
'Kalau Mas Rio bisa bersikap baik padaku, aku tidak akan meninggalkan Mas Rio' batin Wulan.
Rio memegangi dagu Wulan dan ia angkat sedikit. Karena sedari tadi istrinya terus saja menunduk.
"Jawab aku, Wulan!"
"Aku tidak akan meninggalkan Mas Rio, kalau ucapan Mas Rio bisa di pegang."
"Ucapan ku saat di rumah sakit?"
"Iya."
"Kau tenang saja, aku sedang berusaha, Wulan."
"Iya, Mas."
Indah menarik senyum sambil melihat pemandangan didepan matanya.
'Melihat Rio dan Wulan akur begini, aku ikut bahagia. Semoga kalian cepat punya anak dan semoga Rio bisa mencintai Wulan apa adanya' batin Indah.
Tak lama pesanan mereka datang, Reymond langsung fokus mengunyah burger. Karena perutnya benar-benar lapar.
"Wulan. Kata Tante Nissa, kamu kerja lagi di Restorannya?" tanya Indah, kini ia yang memulai obrolan.
"Baru sehari sih, Ndah. Itu juga sebelum aku kecelakaan."
"Oh, lalu sekarang ... kamu mau balik lagi kerja disana?"
Wulan menoleh kearah Rio sebentar, lalu melihat kearah Indah lagi.
"Aku belum tau," sahutnya sambil menggelengkan kepala.
'Aku lupa belum izin, nanti deh' batin Wulan.
Mereka mengobrol dan menghabiskan waktu bersama sampai tidak terasa waktu menjelang sore. Kini mereka berlima berpisah. Reymond, Indah dan Bayu pulang ke rumah. Sedangkan Rio dan Wulan ke rumah sakit.
Namun, saat berada didepan kamar Clara, mereka melihat Wahyu dan Dido tengah duduk di kursi panjang sambil mengobrol dan bercanda. Terasa begitu akrab dan hangat sikap keduanya.
Melihat pemandangan seperti itu, sungguh membuat Rio cemburu dan emosi, karena sampai sekarangpun sikap Wahyu masih begitu acuh padanya.
'Ngapain si Duda ada disini? Dan kenapa Ayah terlihat sangat akrab padanya?' batin Rio.
"Ayah ...," panggil Wulan.
Wahyu menoleh kearah pria dan wanita yang tengah memberhentikan langkah.
"Wulan, Rio. Kalian kesini?"
"Iya." Wulan mencium punggung tangan Wahyu, begitupun dengan Rio.
Dido langsung berdiri dan sedikit membungkuk. "Selamat sore Pak Rio."
"Heemm ...," gumam Rio.
__ADS_1
"Ayah, aku ingin ketemu Clara. Dia sedang apa?" tanya Wulan.
"Dia sedang tidur tadi. Ayok masuk!" ajak Wahyu seraya memegang lengan anaknya.
Sebelum Wulan menerima ajakan Wahyu, ia menoleh dulu pada Rio yang tengah melototi asistennya.
"Ayok masuk, Mas ...," ajak Wulan.
"Kau saja dulu," sahut Rio.
'Apa Mas Rio marah ... melihat Kak Dido ada disini? Lagian Kak Dido juga, ngapain pakai acara kesini, sih?' gerutu Wulan.
Wulan melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamar Clara, meninggalkan Rio dan Dido.
Rio melipat kedua tangannya diatas dada seraya duduk. "Kau ada perlu apa datang kesini?"
"Saya hanya menjenguk Clara, Pak."
"Benarkah? Apa kau punya maksud lain?"
"Tidak, Pak. Saya hanya ingin menjenguk saja."
"Aku merasa kau dan Ayah begitu akrab, ya?" Rio tersenyum miring sambil terus menatap tajam Dido yang masih berdiri. "Apa kau ingin merayu Ayah supaya aku dan Wulan bercerai?" terka Rio.
"Apa maksud Bapak? Saya tidak pernah ada niat seperti itu," sahut Dido seraya tersenyum.
'Pasti dia berbohong' batin Rio.
"Oya, waktu operasi Clara ... kau sudah bayar semua biayanya, kan? Apa masih ada yang kurang?"
"Sekalian sama biaya rumah sakit juga, tidak?"
"Biaya rumah sakit Bu Santi yang bayar, Pak. Lunas, sampai Clara keluar dari rumah sakit."
"Kalau masih ada sisa uangnya, kau transfer ke rekeningku."
"Baik, Pak."
Rio bangun dari duduknya seraya berjalan masuk kedalam kamar Clara.
***
Pagi hari.
Rio dan Wulan tengah sarapan bersama. Rio lagi-lagi meminta Wulan untuk membuat nasi goreng. Sekarang nasi goreng buatan istrinya menjadi makanan favorit untuk seorang Rio Pratama.
Namun disesi sarapan, Rio begitu heran dengan kemeja pendek berwarna cream yang Wulan kenakan. Istrinya juga memakai celana bahan panjang dan rambut panjangnya di kuncir kuda. Penampilannya tidak seperti biasanya.
"Wulan, kok kamu tidak pakai dress? Dan ... baju apa yang kau pakai? Seperti ...." Rio mendekatkan kepalanya untuk bisa melihat tulisan yang tertera pada dada sebelah kiri Wulan.
"Ini baju seragam, Mas. Seragamku di tempat kerja."
"Kau mau kerja lagi? Kok tidak izin dulu padaku?"
__ADS_1
"Ini aku mau izin pada Mas Rio, apa Mas Rio mengizinkanku?"
"Kalau aku tidak tanya dulu, pasti kau tidak akan izin, kan?" terka Rio dengan wajah kesal.
"Tidak seperti itu, Mas. Sebenarnya aku mau izin dari kemarin. Cuma aku lupa, semalam juga Mas Rio masih sore sudah tidur. Jadi aku belum sempat membicarakan hal ini," papar Wulan seraya menunduk.
"Alasan!" celetuk Rio dengan ketus.
"Beneran, Mas ... aku jujur."
"Aku tidak mengizinkanmu kerja lagi!"
Deg~
Mata Wulan membelalak dan seketika ia mengedikkan kepalanya untuk bisa melihat wajah suaminya yang sudah masam. "Kok gitu, Mas. Kenapa Mas Rio tidak mengizinkanku?"
"Ya ... untuk apa kau kerja? Memangnya kau kekurangan uang? Memang selama ini uang dari ...." Rio tiba-tiba menghentikan ucapannya, merasa ragu untuk diteruskan. Apalagi melihat mata Wulan yang begitu lekat menatapnya.
'Tidak-tidak, dulu saja Wulan meninggalkanku gara-gara masalah uang itu. Sepertinya Wulan begitu sensitif kalau membahas masalah uang' batin Rio.
'Kalau aku tidak kerja, lalu kapan aku bisa membayar hutangku pada Kak Dido? Aku tidak mau Mas Rio tau. Dia 'kan sering mengungkit pemberiannya' batin Wulan.
"Eemm ... kalau kau kerja, nanti kau tidak bisa mengurusku. Kau juga akan capek. Bukannya kau baru saja sembuh?" nada suara Rio langsung menjadi rendah. Akan lebih baik jika ia bisa mengontrol emosinya.
"Kerja disana pulangnya jauh lebih cepat, kok. Aku pastikan ... sebelum Mas Rio ada di rumah. Aku sudah ada di rumah, Mas. Dan masalah peraturan jadi istri Mas Rio, aku tidak akan melupakan tugasku," jelas Wulan.
"Apa aku boleh tau alasannya?"
"Alasan apa, Mas?"
"Alasan kenapa kau ingin kerja lagi?"
"Karena aku memang sudah biasa bekerja, Mas. Aku juga nyaman kerja disana."
"Kau pasti nyaman karena ada Ivan, kan? Dia pasti kerja disana juga."
"Iya, dia kerja disana. Tapi aku nyaman karena pekerjaanku. Bukan karena ada Ka--" Mata Rio langsung melotot ketika Wulan hendak mengucapkan panggilan Kakak. "Maksudku, bukan karena ada Ivan, aku memang dulu kerja disana. Bahkan kenal dengan Indah juga disana."
"Lalu kenapa dulu kau berhenti?"
"Terakhir karena Mas Rio menabrakku."
Deg~
Mata Rio membelalak. "Jadi kau pikir ... aku penyebab kau berhenti kerja?" ia menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Tidak, Mas. Kan saat itu juga Mas Rio tau ... aku sedang patah hati. Gara-gara itu juga aku tidak bisa fokus kerja, jadi aku memutuskan untuk berhenti."
"Kau segitu cintanya dengan si Duda itu?"
"Duda? Siapa Duda?"
"Ya itu si Dido, dia 'kan Duda."
__ADS_1
Jahat sekali Mas Rio, mengganti nama orang dengan statusnya.
^^^Kata: 1031^^^