
Bayu tidak menghiraukannya, dia kini berlari menyusuri kebun lagi ditemani Indah dan Santi.
Setelah hari menjelang siang, terik matahari semakin panas. Mereka berlima memutuskan untuk makan siang dan pulang menuju Jakarta.
Masih pada posisi duduk yang sama. Reymond menyetir mobil, disamping Indah tengah duduk sambil memangku Bayu. Anak kecil itu tengah tertidur dalam dekapan Indah, dia capek seharian lari-lari dan bersenang-senang.
Sedangkan Mawan dan Santi duduk di kursi belakang. Mereka juga sudah membawa 2 keranjang strawberry yang sudah di press dari pemilik kebun, dijadikan oleh-oleh.
Tak lama suara ponsel Reymond berdering, dia segera mengangkatnya. Lagian dia sudah tak memerlukan Maps, karena sudah hafal jalan kearah Jakarta.
"Halo."
"Rey, lu ada dimana? Kapan ke Jakarta bego! Lu lupa kerjaan apa gimana sih?!" pekik seorang pria dengan lantang.
"Ini gue on the way Jakarta, besok gue masuk ke kantor."
"Indah bagaimana? Udah baikan dia? Kenapa sih dia Rey? Lu nggak kasih tau gue apa-apa," tanya Rizky penasaran.
"Indah hamil," jawab Reymond sambil tersenyum dan melirik kearah Indah yang sudah tidur.
"Seriusan? Wah topcer juga Lu! Elu udah mau punya dua buntut. Heh, gue kapan?!"
"Ya lu jomblo, jangan main wanita terus mangkanya. Mending di nikahin biar pas mantap-mantap nggak usah pakai kond*m. Hahahaha ....," Reymond bergelak tawa meledek teman satu otaknya itu.
"Ehem ....," suara deheman itu berasal dari suara berat Mawan, dia seperti tak suka mendengar suara Reymond tertawa.
"Nyetir yang benar! Kalau sudah sampai baru telepon lagi, jangan bikin kita semua celaka!"
Sebuah ancaman keluar dari mulut Mawan. Rizky yang disana belum sempat menjawab, tapi sudah keburu dimatikan sambungan teleponnya.
Beberapa jam berlalu, akhirnya mereka sudah sampai di tol Jabodetabek.
"Rey, habis ini jangan pulang ke rumah. Antarkan Mamah dan Papah ke rumah sakit ya," pinta Santi.
Rumah sakit? Oh mungkin Mamah mau langsung mengambil hasil tes DNA.
Batin Reymond.
"Iya, Mah."
"Rumah sakit? Memang siapa yang sakit? Mamah sakit?" tanya Mawan seraya memeluk Santi dan menempelkan punggung tangannya pada dahi.
"Tidak, Pah. Cuma Mamah mau tunjukkin Papah sesuatu."
"Tunjukkin apa?"
"Nanti juga Papah tau sendiri."
"Oh, yasudah. Tapi Indah dan Bayu kau antarkan pulang saja ke rumah, Reymond. Kasihan mereka dari tadi tidur di mobil, nanti badannya pada sakit," perintah Mawan pada Reymond.
"Iya, Pah."
__ADS_1
Mawan dan Santi turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah sakit. Reymond kembali menyetir dan menelepon Ali.
"Halo, Ali."
"Sore, Pak Reymond. Bapak ada dimana?"
"Aku sudah ada di Jakarta, kau ikuti mobilku bersama dengan Aldi."
"Baik, Pak."
Setelah mematikan telepon, Indah terbangun dan mengusap-usap matanya. "Mas, apa kita sudah sampai?"
"Belum sayang, tapi ini sudah ada di Jakarta."
Indah merasakan perutnya kram akibat terlalu lama tertindih tubuh Bayu yang tengah tertidur sambil memeluk. Dia menggeserkan sedikit tubuh kecil itu.
"Kenapa? Perutmu sakit?"
"Tidak, hanya kram sedikit saja."
Reymond mengulurkan tangan. "Sini biar Bayu aku yang memangkunya, sayang."
"Tidak usah, Mas. Tidak apa," tolak Indah.
"Bener tidak apa-apa?"
"Iya."
"Kamu laper? Lagi kepengen makan apa sekarang?" tanya Reymond penuh perhatian.
Reymond menarik senyum. "Ini sebentar lagi sampai ke rumah Papah kok, kamu bisa rebahan nanti."
"Tapi kayaknya aku mau rebahan di kasurnya, Pak Rizky deh, Mas," ucap Indah seraya mengelus perut.
Deg....
Mata Reymond terbelalak. "Di kasur Rizky? Kamu ini apaan sih sayang? Masa mau tiduran di tempat tidur pria lain? Jangan bikin aku cemburu begini," bibirnya sudah mengerucut karena kesal.
"Aku mau tiduran saja, Mas. Kita main juga kesana Mas. Apa tidak boleh?" pinta Indah.
"Tapi, nanti kalau ....," ucapan Reymond terhenti kala melihat wajah Indah yang sudah memerah seperti hendak menanggis.
Apa ini bagian dari ngidam? Astaga kalau benar kenapa aneh-aneh lagi. Tapi tidak apa, nanti kuajak dia tempur juga disana sekalian.
Batin Reymond.
Reymond mengembuskan napas secara perlahan.
"Oke, kita kesana. Tapi kamu telepon Papah dulu, nanti yang ada aku yang dimarahi sayang."
"Iya, Mas," jawab Indah secara membuka tas yang berada disampingnya, untuk segera menelepon.
__ADS_1
***
Disana Santi dan Mawan sudah duduk menunggu Dokter di ruangannya, Dokter itu sedang mengambilkan hasil tes DNA pada laboratorium rumah sakit.
Suara getaran itu terasa pada saku jas, Mawan segera mengangkatnya.
"Halo, iya sayang."
"Papah, aku mau minta izin ke rumah Pak Rizky, bersama Mas Reymond dan Bayu. Apa boleh?" tanya Indah.
"Memang mau apa di rumah Rizky? Ada apa disana?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin main saja. Apa tidak boleh?"
"Boleh, sayang. Tapi pulangnya jangan malam-malam, kamu dan Reymond jangan berbuat macam-macam disana, ya?"
"Macam-macam apa? Kan aku bilang hanya ingin main."
"Iya, terserah kamu," sahut Mawan seraya menutup telepon.
Awas saja kau Reymond, mencuri-curi kesempatan. Aku akan menonjok wajahmu!
Gerutu Mawan.
Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu, Dokter pria berkacamata itu menyodorkan selembar amplop putih yang berisi hasil tes didalamnya.
"Ini, Bu. Semoga hasilnya memuaskan," ucapnya dengan ramah.
Santi mengambil amplop itu, "Iya. Terima kasih, Dok. Kalau begitu kami permisi."
Dokter itu mengangguk, Santi dan Mawan mengangkat bokongnya seraya berjalan keluar dari ruangan Dokter itu.
"Mamah ngelakuin tes DNA siapa? Dan dari kapan? Kok Papah tidak di kasih tau?" tanya Mawan menoleh pada Santi.
"Ini juga Mamah mau kasih lihat Papah sekarang. Nanti setelah dibuka, Papah bisa tau sendiri." Santi menarik lengan Mawan untuk duduk disebelahnya pada kursi panjang.
Tangannya perlahan memberikan amplop itu pada tangan Mawan.
Jari Mawan merobek bagian atas amplop itu, untuk mengambil selembar kertas yang berisi hasil tes DNA, matanya memperhatikan tulisan yang tertera pada kertas itu dengan seksama.
Matanya terbelalak, ekspresi wajah Santi terlihat begitu senang. Dia yakin kalau hasilnya pasti memuaskan, namun justru Mawan merobek kertas itu menjadi dua dan meremasnya.
"Apa-apaan ini! Mamah kenapa pakai lakukan tes DNA antara Bayu dan Reymond?! Tidak pakai persetujuan Papah dulu lagi! Papah 'kan Opanya!" pekik Mawan dengan lantang.
Raut wajahnya terlihat begitu emosi dan tidak terima. Tapi kenapa musti marah? Ada apa dengan hasilnya?
"Papah, Mamah hanya ingin menunjukkan kalau Reymond adalah ....," tangan Santi perlahan mengambil kertas yang sudah lecek pada genggaman tangan Mawan.
Tangannya perlahan membuka kertas itu dan matanya membulat sempurna, dia menggelengkan kepalanya, merasa tak percaya akan hasil yang sudah tertera jelas bertuliskan kata 'TIDAK COCOK'
Apa ini?! Kenapa hasilnya seperti ini?!
__ADS_1
Batin Santi tak menyangka.
^^^Kata: 1019^^^