
"Kau dimana?" tanya Rio.
"Saya ada di rumah sakit, Pak."
"Rumah sakit?! Siapa yang sakit?"
"Saya Pak."
"Sakit apa kau? Apa kau tidak bisa kesini? Aku ingin pergi."
"Saya tadi sempat mengalami kecelakaan kecil, Pak. Ini juga sebentar lagi saya pulang dan pergi ke kantor Pak Hermawan."
"Yasudah cepat kesini!"
Setelah Rio mematikan sambungan teleponnya, ia kembali menelepon Wulan. Tidak ada kata menyerah untuk mencoba, walau hasilnya nihil. Bahkan kali ini, nomornya tidak tersambung.
"Sialan kau, Wulan! Kau terus saja menghindariku! Kapanpun kalau aku sudah bertemu denganmu, aku akan memperk*samu!" ancamnya sambil berteriak.
Rio mengoceh-ngoceh dan memaki ponselnya sendiri. Bahkan seluruh karyawan yang melihat tingkahnya didepan halaman kantor itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Merasa yakin, kalau Rio akan jadi calon orang gila di masa depan.
***
Di kantor Reymond.
Tok ... tok ... tok.
"Masuk!" pekik Reymond dari dalam.
Ceklek~
Dion membuka pintu ruangan Reymond, namun dia datang tidak sendiri melainkan bersama Ali. Ali memakai tas gendong, mereka berjalan masuk dan melangkahkan kakinya menghampiri Reymond.
"Siang Pak Reymond," sapa Dion dan Ali, raut wajah mereka seperti ketakutan dan kecewa.
"Siang, bagaimana? Apa sudah kalian cek semuanya?" tanya Reymond yang sedang duduk pada kursi putar miliknya.
"Sudah, Pak. Tapi kami tidak menemukannya," jawab Ali.
Deg~
"Tidak menemukan?" Reymond mengerutkan dahi. "Bukannya kau curi lemarinya juga? Kenapa tidak menemukannya, Ali?"
"Iya, Pak. Saya bawa sama lemarinya juga, tapi tidak ada berkas informasi yang Bapak minta," jelas Ali.
"Itu tidak mungkin! Dimana semua berkasnya? Kalian cari lagi!" titah Reymond dengan nada tinggi.
"Saya bawa di tas. Saya akan cek lagi, Pak." Ali langsung duduk pada sofa dan membuka tas miliknya yang berisi beberapa berkas dari seluruh isi dari lemari. Dion juga ikut membantunya untuk mengecek lagi.
Setelah tiga puluh menit berlalu, semua berkas itu sudah berhasil di cek kembali. Namun tidak ada salah satu berkas yang Reymond cari.
"Bagaimana?" tanya Reymond.
"Tidak ada, Pak. Semua isinya tidak ada data enam tahun yang lalu," jawab Ali prustasi.
"Kalian ini tidak becus sekali bekerja! Masa cari selembar kertas saja tidak berhasil ketemu!" keluh Reymond kesal.
Tok ... tok ... tok.
"Masuk!"
__ADS_1
Ceklek~
"Maaf Pak Reymond," ucap Melly yang baru saja membuka pintu, tiba-tiba ia menghampiri Dion dan memegang lengannya dengan lembut.
"Mas Dion, ada polisi didepan mencari Mas ...." Wajah Melly terlihat begitu sedih.
Deg~
Mendengar ucapan dari Melly spontan membuat ketiga pria itu membulatkan kedua matanya.
"Polisi? Mau apa polisi datang mencariku, Mel?" tanya Dion.
"Aku tidak tau, Mas. Coba Mas Dion kesana dulu."
Reymond segera bangun dari duduknya, ia ikut keluar menemani Dion bertemu kedua polisi yang tengah berdiri didepan halaman kantornya.
"Selamat siang, apa betul saudara yang bernama Dion Aryoga?" tanya salah satu polisi yang menatap kearah Dion.
"Iya, saya Dion, Pak."
"Bapak bisa ikut kami ke kantor polisi? Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan."
"Ada masalah apa, Pak? Kenapa asisten saya dibawa ke kantor polisi?" tanya Reymond.
"Biar nanti di kantor saya jelaskan." Kedua polisi itu sudah memegangi kedua lengan Dion, namun Reymond mencegahnya.
"Bapak jangan asal bawa asisten saya begitu! Dia ini pria baik-baik, tidak mungkin membuat kejahatan atau tindakan kriminal!" bela Reymond tak terima.
"Maaf, Pak. Kami membawa surat penangkapan, jadi kami berhak membawa saudara Dion ke kantor polisi!" tegasnya.
"Mana surat penangkapannya? Berikan padaku!" Reymond menadah tangan.
Ketika amplop itu dibuka dan Reymond membacanya, kedua bola mata itu terbelalak kaget. Ia tak menyangka kalau Susan yang melaporkan Dion atas tuduhan pencurian.
Apa-apaan ini? Bu Susan melaporkan Dion? Kok dia bisa tau Dion menyuruh orang. Ah menyebalkan sekali Bu Susan ini.
Reymond memeras surat itu sangking kesalnya, sementara Dion sudah dibawa masuk kedalam mobil polisi dan meninggalkan kantornya.
Reymond berbalik badan, ia melihat Melly sedang menangis menatap kearahnya.
"Pak Reymond, apa Mas Dion akan di penjara?"
"Tidak, kau tenang saja. Aku akan mengurus semuanya."
Reymond berjalan menuju parkiran untuk masuk kedalam mobil. Selama menyetir, ia menyempatkan untuk menelepon Harun.
"Halo, sore Pak Reymond."
"Harun kau ikut denganku ke kantor polisi!"
"Kantor polisi?! Bapak ditangkap lagi?"
"Bukan aku, tapi Dion. Kita ketemu disana."
"Baik, Pak."
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sampainya di kantor polisi, Reymond dan Harun segera masuk pada Ruang Keluhan. Ternyata disana ada Susan dan Shelly tengah duduk didepan Dion, ada seorang pria memakai pakaian rapih. Ia seperti seorang pengacara. Dan tentunya ada kedua polisi juga, yang ikut serta disana.
Shelly yang melihat kedatangan Reymond, ia langsung menghampiri dan mencium punggung tangannya. "Sore, Om."
"Sore."
Namun hanya Shelly saja yang menyapa, justru Susan hanya diam saja. Dari raut wajahnya terlihat begitu kesal menatap wajah Reymond.
Reymond dan Harun ikut duduk disamping Dion.
"Langsung saja, kenapa Bu Susan melaporkan asisten saya?" tanya Reymond melihat kearah Susan dengan tatapan nanar.
"Pak Reymond pasti tau alasannya, itu karena dia mencuri berkas-berkas informasi panti," jawab Susan.
"Iya, memang benar. Tapi Ibu tidak perlu membawanya pada jalur hukum! ini berlebihan, Bu," balas Harun.
"Jelas ini tindakan pencurian, jadi kami berhak membawanya pada jalur hukum," balas pengacara Susan.
"Saya tau Pak Dion pasti di suruh Pak Reymond, saya menyayangkan sekali tindakan Bapak-bapak ini," keluh Susan melihat kearah Reymond.
"Iya, memang aku yang menyuruhnya. Itu juga karena Ibu tidak memberikan informasi itu padaku!" seru Reymond dengan lantang.
"Lagian informasi itu juga tidak ada, Bu. Kami tidak menemukannya," sambung Dion tak mau kalah.
Suasana didalam ruangan itu mendadak terasa panas, kedua kubu saling tak terima dan tak mau kalah.
"Maaf sebelumnya, Bapak dan Ibu. Sekarang enaknya bagaimana? Lebih baik kalian berdamai," usul Pak Polisi mencairkan suasana.
"Iya, saya akan memaafkan tindakan Pak Reymond dan Pak Dion ini. Tapi saya mohon ... Bapak kembalikan seluruh berkas itu pada saya, karena semua berkas itu penting untuk panti asuhan, Pak," pinta Susan.
"Aku akan kembalikan! Lagian berkas yang aku cari juga tidak ada! Ibu ini hanya mempersulit pencarianku saja! Bilang kemarin ingin membantu. Tapi sekarang, aku hanya minta berkasnya saja Ibu menolak!" Reymond mendengus kesal.
"Bukan saya tidak mau membantu Bapak, tapi itu sudah peraturan dari pihak panti, Pak. Bapak tidak bisa melanggarnya," ucap Susan membela diri.
Dari sesi perdebatan antara Reymond dan Susan, ada dua orang wanita yang datang memasuki ruangan tersebut. Kedua mata wanita itu sama-sama berkaca-kaca.
"Bu Susan ... kenapa Ibu tega padaku ...?" tanyanya seraya memegangi dada.
Deg~
^^^Kata: 1034^^^
__ADS_1