
"Mas Rio." Wulan langsung pingsan dalam gendongan pria itu.
Rio. Ya dia adalah Rio, Rio yang menabraknya untuk ketiga kalinya. Sekarang siapa yang merasa bernasib sial? Rio selalu bilang Wulan adalah pembawa sial dalam hidupnya. Tapi justru itu kebalikannya, Wulanlah yang sial. Karena pertemuan ketiga kalinya, ia menjadi korban tabrak mobil.
Kedua anak buah Rio menghampirinya, ia langsung masuk kedalam mobil untuk menyetir mobil, duduk didepan. Sedangkan Rio, ia duduk dibelakang sambil memangku Wulan.
Dahi dan area selangk*ngan Wulan mengalir darah segar. Celana bahan hitam yang Wulan kenakan sampai rembes pada celana bahan Rio, sangking banyaknya darah. Ia merasakan darah istrinya terasa pada kulit pahanya.
Rasa cemas menjalar pada seluruh tubuh, hatinya sudah tidak karuan sekarang. Ada rasa takut kehilangan didalam sudut hati kecilnya.
"Wu-Wulan. Bertahanlah ... kau akan baik-baik saja," lirihnya sambil memeluk tubuh wanita yang sudah tidak berdaya itu.
"Percepat mobilnya bodoh! Kita ke rumah sakit!" pekik Rio pada kedua anak buahnya didepan.
"Baik, Bos." Pria berbadan kekar itu melajukan mobilnya dengan kecepatan full.
Tanpa sadar, dalam perjalanan itu Rio terus menciumi rambut istrinya, salah satu tangannya memegangi dahi. Menghentikan darah yang terus saja mengalir.
"Wulan, jangan tinggalkan aku."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sampainya di rumah sakit, beberapa perawat datang sambil mendorong brankar didepan mobil Rio. Pria itu keluar dari mobil dan merebahkan tubuh Wulan diatasnya.
Beberapa perawat itu langsung berlari, mendorong brankar untuk memasukkannya kedalam ruang UGD.
"Rio! Wulan kenapa?!" suara bariton terdengar dari seseorang yang baru saja datang menghampirinya.
__ADS_1
Rio menoleh kearah pria paruh baya itu sambil menangis, seluruh pakaiannya berlumuran darah.
Wahyu berlari sampai depan ruang UGD, Rio juga ikut berlari menghampirinya. Segera Rio kembali berjongkok dan memeluk lutut sang mertua.
"Ayah ... tolong maafkan aku, Ayah. Ini semua salahku," lirihnya dengan pilu.
Wahyu menarik lengan Rio, supaya ia kembali berdiri. Tak lama Santi, Indah dan Bayu datang menghampiri mereka berdua.
"Rio, kau kenapa? Kenapa pakaianmu banyak sekali darah?" tanya Santi.
Mereka membawa sejuta pertanyaan yang sama sekali belum bisa Rio jawab. Tubuh Rio sudah bergetar hebat.
Wahyu mengusap air mata yang membasahi pipi menantunya.
"Rio! Jawab Ayah! Kenapa? Kenapa dengan Wulan? Kenapa dia bisa seperti ini?" tanyanya dengan wajah cemas, ia menggoyangkan bahu Rio.
"Ini semua salahku, Ayah. Aku--"
"Selamat sore Bapak ... Ibu. Siapa yang bernama Rio Pratama?" tanya seorang polisi yang datang menghampiri mereka berlima. Ia tidak sendiri, melainkan bersama teman seprofesinya yang sudah memborgol kedua tangan salah satu anak buah Rio.
Mereka semua menoleh kearahnya. Mata Rio membulat sempurna.
"Saya Rio, Pak," sahutnya.
"Bisa Anda ikut kami ke kantor polisi?"
Deg~
"Dia berkomplot dengan orang ini, Bu." Polisi menoleh sekilas pada pria kekar disampingnya. "Saudara Rio berencana mencelakai wanita yang sekarang berada di ruang UGD!" terang polisi dengan tegas.
"Mencelakai?" Wahyu langsung memegang kedua lengan menantunya. "Benar kau ingin mencelakai, Wulan?"
Keringat pada dahi Rio sudah bercucuran dan ketakutan. Tetapi ia bukan takut karena kehadiran polisi. Tapi takut Wahyu kembali murka dan makin membencinya.
"Aku tidak mencelakai Wulan, Yah. Semua ini kecelakaan."
"Tidak mencelakai tapi Anda menabrak wanita itu, Anda juga menyuruh orang untuk kerjasama dan menyebarkan info tidak benar!" celetuk polisi itu.
"Jadi kau yang menyebarkan info orang hilang itu? Brens*k kau, Rio!" Wahyu mencengkeram kerah kemeja Rio dan secara tiba-tiba, ia kembali menonjok salah satu pipi menantunya.
Bug.......
"Aaww!" jerit Rio.
Wahyu menghentakkan tubuh Rio hingga pria itu tersungkur di lantai. "Kau benar-benar pria jahat, Rio!" bentaknya.
"Ayah ... ini bukan seperti yang Ayah pikirkan, semuanya hanya salah paham." Rio mengangkat tubuhnya untuk bangun dan menghampiri Wahyu kembali. Ia menciumi punggung tangan sang mertua. "Aku tidak mungkin mencelakai istriku sendiri, Ayah ...."
__ADS_1
"Sebaiknya Anda ikut kami ke kantor polisi, Anda bisa jelaskan disana," ujar Pak Polisi
"Bapak ini siapanya?" tanya Pak Polisi yang satunya kearah Wahyu.
Wahyu menepis tangan Rio pada tangannya. Ia menoleh kearah polisi itu. "Saya Wahyu, Ayahnya Wulan. Wanita yang sedang di UGD."
"Bapak juga bisa ikut saya ke kantor, saya butuh keterangan dari Bapak," tambahnya lagi.
"Pak Polisi, Pak Wahyu. Rio tidak mungkin melakukan kejahatan, dia pasti punya alasan tersendiri. Jangan bawa dia ke kantor polisi," ucap Santi.
"Saya hanya minta keterangan saya kok, Bu. Biar semuanya jelas. Tadi saat saja sedang bertugas ... saya tidak sengaja melihat ketiga pria mengejar korban dan tak lama, saudara Rio ini datang menabrak saudari Wulan. Tiga orang sudah saya amankan ke kantor polisi. Sisanya tinggal pria ini." Polisi menepuk pundak pria kekar di sebelahnya. "Dan saudara Rio."
"Tidak apa, Mah. Aku akan ke kantor polisi, aku akan menjelaskan semuanya," ucap Rio seraya menyeka keringat pada dahinya, wajah dan pakaiannya sudah tidak karuan sekarang.
"Yasudah, nanti Harun menyusulmu sambil membawa pakaian ganti. Kau harus mengganti pakaianmu, Rio," ucap Santi.
Rio menganggukkan kepalanya, namun sebelum Rio, Wahyu, kedua polisi dan pria kekar itu beranjak melangkah. Seorang Suster keluar dari ruang UGD, ia seperti panik dan langsung berlari.
Tak lama ia balik lagi, dengan mambawa satu kantong darah. Ia hendak membuka pintu ruangan itu, namun dengan cepat Wahyu memanggil dan menghampirinya.
"Suster ... tunggu dulu, Sus. Bagaimana keadaan Wulan putri saya?" tanya Wahyu.
Suster itu langsung menoleh. "Kondisinya kritis, Pak. Putri Bapak mengalami keguguran."
Deg~
Mereka yang disana membelalakkan kedua matanya.
"Keguguran? Apa maksudnya Suster?" tanya Wahyu dengan wajah binggung.
Jangankan Wahyu. Rio, Santi dan Indah pun sama binggungnya. Pasalnya mereka semua tidak ada yang tau Wulan sedang hamil, bahkan Wulan sendiri tidak menyadarinya.
Astaghfirullah, jadi ternyata Wulan benar-benar hamil?! Dan sekarang aku ... aku membunuh anakku sendiri?
Manusia macam apa aku ini?
Batin Rio termenung pilu, matanya memandangi kedua telapak tangannya sendiri. Tangannya sampai bergetar hebat. Disana ada darah Wulan yang sudah mengering, ia merasa sangat berdosa.
"Iya, tabrakan itu menghantam keras pada perut putri Bapak. Janin yang baru empat minggu tidak berhasil selamat, Pak." Setelah menjelaskan, Suster langsung masuk lagi kedalam ruangan UGD.
Astaga Rio, apa yang kau lakukan? Kau benar-benar berdosa pada Wulan.
Batin Santi.
Kedua tangan Wahyu sudah kembali mengepal. Jujur, ia sekarang bukan hanya ingin menonjok Rio kembali, melainkan mencekiknya sampai mati.
Tapi tidak, dalam keadaan seperti ini, emosi tidak akan membuat masalahnya selesai. Ia juga mengingat ada putrinya yang lain, sedang berbaring tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Wahyu lebih memilih bergeming, tubuhnya terasa lemas tak berdaya sekarang. Ia langsung duduk dengan hentakkan keras pada bokongnya. Air matanya tak mampu dibendung lagi. Ia menangis sejadi-jadinya dan menutupnya dengan kedua tangan. Seakan meratapi nasib kedua putrinya.
^^^Kata: 1061^^^