
"Nona Wulan mau makan mangga muda, Pak," jawab Indra.
"Yasudah tinggal kau belikan saja, nanti aku transfer uangnya."
"Nona Wulan tidak mau membeli mangga muda, tapi dia ingin mangga muda memetik langsung dari pohonnya, Pak."
"Memetik langsung dari pohonnya? Memang dimana ada pohon mangga?"
"Ada di halaman sekolah Nona Clara, saya dan Nona Wulan sedang ada disini sekarang, Pak."
"Yasudah, kau ambilkan saja, turuti apa kata Wulan."
"Masalahnya, dia tidak mau kalau saya yang mengambilkan nya, Pak. Dia maunya Bapak."
"Memang apa bedanya?"
"Mas ...." Tiba-tiba terdengar suara Wulan begitu lembut, sepertinya ia mengambil alih ponsel Indra dari tangannya. "Maaf, apa aku mengganggu Mas Rio?"
"Tidak."
"Mas Rio bisa tidak mengambilkan mangga muda untukku? Bisa ya, Mas?"
"Memang kenapa kalau Indra yang mengambilnya?"
"Aku ingin Mas Rio yang mengambilnya, mau ya, Mas? Aku mohon ... aku tunggu Mas Rio di sekolahannya Clara."
"Eemm ... yasudah deh, aku kesana. kau tunggu, ya?"
"Iya, Mas. Terima kasih."
"Sama-sama." Rio mematikan sambungan teleponnya, ia mengantongi ponselnya kembali didalam saku jas.
"Kau mau kemana?" tanya Mawan saat melihat Rio bangun dari duduknya.
"Aku ingin menemui Wulan, dia ingin mangga muda, Pah," sahutnya ambil tersenyum.
"Bukannya kau harus ke kantor? Lebih baik kau ke kantor saja. Biar Jojo mengantarmu, ajak Mitha juga."
"Tidak, aku tidak mau Mitha jadi asistenku!"
"Kenapa tidak mau?"
"Aku 'kan sudah bilang, aku tidak butuh asisten wanita! Aku hanya butuh asisten pria, Pah."
"Pokoknya kau harus menuruti omongan Papah! Kau ke kantor sekarang bersama Jojo dan Mitha!" tegasnya.
__ADS_1
"Papah ini apa-apaan sih? Papah tidak berhak mengatur hidupku!"
"Rio! Kau ini susah sekali kalau Papah bilangin!" pekik Mawan. Ia memegang lengan Rio yang hendak pergi dari ruangannya.
"Aku bilang tidak, ya tidak! Aku tidak mau!" Rio mencoba menepis tangan Mawan dari lengannya, tapi sangat susah. Pria paruh baya itu terlalu kuat mencengkramnya.
"Papah minta tinggalkan Wulan, bercerai dengannya!"
Deg!
"Papah ini gila? Wulan sedang hamil, Pah! Bisa-bisanya Papah bilang seperti itu!"
"Belum tentu dia hamil anakmu! Kenapa kau begitu percaya padanya?"
Rio terbelalak, emosinya langsung memuncak, menyelimuti seluruh tubuhnya, kedua tangannya sudah mengepal. Ingin rasanya ia menonjok wajah Mawan, tapi Rio masih sadar kalau dia adalah Papahnya. Tidak sopan melakukan hal seperti ini. Ia tidak mau dianggap anak durhaka.
"Bisa saja Wulan berselingkuh di belakangmu, kau harus bercerai dengannya, Rio. Papah akan menjodohkanmu dengan Mitha!" Mawan menunjuk Mitha yang masih berdiri didepannya, ia mengarahkan kepala Rio untuk ikut melihat wanita cantik itu. "Lihat dia, dia cantik bukan? Bukannya kau ingin mempunyai istri cantik seperti Indah? Dia juga cantik, dia pintar dan masih gadis Rio. Dia menerimamu apa adanya." Mawan masih berusaha untuk meyakinkan Rio supaya menuruti ucapannya.
Kesal, sungguh benar-benar kesal, Rio berusaha mengontrol emosinya. Ia menoleh ke arah Mawan, menatapnya dengan tatapan tajam. Nafasnya ia tarik dan perlahan membuangnya.
"Pah ... kenapa Papah ingin sekali aku bercerai dengan Wulan? Apa alasan Papah? Apa Wulan pernah melakukan dosa pada Papah?" tanya Rio dengan nada lembut, kalau ia sama-sama emosi, Mawan akan tambah murka dan makin menjadi-jadi.
"Papah tidak suka padanya, Papah membencinya!"
"Bencinya kenapa?"
"Tapi aku mencintai Wulan, Pah. Aku mencintainya ...," lirihnya dengan sendu.
"Kau bohong! Mana mungkin kau mencintai wanita itu, bukannya kau tidak bisa melupakan Indah?" tanyanya menyelidik, wajah Mawan terlihat begitu menyebalkan dalam pandangan Rio.
"Iya, itu dulu. Tapi semenjak Wulan meninggalkanku, aku baru sadar kalau aku mencintainya. Sangat, sangat mencintainya, Pah."
"Semudah itu kau bisa mencintainya hanya karena dia meninggalkanmu?"
Rio mengangguk semangat.
"Kalau begitu, lupakan Wulan saja! Dan menikah dengan Mitha!"
Deg!
Rio membulatkan kedua matanya, ia geleng-geleng kepala dan memegangi dadanya yang terasa sangat sesak. Sepertinya, ayah sambung Rio benar-benar tidak waras. Entah apa yang ada dalam pikiran Mawan, Rio juga tampak begitu binggung.
"Tidak, aku tidak akan bisa melupakan Wulan!"
"Kau saja bisa melupakan Indah, kenapa sekarang kau tidak bisa melupakan Wulan?"
__ADS_1
Aku melupakan Indah mati-matian dari dulu, Pah. Dan setelah aku mencintaimu wanita lain, Papah dengan mudahnya menyuruhku untuk melupakan Wulan? Itu tidak akan terjadi, apalagi sekarang dia sedang hamil, hamil anakku, darah dagingku dan juga cucu Papah.
"Rio, nanti Papah akan bilang pada Mamah, Papah akan membujuknya untuk menyetujui perceraian kalian. Ayahnya Mitha adalah rekan bisnis Papah, dia orang terhormat. Tidak seperti Wahyu."
Deg!
Sudah menyuruh cerai dengan Wulan, sekarang dengan entengnya menghina Wahyu. Rio benar-benar tak terima, tapi rasanya ia tidak bisa apa-apa.
Ia termangu sejenak dan mulai mencari ide supaya Mawan tidak lagi memaksanya.
"Aku akan bercerai dengan Wulan, aku akan turuti kemauan Papah. Tapi ada syaratnya!"
Bola mata Mawan langsung berbinar, ia mengembungkan senyum. "Apa? Apa syaratnya?"
"Papah juga harus bercerai dengan Mamah!"
Deg!
Ekspresi wajah Mawan seketika berubah menjadi masam, ia mengepalkan salah satu tangannya dan langsung melayangkan tonjokan mautnya pada pipi kiri Rio.
Bug!!
"Aaww!" jeritnya. Tubuh Rio terhentak, tapi ia tidak terjatuh, karena salah satu tangan Mawan masih memegangi lengannya.
"Kau ini gila? Kau menyuruh Papah bercerai dengan Mamah? Apa selama ini kau tidak sayang pada Papah?" geram Mawan.
"Sejak kapan aku bilang tidak sayang? Aku sayang Papah. Itu adalah syaratku bercerai dengan Wulan!" tegasnya.
"Konyol! Syarat macam apa itu?"
"Papah yang konyol!" Rio berusaha untuk melepaskan tangan Mawan pada lengannya sekuat tenaga, sampai akhirnya berhasil terlepas. "Aku peringatkan pada Papah, ya! Jangan pernah merusak rumah tanggaku! Kalau sampai Papah berani macam-macam padaku, aku juga bisa merusak rumah tangga Papah!" tantang Rio.
Netra Mawan membulat sempurna. "Kok jadi kau yang mengancam Papah?"
"Terserah Papah menganggapku sedang mengancam atau tidak! Ini adil buat kita berdua, aku bercerai dan Papah bercerai! Aku menikah dengan wanita lain, Papah juga harus menikah dengan wanita lain!" Rio menunjuk-nunjuk dada Mawan dengan penuh kekesalan.
"Kau ingin Mamah menjadi janda lagi? Kau ini waras Rio?" tanya Mawan seraya mengerutkan keningnya.
"Mamah tidak akan jadi janda! Nanti setelah bercerai dengan Papah ... Mamah akan aku jodohkan dengan Pak Antoni, Papah tiri Indah!" serunya sambil menyeringai.
Jder!!
Bak tersambar petir. Hati Mawan seketika terasa sakit dan dadanya makin emosi. Ia tak pernah rela membagi kasih sayang Indah dengan Antoni, apalagi sampai merelakan Santi menjadi istrinya.
Mawan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak! Mamah tidak akan mau! Mamah hanya mencintai Papah seorang, Rio!" tegasnya.
__ADS_1
"Kata siapa tidak mau? Papah ingin aku membuktikannya? Mamah itu sayang padaku, Pah. Melebihi rasa cintanya pada Papah! Mamah pasti menuruti kemauanku!" tantang Rio seraya menatap tajam wajah Mawan.
^^^Kata: 1057^^^