
Karena pintu itu belum saja dibuka, lantas pria itu terus menerus mengetuknya.
Tok ... tok ... tok.
"Permisi, Wulan ... Om Wahyu."
Wulan cepat-cepat mematikan kran air saat ia menyelesaikan aktivitas mencucinya. Piring, gelas dan sendok itu ia taruh diatas meja. Wulan menyempatkan untuk mengelap tangannya yang basah pada kain serbet, sebelum melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
Ceklek~
"Pak Indra," kata Wulan saat melihat pria plontos itu tengah berdiri, tapi bukan didepan pintu. Melainkan di halaman rumahnya.
Prasaan suara tadi bukan milik dari pria itu, tapi kenapa bisa dia yang berada didepan matanya?
"Selamat pagi Nona," sapanya dengan senyuman dan membungkuk sedikit.
"Bapak yang tadi mengetuk pintu?"
"Tidak, saya baru saja sampai."
Wulan menoleh ke kanan dan kiri, melihat sekeliling rumahnya, hanya ingin memastikan saja, apa ada orang selain Indra disini? Tapi ternyata tidak ada, hanya Indra.
"Apa sebelum Bapak kesini ... Bapak melihat ada orang lain?"
Indra menggeleng. "Tidak, Nona. Saya kesini tidak ada siapa-siapa."
Rasanya begitu aneh, tapi yasudah. Mungkin pria tadi mengurungkan niatnya untuk bertamu.
"Nona ingin pergi ke Restoran? Mari saya antar," ajaknya.
"Tunggu sebentar ya, Pak. Saya mau ambil tas."
"Baik, Nona."
Wulan sudah menghilang dari ambang pintu dan tak lama ia balik lagi dengan tas selempang pada bahu kanannya.
Pintu belakang mobil sudah dibukakan untuk Wulan dan mereka naik mobil bersama menuju Restoran
*
Sampainya disana, Indra memarkirkan mobilnya pada tempat parkir. Lantas Wulan keluar dari pintu mobil dan melangkahkan kakinya masuk kedalam Restoran.
"Bapak kok ikut masuk?" tanya Wulan menghentikan langkahnya sebentar, lalu menoleh kebelakang. Ia menyadari Indra diam-diam membuntutinya dari belakang.
"Iya, Nona. Saya disuruh oleh Pak Rio. Apa Nona merasa risih saya mengikuti Anda?"
"Tidak, Pak."
"Wulan, kamu sudah masuk kerja lagi?" Nella baru saja datang dan tak sengaja bertemu, jadi sekalian untuk menyapa.
"Mbak Nella, iya Mbak. Tapi aku ingin bertemu dengan Bu Nissa, apa dia sudah datang?"
__ADS_1
"Sudah, mari ikut denganku." Nella mengajaknya berjalan menuju ruangan Nissa yang berada di ujung Restoran. "Kata Rio kau dan dia kemarin habis bulan madu, benar?"
Wulan mengangguk samar. "Iya, benar Mbak."
"Bagus itu, aku tidak tau kalau kamu istrinya Rio. Kamu juga kenal Indah, kan?"
"Iya, kenal Mbak."
"Semoga kamu dan Rio selalu bahagia dan cepat di kasih momongan ya." Nella mengelus pelan punggung tangan Wulan sebentar.
"Iya Mbak, amin."
Setelah mengantarkan didepan pintu, Nella berlalu pergi dari sana. Wulan mengepal dan mengangkat tangannya keatas seraya mengetuk pintu.
Tok ... tok ... tok.
"Bu Nissa."
"Masuk!" sahutnya dari dalam.
Ceklek~
"Ah Wulan, kau rupanya. Bagaimana kabarmu?" Nissa menghentikan aktivitasnya mengetik laptop, saat melihat Wulan masuk kedalam.
"Aku baik, Bu. Bagaimana dengan Bu Nissa?"
"Aku juga baik."
"Tidak, silahkan duduk." Nissa mengedikkan kepalanya pada kursi didepan mejanya. Wulan langsung duduk disana dan tanpa permisi Indra juga ikut masuk.
"Lho, dia siapa?" tanya Nissa menatap tajam kearah Indra.
Wulan segera menoleh kearah pria plontos itu. "Pak Indra jangan ikut masuk, aku ada urusan dengan Bu Nissa. Tunggu di luar saja," titahnya.
"Oh, maaf. Saya tunggu di luar Nona." Indra langsung keluar dan menutup pintu, meninggalkan Wulan dan Nissa berdua didalam.
"Dia siapa sih? Kok serem banget?" Nissa bergidik ngeri sambil menatap wajah Wulan.
"Dia sopirnya Mas Rio, Bu. Maaf kalau dia tidak sopan."
"Oh, tidak masalah."
Wulan mengenggam telapak tangannya sendiri dan menundukkan kepalanya. "Bu ... aku ingin izin risen dari Restoran Ibu," ucapnya dengan hati-hati.
"Lho ... kenapa? Bukannya kau senang kerja disini?"
"Iya, tapi Mas Rio dan Ayah melarangku kerja lagi."
Nissa menghela nafas. "Kalau alasannya seperti itu, tidak masalah Wulan. Kau turuti omongan Ayah dan suamimu saja."
Wulan mengedikkan kepalanya dan melihat kearah Nissa. "Ibu tau Mas Rio suamiku?"
__ADS_1
"Iya, tentu tau. Dia teman kuliah Nella dan Indah. Aku diberitahu Nella."
"Eemm ... tapi Bu. Ibu tidak marah, kan? Aku kerja disini sudah risen dua kali." Wulan merasa tidak enak hati, kemarin-kemarin ia sempat memohon untuk bekerja lagi. Tapi sekarang ia malah minta berhenti.
Nissa tersenyum. "Masa aku marah. Itu tidak masalah Wulan. Oya ... berapa nomor rekeningmu? Nanti aku transfer uang selama kau kerja dua hari." Ia menyodorkan kertas kecil dan bolpoin kearah Wulan.
"Yang dua hari itu aku tidak perlu di gajih, Bu. Tidak apa-apa," tolaknya.
"Tidak bisa begitu, kau 'kan sudah kerja." Nissa menarik laci kerjanya untuk mengambil dompet, ia mengambil uang lima ratus ribu dan meletakkan diatas meja, didekat Wulan. "Ini ... hitung-hitung untuk jajan adikmu, Wulan. Rezeki tidak boleh di tolak."
"Tapi Bu. Aku--"
"Tidak ada tapi-tapi! Aku tau Rio banyak uangnya, tapi ini uang hasil kerjamu, Wulan. Jadi kau wajib menerimanya," selanya dengan cepat.
Dengan ragu-ragu, Wulan mengambil uang itu dan melipatnya, mengantonginya didalam kantong celana.
"Terima kasih, Bu. Yasudah ... kalau begitu aku permisi."
"Iya, kapan-kapan kamu dan Rio, atau dengan Indah. Kalian kesini main dan makan bareng."
"Iya, Bu. InsyaAllah." Wulan menyempatkan untuk tersenyum sebentar sebelum keluar dari ruangan itu.
"Wulan. Alhamdulilah, akhirnya aku bertemu denganmu," ucap Ivan dengan wajah sumringah saat melihat Wulan keluar dari ruangan itu.
"Kak Ivan."
"Kamu kemana saja? Kok libur tiga hari? Kamu sakit atau bagaimana?" tanyanya berurutan seraya memperlihatkan Wulan dari ujung kaki ke ujung kepala, tapi tidak ada yang lecet sama sekali. Itu berarti Wulan baik-baik saja.
"Aku tidak sakit, Kak. Aku kemarin habis--"
"Bisa kita bicara sebentar? Ikut denganku, Wulan." Belum mendapatkan jawaban iya, tiba-tiba saja Ivan menarik lengan Wulan, mengajaknya untuk masuk kedalam ruangan tempat loker. Tidak ada siapapun disana, selain merek berdua.
Wulan langsung menepis tangan Ivan dari lengannya. "Kakak jangan tarik-tarik aku begitu," dengusnya kesal.
"Ah maaf-maaf. Aku terlalu senang saat bertemu denganmu, Wulan," sahutnya sambil tersenyum malu-malu, ia menatap lekat wajah wanita didepannya itu.
"Jadi mau bicara apa Kak?"
Ivan perlahan mengenggam tangan Wulan, diiringi degupan jantungnya yang sangat kencang. "Wulan ... semenjak kamu kerja lagi disini ... aku suka padamu, kamu mau tidak jadi pacarku?"
Deg!
Netra Wulan membulat sempurna, tangan yang saling mengengam itu langsung ia melepaskan. Apa maksudnya? Pria ini menyatakan cinta padanya? Benarkah?
"Kakak ini bicara apa?"
Wulan masih heran dengan apa yang Ivan katakan, apa pria itu tidak tau Wulan libur karena pergi berbulan madu, yang berarti sudah jelas kalau Wulan wanita bersuami?
"Aku bilang, aku suka padamu. Kalau kamu tidak mau kita pacaran ... kita langsung menikah juga tidak masalah, aku bisa secepatnya melamarmu, Wulan." Ivan meyakinkan kembali ucapannya pada Wulan, dari mimik wajahnya saja sangat terlihat, kalau ia sangat serius mengatakan hal itu.
^^^Kata: 1057^^^
__ADS_1