Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
103. Di Taman


__ADS_3

...๐ŸPOV Indah๐Ÿ...


Di sebuah taman yang sangat sejuk di pinggir danau. Dengan rumput dan beberapa bunga di sana, aku dan Mas Rendi tengah duduk santai dengan beralaskan tikar.


Ini hal yang pertama, Mas Rendi mengajakku jalan-jalan berdua. Tapi aku lebih memilih di sini, karena pengen mengirup udara segar dari alam saja. Sebenarnya tidak berdua juga, aku mengajak Mamah ikut menyusul. Mamah juga bilang akan membawa bekal makanan buat kita.


Mah maafkan anakmu ini ya...


"Mas aku laper, kok Mamah belum sampai juga ya...." Ucapku memegang perut.


"Mungkin di jalan lagi macet sayang." Mas Rendi mengelus rambutku, semakin hari aku makin mencintainya. Tapi kadang aku masih merasa takut, kalau dia akan berpaling denganku.


Tapi dia selalu meyakinkanku, semoga saja Mas... Kau tidak mengecewakanku untuk kedua kalinya, aku selalu bilang pada hati kecilku.


Tak lama Mamah datang bersama Mas Dion, dia membawa keranjang berisi makanan. Padahal bisa sih makan di sini, banyak juga yang jualan. Tapi aku lagi pengen masakan Mamah, lagian Mas Rendi juga suka sekali dengan masakan Mamah. Andai aku juga bisa masak, ah tapi kopi saja aku tidak becus! Tapi ya sudahlah.


"Maaf ya Ren Mamah lama," ucap Mamah dengan keringat di dahi, aku langsung mengambil secarik tissu untuk mengelapnya.


Mas Dion menaruh keranjang itu tepat di depanku.


"Nggak apa-apa kok Mah santai saja, tadi di jalan macet Mah?" tanya Mas Rendi dengan hangat.


"Iya Sayang..." Ucap Mamah yang langsung membuka keranjang, aku ikut membantunya. Mamah membawa gulai ayam kesukaanku dan ada risol goreng.


Mata Mas Rendi langsung berbinar, dia juga terlihat sudah lapar. Dia menadahkan piring, Mamah sudah ingin menyendok kan nasi untuk Mas Rendi, tapi aku melarangnya, "Biar aku saja Mah, Mamah duduk saja. Kan capek sudah masak dan membawa makanan untuk kita." Ucapku, Mamah menurut dan duduk sambil minum air putih.


Aku langsung menaruhkan nasi dan juga lauknya, "Makasih Istriku yang cantik...." Ucapnya memuji, pipiku langsung merah padam.


Aku juga menyendok nasi untuk Mamah dan lauknya, "Makasih sayang..." Ucap Mamah.


Aku melihat Mas Dion tengah melihat gulai ayam sambil menelan saliva, apa mungkin dia juga lapar? Aku ambilkan saja buat dia.


"Ini buat Mas Di...."


"Apa yang kau lakukan." Ucap Mas Rendi menghentikan lenganku yang hendak memberikan sepiring nasi dan gulai ayam.


"Buat Mas Dion, mungkin dia lapar juga Mas."

__ADS_1


"Tidak usah dia masih kenyang!" Ucapnya ketus. Memang dia tahu perut Mas Dion kenyang atau nggak? Kenapa dia pelit sekali, memang dia pelit sih orangnya. Tapi kan Mas Dion asistennya.


"Ah iya Mamah sampai lupa, Dion kau juga Makan. Mamah juga bawa sengaja banyakan."


Aku mencoba memberikan lagi, Mas Dion sudah ingin menerima tapi lagi-lagi Mas Rendi menghentikan ku. "Kalau Dion mau ambil saja, yang ini buatku." Ucapnya mengambil piring di tanganku, sejak kapan dia makan dengan porsi dua piring?


"Kamu nanti kekenyangan Mas..."


"Tidak, aku lagi lapar sekali sayang." Ucap Mas Rendi.


"Saya pergi sebentar ya. Pak Rendi, Mbak Indah dan Bu Sarah." Ucap Mas Dion membungkuk.


"Lho Dion kamu tidak makan dulu." Ucap Mamah.


"Tidak Bu terimakasih, saya masih kenyang." Ucapnya memegang perut, tapi jelas-jelas wajahnya seperti orang yang sedang lapar.


"Nanti kalau Ibu mau pulang bisa panggil saya." Ucapnya melangkah.


"Tidak usah kau pulang saja, Mamah akan pulang denganku!" Seru Mas Rendi.


"Ya sudah saya permisi Pak." Ucap Mas Dion yang berlalu pergi. Aku pun ikut makan.


"Aku kekenyangan sayang. Aku cari toilet dulu ya, kayaknya aku mual. Ingin muntah." Ucapnya yang langsung buru-buru pergi.


Aneh, lagian udah tau kenyang. Pakai di paksain.


"Bagaimana kabar Papah? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Mamah kearahku.


"Papah baik Mah, hanya tensi darahnya saja sedang naik." Sahutku. Mamah bertanya dengan wajah yang datar, aku mengerti perasaannya.


Tiba-tiba aku mendengar suara jeritan anak yang sedang menangis. Boneka panda miliknya di lempar kedalam danau oleh temannya.


"Mah aku ke sana dulu ya?" Tunjuk ku kearah anak kecil yang sedang menanggis.


"Iya sayang."


Aku berjalan menghampirinya, dia terus menangis tersedu-sedu. "Sayang kau tidak apa-apa?" Tanyaku dia menoleh dengan wajah merahnya.

__ADS_1


"Bonekaku... Hik... Hik..." Rintihnya sambil memegang boneka yang sudah basah.


Aku langsung mengusap air matanya, anak perempuan berusia sekitar 3 tahunan. Sangat cantik dan manis. "Kakak akan belikan yang baru ya, sudah jangan menangis. Kau tunggu di sini."


Dia mengangguk, aku berjalan mencari tukang boneka. Tidak terlalu jauh kok! Tukang boneka yang tengah duduk lesehan di sekitar taman. Ada banyak macam boneka. Mulai dari, Doraemon, Hello Kitty, beruang dan lain-lain. Tapi tidak ada boneka panda seperti punya anak itu, sayang sekali.


"Pak saya mau boneka beruangnya satu." Tunjuk ku kepada boneka beruang berwarna coklat dengan ukuran lumayan besar.


"Ini Neng." Ucap Bapak itu menyerahkan. Aku mengambil uang di saku celana, tapi ternyata tidak ada. Mau membelikan boneka tapi nggak ada uang, bagaimana ini? Bukan tidak ada sih, tapi uangku ketinggalan di tas kayaknya.


"Tunggu dulu ya Pak, aku ambil uangnya dulu." Aku memberikan boneka itu padanya lagi.


"Indah...." Sapa seseorang laki-laki.


Aku langsung menoleh. "Vinno..." Ucapku.


"Lu sedang apa mau membeli boneka?" Tanyanya, aku langsung mengangguk.


"Berapa harganya Pak?" Dia bertanya sekalian meraih dompet.


"500 ribu Mas." Vinno langsung menyerahkan uangnya dan mengambil boneka.


"Vinno aku akan membelinya sendiri, aku mau ambil uangnya," ucapku hendak pergi. Namun tanganku di pegang olehnya.


"Tidak usah, ini saja pakai dulu uang Gue." Ucapnya menyerahkan boneka padaku.


"Ya sudah nanti aku....."


"Hei apa-apaan ini!" Ucap seseorang dengan nada tingginya, aku sangat mengenal suaranya. Aku dan Vinno menoleh ke sumber suara. Benar saja dia Mas Rendi.


Dia langsung melempar boneka beruang dari tanganku. "Kau siapa? Tidak tau diri! Membelikan boneka untuk istri orang." Mas Rendi menunjuk-nunjuk Vinno dengan jari telunjuknya.


"Mas... Kamu salah paham aku...."


Mas Rendi mencengkeram wajah Vinno, "Kau sekali lagi....." Aku langsung menghentikan aksinya.


"Mas dia teman kuliahku, aku ingin membeli boneka tapi tidak ada uang. Dia meminjamkan dulu padaku." Tutur ku menjelaskan.

__ADS_1


Mas Rendi menoleh kearah ku. "APA??" Dia mengerutkan dahi dan melepaskan cengkramannya.


Hai Readers, jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen..... Terima kasih ๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2