Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 84. Anak haram


__ADS_3

"Bukan Shelly, aku menemukan anak yang lain. Dia adalah Clara, anaknya Pak Wahyu."


Bukannya kaget atau apa, justru Mawan terkekeh dan geleng-geleng kepala. "Kau gila, Reymond! Bagaimana bisa kau menyangka dia adiknya Indah?"


"Dia bukan anak kandung Pak Wahyu, dia anak angkat hasil adopsi dari panti asuhan. Dan Bu Susan sendiri yang bilang, begitupun dengan Pak Wahyu," jelas Reymond.


"Lalu?"


"Papah dan dia harus melakukan tes DNA."


"Papah tidak mau!"


"Kenapa? Kenapa tidak mau? Kita pastikan dulu, dia anak Papah atau bukan."


"Reymond, sudahlah. Menurut Papah kau akhiri saja semuanya, kau hanya buang-buang waktu. Lagian Clara itu anak penyakitan, tidak mungkin dia anak Papah!" tegasnya.


"Tidak masalah dengan waktu, Pah. Justru aku sangat penasaran. Papah mau ya ... sekali lagi melakukan tes DNA?" Reymond menatap lekat wajah Mawan dengan penuh harap. "Indah setiap malam tidak pernah bisa tidur nyenyak, Pah. Memangnya Papah tidak kasihan padanya? Bukannya Papah yang bilang padaku untuk selalu turuti ucapan Indah? Kok sekarang malah Papah yang tidak menurutinya, sih?"


"Pintar sekali kamu Reymond, bawa-bawa nama Indah!" Mawan mendengus kesal.


Reymond mendekatkan badannya pada meja dan perlahan mengenggam tangan Mawan. "Kelemahan kita sama, Pah. Hanya Indah. Kalau Indah bahagia, kita ikut bahagia 'kan, Pah?"


Mawan menghela nafas dengan gusar, tapi tumben. Ia tidak terlalu emosional hari ini. Mungkin suasana hatinya sedang baik.


"Yasudah, tapi Papah minta syarat padamu, Reymond. Apa kau bisa menyanggupinya?"


"Syarat apa itu? Jangan berat dan aneh-aneh, Pah."


"Kalau memang Clara benar-benar bukan anak Papah, kau berhenti mencari keberadaan adiknya Indah lagi! Papah bosan mendengar masalah itu."


"Iya, aku janji pada Papah."


"Tapi ada satu syarat lagi."


Reymond menghela nafas dengan berat. "Apa itu?"


"Kalau sebaliknya terbukti dia anak Papah, Papah tidak mau dia tinggal di rumah Papah. Pokoknya Papah melarang Indah tinggal bersama adiknya!"


Kok gitu? Aneh sekali Papah, bisa-bisanya dia memisahkan adik dan kakaknya.


"Apa aku boleh minta alasan Papah?"


"Tidak pakai alasan! Turuti syarat Papah atau Papah tidak mau melakukan tes DNA!" ancamnya.


"Oke baiklah, Pah. Aku akan menurutinya."


Lagian pak Wahyu juga tidak mengizinkan Clara untuk pergi darinya. Menurutku tidak masalah. Nanti aku akan beri pengertian saja pada Indah.


"Yasudah, sekarang kita lakukan tes DNA-nya, Pah. Kita ke rumah sakit."


"Iya." Mawan bangun dari duduk dan mengikuti langkah kaki Reymond yang keluar menuju parkiran.


Sedangkan Dion, ia membawa mobil sendiri. Tapi tetap mengikuti kemana tujuan bosnya.

__ADS_1


Sebelum menyalakan mesin mobil, Reymond merogoh ponsel pada saku jasnya, ingin menelepon Wahyu.


"Halo, Pak Wahyu ada di rumah sakit, kan?"


"Saya ada di rumah, Pak."


"Di rumah? Memangnya Clara sudah pulang?"


"Belum, saya pulang sebentar karena mau mencuci baju. Memang ada apa, ya?"


"Semalam Bapak bilang Clara hari ini bisa melakukan tes DNA. Rencana aku dan Papah akan ke rumah sakit untuk melakukannya."


"Oh yasudah, saya akan menyusul Bapak ke rumah sakit."


"Bareng saja denganku, Pak. Nanti aku ke rumah Bapak."


"Memangnya Bapak tau rumah saya?"


"Tau." Reymond langsung menutup sambungan telepon dan menaruh ponselnya ke tempat semula.


"Kenapa musti bareng sih, Reymond? Papah malas sama Wahyu!" Mawan mendengus kesal.


"Sekalian, Pah. Lagian rumahnya juga dekat dari sini."


Reymond hanya melajukan mobilnya sebentar, tapi ia tidak bisa memarkirkan mobilnya ke depan rumah Wahyu. Karena saat ini ada mobil pick up besar berada didepannya yang berisi beberapa furniture.


Akibat robohnya ranjang, Rio jadi membeli ranjang baru. Ia membeli sekaligus dua ranjang dan dua kasur dengan kualitas super. Sengaja membeli dua karena untuk Wahyu juga. Ada AC sofa, meja dan lemari.


Mawan melihat pemandangan yang ada didepan matanya, sorotan mata itu begitu tajam dengan ekspresi wajah datar.


Banyak duit juga si Wahyu. Padahal hanya jualan bakso dan sekarang anaknya di rumah sakit, tapi dia masih bisa belanja barang-barang.


Apa jangan-jangan uangnya Rio? Ah pasti benar. Pintar sekali dia menggerogoti uang anakku.


Reymond kembali meraih ponselnya untuk mengirimkan pesan pada Wahyu. Selang sepersekian detik, pria tua itu keluar dari rumah dan menghampiri mereka berdua.


"Apa Bapak sudah lama menunggu?" tanya Wahyu saat sudah masuk kedalam mobil.


"Tidak kok, baru saja," sahut Reymond seraya memutar mobil dan menancapkan gas menuju rumah sakit.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Sampainya ke rumah sakit. Reymond, Mawan, Wahyu dan Dion segera melangkahkan kakinya menuju kamar inap Clara. Tetapi langkah mereka terhenti tatkala melihat Irwan tengah duduk di kursi panjang.


Pria berbadan kekar itu lantas bangun dari duduk. "Siang Pak Reymond, Pak Mawan."


"Kau mengantar siapa?" tanya Reymond.


"Nona Indah dan Dek Bayu, Pak."


'Indah? Kenapa dia kesini. Ah bagaimana ini? Aku harus ajak dia keluar selama Papah dan Clara melakukan tes DNA' batin Reymond.


Wahyu langsung masuk kedalam kamar inap anaknya. Sementara itu, Reymond menoleh kearah Dion dan mendekat pada telinganya.


"Dion nanti kau urus semuanya, aku tidak ikut. Aku akan ajak Indah pergi dari sini," lirihnya berbisik.


"Iya, Pak."


Reymond dan Mawan melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam. Terlihat Indah tengah duduk di kursi kecil dengan tangan yang memegang semangkuk bubur. Rupanya ia tengah menyuapi Clara yang sedang duduk menyandar pada sisi tempat tidur. Ada Bayu juga yang ikutan duduk disana sambil memegang mobil-mobilan.


Wanita cantik itu menoleh saat melihat kedatangan Reymond dan Mawan.


"Mas, Papah. Kalian ada disini?"


"Ayah! Opah!"


Reymond tersenyum dan menghampiri wanitanya, ia mencium kening Indah sekilas.


"Iya Sayang, kami mau menjenguk Clara," sahut Reymond.


Mawan langsung mengangkat tubuh Bayu untuk di gendong.


"Kamu sedang menyuapinya?"


"Iya, Pah."


"Memang kemana suster? Kok kamu yang suapi dia?" Mawan seakan tak suka dengan apa yang Indah perbuat.


"Suster ada, tapi aku yang ingin."


'Belum terbukti jadi adiknya saja sudah berlebihan, apalagi beneran adiknya? Ah tidak! Kalaupun dia benar anakku, aku tak mau dia tinggal bersamaku dan bersama Indah. Dia adalah anak haram' batin Mawan.


"Nona Indah, biar saya saja yang menyuapi Clara," ucap Wahyu seraya menadah tangannya, meminta mangkuk yang Indah pegang.


"Tidak apa, Pak. Sebentar lagi juga habis." Indah kembali menyuapi gadis kecil itu sampai buburnya benar-benar habis.


Reymond memandangi wajah Indah dan Clara silih berganti. Ia ingin memastikan sekali lagi dengan ucapan Antoni tempo dulu. Tapi bukan hanya Reymond, Mawan juga melakukan hal yang sama. Memperhatikan keduanya.


"Oya, Sayang. Kakak tadi beli boneka buat kamu, bneka barbie. Tapi laki-laki dan perempuan, kamu suka Barbie, kan?" tanya Indah seraya mengambil papar bag diatas nakas, ia mengambil kotak boneka itu dan memberikan pada Clara.


^^^Kata: 1046^^^

__ADS_1


__ADS_2