
"Kalian mau pergi kemana?" tanya Santi.
"Pulang ke rumah, aku ingin membicarakan beberapa hal dengan Wulan, Mah," jawab Rio.
"Kalian masuk kedalam!" Santi menunjuk pintu utama rumahnya, "Kalian bisa bicarakan ini di kamar tamu yang kosong! Setelah itu kalian bicara lagi dengan Mamah!" perintah Santi.
Mereka menurut, Rio lagi-lagi menarik lengan Wulan, mengajaknya untuk masuk kedalam rumah. Sampainya di lantai atas, Rio menarik Wulan kembali masuk kedalam kamar tamu. Kamar bekas Reymond dulu.
Ia menghentakkan tubuh Wulan diatas kasur dan mengunci dengan rapat pintu kamar itu. Kakinya melangkah menuju kasur, menghampiri istrinya yang masih terdiam. Namun dia masih berdiri.
"Wulan! Kenapa kau tidak katakan 'iya saja! Dengan begitu Mamah akan setuju dengan perceraian kita!" seru Rio dengan lantang.
"Mas ... aku tau Mas Rio ingin sekali kita bercerai, tapi tidak begini caranya, Mas," lirih Wulan pelan.
"Lalu bagaimana? Bukannya memang benar kau masih mencintai, Dido!"
"Aku sudah katakan berulangkali, aku tidak mencintainya. Dia hanya masa laluku!" bantah Wulan sambil menangis.
Kenapa dia sampai menangis seperti ini?
Batin Rio.
Wulan langsung mengangkat tubuhnya untuk bangun.
"Mas ... Mas bukannya tadi pagi sudah mengatakan supaya aku yang memberikan alasan, tapi kenapa Mas Rio tiba-tiba datang dan mengatakan hal itu?"
"Memang apa bedanya? Bukankah itu sama saja alasan?! Itu malah lebih bagus untuk kita supaya bisa bercerai."
"Tidak, Mas. Itu sama saja kamu memfitnahku, aku ... aku tau, sampai detik inipun Mas Rio masih mencintai Indah dan belum bisa menerimaku. Tapi jangan lalukan ini padaku, Mas. Aku sangat membenci Kak Dido, aku ... aku ...." Wulan tak sanggup melanjutkan ucapannya, dia hanya bisa menangis dan menutupi wajahnya.
Kalau ingat hal itu, sakit sekali rasanya.
Batin Wulan.
Tersentak, Rio tiba-tiba menubruk tubuh Wulan hingga ia berbaring dengan posisi terlentang. Mata Wulan terbelalak kaget, ia binggung dengan Rio yang melakukan tindakan seperti ini.
Pria itu langsung membenamkan ciumannya, pada lawannya diatas. Makin dibuat kaget tidak karuan, namun tidak bisa dipungkiri. Wulan sangat menyukai situasi sekarang.
Mas Rio, kenapa ... kenapa dia menciumku?
Batin Wulan.
Rio sudah memejamkan mata, bibirnya kini memagut secara perlahan dan masuk kedalam rongga mulut Wulan, menyesapnya keseluruhan sambil bertukar saliva.
__ADS_1
Setelah menurutnya cukup puas melakukan ciuman, kini Rio membenarkan posisi tubuh Wulan supaya berbaring ditengah kasur.
Ia membuka jas dan pakaian yang menempel pada tubuhnya sendiri.
"Mas Rio ... apa yang--"
"Ssttt ...." desis Rio seraya menutup mulut Wulan dengan jari telunjuknya.
Apa jangan-jangan Mas Rio ingin mengajakku bercinta? Tapi kenapa? Bukannya dia tidak tertarik padaku?
Batin Wulan.
Entah harus senang atau kesal. Tapi yang jelas, kini ia binggung antara ingin menolak atau menurutinya. Jari jemari Rio dengan cepat menghempaskan kain pada tubuh Wulan sampai mereka sama-sama polos.
Tidak menunggu waktu yang lama, setiap sentuhan itu Rio lakukan dengan cukup membuat Wulan melayang-layang ke udara. Entah apa yang kini Rio rasakan, padahal tadi ia bersikeras ingin bercerai dengan Wulan. Tapi sekarang, ia justru melakukan penyatuan dan beradu keringat dengan wanita itu.
Wulan hanya bisa pasrah dan membungkam mulutnya, salah satu tangannya sibuk memeras bantal, seperti tengah menahan sesuatu yang hendak keluar. Ia ingin menolak pun rasanya percuma. Karena tubuhnya saja sudah terhimpit oleh pria diatasnya.
Rio masih sibuk meracau, rupanya ia sangat menikmati apa yang ia lakukan saat ini. Tanpa memperdulikan Wulan yang kini masih menatap wajahnya dengan tatapan binggung.
Rio membungkuk dan kembali menciumi bibir Wulan, lalu turun menuju leher, ia mengecupnya dan mengigit kecil.
Kali ini kedua tangan Rio meremas kasar dua gundukan gunung kembar istrinya itu, terasa begitu kenyal ketika bersentuhan dengan telapak tangan.
Apa saat ini dia melihatku sebagai Indah? Kalau memang benar, aku sangat sedih. Tapi ... kenapa ... kenapa aku tidak bisa menghindarinya.
Batin Wulan.
Sementara itu. Indah keluar dari kamarnya sendiri. Baru saja dia melangkah menuju anak tangga. Tiba-tiba terdengar suara des*han dan erangan, walau terdengar samar-samar. Tapi masuk kedalam rongga telinganya.
Deg.......
Terkejut bukan kepalang, pasalnya suara itu terdengar dari kamar bekas Reymond. Sedangkan yang dia tau, baik suaminya atau papahnya. Mereka berdua pergi bekerja, tidak ada laki-laki didalam rumah ini. Selain si kecil Bayu.
Suara siapa itu? Terdengar seperti suara seorang pria.
Batin Indah curiga.
Dengan rasa penasaran yang sangat dalam, kini kaki itu berjalan mengarah pada kamar tamu. Sebelah kamar Santi dan Mawan.
Tangannya sudah meraih gagang pintu, hendak menurunkan kebawah. Namun dengan cepat Santi datang mencegahnya.
"Sayang. Jangan lakukan," lirih Santi pelan dengan tangan yang ikut memegang gagang pintu.
__ADS_1
Indah langsung menoleh kearah Santi. "Mamah ... tapi aku tadi mendengar suara des*han seorang--"
Tangan Santi menutup mulut Indah dengan lembut, kemudian mengajaknya untuk turun tangga.
"Sayang ... didalam kamar itu ada Wulan dan Rio," ucap Santi.
Mata Indah terbelalak, namun jantungnya terasa plong. Setelah tau, siapa penghuni didalam sana.
"Mamah ... aku kira siapa didalam sana, aku sampai mikir yang tidak-tidak," ujar Indah sambil mengusap keringat pada dahi.
Kini Santi sudah mengajaknya untuk duduk di ruang tamu, ia juga memberikan air minum pada menantunya itu.
"Minum dulu sayang, Mamah tau kamu kaget tadi."
Indah mengangguk, ia segera mengambil gelas dari tangan Santi yang berisi air dingin. Ia meminumnya sampai habis.
"Sayang, tadi kamu bilang apa? Kamu dengar apa di kamar tamu?" Rasanya dia masih ragu dengan ucapan Indah barusan.
Indah meletakkan gelas itu diatas meja. "Aku mendengar suara des*han, Mah." Ia mengulang kata itu lagi.
Apa mereka sedang bercinta? Oh ya ampun ... syukurlah, memang kalau sedang berantem tuh, harus dilepaskan biar lega.
Batin Santi sambil senyam-senyum.
"Mamah, itu kok Rio kesini. Memangnya dia tidak ke kantor hari ini?" tanya Indah.
"Mamah tidak tau, tapi tadi mereka sempat berantem."
Mata Indah terbelalak.
"Berantem?! Ah semoga saja mereka segera baikkan ya, Mah."
"Iya, semoga saja. Tapi Mamah harap yang tadi kamu dengar itu benar, jadi mereka mungkin sudah baikkan."
Iya juga ya, aku mendengar suara des*han, itu seperti suara orang yang tengah melakukan tugas negara. Syukurlah kalau memang benar, aku juga senang melihat rumah tangga mereka harmonis.
Batin Indah.
Apa untuk sementara aku ajak Rio dan Wulan tinggal dulu disini? Aku takut mereka berantem lagi dan meminta untuk bercerai.
Ya ... mungkin kalau ada disini, mereka bisa aku pantau terus.
Batin Santi seraya mengangguk-ngangguk.
__ADS_1