
'Huh! Ayah menganggu saja' batin Rio.
Setelah tidak ada sahutan dari Wahyu lagi, Rio melanjutkan aktivitasnya panasnya. Rio membungkuk, lalu mengecupi seluruh lekukan tubuh istrinya. Memberikan tanda-tanda merah disana.
Wulan sepertinya begitu pasrah, saat tubuhnya mengikuti alur dari permainan Rio. Ia menggigit bibir bawahnya, Rio menuntun tangan Wulan untuk melingkar pada lehernya.
Melihat Wulan tengah menahan desa hhan yang tak tertahankan, sungguh membuat Rio makin bernaf**. Lantas, ia mendaratkan ciumannya, memagutnya secara perlahan.
Cup~
Dan sampai akhirnya mereka dititik puncak, Rio mengerang dan menekan miliknya untuk masuk kedalam, menghangatkan rahim Wulan yang sudah berisi dua anak mereka didalam sana.
"Ayah memberimu vitamin sayang, biar kamu sehat didalam sana," kata Rio sambil mengecup perut Wulan lagi, ia mengatur nafasnya naik turun. "Aku mencintaimu, Wulan." Sekarang Rio mencium kening istrinya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur, disampingnya sembari menarik selimut.
"Aku juga mencintai Mas Rio ...," balas Wulan dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Kau sudah mencintaiku?" Rio memeluk tubuh Wulan. "Kau sudah boleh buka mata, aku sudah pakai selimut."
Wulan perlahan membuka mata dan menoleh kearah Rio, mereka saling memandang. Tangan Wulan mengusap keringat pada dahi suaminya.
"Aku tadi tanya, kau sudah mencintaiku?" Rio mengulang pertanyaan lagi.
"Iya, aku sudah mencintai Mas Rio bahkan sejak pertama kali bertemu, Mas."
"Benarkah? Maafkan aku ya? Maafkan semua kesalahanku."
"Tidak usah dibahas, Mas. Itu sudah masa lalu."
Rio kembali mencium bibir Wulan, mengajaknya kembali berciuman.
***
Tak ingin melewatkan waktu, Mawan dan Aji merencanakannya malam ini juga. Hal yang pertama mereka lakukan adalah ke kantor Rio. Bukan ingin bertemu dengan pria tampan itu, melainkan ingin bertemu dengan sekretarisnya.
"Pakde Mawan kesini?" tanya Riana saat membukakan pintu yang baru saja di ketuk oleh Mawan.
"Iya, apa aku boleh masuk?" tanya Mawan.
__ADS_1
"Boleh Pakde, silahkan." Riana mempersilahkan kedua pria tua itu untuk masuk kedalam. Lalu, Mawan dan Aji langsung mendudukkan bokong mereka di sofa panjang.
Riana masih berdiri, karena hanya ada satu sofa dan ia tak enak jika duduk berdampingan dengan mereka. "Ada apa ya, Pakde?"
"Aku ingin lihat laporan meeting Rio, dia ada meeting dengan siapa saja mulai besok?"
"Memangnya Pakde mau apa, ya?" Riana jadi sedikit penasaran.
"Besok aku ingin bertemu dengannya dulu. Sebelum Rio meeting dengan klien. Sini daftar aktivitas Rio, aku mau lihat," pinta Mawan. Aslinya ia hanya beralasan demi rencananya.
Riana mengangguk, ia lantas melangkahkan kakinya kearah meja kerjanya, mencari berkas daftar riwayat aktivitas Rio. Setelah ketemu, Riana langsung memberikan pada Mawan.
Pria tua itu membuka dan melihat nama pertama klien Rio adalah Rizki Gumelang. Sebuah kebetulan sekali, mungkin saja Rizky bisa membantunya.
"Bagaimana Pakde?" tanya Riana.
"Ah sudah, ini. Terima kasih." Mawan menyerahkan kembali berkas berwarna biru nevi ke tangan Riana, ia juga sekalian pamit untuk pulang. Selanjutnya mereka langsung ke kantor Rizky.
Sampainya di kantor Rizky, Mawan memarkirkan mobilnya di parkiran dan berjalan bersama Aji masuk kedalam gedung pencakar langit.
"Apa Rizky Gumelang masih ada di kantor?" tanya Mawan pada penjaga resepsionis wanita yang memakai sanggul.
"Iya." Mawan dan Aji mendudukkan bokongnya di sofa single yang berada di lobby. Saat sedang menunggu dan berbincang-bincang dengan Aji, Mawan mendapatkan telepon dari Santi. Tanpa berlama-lama, ia menjawabnya.
"Halo, Mah."
"Papah ada dimana? Kok Mamah ke kantor Papah, Papah nggak ada?" tanya Santi.
"Oh, Papah sedang ada urusan dengan Pak Aji, Mah," jawab Mawan sesantai mungkin, ia tak mau membuat istrinya curiga. "Mamah tumben ke kantor Papah, ada apa?"
"Ada hal yang ingin Mamah bicarakan, kapan Papah pulang?"
"Papah tidak tau, sepertinya Papah pulang malam. Pekerjaan Papah banyak sekali, Mah. Gara-gara kemarin tidak masuk ke kantor," jawabnya berasalan.
"Oh, yasudah tidak apa-apa. Papah hati-hati, ya!"
"Iya Mamah sayang." Mawan menutup sambungan telepon dengan senyuman manis. Tak lama Rizky datang menghampiri mereka, tapi tidak sendiri melainkan bersama Anna.
__ADS_1
"Om Mawan mencariku? Ada apa?" tanya Rizky yang ikut duduk bersama Anna pada sofa single.
Mawan memperhatikan wajah Anna. "Siapa dia? Bisa kita bicara bertiga saja? Oh iya, kenalkan ini Pak Aji, rekan kerja Om."
Aji menjabat tangan Rizky, begitu pun sebaliknya.
"Aji."
"Rizky." Rizky menoleh kearah Anna yang tengah duduk manis. "Anna lu pulang saja, kita batalkan jalan-jalannya."
"Kok gitu Riz? Kan kamu sudah janji?" Anna memasang wajah memelas.
"Besok saja, lu pulang sekarang, ya?" perintah Rizky yang dibarengi menarik lengan Anna untuk bangun. Dengan pasrahnya, Anna mengangguk.
"Bye Om-om tampan," kata Anna di barengi kecupan pada telapak tangannya, memberikan satu persatu untuk Mawan dan Aji. Kedua pria tua itu sama sekali tidak merespon, mereka hanya melayangkan pandangan sambil geleng-geleng kepala.
"Dia siapa sih? Kok genit sekali?" tanya Mawan saat melihat Anna berlalu pergi.
"Dia memang begitu orangnya. Jangan diambil hati. Oya ... ada apa, Om?"
"Begini, kan kamu ada meeting dengan Rio, bagaimana kalau acara meeting kalian malam ini saja dan jangan di kantor," usul Mawan.
"Lho, kenapa? Memangnya Rio tidak bisa ke kantorku besok? Kok dia tidak bicara denganku, Om."
"Ini hanya usulan Om saja, sebenernya Om ingin minta bantuan juga sama kamu, Riz."
"Bantuan? Bantuan apa?" Rizky mengerutkan keningnya, ia merasa heran karena ini kali pertamanya Mawan mengatakan 'minta bantuan' seperti ada yang benar-benar serius.
"Tadinya begini, kau nanti ketemu dengan Rio di Restoran. Nanti kau dan dia meeting disana. Setelah kalian selesai, kau pulang duluan dan biarkan aku dan Rio bicara berdua," papar Mawan.
"Kok begitu? Kalau Om mau bicara, tinggal bicara saja, kenapa musti minta bantuan padaku? Bukannya Om dan Rio dekat?" Rizky makin binggung lagi.
"Iya, ini dia penyebabnya. Om sedang berantem dengannya, Riz. Kau tau 'kan betapa menyebalkannya Rio? Dia itu belum dewasa, hanya masalah kecil, lalu di besar-besarkan. Om ingin minta maaf dan bicara berdua dengannya, menyelesaikan masalah kami. Kau mau ya membantu Om?" Mawan berkata dengan nada memohon, ia juga memasang wajah sedih. Tapi hanya berakting saja.
Rizky masih terlihat binggung. "Menurutku, sebaiknya Om bicarakan dengan Rio baik-baik saja di rumah, bilang juga sama Tante Santi dan Rey. Mungkin mereka mau membantu." Rizky justru memberikan Mawan usul.
"Tidak Riz. Menurut Om, ini hanya hal sepele saja, mereka tidak perlu tau. Biar Om selesaikannya berdua dengan Rio. Kau mau 'kan membantu, Om? Om tau kau pria yang baik. Sama Reymond saja kau membantunya, masa sama Om tidak mau?" Mawan masih berusaha untuk merayu Rizky.
__ADS_1
Jangan lupa like 💕