
"Laki-laki itu carinya yang sempurna. Sudah cantik, baik hati. Paket komplit deh." Sahut Rio berkata sesuai dari kriterianya.
Mendengar sahutan dari Rio seketika saja wanita itu terdiam dan menutup wajahnya untuk kembali menanggis dan tangisan kali ini sangat bergema. Dia semakin sedih akibat putus cinta dan bukannya Rio menenangkan dia justru malah menghinanya, wanita itu makin merasa terpojokkan.
"Ah maaf-maaf bukan maksud gue menghina lu." Ujar Rio merasa tak enak hati, melihat wanita itu terus menanggis. "Lu hanya pesek saja. Tapi selebihnya lu juga cantik kok." Kata Rio walau tidak begitu yakin.
"Benarkah?" tanya wanita itu.
"Iya bener. Lu jangan sedih lagi, laki-laki masih banyak di luar sana, mending sekarang gue anterin lu pulang. Dimana rumah lu?" tanya Rio.
"Di jalan Xxxxxx."
πππ
Rendi membuka pintu ruangannya sambil menenggok ke kanan dan kiri. Seperti menanti seseorang. Tak lama Dion berjalan sambil membawa stelan jas dan gaun senada berwarna merah maroon. "Pak ini pesenan Bapak. Sudah siap pakai." Ucap Dion.
"Bawa masuk." Sahut Rendi berbalik badan kemudian masuk lagi ke ruangannya di ikuti Dion.
Rendi memperhatikan dengan membolak-balik gaun yang dia pesan untuk Indah kenakan dengan model Short Dress. "Apa Bapak suka dengan gaun-nya?" tanya Dion. "Saya yakin, Mbak Indah semakin cantik memakai gaun itu." Katanya memuji.
"Apa maksudmu?" tanya Rendi sambil mengerutkan dahi.
"Iya, maksud saya istri Bapak memang sudah cantik. Tapi jika dia memakai gaun itu, kecantikannya jadi double." Sahut Dion mengulang ucapannya dengan meralat sebutan Indah menjadi sebutan Istri.
"Pakai di ulang dua kali." Dengkus nya kesal. "Kau tidak boleh memuji istri orang, haram hukumnya," tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba Rendi emosi.
"Lho maksud Bapak gimana?" tanya Dion binggung.
"Memang kamu tidak pernah menonton para penceramah? Begitu saja tidak tau." Cicit Rendi yang berubah menjadi relijius. Padahal dia sendiri aslinya lebih sering menonton film dewasa. Wkwkwk.
"Ah maaf Pak, lalu saya harus bilang istri Bapak jelek gitu."
"Kurang ajar! Bilang apa barusan?" Emosi Rendi sudah memuncak. "Indah segitu beningnya kamu bilang jelek. Matamu rusak?" Bentaknya.
Bukannya takut Dion malah tertawa. "Hahahaha..." Dion tertawa terpingkal-pingkal, pasalnya bosnya ini tidak suka jika orang lain memuji istrinya, alias cemburu.
__ADS_1
"Kau ingin aku pecat!" Gertak Rendi.
Pak Rendi kok jadi sensitif gini sih.
Batin Dion sambil terkekeh.
"Ah maafkan saya Pak," sahut Dion mengusap air mata di pelipis matanya, dia tertawa sampai mengeluarkan air mata. "Saya tidak mengerti kalau Bapak sedang cemburu."
Telinga Rendi berubah menjadi merah, ya saat ini ada rasa tak suka mendengar laki-laki lain memuji istrinya, walau dia sendiri tidak yakin. Apa benar dia cemburu karena hal itu?
"Apa maksudmu cemburu. Aku tidak berlebihan seperti itu." Kata Rendi merasa malu.
"Haduh Pak, di lihat dari wajahnya saja, Bapak sudah seperti udang rebus." Godanya lagi.
"Heh kurang ajar! Berani kau menggoda ku." Dengkus nya dengan tangan yang sudah mengepal.
"Ampun Pak. Saya cuma bercanda." Sahut Dion seraya menggerakkan tangan guna memohon ampun.
Rendi menghela nafasnya, "Sudah sana kau keluar dan bilang pada OB untuk buatkan kopi untukku." Perintahnya menghentikan obrolan yang membuatnya makin malu.
"Baik Pak." Sahut Dion berjalan keluar ruangan Rendi.
Selesai mengobrol dengan Antoni, Indah tak sengaja bertemu dengan cleaning service bernama Tia. Teman dekatnya dulu semasa kerja, tapi Tia sendiri sudah beralih profesi menjadi OB. Mereka mengobrol di ruang dapur kantor.
"Hei kau siapa?" tanya seseorang wanita yang mengagetkan mereka berdua, dan mereka berdua langsung menoleh kearahnya, "Orang asing tidak boleh ada di sini." Kata wanita itu yang melihat Indah dari ujung kaki ke ujung kepala yang berpenampilan siswi kuliahan.
"Maaf Bu Irene, Indah ini bukan orang asing." Jawab Tia.
"Lalu dia siapa?" tanya Irene.
"Aku istrinya Mas Rendi." Sahut Indah dengan santai, mata Tia langsung terbelalak.
"Mas Rendi? Siapa dia? Apa dia seorang OB atau cleaning service di sini?" tanyanya memiringkan bibinya, terlihat sangat songgong. Padahal di kantor itu tidak ada yang bernama Rendi selain atasannya.
"Rendi Pratama, CEO di sini." Jawab Indah penuh keyakinan.
__ADS_1
Irene malah tertawa terbahak-bahak. "Ah... Hahahaha. Apa tadi barusan? Rendi Pratama? Apa aku tidak salah dengar? Nggak usah mimpi kamu." Katanya tak percaya sambil menatap sinis.
"Jaga bicaramu Irene." Sahut Dion yang tiba-tiba datang ke dapur. "Kalau Pak Rendi tahu kau bisa langsung di pecat!"
"Pak Dion." Kata Irene sambil menoleh kearahnya. "Dia......"
"Lebih baik kau pergi dari sini." Perintah Dion menyela ucapannya, tanpa menjawab Irene melangkahkan kakinya dengan wajah keki keluar dapur kantor.
"Yang benar saja dia istrinya Kak Rendi, tidak ada pantas-pantasnya sama sekali." Ucapnya menggerutu sambil melengos.
"Mbak Indah maafkan ketidaksopanan Irene barusan. Dia adalah sekretaris barunya Pak Rendi." Ujar Dion sedikit membungkuk.
"Tidak masalah Mas." Sahut Indah sambil tersenyum.
"Tia kau buatkan kopi untuk Pak Rendi." Perintah Dion.
"Biar aku saja yang buat Tia." Ujar Indah yang langsung mengambil gelas di dalam rak.
"Mbak Indah tidak usah, Mbak di tunggu Pak Rendi di dalam. Itu biar Tia saja yang buat." Kata Dion mencoba mencegah.
Walau bagaimanapun Indah adalah istri dari bosnya, tidak pantas baginya mengerjakan pekerjaan seorang OB, tapi Indah sendiri ingin membuatkan kopi perdananya untuk sang suami. Walau tak yakin kalau Rendi akan menyukainya.
"Iya Ndah." Sahut Tia yang ikut mencegah juga.
"Ah tidak apa-apa Tia, Mas Dion. Biar aku saja," jawab Indah. Indah langsung mengambil tatakan gelas dan menaruh kopi hitam beserta gula, lalu menuangkan air panas dan mengaduknya.
"Ini biar saya saja yang bawa." Ucap Dion yang langsung mengambil kopi yang sudah di buatkan oleh Indah. "Mari Mbak ikut ke ruangan Pak Rendi." Katanya lagi, Indah hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Dion.
"Maaf Nona Indah." Indah langsung menghentikan langkah kakinya dan menenggok kearah orang yang memanggil namanya, dia adalah Harun sang pengacara.
"Ini ponsel Nona tertinggal di mobil." Ucapnya menyerahkan ponsel.
"Ah iya, terima kasih Pak." Sahut Indah, menerimanya dan melanjutkan langkah kakinya kearah ruangan Rendi.
Tok... Tok... Tok.
__ADS_1
...πΎπΎπΎπΎπΎ...
Yuk dukung Author dengan cara like, komen, vote dan gift. Terimakasih sudah membaca β€οΈ