
Reymond memangku Indah di atas pahanya, tapi wajah Indah masih menempel pada dada bidangnya, seakan tidak ingin saling menatap.
"Sayang kau kenapa? Kenapa terus menanggis? Cerita padaku."
Apa kamu akan marah jika tahu Rio mencium bibirku Mas? Maafkan aku, Mas.
Batin Indah.
Reymond melepaskan ikatan rambut Indah yang terlihat begitu kencang. Dia takut Indah merasa kesakitan, dia membereskan rambut dengan lima jarinya.
"Sayang, kenapa kau diam saja? Apa kau ada masalah?"
Tangannya membelai-belai rambut dan menciumi rambutnya. Tangan Indah perlahan memegang lengan Reymond, tapi itu membuat mata Reymond terbelalak kala melihat punggung tangan Indah sudah memerah dan lecet.
Dia memegangi tangan Indah dan mencium telapak tangannya.
"Ini kenapa dengan tanganmu? Ada yang melukaimu? Siapa orangnya, cerita padaku sayang!" pertanyaan kali ini sedikit memaksa dengan nada tinggi.
Indah masih saja menanggis dan menutupi wajahnya masuk ke dalam jas yang Reymond kenakan, kemejanya sudah basah terkena air mata. Beberapa pertanyaan bahkan tidak sama sekali dia jawab. Tapi tangannya itu tidak ingin terlepas dari pelukan suaminya, terasa begitu hangat dan nyaman. Hingga membuat dirinya tertidur pulas.
Apa yang terjadi pada Indah? Kenapa dia diam saja dan apa ada hubungannya dengan Rio?
Batin Reymond.
Dia tahu Indah tidur dan tidak tega untuk membangunkan. Reymond tidak mau mengantar Indah pulang ke rumah orang tuanya, karena dia masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Indah.
Reymond mengambil ponsel pada saku jas dan menelepon Maya, sekretarisnya.
"Halo, selamat siang. Pak."
"Maya, kau tinggal di mana?"
"Saya tinggal di apartemen, kenapa memangnya, Pak?"
"Bisa tolong bantu aku?"
"Bantu? Bantu apa, Pak?" tanya Maya.
"Tolong ...."
Akhirnya Reymond memutuskan untuk mengantarkan Indah ke apartemen Maya, tidak mungkin juga dia membawa Indah ke apartemennya, bisa-bisa jadi masalah lagi.
Reymond mengangkat tubuh Indah dan membaringkan tubuhnya di atas kasur serta menyelimuti tubuhnya di atas dada, tidak lupa mencium kening.
Maya menatap heran pada bosnya itu, dia juga berada di sana. Untuk membukakan kunci apartemen dan ikut masuk.
Apa hubungan Pak Reymond dengan Indah? Apa mereka dekat?
Batin Maya.
"Pak maaf, Indah ..."
__ADS_1
"Sssttt ..." Reymond menempelkan satu jari pada bibirnya sendiri, seakan memberitahu untuk tidak menganggu Indah tidur.
Dia menarik lengan Maya untuk keluar dari kamarnya dan perlahan menutup pintu.
"Maya, aku minta waktu untuk berdua dengan Indah. Apa kau bisa tinggalkan kita berdua?!" entah bertanya atau apa. Tapi intinya dia mengusir pemilik apartemen itu sendiri.
"Tapi Bapak tidak akan berbuat macam-macam pada Indah, kan? Walau aku dan dia tidak terlalu akrab. Tapi dia temanku, Pak. Aku tidak mau dia kenapa-kenapa dan membuat aku terkena masalah," jelas Maya.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku calon suaminya, sekarang kau pergi dari sini dan kembali ke kantor!" perintah Reymond.
"Baik, Pak," jawab Maya seraya menjalan keluar meninggalkan Reymond dan Indah di dalam apartemennya.
Reymond mengambil ponsel pada saku jas untuk mengirim pesan pada ibunya.
..._____________________...
💬
To: Mamah Malaikatku
10:11 AM
Mah, aku bertemu Indah tadi di pinggir jalan. Dia sedang muntah-muntah, sepertinya dia tidak enak badan. Aku bertanya juga padanya, tapi dia tidak menjawab pertanyaan ku. Malah dia menanggis terus-menerus sampai tertidur.
Ada apa sebenarnya, Mah? Apa Mamah tahu? Dia juga menyebut-nyebut nama Rio. Apa ada hubungannya juga dengannya?
Dan masalah luka di punggung tangannya juga, kenapa? Apa ada yang menyakiti Indah?
💬
From: Mamah Malaikatku
Indah mual-mual? Oh mungkin karena dia belum sarapan dari pagi, Rey. Dan tentang tangannya itu, dia terkena minyak panas. Mamah juga tidak tahu kejadiannya, tapi kata Papah dia ingin mencoba membuat nasi goreng, mungkin dia gagal. Kalau mengenai Rio. Mamah tidak tahu, tapi Rio yang mengantar Indah ke rumah sakit, memeriksa tangannya.
"Sayang, kamu ini aneh-aneh saja. Kamu tidak perlu memasak kalau buat celaka," lirih Reymond pelan.
💬
To: Mamah Malaikatku
10:17 AM
Ya sudah, nanti aku yang mengobati dia. Maaf, Mah. Aku tidak mengantar Indah ke rumah. Karena tadi dia ketiduran sambil menanggis, aku mengantarnya ke apartemen Maya, teman Indah. Kalau Papah bertanya tentang keberadaan Indah, Mamah jawab saja seperti itu. Tapi tidak usah bilang dia di sini bersama aku ya?
💬
From: Mamah Malaikatku
10:20 AM
Iya, kau tenang saja, Rey. Nanti kau belikan Indah makan dan belikan juga obat magh, takut lambungnya sakit karena telat makan. Mamah mau menyuapi Bayu makan dulu.
__ADS_1
...______________...
Setelah selesai mengirimkan pesan pada Santi, Reymond menelepon Harun pengacara pribadinya
"Halo, selamat siang, Pak," sapa Harun.
"Harun, kau nanti ke sini. Belikan aku dua soto ayam, obat magh dan salep luka bakar di apotek. Nanti aku kirim alamatnya padamu."
"Baik, Pak. Ada lagi?"
"Oya, sebelum ke sini. Kau ke kantor Rizky dulu. Ajak Hersa sekalian untuk datang ke sini, aku ada urusan tentang Jalang padanya."
"Baik, Pak."
Reymond langsung menutup sambungan telepon dan masuk lagi ke dalam kamar Maya, untuk melihat Indah sudah bangun atau belum.
***
Sementara itu, Rio sudah berada di depan rumah Mawan dan membuka pintu mobil. Dia berfikir kalau Indah sudah pulang duluan, dia juga merasa tak enak karena telah memaksa Indah.
Rio berjalan masuk ke dalam rumah, dia melihat Mawan tengah mengobrol dengan seorang pria di ruang tamu. Langkahnya terhenti kala dirinya melayangkan pandangan pada Mawan.
Mawan berdiri dan menghampiri Rio. "Rio, dimana Indah?" matanya melihat ke belakang tubuh Rio, tapi tidak ada tanda-tanda Indah bersamanya.
"Tadi aku sudah antar dia periksa, Pah. Tapi kita berantem di jalan," jelas Rio.
"Berantem? Kalian berantem kenapa?" tanya Mawan menatap heran.
"Itu karena ..." Rio menjeda sebentar ucapannya, "Dia marah karena aku mengajaknya untuk menikah, Pah," sahutnya dengan sendu.
Mawan mengusap bahu Rio secara perlahan. "Sabar, Rio. Papah yakin nanti lama-lama Indah akan luluh, sekarang dimana dia?"
"Dia pulang duluan tadi naik taksi, Pah. Aku kira sudah sampai sini."
Santi berjalan menghampiri suami dan anaknya sambil mengendong Bayu.
"Indah ada di apartemen Maya, dia temannya Indah," sahut Santi tiba-tiba
Mawan menoleh pada istrinya, "Maya?!"
Mawan mengerutkan dahi. "Sejak kapan Indah punya teman bernama Maya, bukannya temannya hanya Nella?"
"Maya teman kuliah Indah, Pah. Rio kenal dia," sahut Rio.
"Mamah tahu dari siapa Indah di sana, ponsel Indah saja tertinggal di rumah?" tanya Mawan.
Santi menelan saliva nya begitu kasar, "Ya Maya yang memberitahu, Pah," jawab Santi cepat.
Tangan Mawan terulur. "Coba sini. Papah minta nomornya, Papah ingin bicara pada Indah."
Deg....
__ADS_1