Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
Episode 46. Perkara Pergi Bareng


__ADS_3

Santi menapak jidatnya sendiri. "Ya ampun... Sudah-sudah mending begini saja." Ucapnya mengerakkan tangan. "Kalian mending pergi bersama, bertiga dengan Indah."


"NGGAK..." Sahut mereka berdua secara bersamaan, Santi di buat geleng-geleng kepala, dia berjalan ke kamarnya untuk mengambil tas.


Mereka berdua kenapa sih?


Gumam Indah melirik ke arah Rio dan Rendi, merasa heran dengan tingkahnya.


"Ya sudah kalau kalian nggak mau." Ucap Santi yang balik lagi ke meja makan. "Bu Sarah, Indah mending kita saja yuk yang pergi." Ibu Santi mengandeng tangan Indah.


"Tapi Bu..." Jawab Sarah


"Sudah nggak papa Bu, itung-itung kita jalan-jalan." Ucap Santi sambil memainkan alis matanya.


Sarah dan Indah pun menurut mereka membuntut di belakang Santi.


Rendi dan Rio hanya bengong melihat mereka pergi.


Harusnya nggak gini kan konsepnya?


Bisik Rendi dalam hati.


Dia pun tidak tinggal diam, ketika Indah dan ibu-ibu itu sudah masuk ke mobil yang berada halaman rumahnya. Rendi berlari mengejarnya, untunglah mobil itu belum jalan. Jadi, Rendi bisa langsung masuk dan duduk di samping sopir ibunya yang sudah stand bay di rumah Rendi. Sama halnya dengan Rendi, Rio juga tidak mau mengalah kini Rio berdiri di samping tempat duduk sopir. Dia mengetuk-ngetuk kaca mobil, sopir itu kemudian menurunkan kaca mobil.


"Pak, biar aku saja yang menyetir Bapak turun ya?" ucap Rio menyuruh.

__ADS_1


"Heh enak aja lu nyuruh-nyuruh orang," Jawab Rendi sewot. "Bapak jangan turun." Rendi kemudian memegang lengan sebelah kiri pak sopir supaya dia tidak keluar.


"Lu parah sih Kak, masa gue nggak boleh ikut." Sahut Rio kesal kemudian meraih lengan sebelah kanan sopir, dan memeganginya supaya sopir itu tidak bisa menyetir.


Dan kini kedua lengan sopir di pegangi oleh Rendi dan Rio secara kuat-kuat. Sopir itu di buat tertekan oleh dua pria tampan itu, dia binggung harus bagaimana karena dalam posisi yang sangat sulit.


"Astaghfirullah." Santi beristighfar melihat kelakuan anaknya seraya mengelus dada. "Kalian lepasin nggak tangan Pak Husen, kalau tangannya patah kalian bisa ganti?" Teriak Santi, mereka berdua sontak melepaskan lengan sopir yang tidak berdaya itu.


Indah memegang tangan Santi. "Mamah sabar ya, jangan emosi." Ucap Indah menenangkan. Untung saja Santi tidak punya penyakit jantung kalau punya mungkin sudah di bawa ke UGD.


Santi menarik nafas kemudian mengeluarkannya dia mencoba bersikap tenang. "Ren, izinkan Rio masuk. Jangan gara-gara masalah ini kamu dan Rio Mamah kutuk ya." Ucapnya sambil melotot, mata Santi seakan mengeluarkan sinar laser yang mematikan. Sekarang kedua anaknya menurut, sopir itu keluar dan terbebas dari marabahaya. Rio masuk untuk menyetir di samping Rendi, mereka mencoba bersikap dengan tenang meskipun dalam hati mereka saling dongkol.


Sedangkan Santi, Indah dan Sarah di belakang.


Apa mereka selalu bersikap seperti ini?


Gumam Indah sambil tersenyum karena merasa bahagia.


"Mah kita kemana dulu?" tanya Rio melihat dari spion depan.


"Kita ke Mall aja, di sana kamu bisa beli kado dan ada salon juga di sana." Sahut Santi, Rio mengangguk.


🌸🌸🌸


Sampainya mereka di Mall Indah berjalan di tengah di samping ibu dan mertuanya, sedangkan Rendi dan Rio di belakang mereka.

__ADS_1


Santi memberhentikan langkahnya di depan toko tas dan sepatu yang menjadi satu toko.


"Sayang mending kamu masuk dan pilih-pilih di dalam, siapa tau ada yang cocok buat Nella." Ucap Santi melihat ke arah toko.


Aku nggak bawa uang sepeserpun, bagaimana ini.


Gumam Indah menoleh ke arah ke Rendi yang di belakang, tapi kali ini dia tidak yakin kalau Rendi akan mengerti akan maksudnya.


"Hayu Ndah kita masuk ke dalam." Ucap Rio tiba-tiba, dia mengira Indah menenggok kepadanya.


"Ya sudah sana, Bu Sarah juga ikut saja." Suruh Santi. Rio Indah dan ibunya masuk ke dalam, Rendi juga melangkah mengikuti mereka namun lengannya di pegang oleh Santi. "Kamu nggak usah ikut, Mamah ingin ngobrol sama kamu." Ucap Santi sambil melihat ke tempat jus yang di depan toko itu.


"Tapi Mah, aku mau bayarin belanjaan Indah." Sahut Rendi.


"Kan ada Rio." Ibunya menarik tangan Rendi dan mereka duduk di tempat itu lalu memesan dua gelas jus sambil menunggu yang berbelanja.


Santi mengangkat lengannya dan menyentuh dahi Rendi dengan tangannya, "Apa dahi kamu masih sakit Ren?" tanya Santi.


"Aku kira Mamah nggak peduli sama aku." Jawab Rendi memalingkan wajah sambil cemberut.


Santi memelintir telinga Rendi. "Coba ngomong sekali lagi?"


...💜Jangan Lupa Tekan Tombol Like💜...


...🌹Selamat Ramadhan H+4🌹...

__ADS_1


...😘Semoga kalian tetap kuat ya puasanya😘...


__ADS_2