
“Ingin bercinta Mas.”
Apa obatnya benar-benar sudah bekerja dengan baik?
Perlahan Rio memegangi kepala Wulan dan mendekatkan pada wajahnya. Wanita itu bahkan sudah memejamkan kedua matanya, seakan mengetahui apa yang akan Rio lakukan padanya.
Cup~
Keduanya sudah terpejam dan memagut bibir satu sama lain. Tangan Rio mulai menjam**h pada benda kenyal didepannya, tapi tiba-tiba ia tersadar kalau saat ini ada Indra.
Walau pria plontos itu fokus menyetir dan sama sekali tidak memperhatikan mereka, tapi tetap saja, Rio tak ingin aurat istrinya sampai terlihat.
“Mas kok udahan?” tanya Wulan dengan wajah kecewa setelah tau Rio melepaskan ciuman.
“Sebentar.” Rio mencium kening Wulan sekilas. “Indra, kapan kita sampai? Apa masih lama?” tanya Rio.
“Satu jam lagi, Pak.”
Cih! Lama sekali, padahal aku sudah tidak sabar.
Sebenarnya wajar kalau lama, laju kendaraannya saja terbilang sedang. Karena Rio sendiri yang mengatakan untuk mengutamakan keselamatan dari pada kecepatan. Namun saat ini, tubuh Wulan sudah dikuasai oleh h*sr*tnya. Obat per*ngs*ng yang Rio berikan membuat wanita itu seakan tidak tahan dan ingin segera menuntaskannya.
“Mas kapan kita melakukannya?” kali ini bukan seperti pertanyaan, melainkan menagih.
Wulan sudah menurunkan kedua tali jumpsuit yang berada pada pundaknya. Kaos putih itu ingin ia angkat keatas. Namun dengan cepat Rio mencegahnya. “Sebentar, Wulan.”
Rio bangun sedikit dan mengulurkan tangannya keatas, untuk meraih hordeng yang berada disisi jendela. Setelah itu, ia menariknya untuk menutup dan menjadikan penghalang antara kursi belakang dan kursi depan. Sekarang, apapun yang mereka lakukan tidak akan terlihat oleh Indra.
“Kau fokuslah menyetir Indra! Jangan hiraukan suara-suara yang akan kau dengarkan nanti!” tegur Rio.
“Baik, Pak.”
Rio langsung merebahkan tubuh Wulan pada kursi, ia juga merubah posisi kursi empuk miliknya supaya membuat keduanya nyaman. Tanpa berlama-lama, Rio segera melepaskan seluruh benang pada tubuh wanita itu dan menc*mbunya.
Menurut Rio, inilah yang dinamakan pemanasan. Ya, Wulan kali ini sangat menikmati setiap lekukan tubuhnya yang sedang dijelajahi oleh mulut dan lidah Rio dengan rakus.
"Mas ... cepat lakukan, aku sudah tidak tahan rasanya," desis Wulan dengan wajah memerah. Ia benar-benar seperti wanita agresif karena pengaruh obat itu.
"Kita pemanasan saja dulu. Nanti kalau sudah sampai di Hotel, baru kita melakukannya." Rio kembali mencium bibir ranum istrinya, tangan nakalnya juga sudah berhasil menjalar kemana-mana.
Namun semua yang dikatakan Rio adalah dusta, ia mana tahan menunggu waktu yang masih satu jam. Sedangkan miliknya saja sudah memberontak ingin masuk kedalam sarangnya.
__ADS_1
Sekarang, giliran Rio yang melepaskan seluruh pakaiannya. Saat keduanya polos, ia langsung menghimpit tubuh Wulan dari atas dan memulai permainannya.
"Eemm ...." Wulan mengigit bibir bawahnya untuk menahan suara seksi itu keluar.
"Lepaskan saja, tidak usah ditahan ...," titah Rio dengan suara paraunya, ia sangat bersemangat dalam hal ini.
Kedua tangan mereka saling menggenggam, itu berguna supaya Wulan mampu melepaskan suara yang ia tahan-tahan sejak tadi.
Disisi lain, Indra merasa sangat kepanasan. Sungguh, bukan iri atau bagaimana. Tapi sebagai pria normal, ia juga ikut merasa resah mendengar suara d*s*han yang begitu nyaring didalam mobil itu.
Ia menyeka keringat pada dahinya yang bercucuran. Ia meraih botol air mineral dan menenggaknya sampai habis.
'Sepertinya Pak Rio benar-benar sudah tidak tahan. Memang ya ... kalau pengantin baru tuh, rasanya berbeda. Jadi ingat saat aku malam pertama' batin Indra sambil senyum-senyum sendiri.
*
Beberapa menit berlalu dengan lantunan suara seksi dua sejoli, akhirnya mobil Lamborghini berwarna putih sudah sampai ke kota Bandung dan terparkir dengan rapih, pada parkiran khusus Hotel yang Rio pesan.
Indra bisa menghela nafasnya dengan lega, karena sedari tadi ia seperti sesak akibat kehabisan oksigen. Segera ia melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil, meninggalkan mereka berdua yang masih bergulat keringat.
"Akhirnya sampai juga," ucapnya penuh dengan rasa syukur.
"Mas ... kok berhenti?" tanya Wulan dengan wajah kesal. Pasalnya ia belum berhasil menuntaskan h*sr*tnya, tapi Rio malah menjeda permainannya untuk mengambil secarik tissu untuk mengusap seluruh wajahnya yang berkeringat.
"Kita sudah sampai Wulan. Kita lanjutkan di Hotel saja, ya?" Rio hendak mencabut miliknya, namun dengan cepat Wulan memeluk punggungnya.
"Aku tidak mau ... ayok, lakukan disini saja ...," pinta Wulan dengan suara manja.
"Di Hotel saja, kasurnya lebih empuk. Kita bisa melakukan dengan gaya apapun," rayu Rio seraya menciumi seluruh wajah istrinya.
Rio mengangkat tubuhnya dan tubuh Wulan secara bersamaan, ia membersihkan bagian intinya memakai tissu dan memakai pakaian. Ia juga sekalian memakaikan pakaian milik Wulan pada tubuh wanita itu.
"Kau sudah keluar belum?" tanya Rio.
"Belum, Mas ...," lirihnya.
Entah mengapa wajah Wulan terlihat makin manis di mata Rio, apalagi kedua pipi wanita itu masih memerah. Rio mengelus rambut Wulan secara perlahan dan mengajaknya keluar dari mobil menuju Hotel.
"Sabar ya ... aku akan memuaskanmu nanti," bisik Rio dibarengi kecupan pipi.
Setelah melakukan check in, mereka bertiga menaiki lift. Wulan langsung memeluk tubuh Rio dan menciumi dadanya. Salah satu tangan wanita itu sudah masuk kedalam kaos suaminya, meraba perut rata Rio dan bermain dengan pusar bolongnya.
__ADS_1
"Mas ... harusnya Mas Rio rajin olahraga supaya perut Mas Rio menjadi kotak-kotak," tegur Wulan dengan omongan ngelantur.
"Kau suka perut kotak-kotak?"
"Suka."
"Nanti kalau perutku sudah kotak-kotak, kau akan menciumnya atau tidak?"
"Tentu saja, Mas."
Andai saja sikapmu seperti ini tiap hari Wulan, kau akan tambah manis.
"Pak, obat kuat Bapak ada di koper," ucap Indra yang berada disampingnya.
"Iya."
Tring~
Wulan melepaskan pelukan dan menarik lengan Rio untuk melangkahkan kakinya keluar dari lift.
"Mana kamarnya, Mas?" kepala Wulan meneladah pada beberapa kamar Hotel itu.
"Itu, diujung." Rio mengajaknya ke kamar nomor 210 yang berada di bagian pojok. Indra juga membuntut dibelakang mereka sambil mendorong satu koper.
"Bapak butuh apa lagi?" tanya Indra saat mereka bertiga sudah berada didalam kamar.
"Tidak ada, sekarang kau boleh keluar. Nanti kalau aku butuh sesuatu, aku akan menghubungimu," ucap Rio dengan gerakan kepalanya kearah pintu, mengusirnya secara halus.
"Baik, Pak." Indra mengangguk pelan dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Rio langsung mengunci pintu, karena ia melihat Wulan yang tengah melucuti pakaiannya satu persatu.
Melihat tubuh polos istrinya yang tengah berbaring diatas kasur dengan posisi terlentang, milik Rio menjadi ON kembali.
"Kita bisa mulai lagi, Mas?" suara Wulan kali ini terdengar begitu lembut dan sangat menggoda.
"Sebentar, aku minum obat kuat dulu." Rio membuka koper untuk mengambil botol kaca. Lalu, ia menuangkan segelas air yang berada di atas meja dan menenggak satu kapsul itu.
"Mas ... cepat!" panggil Wulan yang sudah tidak sabar, tubuhnya sudah bergeser kesana kemari.
"Sabar manis, kita akan bersenang-senang sampai pagi!" Rio tersenyum nakal dan berjalan secara perlahan sambil melucuti pakaiannya. Ia merangkak naik keatas kasur dan kembali menyerang wanita yang butuh belaian itu.
__ADS_1
Malam panjang dengan cucuran keringat pun di mulai.
^^^Kata: 1119^^^