Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 57. Aku tidak ikhlas!


__ADS_3

Nomor Maya saja aku tidak punya, bagaimana ini? Aku tidak berfikir kalau Papah akan bertanya seperti ini. Rendi! Bagaimana ini? Kau harus tanggung jawab.


Batin Santi.


"Tidak usah, Pah. Biarkan Indah tenang dulu. Mungkin dia ingin curhat dengan temannya."


Jawaban Rio membuat jantung Santi terasa begitu plong, padahal Rio juga menjawab karena takut di marahi. Kalau Indah langsung cerita pada Papahnya, dia telah mencium Indah secara paksa.


Pria yang sedari duduk akhirnya bangun dan menghampiri mereka.


"Ya sudah, Pak. Kalau begitu aku permisi saja," pamitnya pulang seraya mengelus rambut Bayu dalam gendongan Santi.


"Maaf ya Steven," sahut Mawan.


Steven mengangguk dan tersenyum padanya, "Iya nggak apa-apa, Pak. Lain kali aku bisa ke sini lagi, menemui Indah."


Rio melihat pada Steven yang berjalan melangkah keluar dari rumah Mawan, sampai dia menghilang.


"Papah dia siapa? Kok cari Indah?"


Mawan mengajak Rio untuk duduk di sebelahnya, "Dia Steven, dia juga berniat melamar Indah."


Deg.....


Ternyata sainganku bukan hanya Reymond, tapi Pak Steven juga.


Batin Rio.


Rio meraih tangan Mawan seraya mengenggam dengan erat.


"Papah, bukannya Papah sudah bilang, Kan. Ingin aku menikah dengan Indah? Tapi kenapa membiarkan Pak Steven datang untuk melamar Indah?"


Mawan tersenyum, "Steven hanya minta pendapat Indah saja. Ya seperti kamu itu, kira-kira Indah mau atau tidak. Papah juga tidak bisa terus-terusan memaksa Indah, Rio."


"Tapi aku inginnya Indah menikah hanya bersamaku, Pah," rengek Rio.


Santi menatap nyalang pada sikap Rio itu, dia sebenarnya sudah kesal. Tapi berusaha untuk menahannya.


Aku kira Rio sudah melupakan Indah? Tapi kenapa dia masih seperti ini?! Bagaimana tentang pencarian si Jalang itu? Apa Reymond sudah mendapatkan informasi? Aku tidak mau kalau sampai Papah menikahkan Rio dengan Indah.


Batin Santi seraya meninggalkan mereka berdua di ruang tamu, dia mengajak Bayu bermain di taman belakang rumahnya.


***


Bangun tidur dia tetap saja menanggis, Reymond makin binggung. Dia memeluknya dengan erat dan menciumi rambutnya. "Sayang kau kenapa sebenarnya? Kenapa diam saja."


"Mas, aku ..." Indah masih mencium bahu Reymond, aroma suaminya memang begitu nikmat dia rasakan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mas."


Deg.....


Reymond memegangi kepala Indah dan mendekatkan pada kepalanya, "Maaf kenapa? Kau tidak punya salah apa-apa padaku, sayang?"


Bola matanya tidak berani menatap suaminya, dia merasa sangat takut. Takut Reymond marah padanya. "Aku ..."


"Aku apa? Jawab!" Reymond menggoyangkan sedikit kepala Indah, sudah memaksa ingin segera di beritahu.


Tatapan matanya juga begitu serius. "Sayang, Mamah bilang kau tadi habis ke rumah sakit dengan Rio. Tapi apa yang Rio lakukan padamu? Apa dia menyakitimu?"


Apa aku harus bicara saja? Aku takut Mas Rendi marah.


Batin Indah.


"Sayang, bicara padaku. Aku mohon padamu!" desak Reymond.


"Rio tadi mencium bibirku, Mas!"


Jleb.....


Mata Reymond terbelalak, "APA?! Brengsek!" pekik Reymond.


Tubuh sudah terasa begitu bergetar dengan emosi di dada, kedua tangannya juga sudah mengepal.


Bug......


Indah memeluk erat tubuh Reymond dan mencium dadanya, dia merasa sangat takut.


"Mas ... Maafkan aku, aku sudah berusaha untuk menghindar. Tapi dia yang memaksaku, Mas."


Ingin rasanya aku menonjok wajah Rio, tapi tidak bisa. Jangan Rey, aku harus cari cara supaya Indah bisa terus bersamaku. Kalau kita menjalin hubungan jarak jauh begini malah berbahaya. Rio sudah mencium bibirnya? Bagaimana jika lama-lama dia bernafsu dan ingin mengajaknya....


Batin Reymond seraya menggelengkan kepala, dia tidak mau itu sampai terjadi.


Indah memegang lengan Reymond. "Mas, apa kau marah padaku? Maafkan aku, Mas," lirihnya pelan.


Reymond mengangkat tubuh Indah dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia juga ikut berbaring di sebelahnya.


"Selain Rio mencium bibirmu? Dia mencium apa lagi?" tanya Reymond penasaran wajahnya sudah di tekuk seperti baju yang belum di setrika.


"Tidak ada, hanya bibir, Mas," jawab Indah jujur.


Tetap saja, aku tidak ikhlas! Indah milikku! Apapun yang ada pada dirinya, itu semua untukku! Rio kau sudah kelewat batas! Kau sudah merasa aku benar-benar tiada. Brengsek kau Rio!


Batin Reymond

__ADS_1


Tangan kekarnya mengusap-usap bibir Indah dengan lembut.


"Apa air salivanya masih ada di dalam mulutmu?"


"Aku tidak tahu, tapi aku 'kan tadi muntah, Mas."


Reymond mengendong tubuh Indah, mengajaknya masuk ke dalam kamar mandi. "Kita ngapain ke kamar mandi?"


Di turunkannya tubuh Indah di dekat shower. "Mandilah, sayang."


"Tapi ini siang bolong, Mas. Lagi panas-panasnya," elak Indah.


Tangan Reymond berhasil melucuti semua pakaian yang Indah kenakan dan sekarang dia melepaskan jas dan seluruh pakaiannya. "Hatiku juga panas, sayang. Mangkanya kita mandi dan menghilangkan rasa panas itu!" seru Reymond dengan lantang.


Deg....


Apa maksud Mas Rendi? Apa dia sedang cemburu?


Batin Indah.


Kran shower sudah di nyalakan. Air itu mengalir dari atas kepala hingga membasahi tubuh Indah.


Reymond mencari pasta gigi dan sikat gigi pada nakas, dia menemukan sikat gigi yang baru dengan masih berbungkus milik Maya, dia membuka bungkusnya dan menuangkan pasta gigi di atas bulu sikat.


Dia memberikan pada Indah. "Sikat gigi dulu, biar hilang!" seru Reymond, kobaran api cemburu telah merasuk pada tubuhnya.


Indah menurut dan berjalan menuju westapel untuk menggosok gigi, mata mesumnya menjalar melihat tubuh polos Indah dari belakang. sesuatu di bawahnya berdenyut, Reymond melihat kearah bawah. Sudah tegak berdiri dan siap panen.


Reymond mendekati Indah. Dia juga sedang kumur-kumur menyelesaikan sikat giginya, tubuhnya sudah menempel dan mendekap dari belakang. "Sudah selesai belum?"


Indah mengangguk dan menaruh sikat gigi di sisi westapel. Tubuhnya langsung di balik oleh Reymond.


Cup....


Sebuah ciuman mendarat dengan selamat, tapi kali ini bukan ciuman mesra dan lembut. Reymond seperti meneguk semua saliva Indah, tangannya memegangi kedua pipi. Lidahnya terasa memutar ke dalam rongga mulut seperti membersihkan seluruh isi di dalamnya.


Reymond melepaskan ciuman. "Sekarang sudah bersih sayang. Tidak ada lagi saliva Rio. Aku sudah menelannya," ucapnya sambil tersenyum dan mengusap bibir Indah.


"Tenggorokanku yang kering sekarang, Mas." Dia memegangi tenggorakan nya, nafasnya sudah tersengal-sengal karena ciuman tadi membuat dirinya sesak.


"Aku akan ambil air minum, kamu teruskan mandi," ujar Reymond seraya berjalan keluar kamar mandi, dia kembali menuju kamar Maya. Karena tadi sempat melihat ada teko air di atas meja.


Dia menuangkan teko itu ke dalam gelas, dan berjalan lagi menuju kamar mandi.


Indah sedang memberikan sabun pada tubuhnya memakai spon, Reymond menghampiri.


"Minum dulu sayang."

__ADS_1


"Sebentar, Mas." Indah menyirami tubuhnya dulu di atas shower dan menghampiri Reymond untuk meminum air yang dia bawa.


"Ini, Mas." Dia memberikan gelasnya lagi dan di taruh pada sudut kamar mandi oleh Reymond.


__ADS_2