
"Pokoknya nanti juga jangan bicara kasar pada Mas Reymond dan Pak Rizky, Pah," pinta Indah.
"Iya," jawab Mawan malas.
Tangan kecil Bayu memegang tangan Mawan, dia sedang berada pangkuannya. "Opa, adi Bayu ketemu cama Ayah Lemon!" seru Bayu memberitahu.
"Apa?!" Mata Mawan mendelik, dia mendudukkan Bayu di atas meja dan memposisikan tubuhnya untuk menghadap pada dia dan Indah.
"Kamu tadi panggil Reymond apa sayang?" Mawan bertanya kembali, mungkin dia hanya salah dengar.
"Ayah Lemon," jawab Bayu.
Ternyata telinganya belum tuli, dia mendengar kata 'Ayah.
"Kamu jangan panggil dia Ayah sayang, Dia bukan Ayah kamu," ucap Mawan seraya memegangi kedua pipi lembut cucunya.
"Api kata Bunda, Ayah Lemon. Ayah Bayu, Opa."
Mawan menoleh pada Indah. "Kamu mengatakan itu pada Bayu?"
"Iya ... Aku ..."
"Indah! Kamu ini ..."
"Selamat siang Pak Mawan."
"Selamat siang Om Mawan."
Rizky dan Reymond berucap secara bersamaan, mereka sudah berdiri tepat di depan Mawan dan Indah.
Mawan tidak jadi meneruskan ucapannya pada Indah, Indah bisa bernafas lega.
"Duduk," ucap Mawan seraya melihat ke kursi depan.
Bayu menoleh dan melihat Reymond tersenyum padanya.
"Ayah Lemon!" seru Bayu berdiri di atas meja dan langsung menghampiri Reymond.
"Bayu apa yang kamu lakukan?" tanya Mawan, tangannya sudah terulur hendak mengangkat tubuh Bayu.
Tapi Bayu menolaknya, tubuhnya bergerak-gerak tidak bisa diam.
"Opa, Bayu mau cama Ayah Lemon. Duduk di cini,"
Bokong kecilnya itu sudah duduk di atas paha Reymond, sedikit mundur kebelakang tepat menekan junior sang ayah.
Reymond membenarkan kembali posisi duduk Bayu, dia merasa tertekan di dalam sana.
"Kamu tidak boleh duduk bersama ..."
Indah menarik lengan Mawan, "Papah sudahlah, biarkan saja. Mending sekarang Papah bicara ... Jangan buang-buang waktu."
Ucapan Indah ada benarnya, membesuk seseorang yang berada di kantor polisikan menggunakan waktu, jadi Mawan harus bisa memanfaatkannya. Indah sebenarnya kesal juga pada ayahnya yang terus saja protektif pada dia dan Bayu, tapi Indah mengerti tujuannya baik. Hanya melindungi anak dan cucunya.
__ADS_1
Mawan sudah duduk bersebelahan dengan Indah, di depan ada Rizky, Reymond dan Bayu berada pada pangkuan Reymond.
Di samping kanan dan kiri ada Guntur, Rio dan Antoni. Mereka seperti penonton yang ikut serta mendengarkan.
Mawan menghela nafas, menyenderkan punggungnya dan memulai pertanyaan.
"Pertama-tama aku ingin kalian menjawab semua pertanyaan ku dengan sejujurnya, tidak ada yang kalian tutup-tutupi!" seperti memaksa dan mendesak, ucapannya terdengar sangat tegas.
Reymond dan Rizky saling memandang dan mengangguk secara bersamaan.
"Rizky kau bertemu Reymond di mana? Kata Ayahmu dia bilang Reymond temanmu, kalian berteman sejak kapan?" tanya Mawan memulai satu pertanyaan.
Rizky dan Reymond mencoba bersikap tenang, dia juga tidak ingin membuat Mawan emosi. Siapa tahu dengan menjawab semua pertanyaan Mawan, mereka bisa di bebaskan.
"Aku dan Reymond berteman sudah lama Om," sahut Rizky dengan yakin.
"Ketemu di mana?"
"Dia teman SMA aku dulu," jelas Rizky.
"Teman SMA? Kok Papah tidak tahu Riz?" tanya Guntur ikut menginterogasi.
"Dia hanya sekolah sampai kelas 2 Pah, sebelum lulus, dia pindah," tutur Rizky berbohong.
"Reymond, kau katanya tinggal serumah dengan Rizky. Sebelumnya kau tinggal di mana?" tanya Mawan.
Deg.....
Haduh... Aku harus jawab apa?
Dia menaruh tangannya di atas meja, dan memegang jari jemarinya yang sudah basah itu, berfikir sejenak dan berkata.
"Aku tinggal di Jakarta Pak, dulu aku menyewa apartemen milik Rendi."
Mata Mawan terbelalak. "Apa kau kenal dengan Rendi?" tanya Mawan.
"Iya, aku kenal. Tapi kita tidak akrab," sambung Reymond.
"Kau kenal Rendi dari siapa?"
"Rizky yang mengenalkan," Reymond melirik temannya itu dari samping.
"Kita pernah nongkrong di Bar, waktu Rendi belum menikah."
Mawan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kau tahu Rendi sudah menikah?"
"Iya tahu, tapi aku tidak di undang. Bukannya Rendi hanya mengundang kerabatnya saja kan, Pak?" Reymond berbalik bertanya.
"Iya betul," Mawan sendiri tidak datang menjadi wali anaknya.
"Siapa nama orang tuamu?"
"Ayahku bernama Robby Alexander, kalau ibuku Hesti," sahut Reymond kembali mengarang, asal saja menyebutkan. Yang penting nyambung pada ujung namanya.
__ADS_1
"Apa mereka tinggal di sini?" Mawan berlanjut bertanya.
"Tidak, Pak. Ayahku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sedangkan ibuku sudah menikah lagi dan sekarang dia ikut suaminya, entah kemana. Aku juga tidak tahu, mereka tidak ada kabar."
Mawan melihat kearah Guntur yang sedari tadi berdiri mendengarkan.
"Tolong kamu minta KTP Reymond pada polisi dan bawa ke sini," perintah Mawan.
Untuk sesaat Guntur seperti menjadi asisten Mawan. Tapi tidak apa, baginya yang terpenting Rizky anaknya bisa bebas dan kembali bekerja meneruskan perusahaan.
"Baik, Pak."
Guntur berjalan menghampiri polisi dan tidak menunggu waktu lama, dia balik lagi memberikan dompet Reymond pada Mawan.
Di geledah nya semua isi dompet, pertama dia melihat nama yang tertera jelas pada E-KTP.
Nama : Reymond Alexander
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 1 Januari 1993
Jenis kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan : Belum kawin
Agama : Islam
Pembuatan KTP semua hasil mengarang dari Rizky, yang penting Reymond punya identitas saja, dan di akui sebagai warga negara Indonesia.
Mawan juga mengambil SIM dan black card. Namun yang membuatnya heran, KTP dan SIMnya masih baru. Bahkan pembuatannya beberapa tahun kemarin.
Mawan kembali menatap wajah Reymond yang terlihat santai, apa lagi sambil mengajak Bayu bercanda.
"KTP dan SIM kamu bikin baru? Kenapa?" tanya Mawan.
"Oh iya, Pak Mawan, maaf. Sekitar dua tahun yang lalu Rizky pernah pergi keluar negeri, saya tahu dia bersama Reymond," tutur Guntur memberitahu. Kedua pria paruh baya itu masih sangat penasaran dengan siapa Reymond sebenarnya.
Mawan melihat ke arah Rizky. "Pergi kemana kamu?"
"Korea," sahut Rizky.
"Coba jelaskan!" seru Mawan.
"Saat itu Reymond kecelakaan Om, dia tabrakan dan kondisinya sangat memprihatinkan. Aku melihat kejadian itu pada tengah malam, karena tidak ada orang dan hanya aku yang melihat. Jadi aku yang menyelamatkan nya," ucap Rizky, tapi tidak semuanya bohong. Ada sedikit benarnya.
"Lalu kau bawa dia ke Korea? Kenapa tidak di sini saja? Duit mu kebanyakan itu," Mawan seperti tengah mengejek Rizky.
"Saya membawa ke rumah sakit Jakarta Om, Reymond berhasil selamat. Namun lumpuh, dia mengalami kelumpuhan seluruh tubuh," jelas Rizky.
"Lalu?"
"Lalu saya bawa ke Korea, Om. Fasilitas di sana jauh lebih lengkap. Aku juga sekalian perawatan wajah," sambung Rizky lagi berbohong dan mengarang cerita. Entahlah, yang penting mereka bebas saja.
"Lalu masalah KTP dan SIM?"
__ADS_1
"Dompetku hilang pada saat di bandara, jadi terpaksa aku membuat yang baru," sahut Reymond.