
Haris mengangguk dan menyuruh sopirnya untuk menyetir cepat dan mencarikan rumah sakit, dia begitu khawatir melihat wajah cantik pacarnya yang sudah ganti kulit itu.
Siska mengambil cermin di dalam tasnya dan melihat wajahnya itu, tampak sudah memerah dan melepuh.
Indah sialan! Berani sekali dia membuat wajah cantikku begini! Dari dulu memang bocah itu sudah songgong dan berani padaku. Sekarang dia tambah songgong. Kurang ajar kau Indah!
Beruntung aku membunuh suamimu itu, kau sekarang jadi janda dan stres bukan? Memangnya enak di tinggal suami, hah? Nasibmu sama seperti ibumu yang sakit-sakitan itu, sama-sama di tinggal suami.
Tapi kok dia bisa tahu aku yang menyakiti Rendi? Tahu dari mana dia? Padahal saat itu aku tidak meninggalkan jejak bukti apapun.
Batin Siska.
***
Mawan merangkul tubuh Indah untuk pergi menuju rumah sakit, Harun dan Irwan juga mengikuti mereka dari belakang.
Kalau Papah tidak percaya Mas Rendi adalah Mas Reymond. Setidaknya aku bisa bujuk Papah untuk membebaskan Mas Rendi.
Batin Indah.
"Pah ... Tunggu sebentar, aku mau bicara," Indah menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan.
Dia menghampiri Harun yang berdiri menghentikan langkah, Indah mengambil dokumen dari tangannya untuk di berikan pada Mawan.
"Kalau Papah tidak percaya padaku itu tidak masalah ... Tapi Papah bisa kan membebaskan Mas Reymond dari penjara? Aku mencintainya Pah, tolong bebaskan dia," pinta Indah memaksa.
Harun juga sudah mengulurkan tangannya memberikan bolpoin untuk Mawan. Mawan mengambil dokumen itu dan membacanya.
"Papah ... Indah ..." Teriak Santi berlari menghampiri mereka berempat.
Mawan melihat ke arah Santi yang sedang panik. "Ada apa Mah?" tanya Mawan.
"Bu Sarah sadar, dia ingin bicara dengan Papah dan Indah."
Mata Mawan dan Indah terbelalak, mereka begitu kaget tercampur senang. Mawan melepaskan dokumen itu hingga terjatuh di lantai dan tidak menghiraukannya, dia berfokus memegang tangan Indah untuk mengajaknya cepat-cepat bertemu dengan Sarah.
Sementara itu Harun kembali memungut dokumen yang sudah tidak di anggap itu di bawah lantai. Tapi dia memberikan pada Irwan.
"Pak Irwan, tolong nanti berikan pada Nona Indah." Irwan mengangguk dan menerimanya.
"Kalau begitu saya pamit Pak, salam untuk Bu Sarah, semoga cepat sembuh," Harun mengelus pundak kekar Irwan dan berjalan meninggalkan rumah sakit.
***
Sampainya di dalam ruangan Sarah, Indah langsung membungkuk dan memegang tangan Sarah. Sarah masih di pasang ventilator pada mulut dan hidung nya.
"Mamah ... Mamah bagaimana keadaannya? Aku sayang Mamah," ucap Indah seraya mencium kening Sarah.
Sarah menggeser kepalanya ke arah Mawan dia seperti ingin mengatakan sesuatu. Tangannya sudah terulur, Mawan menghampiri Sarah dan memegang tangannya.
__ADS_1
"Ada apa Sarah? Bicaralah," ucap Mawan dengan lembut.
"Mas ... Tolong jaga Indah dan Bayu," lirihnya pelan.
"Apa maksud Mamah?" tanya Indah.
"Mas ... Jangan pernah buat Indah di sakiti oleh orang lain termasuk kamu, bahagia kan Indah. Karena dia yang aku punya," lirih Sarah berbicara secara perlahan.
Mawan mengangguk. "Iya, aku akan menjaga Indah dan Bayu. Bukan cuma aku, tapi kita semua."
Mata Indah perlahan mengeluarkan air mata, entah kenapa dia melihat ibunya terasa begitu pucat. "Mamah kenapa bicara seperti itu?" tanya Indah.
"Sayang ... Apa Mamah boleh minta sesuatu sama kamu?"
Indah mengangguk dan menyeka air mata di pipinya, "Boleh Mah ... Bicara saja."
"Menikah lah dengan Rio, Indah ... Kamu berhak bahagia, Mamah tahu Rio pria yang baik dan mampu mengantikan Rendi."
"Mah ... Aku tidak mau, aku ..."
Sarah memegang tangan Indah begitu erat. "Sayang berjanjilah pada Mamah ... Mamah hanya minta itu, Mamah sudah tidak kuat ..."
Deru nafas Sarah sudah tidak beraturan dan tersendat-sendat. Dia merasa kalau ajalnya sudah berada di depan mata.
"Tapi Mah aku sudah bertemu dengan ..."
Mulut Sarah sudah menganga dengan suara nafasnya yang berderik, matanya mendelik ke atas. Membuat mereka yang melihat semakin panik.
"Mamah jangan tinggalkan Indah Mah ..." Sementara itu Indah masih menangis memegangi tangan ibunya, Santi menarik lengan Indah dan mendekapnya.
"Tenang sayang," ucap Santi mencoba menenangkan.
Mawan membungkuk dan berbisik di telinga Sarah. "Sarah, ikuti ucapan aku."
Sarah sudah tidak karuan, nafasnya sudah putus-putus.
"Asyhadu alla," ucap Mawan.
"Asyhadu ... alla," lirih Sarah terbata-bata.
"Ilaha illallah."
"Ilaha ... illallah."
"Wa asyhadu anna."
"Wa ... asyhadu ... an ... na."
"Muhammad darrasulullah," ucap Mawan meneruskan.
__ADS_1
"Muha ..." Sarah tidak sanggup lagi menyelesaikan kalimat syahadat itu, nafasnya keburu terhenti dan memejamkan kedua mata.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap Mawan.
Air matanya berlinang dan membasahi pipi. Mawan melepaskan ventilator dan mengusap wajah Sarah supaya mulutnya tertutup.
"Mamah! Jangan tinggalkan aku!" Indah berteriak histeris. Dia mencoba memberontak untuk menghampiri Sarah yang sudah terbujur kaku.
Mawan memeluk tubuh Indah begitu erat. "Sayang ... Ikhlaskan Mamah, Mamah Sarah sudah tenang," ucap Mawan seraya mencium kening Indah.
"Tidak Pah ... Mamah tidak mungkin meninggalkan aku, dia ... Hiks ... Hiks ... Hiks," tak kuat menahan air mata yang hendak terjatuh, akhirnya keluar juga. Tubuh Indah seakan lemas tak berdaya, merasa tak ada tulang yang mampu menyangga tubuhnya.
Kelapanya ikut berputar dan pusing, hatinya bak teriris-iris. Dia tidak bisa menyangka kalau sang ibu tercinta sudah kembali kepada sang maha kuasa.
Sakit, benar-benar sakit di tinggal orang yang kita cintai pergi ke alam dunia ini. Sangking tidak bisa menahan bendungan air mata dan menahan rasa sakit itu, seketika tubuhnya ambruk dan pingsan.
"Indah!" Teriak Mawan seraya mengangkat tubuh Indah.
Dia berlari mengantar Indah menuju ruang ICU, Mawan menciumi tangan anaknya itu dan mengelus rambut.
"Sayang ... Kamu harus ikhlas, ada Papah di sini yang selalu menjaga kamu. Papah akan terus buat kamu bahagia sayang. Itu janji Papah."
Beberapa jam berlalu Indah masih pingsan tidak sadarkan diri. Sementara itu tidak mungkin jasad Sarah di biarkan saja sampai menunggu Indah sadar, itu juga tidak baik.
Mawan akhirnya mengurus semua acara pemakaman sampai selesai dan tidak lupa mengundang para orang pengajian di rumah Antoni dan di rumahnya untuk mengirimkan do'a.
Malam harinya Indah sudah bisa di pindahkan di ruang rawat, tangannya di pasang selang infusan kerena dia juga sangat kelelahan dan butuh asupan cairan. Namun ruangan yang di tempati berbeda dengan kamar Sarah, itu sengaja karena Mawan tidak ingin Indah kembali mengingat.
Bayu datang dengan di gendong Vinno masuk ke dalam ruang Indah. Sejak tadi Vinno mengajak Bayu pergi jalan-jalan, pulang tadi juga dia merasa shock kalau ibu tirinya meninggal dunia.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Boleh kasih kritik dan saran ya gays, takut ada kesalahan dari Author 🙏🙏 semoga kita sehat selalu dan di jauhkan dari Corona yang melanda, jangan lupa selalu pakai masker yaa....❤️😷