Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 146. Menjaga


__ADS_3

"Oh, aku ada urusan dengan Kak Rizky, temannya Kak Reymond, Ayah. Dia mengajakku meeting," jawab Rio seraya menenggak satu gelas air yang baru saja Wulan tuangkan untuknya.


"Memangnya tidak bisa besok? Kamu kelihatan capek, kamu dan Wulan 'kan tadi habis ...." Wahyu mengantung ucapannya dengan sengaja, ia melihat pipi anak dan menantunya merah padam. Wahyu jadi suka menggoda mereka sekarang, apalagi jika menggoda Rio, pria sensitif itu gampang sekali marah. Tapi terkesan menjadi lucu jika Wahyu berbalik memarahinya, nyali menantunya tentu menciut didepan Wahyu.


"Kak Rio dan Kak Wulan habis apa Ayah?" tanya Clara penasaran. Ia juga melihat Wulan dan Rio tengah memalingkan wajahnya, menutupi rasa malu.


"Habis main kuda-kudaan," sahut Rio. "Aaww ... aaww, sakit Ayah!" Rio merasakan nyeri akibat lengannya di cubit oleh Wahyu.


"Kau ini punya mulut, kenapa tidak dijaga! Clara masih kecil, Rio!" bentak Wahyu.


"Kan aku hanya bilang kuda-kudaan, itu tidak jorok. Pikiran Ayah saja yang jorok, hahahaha ...." Rio yang tak tau malu malah bergelak tawa.


"Tapi intinya sama saja kesitu, kau memang mesum Rio!"


"Siapa yang jadi kudanya, Kak?" tanya Clara pada Rio.


"Kak Wulan, Kak Rio yang naik diatasnya," sahut Rio. "Aaww ... aaww ... ampun, Ayah!" lagi dan lagi Wahyu mencubit lengannya, merasa gemas dengan ucapan Rio. Masalahnya, Wahyu jadi ikut membayangkan yang tidak-tidak. Dia 'kan seorang duda, tidak akan ada lawannya jika sedang menginginkannya.


"Sudah, selesaikan makannya!" titah Wahyu dengan kesal.


Rio masih terkekeh, namun ia segera menyelesaikan makanannya sampai habis. Seusai makan malam, Rio menghubungi Indra untuk menjemputnya.


"Wulan, kau mau ikut denganku atau tidak?" tanya Rio saat melihat Wulan masuk kedalam kamar, membawa segelas susu ibu hamil.


"Mas Rio 'kan ada meeting sama Pak Rizky, kenapa mengajakku?" Wulan duduk disamping Rio, namun pria itu justru mengangkat tubuh Wulan hingga duduk di pangkuannya, dengan saling berhadapan.


"Iya, tapi hanya melihat gambar saja kok, kamu ikut, ya?" jujur, Rio sangat malas sekali untuk pergi, rasanya berat meninggalkan Wulan.


"Nanti aku disana menganggu, aku juga tidak enak sama Pak Rizky, Mas."


"Ah kau ini berasal!" Rio melingkari pinggang Wulan dan menciumi leher istrinya. "Aku cinta padamu, Wulan."


"Iya, aku juga cinta Mas Rio."


"Aku mau kau mencium pipiku." Rio mendekatkan pipi kirinya pada bibir Wulan supaya bisa langsung menciumnya.


Cup~


"Sebelahnya dong!" Rio memalingkan wajahnya supaya Wulan dapat mencium pipi kanannya.


Cup~


"Sudah, Mas." Wulan tersenyum, tangannya melingkarkan pada leher Rio.


"Terima kasih, Manis."


"Sama-sama, Mas."


"Kata kau, aku ini tampan tidak, sih?"


"Memang kenapa? Mas Rio merasa kalau Mas Rio ini jelek?"

__ADS_1


"Enak saja! Aku 'kan hanya minta pendapatmu."


"Mas Rio tampan, sangat tampan!"


"Aku sama Kak Reymond lebih tampan siapa?"


"Mas Rio."


"Sama Kak Rizky?"


"Mas Rio."


"Eemm ... sama Dido?"


"Mas Rio."


"Sama Ivan?"


"Mas Rio juga."


"Eemm ...." Rio mengangguk-angguk. "Ah, kayaknya kau bohong, Wulan. Masa aku seperti pria yang paling tampan saja."


"Ya, menurut aku memang begitu, Mas." Wulan tersenyum dan memeluk tubuh Rio.


Tak lama ponselnya Rio berdering, Wulan ingin melepaskan pelukannya tapi dicegah oleh Rio. Pria tampan itu mengangkat teleponnya sambil memeluk istrinya.


"Pak Rio, saya sudah ada di kantor Pak Mawan. Tapi mobil Bapak bannya kempes."


"Sudah, ada paku yang tertancap, Pak. Pakunya besar ada dua, depan belakang sebelah kiri. Bagaimana ini, Pak?"


Seperti sebuah kebetulan saja, mobil Rio mendadak bannya kempes. Sudah begitu terkena paku, mungkin saja memang itu ulah Mawan dan Aji. Supaya Indra tidak bisa menemani Rio pergi. Jadi Rio tidak ada yang menjaga.


"Yasudah, aku naik taksi saja kalau begitu."


"Saya bawa motor sih, Pak. Apa Bapak mau saya antar pakai motor saja? Nanti masalah helm saya bisa pinjam ke orang lain."


"Masa malam-malam naik motor, tidak ah. Aku tidak mau, aku mau naik taksi saja," tolak Rio.


"Oh yasudah, berarti saya pulang lagi, Pak?"


"Kau ke rumah Ayah Wahyu saja, jaga di luar."


"Jaga di luar? Memang mau apa?"


"Ya, tidak mau apa-apa. Kau di luar untuk menjaga istriku. Aku 'kan mau pergi." Rio lagi-lagi merasa tak tenang meninggalkan Wulan. Padahal, yang berada dalam bahaya adalah dirinya, bukan Wulan.


"Baik, Pak."


Rio menutup sambungan telepon dan menarik tubuhnya dan tubuh Wulan untuk bangun.


"Aku pergi ya, Wulan. Kau tidur saja, tidak usah menungguku." Rio mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Iya, Mas Rio hati-hati dijalan." Wulan mencium punggung tangan suaminya dan merapihkan kerah kemeja Rio yang terangkat


"Iya."


Rio melangkahkan kakinya keluar dari rumah Wahyu, ia berdiri disisi jalan raya dengan tangan yang melambai pada mobil taksi yang baru saja lewat. Setelah mobil itu berhenti, Rio langsung masuk kedalam.


"Kita kemana, Pak?" tanya sang sopir.


"Restoran Pesona ya, Pak. di jalan Xxx."


"Baik." Sopir itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, jarak tempuh mereka dilalui hampir 30 menit.


*


Rio masuk ke sebuah Restoran besar dan elite, banyak sekali pengunjung, karena hari ini adalah akhir pekan. Rizky sudah mengirim pesan padanya, untuk memintanya menghampiri meja nomor 9, tepat berada di pojok ruangan.


Kedatangan Rio juga di ketahui oleh kedua pria tua itu, mereka tengah memantau pergerakan Rio dari kejauhan dengan senyum yang terukir indah. Mereka sangat yakin, tinggal selangkah lagi, rencananya akan berhasil dan berbuah manis.


"Malam, Kak," sapa Rio yang baru saja duduk di kursi didepan Rizky, pria didepannya itu tengah sibuk menatap layar ponselnya sendiri.


"Oh, lu sudah datang." Rizky menaruh ponselnya diatas meja, ia juga menyodorkan buku menu untuk Rio. "Lu ingin pesan?"


Rio melihat menu kopi andalan di Restoran itu, mungkin dengan meminum kopi, semangatnya kembali naik. Sejujurnya, Rio benar-benar terpaksa bertemu Rizky, ia datang karena takut Rizky membatalkan proyek dan dirinya akan kena omelan dari Reymond.


"Aku mau kopi susu saja, Kak."


Rizky mengangguk, ia segera melambaikan tangannya pada pelayan.


"Kopi susu satu, kopi hitam satu," ucap Rizky pada pelayan wanita itu.


Sembari menunggu kopi itu datang, Rizky menyuruh Rio untuk duduk disampingnya, supaya bisa sama-sama melihat gambar pada layar laptop yang Rizky tunjukkan.


Sebuah gambar rancangan dekorasi itu Rizky tunjukkan beberapa, untuk bisa saling memberi usul.


Selang beberapa menit, pelayan Restoran itu datang dan memberikan dua cangkir kopi untuk Rio dan Rizky.


Mereka membahas beberapa hal sambil menyeruput secangkir kopi itu, dan beberapa menit berlalu, sekitar 20 menit, mereka sudah menyelesaikan meetingnnya.


Namun tiba-tiba, Rio merasa ingin buang air kecil. Rasanya tak tertahan, ia juga merasakan jantungnya kini berdebar sangat kencang, belum lagi keringat pada seluruh wajahnya yang sudah mengalir deras. Rio langsung berdiri karena duduknya mulai gelisah.


"Lu kenapa?" tanya Rizky saat melihat gelagat aneh Rio.


...*****...


Hallo, Author bawa kabar gembira, nih. Tapi entah kalian gembira atau tidak, tapi yang pasti aku gembira 🤭 Author bikin sequel Menikah Di Atas Perjanjian dengan judul "Kita Terikat Perjodohan"



Pemerannya adalah Nella Pujianti, kalian pasti tau dia, kan? Kalau nggak tau aku kasih tau sekarang. Dia adalah temannya Indah, teman kuliah dan nanti disana Nella akan dijodohkan oleh Papahnya dengan pria yang pemerannya disini juga. Tapi masih di rahasiakan, biar kalian pada mampir.


Babnya baru 2, tapi nggak apa-apa dong kalian bisa nyicil baca atau favoritkan dulu juga nggak masalah, biar lama-lama babnya jadi banyak kayak novel ini.

__ADS_1


Oke, terima kasih, ditunggu kehadiran kalian disana. Absen like juga ya, biar Author bisa lihat 😁


__ADS_2