
"Kan aku sudah bilang, itu dulu Mas. Memang sampai sekarang Mas Rio tidak percaya kalau aku sudah melupakannya?" tanya Wulan.
Rio mengedikkan bahu. "Entahlah, namanya dia adalah pria di masa lalumu, pasti banyak kenangan yang kalian lalui," ucapnya murung.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana supaya Mas Rio percaya padaku?"
Rio meletakkan piring nasi goreng miliknya diatas meja. Ia menarik lengannya untuk bisa mengenggam tangan istrinya. "Kau harus mencintaiku!"
Deg~
Mencintainya? Apa ini? Tumben, dia berkata seperti itu.
"Wulan ... kau tau aku sedang berusaha mencintaimu. Harusnya kau juga ikut mencoba mencintaiku, biar sama-sama kita bisa saling mencintai."
Deg~
Mata Wulan membelalak, jantungnya langsung berdebar sangat kencang.
'Jujur, awal ketemu saja, aku sudah tertarik padamu. Setiap kita berdekatan saja jantungku berdegup kencang. Tapi aku tidak tau itu cinta atau bukan. Karena aku tidak mau mencintai orang yang tidak mencintaiku' batin Wulan termangu.
'Apa aku salah bicara lagi? Kenapa wajah Wulan terlihat sedih begitu. Ah, harusnya aku tidak bilang seperti itu. Wulan masih mau menerimamu saja harusnya aku bersyukur. Kenapa aku malah berlebihan begini?' batin Rio.
Kini beralih jantung Rio yang berdebar sangat kencang, kedua tangannya saja sampai memegangi dadanya, merasa heran.
'Jantungku kenapa? Kok berdebar begini? Rasanya aku sudah lama tidak merasakan hal seperti ini' batin Rio.
Wulan melihat kearah Rio yang tengah duduk dengan gelisah, wajah pria itu juga sudah berkeringat sambil masih memegangi dadanya sendiri.
Karena merasa khawatir, Wulan menaruh piring nasi goreng miliknya diatas meja. Kedua tangannya juga ikut memegangi dada suaminya. Tapi malah tubuh Rio menjadi bergetar saat Wulan mendekatinya.
"Dada Mas Rio kenapa? Sakit?"
Sikap Wulan menjadi Rio makin gelisah, jantungnya bahkan berdegup tambah kencang. Ia menelan salivanya dengan susah payah.
"Mas ... Mas Rio sakit? Apa perlu kita ke Dokter?" Wulan membungkuk dan mengusap keringat pada dahi suaminya. Seketika itupun, kedua pipi Rio menjadi memerah.
'Aku ini kenapa sih? Kok aneh begini?' batin Rio.
Lagi-lagi hal yang menurutnya ganjil bermunculan. Didalam celana bahan miliknya ada yang terasa sesak dan berontak. Ia juga sedari tadi terus saja menatap lekat bibir merah muda yang berada didepan matanya.
'Kenapa Wulan terlihat sangat cantik sekarang? Bibirnya juga kenapa begitu menggoda?
Rio bodoh! Kau ini kenapa? Kenapa aku menjadi sangat bernafs* padanya?' batin Rio.
'Mas Rio ini kenapa, sih? Ditanya tidak di jawab?' batin Wulan.
"Mas ... Mas Rio tidak kenapa-kenapa, kan? Apa ada yang sakit?"
__ADS_1
Rio merentangkan kedua lengannya seraya memeluk tubuh Wulan begitu erat, ia menciumi rambut istrinya. Kini Wulan mampu mendengar debaran jantung Rio, tapi Wulan justru makin khawatir padanya.
"Mas ... detak jantungmu sangat kencang, apa Mas Rio baik-baik saja?"
'Nyaman sekali memeluknya begini' batin Rio.
Wulan membuang nafas dengan kasar, lama-lama ia merasa jengkel. Karena sedari tadi Rio tidak menjawab pertanyaannya.
Bunyi dan getaran ponsel pada saku jas pria itu seketika membuyarkan pikirannya yang sedari tadi terpenuhi oleh Wulan.
Rio meregangkan pelukan dan mengecup kening Wulan sekilas, sebelum ia mengangkat teleponnya.
Rio berdecak. "Ck! Ternyata si Duda yang telepon! Dasar pengganggu!"
Ia menggeser layarnya keatas untuk mengangkat panggilan itu.
"Ada apa?" tanya Rio dengan ketus.
"Apa Bapak sudah selesai bersiap-siap? Kita sekarang ada meeting bersama Pak Mawan dan Pak Rizky. Tiga puluh menit lagi meeting akan di mulai, Pak."
Karena terlalu lama bercengkrama dengan Wulan, ia sampai melupakan pekerjaannya. Rio segera menutup telepon dan melepaskan pelukannya. "Wulan, sana kau ambil tasmu! Kau berangkat bareng denganku!" ajaknya.
"Berangkat bareng? Mau kemana memangnya, Mas?"
"Katanya kau mau kerja? Ayok sekalian berangkat bersama!" Rio menarik lengan Wulan untuk wanita itu bangun dari duduknya.
Wulan lantas menarik senyum bahagia. "Jadi Mas Rio mengizinkanku untuk kembali bekerja?"
"Syarat apa, Mas?"
"Wulan! Sana ambil tas! Jangan banyak tanya! Kau mau aku izinkan kerja lagi atau tidak, sih?" Rio mendengus kesal dengan wajah emosi.
"Iya ... iya. Maafkan aku, Mas. Aku akan ambil tas sebentar." Wulan langsung berlari menuju kamar untuk mengambil tas selempang miliknya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Mereka bertiga sudah berada dalam satu mobil dan seperti biasa, Dido lah yang menjadi sopirnya. Rio sedari tadi sibuk menatap layar laptop, ia melihat-lihat desain gambar interior kamar mandi. Semua desain itu cukup modern. Karena Rio juga rindu sekali mandi dengan bathtub dan shower.
"Wulan, coba kau lihat ini. Menurutmu, lebih bagus yang mana?" tanya Rio seraya memperlihatkan beberapa gambar pada layar laptop itu. Kemudian, ia mengusap-usap layarnya supaya bisa berpindah gambar satu, ke gambar yang lain.
"Semuanya bagus, Mas," jawab Wulan seraya memperlihatkan.
"Kok semuanya, pilih salah satu. Nantikan kita yang pakai bersama."
"Maksud Mas Rio apa? Memang itu kamar mandi buat siapa?"
"Kamar mandi buat di rumah Ayah, aku ingin merubahnya."
"Apa Mas Rio sudah izin dulu pada Ayah?" tanya Wulan melihat wajah Rio yang bersemu merah.
"Belum, nanti habis ini aku izin pada Ayah. Aku minta pendapatmu dulu."
"Terserah Mas Rio. Menurutku, semuanya bagus. Tapi memangnya ini akan cukup dengan ruangan kamar mandi di rumah Ayah? Apa tidak sempit nanti?"
"Masalah itu gampang, nanti aku yang urus." Rio melipat laptopnya dan duduk agak menempel pada Wulan, bahkan salah satu lengannya kini memeluk pinggang wanita itu.
Wulan mengangguk. "Oya, Mas. Apa aku boleh minta nomor Ayah? Ponsel dari Mas Rio, hanya ada nomor Mas doang."
"Kenapa memangnya? Kalau butuh sesuatu, kau hubungi saja aku. Lagian ... aku tidak akan mengizinkanmu menyimpan nomor pria lain!" tegasnya.
"Tapi Ayah 'kan Ayahku, Mas. Masa Mas Rio melarang anak mengubungi Ayahnya? Apa tidak terdengar kejam, ya?"
Deg~
Mata Rio membelalakkan, ia langsung menatap lekat wajah wanita didekatnya. "Apa yang kau katakan? Enak saja! Aku ini pria yang baik! Bukan pria kejam, Wulan!" ia seperti tersinggung dengan ucapan Wulan barusan, wajah pria tampan itu makin memerah.
"Maaf, Mas. Bukan itu maksudku, tapi ...."
Cup~
Rio mendadak mencium bibir Wulan secepat kilat, supaya ia bisa menghentikan ucapan dari istrinya. Sontak perlakuan itu membuat Dido menginjak rem mobilnya secara tiba-tiba, karena ia hampir saja menabrak seorang pria yang hendak menyeberang, lewat jalur zebra cross.
Ckitttt.....
"Hei! Bawa mobil yang benar! Dasar tidak tau aturan!" bentak orang itu.
Dido menurunkan kaca mobil dan melihat kearah orang tersebut. "Maafkan saya, Pak."
Sejujurnya Dido melakukan hal itu karena begitu syok dengan pemandangan mata yang ia lihat pada spion depan mobilnya. Ya, ia sedari tadi diam-diam memperhatikan mereka berdua. Apalagi saat Rio mencium bibir istrinya.
__ADS_1
"Kau sudah bosan jadi asistenku, ya!" terka Rio dengan nada tinggi.
^^^Kata: 1048^^^