Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 50. Bayu benar-benar jagoan


__ADS_3

Dia balik lagi dengan tas di atas bahu. "Rumah sakit? Siapa yang sakit Mah?" tanyaku binggung.


"Tidak ada, kita akan lakukan tes DNA."


Apa maksudnya, apa Mamah tidak percaya kalau aku adalah anaknya?


"Kenapa Mah, Mamah sampai sekarang tidak percaya padaku? Aku Rendi anak Mamah."


Mamah mengelus pundak ku. "Bukan begitu, Mamah mau kau lakukan tes DNA dengan Bayu, itu buat jaga-jaga saja."


Aku mengerutkan dahi. "Jaga-jaga? Jaga-jaga apa?"


"Sudahlah, kau ini bawel sekali! Katanya ingin berkumpul dengan Indah dan Bayu. Turuti saja kemauan Mamah."


Mamah memaksa ku untuk keluar dari apartemen, dan kini kita berdua menaiki mobil sport Lamborghini milikku yang baru.


Aku menyetir mobil seraya menoleh pada Mamah, Bayu berada di pangkuannya.


"Tapi Mamah tidak akan membongkar identitas aku sebenarnya, kan? Aku kemarin sudah bilang pada Mamah untuk tidak cerita dulu pada siapapun. Sebelum semua masalah ku selesai."


Aku berusaha mengingatkannya lagi, aku tidak mau usahaku sia-sia selama ini. Aku ingin tahu siapa orang yang membenciku dari belakang.


"Kamu kira Mamah bodoh! Mamah juga mengerti! Sudah fokus aja menyetir," Mamah mendengkus kesal.


Aku menghela nafas dan berkonsentrasi menyetir untuk sampai ke rumah sakit. Turuti saja dulu, aku tahu Mamah bisa aku andalkan. Walau dia seorang wanita, tapi otaknya kadang lebih pintar dan hebat dariku.


Kita langsung masuk ke sebuah rumah sakit besar, aku ingat ini rumah sakit pas Indah memeriksa kandungan. Sedikit mengingatkan kenapa jadi lucu, mengidam soto dan makan di ranjang pasien? Lucu sekali. Kamu memang ada-ada saja sayang.


Aku duduk di kursi panjang dengan Bayu, Mamah sedang mendaftarkan aku dan Bayu untuk melakukan tes DNA.


"Kita langsung masuk saja, yuk!" ucap Mamah mengajakku untuk bangun.


Aku menggendong Bayu, mengikuti langkah kaki Mamah. Tapi kalau tes DNA kan ada pengambilan darahnya, kan? Nanti akan di tusuk oleh jarum suntik. Aku kasihan sama Bayu. Nanti kalau dia nanggis bagaimana? Aku tidak tega melihatnya.


Kita masuk ke dalam ruangan Dokter.


"Selamat pagi Dok," sapa Mamah seraya duduk di depan.


Dokter pria itu tersenyum pada Mamah.


"Pagi juga Bu, Ibu mau lakukan tes DNA, betul?" dia bertanya apa sedang menebak? Aneh sekali.

__ADS_1


"Iya, Dok," sahut Mamah.


"Siapa yang akan melakukan tes? Apa pria dan anak tampan ini?" tuh kan benar, dia sudah menebak lagi.


"Iya, Dok." Mamah juga iya-iya saja, seperti tak ada jawaban lain.


"Silahkan Bapak dan anak tampannya duduk di atas ranjang."


Aku langsung mendudukkan bokongku di atas ranjang sambil memangku Bayu.


Tak lama Suster datang dengan membawa meja troli dan menghampiri ku, dia membawa beberapa suntikan, botol kecil dan pelaratan lainnya untuk melakukan tes DNA.


Bayu mendongak keatas, melihat wajah ku. "Ayah! Kita mau apa ke cini?"


Aku mencium keningnya, "Kita hanya mau main ke sini sayang."


Dokter itu bangun bersama Mamah, mereka mendekati kita berdua.


"Mamah, kalau nanti Bayu menanggis bagaimana? Kasihan dia," ucapku dengan wajah sendu.


"Tidak! Bayu kan jagoan ngapain nanggis," elak Mamah.


Mamah melepaskan jas pada tubuhku dan membuka kancing pada lengan kemeja, lalu menariknya ke atas.


Cus.....


Hampir tidak terasa apa-apa, mungkin karena aku sudah biasa di suntik. Tapi lama-lama aku bosan juga.


"Ayah di apain Oma?" tanya Bayu.


"Ayah di kasih obat, biar sehat!" seru Mamah mengarang, jelas-jelas darahku di sedot! Ck!


Bayu menarik kaos pendeknya ke atas, sampai di atas bahu. Dia memegangi lengan atasnya.


Coba apa yang mau Bayu lakukan?


"Bayu juga mau di kacih obat! bial cehat, Oma!" ucapnya dengan lantang.


Apa-apaan dia ini, aku tadi mencemaskan dirinya. Tapi dia malah ingin di ambil darahnya, Bayu... Bayu! Kamu ini bisa saja di bohongin sama Oma mu. Aku menggeleng-gelengkan kepala.


Setelah selesai mengambil darahku, Dokter itu memindahkannya pada botol kecil itu. Dan sekarang dia mengambil suntikan yang baru, mungkin itu untuk Bayu. Dia sudah memegang lengan kecil anakku.

__ADS_1


Kenapa aku yang deg-degan begini, rasanya tidak tega. Melihat anakku di tusuk pakai jarum.


"Adek, namanya siapa?" tanya Dokter dengan ramah seraya mengolesi kapas yang sudah di teteskan obat pada lengan Bayu.


Perasaan tadi, aku tidak di olesi kapas dulu? Tiba-tiba langsung di tusuk saja. Kurang ajar juga Dokter ini!


"Bayu," sahut Bayu sambil tersenyum.


"Nama yang bagus, Bayu tinggal dengan siapa sayang?" tanya Dokter itu, dia juga mengajak Bayu bercerita tapi dengan tangan yang sudah menusukkan jarum ke lengan anakku.


Mataku terbelalak, aku memeluk tubuh Bayu dan menciumi rambutnya.


"Bayu ingal cama Bunda Ndah, Opa Wawan, Oma Canti, Opa Oni, Oma Calah, cama Om ..."


Bayu sedari tadi masih sibuk mengoceh, membalas pertanyaan Dokter dengan lantang. Sampai sesi mengambilkan darah dan memasukkan lagi ke dalam botol kecil selesai.


Bayu benar-benar jagoan, hebat sekali anakku ini. Pasti dia kuat menurun pada Bunda dan Ayahnya, Ayah bangga sama kamu 'Nak.


Dokter itu kini mengambil alat stainless berukuran sedang.


"Coba aaa sayang. Dokter mau lihat lidah kamu," ucap Dokter itu sambil membungkuk.


Bayu menurut dan membuka mulutnya, Dokter itu mengambil air saliva nya, setelah itu dia mengambil alat yang sama tapi sudah di ganti yang baru.


Kini berlanjut padaku, dia mengambil air saliva ku, mulutku juga sudah menganga tanpa dia suruh. Kurang peka apa lagi coba! Kita berdua bagaikan boneka saja, Bayu juga penurut saja, harusnya dia merengek sedikit kek. Pasrah amat jadi bocil.


"Doktel, gigi Bayu putih ngga?" tanya Bayu sambil nyengir kuda, menunjukkan deretan gigi putihnya itu.


"Iya putih sekali! Dokter sampai silau melihatnya," Mata Dokter itu sambil berkedip-kedip, mengajak Bayu bercanda. Rasanya ingin ku colok matanya itu.


Tangannya menarik ujung rambut anakku, cari kesempatan lagi dia, dia menaruhnya pada plastik kecil.


"Iya Doktel. Bayu cikat gigi cama Bunda!"


"Bayu anak pintar, benar sayang. Harus rajin sikat gigi," lanjut Doker itu lagi, tangannya sekarang menarik ujung rambutku. Tidak pakai permisi! Geram sekali aku lama-lama.


Mamah juga sedari tadi hanya melihat pada Bayu, aku bagaikan pajangan saja di sini, tidak di lirik sama sekali. Bukannya kemarin Mamah bilang kalau Mamah hampir mati gara-gara aku pergi? Kok sekarang seperti biasa saja padaku.


Mamah jahat!


"Semuanya sudah selesai. Kita hanya tunggu hasilnya," ucap Dokter seraya menghela nafas dengan lega.

__ADS_1


Apa-apaan dia, harusnya aku yang menghela nafas! Bodoh kau! Aku sejak tadi yang terlihat tertekan di sini.


__ADS_2