jantungku kenapa ini? Apa aku tadi beneran melihatnya? Ah roti sobek. Pak Rendi benar-benar terlihat sangat sexy." Memikirkan hal yang barusan dia lihat. "Haduh Indah kamu ngomong apa sih." Sambil memukul-mukul mulutnya sendiri.
Rendi adalah laki-laki yang sempurna tampan dan mapan. Dia memiliki ke duanya, tapi soal hati nggak sembarangan orang mampu meluluhkan nya, karena dia orang yang susah jatuh cinta dan susah juga untuk melupakan.
Bisa di bilang BUDAK CINTA dan SUSAH MOVE ON.
Indah duduk dengan menjajarkan kedua kakinya dengan menyender di balik pintu. Setelah selesai berpakaian ya langsung memanggilnya dari dalam. "Indah." namun tidak ada jawaban. Rendi membuka pintu dan Indah pun terjatuh karena dia tertidur. "Astaghfirullah... Huh... Huh." Ucap Indah terkejut.
"Hahaha." Rendi tertawa, "Kamu ngapain sih duduk di depan pintu?" tanyanya, "Aku tadi ke tiduran Mas." Sahut Indah.
"Kamu duduk menyender di pintu saja bisa langsung tidur. Mungkin di pinggir jalan juga bisa tidur ya, hahaha." Tertawa lagi.
Apa-apaan pak Rendi dia pikir aku gembel, mentang-mentang orang kaya. Seenaknya aja kalau ngomong.
Indah pun terdiam mendengar ejekan Rendi lalu dia masuk ke dalam kamar dan mengambil tikar untuk dia gelar. Rendi menarik kasur yang berada di bawah ranjang tempat tidurnya dan berkata. "Nih kamu pakai kasur ini biar nggak dingin." Ucap Rendi.
Tadi bukannya dia bilang aku bisa tidur di pinggir jalan? Ngapain juga dia sok-sok'an bilang biar nggak dingin. Kok aku jadi kesel gini ya. Indah menggerutu.
Indah langsung membaringkan tubuhnya dan tidur.
***
Cip... Cip... Cip... Suara burung di pagi hari.
Indah bangun lebih dulu dari Rendi, dia membereskan tempat tidurnya dan mandi. Rendi membuka mata, tiba-tiba perut Rendi mulas dan ingin buang air besar. "Duh perutku mulas lagi, pasti di dalam Indah lagi mandi." Ucap Rendi yang mendengar suara air dari kamar mandi. Rendi berdiri dan mengetuk pintu kamar mandi. "Indah masih lama nggak?"
Indah di dalam tidak mendengar apapun, Rendi menggedor pintu, "Indah masih lama nggak aku mulas nih mau BAB." Indah kaget dan langsung menjawab. "Mas aku baru aja masuk." Jawab Indah.
"Ya udah keluar dulu sekarang."
__ADS_1
"Tapi tanggung Mas aku udah membuka pakaian dan udah basah."
"Pakai handuk dulu dan keluar." Indah memakai handuk. "Cepetan Indah udah di ujung nih nggak tahan." Rendi yang sudah tidak sabar menahan rasa mulasnya.
Indah keluar dan Rendi pun langsung masuk.
Setelah beberapa menit Rendi keluar. "Ah leganya." Sambil memegang perutnya.
Lebay banget nih orang. Gerutu Indah sambil melihat expresi muka Rendi.
"Kamu ngapain lihatin aku kaya gitu, udah sana terusin mandi." Rendi yang melihat Indah dengan sinis.
Indah masuk ke kamar mandi dan, "Ugh." Dia langsung menutup hidungnya karena kamar mandi itu menjadi sangat bau gara-gara Rendi. Dia pun meminta untuk mandi di kamar tamu karena tidak tahan dengan baunya. Rendy pun bertanya, "Bau apaan?"
"Mas cium aja sendiri." Indah pergi keluar kamar dengan masih menggunakan handuk dan mengambil handuk kecil untuk menutupi bagian dadanya. Dia juga membawa baju yang akan dia pakai.
"Lebay banget sih." ucap Rendi masuk ke kamar mandi untuk mengecek seberapa baunya dan, "Hoek." Rendi mual. "Beneran bau banget, semalam aku abis makan apaan sih?" setelah mencium baunya, dia keluar lagi dari kamar mandinya
"Iya Mah, aku habis mandi di sini." Ucap Indah lalu tiba-tiba Rendi juga datang membawa handuk dan pelataran mandinya membuat ibunya binggung. "Lho kamu juga Ren mau ngapain emang kamar mandi di kamarmu rusak?" tanya ibu Santi dan Indah menjawab. "Eemm sebenarnya tuh...." Ucapan Indah langsung di potong Rendi, "Ah nggak apa-apa kok Mah kita mau coba mandi di sini aja, iya kan Ndah." Melirik ke Indah. "Ah iya, iya Mah." Sahut Indah.
"Tumben banget kalian, ya sudah kamu mandi sana Ren. Indah kita sarapan bareng yuk." Rendi masuk ke kamar tamu. Indah dan mertuanya berjalan ke meja makan untuk sarapan.
"Pagi sayang." Sapa ayahnya yang sudah berada di meja makan. "Pagi Pah." Indah dan ibu Santi pun duduk.
"Mata kamu merah kenapa? Apa kamu habis nanggis?" tanya ayahnya yang memperhatikan mata Indah. "Pasti kamu semalam mikirin Rendi belum pulang ya? Padahal kata Mamah juga kamu tidur saja." Sambung ibu mertuanya.
"Iya nggak apa-apa kok Mah." Jawab Indah.
Lalu Rendi datang dan duduk di meja makan. Mereka berempat pun sarapan nasi goreng bersama.
__ADS_1
"Indah.. Hari ini kamu kerja?" tanya Rendi dan mengambil nasi goreng ke atas piringnya.
"Ya Mas." Jawab Indah sambil mengunyah. Rendi pun meneruskan. "Kamu nanti berangkatnya di anterin sama Dion ya, aku juga udah suruh dia buat pindahin semua barang-barang kamu ke rumah baru."
"Rumah baru? Maksudnya gimana Mas?" tanya Indah yang merasa bingung lalu dijawab oleh mertuanya, "Iya sayang, jadi Rendi beliin kamu rumah buat ibumu tinggal. Biar kamu nggak ngontrak lagi." Sahut ibu Rendi.
"Beneran Mas? Terima kasih banyak Mas." Ucap Indah merasa senang dan Rendi pun mengangguk.
"Ren kenapa nggak kamu aja yang anterin Indah berangkat kerja?" tanya ibunya.
Hah pagi ini kan aku ada janji sama Siska. Dalam hati Rendi.
"Nggak bisa Mah, aku pagi ini ada meeting sama klien." Ucap Rendi memberi alasan. "Ya kan bisa sekalian." Sambung ibunya lagi. "Nggak apa-apa kok Mah aku bisa sendiri, lagian Mas Rendi hari ini pasti sibuk." Sahut Indah.
"Ah Indah kamu memang istri yang sangat pengertian." Puji mertuanya.
"Ya sudah ya Mah, Pah aku berangkat sekarang." Ucap Rendi yang buru-buru pergi.
"Ya hati-hati." Ucap Ibu dan Ayahnya.
"Indah hari ini mau jemput ibu kamu jam berapa?" tanya ibu mertuanya.
"Paling pas aku pulang kerja Mah." Jawab Indah.
"Ya udah nanti kalau kamu pulang kerja langsung kabarin Mamah ya, biar Mamah sekalian jemput kamu." Kata ibu mertuanya.
"Iya Mah." Setelah mereka selesai sarapan Ibu Santi dan Pak Hermawan pamit untuk pulang ke rumah. Indah pun juga bersiap-siap untuk berangkat dan kembali ke kamar mandi untuk mengambil tasnya lalu dia berjalan keluar rumah Rendi.
"Pagi Mbak Indah." Sapa Dion yang sudah menunggu di luar rumah. "Pagi." Jawab Indah.
__ADS_1
"Mbak Indah mau berangkat sekarang?" tanyanya, "Iya." Jawab Indah, lalu Dion mempersilahkan Indah masuk ke mobilnya.