Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 106. Sama-sama


__ADS_3

Sepertinya usaha Dido sia-sia, riwayat kerjanya akan berakhir ditangan Reymond.


"Kau bereskan barang-barangmu di kantor ini dan pergi dari sini!" usir Reymond seraya menunjuk pintu ruangan Rio.


"Tapi, Pak. Saya mohon ... jangan--"


"Kau pergi dari sini Dido! Kau bukan lagi asistenku, kau sudah dipecat oleh Kak Reymond dan aku! Kau juga jangan coba-coba mendekati Wulan ataupun Ayahnya!" sembur Rio seraya berdiri.


Jahat sekali mereka, dasar orang kaya. Hanya masalah sepele dan masalah pribadi sampai di besar-besarkan. Aku akan do'akan, semoga Pak Rio dan Wulan tidak akan bahagia.


Dengan langkah berat, Dido melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Rio. Tidak ada kata pamit ataupun apa sebelum ia pergi dari ruangan itu. Rasa kesal tercampur emosi masuk kedalam dadanya, tapi Dido tak bisa apa-apa selain menuruti kedua pria tersebut.


***


Sore hari.


"Halo, selamat sore Pak Reymond," ucap Irwan lewat sambungan telepon. Ia menelepon pria yang tengah mengemudi mobilnya, pulang dari kerja.


"Ada apa?"


"Nona Indah dan Nona Wulan berantem, Pak. Apa Bapak bisa datang ke sini?"


"Berantem? Berantem bagaimana? Memangnya Indah belum pulang ke rumah?"


"Belum, masih ada di rumah Pak Wahyu. Bapak segera kesini, ya?"


"Iya." Reymond menutup sambungan telepon dan memutar balik mobilnya menuju rumah Wahyu.


Jarak tempuh dua puluh menit itu ia percepat menjadi lima belas menit dan tak lama sampai didepan rumah Wahyu.


Benar apa yang dikatakan Irwan, Indah dan Wulan sedang beradu mulut dengan salah satu tangan mereka memegangi lengan Clara. Gadis kecil itu seperti bahan rebutan. Ada apa sebenarnya? Pikir Reymond saat keluar dari mobil. Lantas ia cepat-cepat menghampiri kedua wanita yang sedang memanas.


"Sayang ... Wulan, kalian kenapa? Kenapa kedua tangan Clara dipegang begitu?" tanya Reymond seraya menepis tangan kedua wanita itu, ia melihat Clara seperti tertekan.


Clara langsung berlari masuk kedalam rumahnya berpapasan dengan Wahyu yang keluar rumah sambil menggendong Bayu.


Wajah Indah dan Wulan sama-sama memerah dan cemberut, entah apa yang berada dalam benak kedua wanita itu. Kenapa sikap mereka masih saja begini dari pagi.


Indah menghambur ke pelukannya suaminya sambil menangis. "Mas ... Wulan jahat padaku, dia tidak mengizinkanku untuk membawa Clara pulang."

__ADS_1


"Sayang ...." Reymond meregangkan pelukan dan menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya. "Maaf, aku belum bicara sebelumnya. Clara tidak bisa tinggal bersama kita."


"Kenapa? Dia 'kan adikku? Kenapa tidak bisa, Mas?"


Reymond melihat kearah Wulan dan Wahyu sebentar. Lalu menatap wajah istrinya kembali.


"Sebelum aku melakukan tes DNA, Pak Wahyu sudah berpesan untuk tidak membawa Clara pergi dari rumahnya, Sayang. Dia tetap tinggal bersama Wulan dan Pak Wahyu disini," jelas Reymond.


"Kenapa Pak Wahyu berpesan seperti itu? Kenapa dia tega padaku, Mas?" Indah kembali menangis dan memeluk suaminya.


"Pak Wahyu tidak tega, itu juga sudah keputusan dari panti. Clara sudah di adopsi dari bayi, hak asuhnya juga jatuh ke tangan Pak Wahyu. Kita tidak boleh memaksa untuk tinggal bersama kita Sayang. Aku harap, kamu mengerti." Reymond mencoba menjelaskan dengan nada lembut dan hati-hati. Ia tau Indah begitu sensitif sekali.


"Kalaupun dia tidak tinggal bersama kita, tapi kita bisa bertemu dengannya. Dia jugakan tinggalnya di rumah mertua Rio, mereka sama-sama keluarga kita."


Reymond kembali melepaskan pelukan dan menyeka air mata istrinya.


Indah menatap wajah Wulan yang masih menatapnya dengan tatapan tajam.


"Sehari saja, Wulan. Izinkan malam ini Clara menginap di rumah Papah. Aku ingin tidur bersamanya, bersama Clara dan Bayu," pinta Indah diiringi langkah kaki pelan menuju wanita itu.


"Tidak, aku tidak mau. Clara tidak boleh menginap kemanapun, dia harus tetap bersamaku dan juga Ayah!" hardik Wulan.


Indah beralih mendekati Wahyu yang berdiri di samping Wulan. Ia mengambil alih untuk mengendong Bayu dari tangannya.


"Pak Wahyu, apa aku boleh membawa Clara menginap semalam di rumah Papah?" tanya Indah dengan tatapan sendu.


Wulan melirik kearah Wahyu, ia seperti mengisyaratkan supaya sang ayah tidak memperbolehkan Indah membawa adiknya.


"Maaf, Nona. Tidak bisa. Clara tidak bisa pergi dari rumah ini walaupun semalam."


Pak Wahyu sama saja dengan Wulan. Mereka jahat padaku.


"Yasudah, aku dan Bayu saja yang menginap disini. Bapak mengizinkanku, kan?" tanya Indah dengan nada memaksa.


"Menginap? Menginap bagaimana? Nanti kamu tidur dimana Sayang?" tanya Reymond seraya menghampiri Indah.


"Dimana saja, asal aku bisa tidur dengan Bayu dan Clara, Mas."


'Egois sekali Indah, padahal seharian sudah main bersama Clara. Sekarang tidurpun mau bersama dia' batin Wulan.

__ADS_1


"Saya mengizinkan, tapi rumah saya seperti ini Nona, nanti Nona tidak betah," jawab Wahyu.


"Tidak masalah, Pak. Tapi Wulan mengizinkanku, tidak?" Indah kembali menoleh kearah Wulan, wajahnya masih saja seperti tadi, begitu masam.


"Wulan, kamu izinkan Nona Indah menginap disini, ya? Kasihan dia. Hanya semalam saja," tawar Wahyu seraya merangkul bahu Wulan.


"Tapi nanti Indah tidur dimana, Pak? Bukannya kamar disini hanya ada dua?" tanya Reymond.


"Nanti Nona Indah tidur di kamar Wulan. Berempat dengan Clara dan Dek Bayu, Pak."


"Lalu Rio bagaimana? Aku juga tidak mungkin meninggalkan Indah dan Bayu menginap disini kalau aku sendiri tidak ikut."


"Bapak dan Rio bisa tidur di kamar saya. Masalah kasur tenang saja, kasurnya empuk dan masih baru. Nanti sprei dan sarung bantal saya ganti," terang Wahyu.


"Nanti Ayah tidur dimana?" tanya Wulan.


"Ayah bisa tidur di kios, Wulan."


"Di kios?" Reymond lantas melihat kios yang berada tepat di samping rumah itu, kebetulan Wahyu juga sudah mulai berjualan. Jadi rolling door nya ia buka. "Memang ada kamar disana?"


"Tidak ada. Nanti saya bisa tidur dibawah dengan tikar, Pak."


Mata Reymond membola sempurna, ia kembali merangkul bahu Indah, mencoba untuk merayunya.


"Sayang. Lebih baik kita pulang saja ke rumah, nanti kalau kamu menginap disini, Papah tidak mengizinkanmu. Kita pulang saja, ya?"


"Aku tidak mau, nanti aku sendiri yang akan izin pada Papah, Mas. Dia pasti mengizinkanku," sanggah Indah.


"Masa kamu tega membiarkan Pak Wahyu sebagai tuan rumah tidur di tikar Sayang? Jangan seperti itu."


"Pak Wahyu tidak akan tidur di tikar, kalau kamu tidak ikut menginap, Mas. Mas Reymond pulang saja. Aku dan Bayu mau tidur disini."


"Lho ... kok kamu yang jadi tega sama aku sih?"


"Apanya yang tega, Mas?" Indah menatap wajah Reymond lekat-lekat. Pria itu malah bergeming di tempat.


Kalau aku tidak ikut menginap, yang ada aku disembur sama Papah. Tapi kalau aku menginap, masa Pak Wahyu yang tidur di tikar. Rasanya tidak tau diri banget aku ini.


"Eemm ... bagaimana kalau Wulan sekalian ikut saja menginap di rumah Papah? Eemm ... Kalau tidak, kita sama-sama tidur di rumah Rio?" usul Reymond seraya melihat kearah Wulan.

__ADS_1


^^^Kata: 1049^^^


__ADS_2