Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 59. Serba salah


__ADS_3

Dia membelai lembut pipi Indah. "Lalu maksud kamu bagaimana? Coba jelaskan. Aku tidak mengerti."


"Aku tadi pagi juga buat nasi goreng dengan resepnya Mbak Melly, Mas. Tapi gagal! Apa aku bisa membuatnya lagi disini?" tanya Indah seraya menarik-narik alisnya keatas.


"Jangan! Nanti tangan kamu terkena minyak panas lagi. Nanti bisa-bisa aku dibunuh Papah," bantah Reymond.


"Kamu sama Papah sama saja, Mas! Tidak mengerti perasaanku!" seru Indah sambil menanggis.


"Astaga sayang! Bukan itu maksudku." Reymond menyeka air mata yang baru mengalir itu. "Yasudah begini saja, aku yang buat. Bagaimana?"


"Kamu? Mana bisa, Mas. Aku nggak percaya!" Indah memalingkan wajah.


Kenapa Indah jadi manja dan sensitif begini? Padahal cuma nasi goreng. Sudah begitu kenapa musti resep dari Melly?


Batin Reymond.


"Yasudah." Reymond menghela nafas panjang. "Selain Melly, nasi goreng siapa yang menurutmu enak?" tanya Reymond.


Indah makin kencang menanggis dan memeluk tubuhnya. Membuat Reymond makin pusing tujuh keliling.


"Kamu jahat sekali, Mas! Kau 'kan tahu. Nasi goreng yang enak hanya bikinan Mamah Sarah! Nasi goreng Mamah terenak nomor satu di mulutku! Kenapa kau jahat sekali! Kau membuat aku mengingatnya dan merindukannya!" Indah menepuk-nepuk lengan Reymond.


"Sayang, maafkan aku." Dia mengusap punggung Indah. "Bukan maksudku mengingatkan kamu sayang, sungguh maafkan aku."


Aku jadi serba salah lagi. Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud membuatmu sedih.


Batin Reymond.


"Lalu sekarang kamu maunya bagaimana? Aku tidak mau salah ngomong lagi," ucapnya pasrah.


Indah menyeka air matanya dan berdiri. "Aku mau pulang ke rumah Papah Antoni saja sekarang, Mas," lirihnya pelan.


Reymond ikut berdiri. "Antoni? Memang dia tidak kerja hari ini?"


Mata Indah langsung melotot padanya, "Papah, Mas! Kenapa kamu memanggil hanya namanya? Kau tidak sopan dengan mertuamu sendiri!" Indah mendengkus kesal.


Tangannya menampar mulutnya sendiri, lagi-lagi dia salah berbicara.


"Maaf-maaf sayang, aku lupa. Maksudku, Papah Antoni." Reymond langsung meralat ucapannya.


Dia memeluk dan membujuknya lagi. "Ke rumah Papah Antoni mau apa? Kau juga tidak membawa ponsel, kan?"


"Aku akan minta dibuatkan nasi goreng padanya," sahut Indah sambil tersenyum dan menghayal nasi goreng didepan mata.


Astaga?! Nasi goreng lagi?

__ADS_1


Batin Reymond.


"Yasudah aku akan telepon Dion untuk memberitahu Papah Antoni pulang ke rumah, nanti kamu pulang diantar Harun saja," ucap Reymond seraya mengajak Indah keluar kamar dengan lengan yang merangkul di bahu.


Harun dan Hersa masih duduk diatas sofa. Mereka berdua masih sibuk dengan ponselnya, sampai tidak tahu Reymond dan Indah sudah didepan mata.


"Harun," panggil Reymond.


Harun dan Hersa melepaskan pandangan dan melihat pada Reymond, mereka berdua berdiri secara bersamaan.


"Iya, Pak," jawab Harun.


"Kau antar Indah ke rumah Pak Antoni, jangan biarkan dia lecet dan diganggu orang lain!" seru Reymond mengancam.


"Iya, Bapak tenang saja," jawab Harun.


Reymond menatap wajah Indah dan memegangi kedua pipinya. "Sayang, usahakan untuk jaga jarak dengan Rio. Kau tenang saja, aku akan cari cara untuk kita bersama." Mulutnya mendekat dan mencium kening.


"Iya, Mas. Ya sudah aku pulang." Reymond mengantarnya sampai pintu depan apartemen dan melihat Indah masuk lift dibarengi oleh Harun.


Reymond berdiri di ambang pintu.


"Hati-hati sayang, jaga diri dan jaga Bayu." Dia menarik senyum dan melambaikan tangan seiring pintu lift itu tertutup.


Batin Reymond.


Dia mengambil ponselnya dikantong celana untuk menelepon Dion.


"Halo, selamat siang. Pak," sapa Dion.


"Dion, kau bilang sama Antoni. Ck!" Lidahnya terasa terlipat, begitu susah menyebutkan panggilan Papah.


"Maksudku Papah Antoni, bilang Indah sekarang ada di rumahnya dan minta dibuatkan nasi goreng. Kau juga kasih tahu Melly untuk memberikan resepnya pada Papah Antoni, supaya dia bisa membuatkan nasi goreng untuknya," jelas Reymond.


"Mbak Indah sedang ngidam memangnya, Pak? Wah selamat ya, Pak. Saya ikut senang! Bapak memang topcer, saya salut dengan Bapak!" suara Dion terdengar begitu senang dan antusias sekali.


Deg.....


Dion ini bicara apa? Tidak mungkin Indah hamil secepat ini. Tapi tidak ada salahnya untuk mengeceknya juga, kan? Iya. Lagian dia juga bertingkah aneh dan manja.


Batin Reymond.


"Terima kasih, Dion. Walau kau bukan asistenku lagi, tapi kau selalu membantuku."


"Sama-sama, Pak."

__ADS_1


Reymond menutup teleponnya, dan kembali mengirim pesan pada Santi.


..._____________...


💬


To: Mamah Malaikatku


12:11 AM


Mah, tolong Mamah belikan Indah tespeck dan suruh dia mengeceknya besok pagi. Aku belum yakin sih, tapi tidak apa coba saja. Siapa tahu dia beneran hamil. Dan aku minta sama Mamah sebisa mungkin jangan sampai biarkan Indah dan Rio dekat dan pergi bersama. Aku tidak mau Rio berbuat macam-macam padanya, itu saja Mah. Aku sayang Mamah.


..._________________...


Reymond tidak dapat balasan dari ibunya, mungkin disana Santi sedang sibuk.


Tangannya menarik sisi pintu dan menutupnya, kini dia duduk bersama Hersa yang berada disamping, ingin membahas masalah Siska. Karena dari kemarin Reymond sudah menyewa orang untuk mencari keberadaan Siska dibantu juga dengan Hersa.


"Hersa, bagiamana hasilnya? Apa kalian sudah menemukan keberadaan si Jalang?" tanya Reymond duduk santai sambil tumpang kaki.


Hersa juga membawa tas berisi laptop, dibukanya tas tersebut untuk mengambil laptop dan meletakkan diatas meja, menunjukkan gambar rumah mewah pada Reymond didepan layar laptop.


"Dia tinggal disini, Pak." Dia menunjuk layar tersebut.


Reymond memperhatikan gambar itu dengan seksama. "Apa masih daerah Jakarta?" Dia menoleh sedikit pada Hersa.


"Coba kau ceritakan saja semuanya, biar aku dengarkan-nya," ujar Reymond.


"Rumah ini masih daerah Jakarta, Jakarta pusat. Tapi dia tinggal tidak sendiri, melainkan bersama seorang pria, Pak," tutur Hersa.


Dia kembali mengetik keyboard laptop dan menunjukkan data diri seseorang. "Prianya ini, Pak."


Reymond membaca sekilas data tersebut.


Haris Kurniawan pria berusia 46 tahun, dia seorang CEO dibidang property.


"Lalu apa hubungannya?"


"Dia adalah pacar Siska sekarang, Pak. Tapi masalah begini, Bapak meminta saya dan orang suruhan untuk menculik atau menahan Siska ...,"


"Panggil saja dia Jalang! Aku benci namanya," serbu Reymond menyela ucapan.


"Maaf. Jalang maksud saya, orang suruhan Bapak sudah berencana untuk menculiknya, tapi masalahnya dimana pun dan kapan pun Pak Haris pergi. Siska selalu menemaninya, hampir setiap saat mereka pergi dan pulang bersama, itu mempersulit kita, yang saya takutkan nanti, Pak Haris akan melaporkan ke polisi jika Jalang diculik. Saya tidak mau ambil resiko yang akan menyulitkan Bapak di kemudian hari," tutur Hersa.


Omongan Hersa ada benarnya juga, jangan sampai Reymond masuk kedalam penjara lagi dengan kasus yang sama. Bisa-bisa masalahnya tidak akan terpecahkan.

__ADS_1


__ADS_2