
...🍁POV Indah🍁...
Selama aku mendengarkan cerita dari Pak Rizky dan Mas Rendi, aku tak henti-hentinya menanggis, namun Mas Rendi selalu menyeka air mataku.
Aku menatap dalam kepada Mas Rendi, aku raba seluruh wajah barunya itu.
"Apa wajah baru ini untuk aku Mas?" Mas Rendi tersenyum manis.
Aku menciumi kening, kedua pipi Mas Rendi dan dagu Mas Rendi. Mas Rendi tersenyum pasrah dan dia juga begitu menyukai hal yang seperti ini.
"Mas.... Terima kasih sudah kembali padaku. Maafkan aku, selama ini tidak mengenali suamiku sendiri. Aku juga pernah menamparmu. Apa itu terasa sakit Mas?" tanyaku menatap penuh cinta.
"Tidak sayang... Apa pun yang kamu lakukan semuanya terasa manis. Karena aku sangat mencintaimu." Sahut Mas Rendi, pipi ku menjadi merona. Dia memang paling bisa merayu.
Cup.......
Mas Rendi mencium bibirku? Aku menyambutnya dengan senang hati, dia memegangi kedua pipiku dan menciumiku begitu dalam. Aku juga ikut memperdalam ciumannya, ku peluk tubuhnya yang sudah menempel dari tubuhku.
Lidah kita saling beradu dan berpautan, dia terus melu*atnya begitu dalam tapi aku ingin lebih dari ini Mas. Sungguh aku juga ingin di sentuh olehmu.
"Ehem...."
Mataku terbelalak, aku mendengar suara deheman dan itu dari Pak Rizky. Kita langsung melepaskan ciuman, padahal lagi enak-enaknya. Tapi kita tidak mungkin melakukan di depan Pak Rizky, itu tidak sopan. Tapi kita sudah terlanjur melakukannya tadi. Pipiku kembali merona karena malu. Telinga Mas Rendi juga ikut memerah.
"Maaf Riz. Gue sampai lupa lu masih ada di sini." Ucap Mas Rendi.
"Nggak apa-apa kalian lanjutin aja ke kamar gue, biar gue yang jagain Bayu."
"Memangnya nggak apa-apa Riz?" Tanya Mas Rendi malu-malu.
"Nggak apa-apa lah, sama istri sendiri ini." Timpal Pak Rizky.
"Maksud gue, lu jagain Bayu dulu. Kayaknya gue bakal lama nih." Mas Rendi mengusap tengkuknya.
Pak Rizky tersenyum dan geleng-geleng kepala. "Iya nggak apa-apa, tempur sana. Kan lu sudah lama nggak ngelakuin tugas negara." Ejek Pak Rizky seraya tertawa.
Kita hanya bisa tersenyum dengan wajah yang saling merona, aku juga memang sudah menginginkannya.
"Ya sudah gue ke kamar lu Ren, awas desahnya jangan berisik ya." Ucap Pak Rizky berdiri dan berjalan meninggalkan kita berdua di ruang tamu.
__ADS_1
Sepeninggal Pak Rizky yang sudah masuk ke kamar Mas Rendi. Mas Rendi langsung mengangkat tubuhku yang sejak tadi diam menunduk.
Aku terperajat atas apa yang Mas Rendi lakukan padaku. "Mas... Apa yang kau lakukan? Kenapa mengangkat ku begini?"
Mas Rendi berjalan dan menaiki anak tangga. "Apanya sih? Bukannya aku sering menggendong mu seperti ini sayang. Memangnya kamu tidak rindu?" Tanya Mas Rendi sambil mencium pipiku.
Aku mengalungkan tanganku ke leher Mas Rendi.
"Aku malah lebih rindu dengan tugas negara kamu Mas." Sahutku dengan wajah yang merah merekah, aku sama sekali tidak malu mengutarakan isi hatiku yang meminta lebih.
"Wow... Sekarang kamu yang mengajak? Benarkah? Aku juga sudah tidak tahan sayang. Jangan bilang lelah ya, aku tidak akan melepaskan kamu dengan mudah."
"Siapa takut Mas!" Seruku dengan yakin.
Kita kini masuk ke dalam kamar Rizky, di rebahkan nya tubuhku secara perlahan. Mas Rendi langsung mengunci pintu, dan berjalan kearah kasur sambil melucuti semua pakaiannya, Mas Rendi melemparkan seluruh pakaian ke sana ke mari. Dia seperti singa yang sudah kelaparan. Miliknya itu juga tambah besar dan panjang, aku sudah merasa merinding.
Aku menatap tubuhnya yang super hot itu. Kekar dan begitu menggoda, kenapa aku jadi yang bernafsu duluan padanya. Otot-ototnya membuat aku ingin di peluk olehnya, suamiku ini kenapa tambah seksi. Roti sobeknya pun masih berjumlah delapan potong. Aku ingin memegangnya Mas, tapi kedua dadanya ada dua benjolan. Oh ya mungkin itu luka bekas pisau.
Kurang ajar sekali kau jalang! Berani menyakiti dan membuat goresan luka di tubuh suamiku yang tampan ini.
Dia menaiki kasur dan menghampiri, aku terus saja tersenyum.
Mas Rendi menarik tanganku untuk duduk, dia langsung menarik dress ku keatas dan melepaskan bra yang menempel, dia duduk di belakangku. Tangannya meraih dua gunung dan memerasnya secara perlahan.
"Aahhhhhh...."
Belum apa-apa aku sudah mendesah.
Wajah Mas Rendi berada di leherku, tepat di sebelah kanan dia juga menjilati leherku begitu mesra. "Aaahhh, Mas..." Apa ini, cuma baru seperti ini tubuhku sudah bergetar.
Lidah Mas Rendi begitu lincah dan mengigit kecil di leher, tangannya juga memelintir p*ting gunung kembarku.
"Mas...."
"Apa sayang?" tanya Mas Rendi menghentikan aktivitasnya.
"Ayok lakukan Mas," ajakku padanya, aku mungkin sudah tertular mesum olehnya. Tapi aku sudah tidak tahan ingin di sentuh.
"Nanti sayang kita pemanasan dulu," ucap Mas Rendi seraya mengangkat tubuhku menuju kamar mandi, dia menaruh ku di atas bathtub kemudian menyalakan air di dalamnya.
__ADS_1
"Kita mandi dulu Mas?"
"Iya sayang, kan sudah pagi. Habis itu kita senam erotis," ujar Mas Rendi sambil mencium keningku. Dia kembali duduk di belakangku dan menarik celana segitiga milikku, jarinya menerobos masuk dan memainkannya.
"Mas... Aahhhhhh."
Aku kembali mengerang, dia malah mempercepat jari tengah tangannya maju mundur aku memegangi lengannya dengan keras.
Kalau begini terus aku bisa keluar duluan. "Mas... Aku ingin keluar rasanya," lirihku pelan, dia langsung menghentikan aktivitas dan memegangi daguku. Kita kembali berciuman, aku ingin langsung saja di tancap, tidak ingin pemanasan. Aku sudah tidak tahan.
Setelah kami selesai mandi, Mas Rendi merebahkan lagi tubuhku di atas kasur, dia langsung memburu gunung kembarku. Dia menyusu layaknya anak kecil. Aku jadi ingat Bayu yang menyusu jadinya, tapi sekarang ayahnya.
"Aaahhh...."
Dia mengigit kecil, membuat aku meringis dan mengigit bibir bawahku.
"Tambah besar sekali ini sayang. Dulu Bayu di beri ASI berapa lama?" tanya Mas Rendi.
"6 bulan Mas."
"Nggak sampai setahun, kenapa?"
"Air susunya tidak keluar," sahutku.
"Benarkah?"
Mas Rendi langsung menyedotnya begitu kasar. Aku meremas rambut kepalanya, tangan yang satunya masih sibuk memeras gunung kembarku dan memelintirnya.
"Mas apa yang kamu lakukan... Ini...."
Dia seperti menginginkan sesuatu di dalam gunungku keluar, tapi sepertinya tidak bisa karena memang tidak ada.
"Walau tidak ada isinya tapi rasanya sangat manis sayang. Ini semua milikku kan?" tanya Mas Rendi.
Aku mengangguk, Mas Rendi langsung menindih tubuhku dan mengelus-elus miliknya, aku melebarkan kakiku dan dengan cepat dia memasukkan miliknya.
Bres......
"Aaww...."
__ADS_1
Kenapa aku merasa linu dan sakit, bukannya aku pernah melakukan ini bersamanya dan tidak hanya sekali.