
Jadi Indah menampar Siska.
Indah menceritakan tiap detail kejadian dengan sejujurnya tanpa di tambah dan di kurangi. Ucapan Indah juga membuat Rendi kaget karena dia juga mengatakan Siska adalah selingkuhan ayahnya, Rendi mengarah pandangannya ke depan mata Siska dengan tajam.
Apa benar yang tadi Indah ucapkan barusan?
Pikir Rendi dalam hati.
"Dia bohong Pak, yang benar adalah apa yang aku katakan, Bapak lihat sendiri kan buktinya," Ucap Siska membela diri. Polisi itu kembali memutar ulang rekaman CCTV yang Siska bawa untuk di jadikan bukti, terlihat jelas memang Indah menampar Siska namun ada sebuah percekcokan yang tidak terdengar dari rekaman itu.
"Di sini terlihat jelas Indah menampar Ibu Siska karena sangat marah, apa sebenarnya memang benar Ibu Siska dan Pak Rendi punya hubungan?" tanya polisi itu kepada Rendi dan Siska.
"Iya memang benar Pak, tapi kami saling mencintai dan Rendi di paksa menikahi gadis ini dan meninggalkanku. Gadis ini cemburu dan ketika kita bertemu, dia malah bersikap kurang ajar kepadaku." Ucap Siska kemudian menanggis dengan air mata buaya.
Kenapa mas Rendi diam saja? Dia sebenarnya menemaniku cuma untuk jadi patung atau gimana sih, nggak berguna banget.
Gerutu Indah dan menoleh ke arah Rendi.
"Saya memang pernah berpacaran dengannya tapi sekarang hubungan kita sudah selesai." Jawab Rendi tiba-tiba. "Saya kira ini cuma masalah sepele, dan bisa di bicarakan dengan baik-baik." Ucap Rendi tegas.
"Bagaimana dengan Bu Siska? Apa Ibu ingin menyelesaikannya dengan baik-baik?" tanya pak polisi melanjutkan
Seseorang di samping Siska pun mengatakan. "Maaf Pak sebelumnya, saya selaku pengacara dari Ibu Siska merasa keberatan karena sikap dari Nona Indah yang berlaku kasar terhadap klien saya. Bukankah itu tindakan kekerasan dan sudah terbukti."
"Iya Pak, saya tetap akan menuntut Indah dan memasukkannya ke dalam penjara." Gertak Siska mengebrak meja.
Mendengar ucapan mantan kekasihnya itu Rendi langsung berdiri dan berkata. "Siska ikut aku, ada hal yang mau aku bicarakan." Ucapnya yang lalu berjalan. Dan Siska juga berbuntut di belakang.
Kira-kira apa yang akan mas Rendi dan Siska bicarakan?
Indah yang merasa penasaran akhirnya dia berniat untuk menguping pembicaraan mereka berdua. "Maaf Pak, saya boleh ke toilet sebentar?" tanya Indah berdiri.
"Ya silahkan, toiletnya di arah sana." Jawab pria berkumis tebal sambil menunjuk.
__ADS_1
Rendi berjalan keluar dari ruangan itu untuk ngobrol berdua dengan mantan pacarnya, dan Indah juga mengikuti mereka dari belakang.
Indah memantau mereka agak jauh karena dia takut ketahuan. "Siska apa tadi yang di katakan Indah benar?" tanya Rendi memberhentikan langkah kakinya.
"Ren kamu sekarang nggak percaya sama aku?" Siska yang langsung menghampiri dan sekarang mereka saling berhadapan.
"Bukannya aku nggak percaya cuma sekarang aku mulai ragu sama kamu. Bukan cuma Indah, semua orang juga pernah mengatakan kalau kamu bukan wanita baik-baik dan apa itu benar?" Siska tiba-tiba memeluk Rendi dan menanggis dengan air mata buayanya.
"Kalau masalah ayah Indah itu memang benar, tapi itu semua karena aku khilaf dan bukan berarti aku wanita nggak bener. Sekarang aku sudah berubah Ren." Siska sengaja memeluk Rendi karena dia melihat Indah yang sedang melihatnya dari jauh.
Bisa-bisanya mereka berpelukan di kantor polisi, mereka ini memang nggak tahu malu.
Indah yang geram melihat kelakuan mereka berdua mencoba melangkahkan kakinya namun terhenti tiba-tiba, karena kepalanya terasa sakit.
Ah kepalaku sakit sekali.
Gumamnya sambil memegang kepalanya, Indah langsung segera berjalan keluar kantor polisi dengan buru-buru dan mencari taksi untuk dirinya pulang.
"Aku minta sekarang kamu cabut tuntunan itu." Ucapnya melepas pelukannya.
"Siska cukup!" Rendi spontan mendorong Siska. "Aku sudah bilang berapa kali kalau kita sudah putus. Dan aku ingin menjalankan hidupku yang baru."
"Wah sekarang kamu sudah mulai kasar padaku ya?" Ucapnya menyilangkan kedua tangannya di atas dada. "Aku nggak percaya ini Ren, Apa kau sungguh-sungguh ingin melupakanku?" tunjuknya kepada diri sendiri.
"Tapi kok aku nggak yakin ya?"
"Terserah kau sajalah, aku sudah capek. Kalau kau nggak menarik tuntutan itu, jangan harap mobil barumu aku belikan." Tegas Rendi sembari membenarkan jasnya, dia melangkah meninggalkan Siska.
"Aku nggak peduli Ren, aku nggak butuh mobil dari kamu. Yang aku butuhkan hanya cintamu." Teriak Siska.
Harga mobil nggak seberapa dari cintamu. Aku bisa mendapatkan beberapa mobil kalau bisa kembali bersamamu dan menyingkirkan cewek kurang ajar itu.
Dalam hati Siska sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
Rendi kembali masuk ke ruang keluhan, dan terlihat pengacaranya sedang mengobrol dengan polisi yang berkumis baplang itu.
"Dimana Indah?" tanya Rendi yang masih berdiri dan menyadari kalau tak ada istrinya,
"Tadi Nona Indah izin ke kamar mandi." Jawab pengacara itu dan Rendi duduk kembali dan tak lama pengacara Siska pulang.
Polisi berpesan kepada Rendi untuk mencari bukti supaya Indah terbebas dari tuntunan Siska, setelah 30 menit berlalu Indah belum juga kembali. Rendi berdiri lalu berjalan mencari toilet di sekitar kantor itu, tak lama keluar salah satu polisi pria yang keluar dari toilet.
"Apa Bapak liat seorang wanita di dalam?"
"Di dalam nggak ada siapa-siapa Pak." Jawabnya yang berlalu pergi, Rendi yang masih tidak percaya dia masuk dan melihat 3 toilet yang kosong dengan pintu terbuka.
Dia keluar dan meraih ponselnya di saku jas untuk menelepon Indah, tapi nomornya tidak tersambung. Wajar saja Rendi menelepon nomor Indah yang dulu, "Aih.. Begonya, ponsel dia kan jatuh pas kecelakaan." Gerutunya.
***
Sementara itu di dalam mobil taksi Indah menyenderkan kepalanya di kursi sambil sesekali memijat-mijat kepalanya,
Rasanya kepalaku mau pecah! Masalah di hidupku nggak pernah kelar-kelar, kalau masalahnya melebar begini mending aku minta mas Rendi menceraikan aku.
Sampainya Indah di rumahnya, dia lalu turun dan berjalan. Setelah masuk ke dalam dia baru ingat kalau Rendi sudah meminta dia dan ibunya tinggal di rumahnya.
"Siang Non, apa Non Indah mau makan?" tanya pembantunya,
"Nggak Bi." Indah menggelengkan kepalanya,
"Oya tolong telepon mamah dan bilang aku malam ini mau tidur di sini." Karena ponsel baru Indah hanya berisi nomor ayah dan ibu mertuanya,
"Baik Non." Indah berjalan ke kamarnya melepas topi dan menaruh ponselnya di meja. Lalu merebahkan tubuhnya ke atas kasur dan tak terasa dirinya mulai tertidur.
***
Rendi berjalan keluar kantor polisi bersama pengacaranya, "Pak, sepertinya kita harus mencari bukti kalau Nona Indah tidak bersalah."
__ADS_1
...💜Jangan Lupa Like💜...