
Mata Indah terbelalak, entah apa yang dia pikirkan. Tapi dia langsung duduk di kloset duduk dan mengeluarkan air yang sejak tadi dia tahan.
"Mesum banget kamu Mas, nggak lihat tempat. Ini kan toilet!" Dia mendengkus kesal.
Aku tidak menghiraukan ucapannya, aku hanya fokus mendengar aliran air yang dia keluarkan. Membuatku makin merinding nggak tahan dan menelan saliva.
"Sayang, bukannya kamu sudah janji kita mau tempur malam ini." Aku berkata seperti merengek, dan berdiri tepat di hadapannya.
Indah membersihkan bagian itu dengan air. "Iya Mas, tapi kan bisa nanti saja." Katanya seraya membenarkan celana.
Tanpa aba-aba aku langsung mencegahnya, mendekapnya dari belakang. Celanaku juga aku lepaskan di atas lutut. "Sayang... Kita lakukan sekarang di sini, aku mohon aku sudah tidak tahan."
Belum sempat dia jawab, aku langsung memasukkan milikku dari belakang dan memompanya. "Mas.... Ah... Jangan lakukan." Dia berkata dengan desahan.
Aku mencabutnya, dan langsung mendudukkan bokongku di atas toilet duduk. Mengajaknya duduk di pangkuan ku. "Duduk di sini sayang."
"Mas kau serius mau lakukan di sini?" Wajah Indah begitu tak yakin. Aku langsung melepaskan celana dan kancing kemeja, aku taruh di atas gantungan.
"Ssttt... Cepat sini." Lirihku, aku menarik tangannya, dia pun akhirnya menurut. Perlahan bokongnya ia dudukkan, tak lupa aku juga memasukkan milikku terlebih dahulu.
Blesss...... Sempurna!
"Coba kamu angkat lalu turunkan lagi sayang...." Aku mengajarinya cara bermain di atas, dia begitu polos. Tapi mengikuti gerakan yang aku ajari.
Aku langsung menyusup pada kaosnya dan melepaskan ikatan bra, aku tarik keatas bajunya.
Aku memburu bibirnya, bercumbu dengan lidah saling beradu. Sambil meremas gunung kembar yang begitu kenyal. "Mas.... Aku-aku..." Suaranya sudah makin mendesah.
Aku membantunya beraktivitas dengan cepat, "Lepaskan sayang... Bareng denganku."
Matanya merem melek, aku terus mengisap salah satu gunung itu, dan akhirnya.
"Aarrrggghhhh...." Akhirnya aku keluarkan, bersama dengannya. Nikmat benar-benar nikmat, ternyata bermain di dalam toilet nggak buruk juga.
Setelah selesai dari tugas negara part III aku dan Indah membersihkan diri dan balik lagi ke meja pesenan. Roti sudah ada di meja dengan minuman, sepertinya mereka juga tidak curiga tentang apa yang kita barusan lakukan. Ah syukurlah.
Indah langsung melahapnya dengan bahagia, begitupun denganku. Bahagia telah melahapnya.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Pagi hari.
"Sayang bagaimana kuliah mu lancarkan?" tanya Papah seraya memeluk Indah dengan sangat erat. Dia membuatku begitu iri.
"Lancar kok Pah." Indah mengusap punggung Papah.
"Mah, Pah. Aku dan Indah pulang ya?" ucapku pamit pulang.
"Iya Ren... Kalian hati-hati ya." Tutur Mamah akupun menyalami punggung tangan Mamah dan Papah begitupun dengan Indah.
"Papah semoga cepat sembuh." Ujar ku dan di anggukkan oleh Papah.
Kita berdua berjalan keluar, tapi aku masih memikirkan hal aneh yang semalam. Apa aku coba periksakan Indah ke dokter kandungan?
"Sayang kita periksa dulu ya." Ucapku menuntun tangan Indah menuju tempat pendaftaran.
Indah melihat tulisan Dokter Kandungan di atas. "Mas ngapain kita mau daftar ke dokter kandungan? Aku kan belum hamil." Tuturnya.
"Periksa saja dulu sayang, siapa tau anak kita sudah jadi." Aku tetap kekeh ingin memeriksanya, "Mbak saya mau daftar atas nama Indah Permatasari." Ucapku kepada seorang wanita yang menjaga di depan.
Setelah selesai aku dan Indah duduk menunggu, jantungku sudah sangat berdebar. Semoga saja bibit unggul ku jadi.
Bunyi suara seseorang yang keluar dari ruangan Dokter, wanita itu adalah Siska. Ngapain dia juga di sini? Aku sampai lupa dia juga kan hamil. Tapi masalah kenapa harus di rumah sakit ini! Dan bertemu denganku, mana aku lagi sama Indah.
"Ren... Kamu juga di sini..." Ucapnya dia berjalan perlahan mendekati aku dan Indah. Aku menenggok kearah Indah, matanya sudah ada kobaran api. Jangan sampai Siska berkata yang tidak-tidak. Mana nomor antrian masih lama, dan banyak ibu-ibu hamil, jalan ninja ku lebih baik pulang saja.
Aku segera bangun dan merangkul Indah. "Sayang kita pulang saja..." Tuturku mengajaknya berjalan agak cepat.
"Mas katanya kita mau periksa? Kenapa? Apa kau malu membawaku ke Dokter kandungan gara-gara bertemu dengan Siska?"
Jleb..... Padahal bukan itu maksudku.
"Tidak sayang, aku hanya tidak ingin kamu bertemu dengannya," tuturku, aku takut sekali dia marah.
"Nanti saja kita coba periksakan lagi di lain waktu ya?" aku merayunya dan berjalan menuju parkiran.
"Rendi.... Aku kangen sama kamu Ren." Ucap Siska, aku terkejut ternyata dia sedari tadi mengikuti kita di belakang.
"Diam kau jalang!" Pekik ku tanpa melihatnya, Aku langsung menyuruh Indah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Siska tiba-tiba saja memelukku. "Aku ini sedang hamil Ren... Hamil a...." Sebelum dia meneruskan perkataannya, aku langsung mendorong tubuhnya sekuat tenaga hingga dia terjatuh.
"Aaww...." Dia menjerit kesakitan. "Ren kau begitu kasar padaku, kau jahat!" Dia memegangi perutnya, tapi dia tidak menyadari ada aliran darah di betisnya.
"Aku tidak peduli! Kau!" Aku menunjukkan telunjukku tepat di wajahnya, "Jangan sekali-kali berkata omong kosong padaku. Hubungan kita sudah selesai dan jangan ganggu hidupku." Pekik ku.
"Tapi Ren aku masih sangat mencintai......."
"DIAM!! Kalau kau masih menganggu ku dan juga rumah tanggaku, aku akan lemparkan kau ke penangkaran buaya!" Ancamku.
Aku langsung masuk ke dalam mobil, aku tak mau membuat Indah tambah salah paham. Irwan langsung menancapkan gasnya,
"Mas tadi aku dengar Siska hamil. Dia hamil anak sia...."
Cup..... Aku langsung mencium bibirnya, untuk menghentikan ucapan yang akan menyudutkan ku.
"Mas kau ini aku belum selesai bicara, dia hamil anak siapa? Bukan anak kamu kan?" tanya Indah, tapi bukan pertanyaan dia seperti sudah menuduhku.
"Bukanlah. Masa aku, enak saja."
"Benarkah?"
"Aku kan setia padamu, lagian kamu kayak nggak kenal si jalang aja, dia kan sama pisang mana saja masuk." Ucapku meyakinkan.
"Berarti sama pisang mu juga?" Indah mengerutkan dahi. Oh tidak, apa aku salah bicara tadi.
"Iya saja kalau aku berikan padanya, kan aku hanya berikan padamu sayang. Ini hanya untukmu sungguh." Aku memegangi juniorku dalam celana.
Semoga saja dia percaya padaku, aku mengaku salah di masa lalu. Tapi aku yakin anak yang Siska kandung bukan anakku.
"Sudah jangan di bahas sayang, hari ini kau tidak usah ke kampus dulu ya... Aku juga tidak ke kantor. Kita jalan-jalan saja, oke."
Dia mengangguk semangat dan tersenyum manis, aku langsung mencium pipinya.
Cup.... "Aku mencintaimu sayang."
"Aku juga Mas..." Sahutnya.
"Irwan kita ke jalan Xxxx ya." Perintahku kepada Irwan. Dia pun mengangguk.
__ADS_1