
Di mulut bilang tidak penting, tapi hatinya terasa begitu sesak. Seakan tidak ikhlas melihat Reymond bersama wanita lain.
Rio tersenyum senang melihat sikap Ayahnya yang makin membabi buta membenci Reymond.
Tangan Rio mengenggam lembut tangan Mawan. "Maafkan Rio, Pah. Bukan maksud Rio buat Papah kesal. Rio hanya menunjukkan bukti kalau memang benar, Reymond bukan pria yang baik buat Indah."
Mawan mengangguk. "Kau benar, Papah memang sudah curiga sejak dulu. Dia hanya memanfaatkan anakku!" tangannya mengepal dan menonjok sofa.
Bug......
"Mending Papah nikahkan aku saja dengan Indah secepatnya, bagaimana?" tanya Rio menawarkan diri.
Mawan mengerutkan dahi. "Kalau Indah tetap tidak mau bagaimana?"
"Biarkan saja, Pah."
"Maksudmu, Papah harus paksa dia?" tanya Mawan.
"Mending begini saja, Papah ....," Rio menyusun rencana dengan Ayahnya untuk bisa secepatnya menikahi Indah, terlihat Mawan hanya mengangguk-angguk saja.
...***...
...Kantor Gumelang Group...
Didalam ruangannya, Reymond tengah duduk dan mengerjakan pekerjaan, membuka beberapa dokumen untuk dia tanda tangani. Tapi perasaannya begitu tidak enak, dia terus memikirkan istrinya.
Tangan Reymond meraih ponsel diatas meja untuk menelepon Indah, tapi telepon beberapa kali tidak diangkat. Akhirnya Reymond mengirim pesan padanya.
💬
To: Milikku
09:00 AM
Pagi sayang. Kamu sudah sarapan? Bagaimana kabarmu? Kenapa aku telepon tidak diangkat-angkat? Apa kau baik-baik saja? Oya, bagaimana hasilnya? Apa kau sudah mengecek lagi?
Punggung Reymond sudah kembali menyender di kursi putar, menunggu pesan yang tidak dibalas. Rasanya begitu kesal.
"Kamu kemana sih sayang? Kebiasaan deh. Telepon dan pesanku tidak dianggap," dengkus Reymond.
Dia marah-marah pada telepon genggam miliknya, tapi tiba-tiba suara deringan telepon masuk. Reymond sangat senang, dia mengira istrinya yang menelepon, ternyata Santi.
Reymond menghela nafas dan langsung mengangkatnya, "Halo, Mah. Indah bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja?"
"Tadi pagi dia mual-mual lagi, Rey."
Mata Reymond terbelalak. "Mamah sudah minta dia cek lagi? Indah pasti hamil, Mah."
Reymond begitu sangat yakin. "Sudah Mamah cek, Indah juga sudah mengeceknya. Tapi hasilnya negatif," ucap Santi dengan nada sendu.
__ADS_1
"APA?!" pekik Reymond, sontak dia berdiri.
"Itu tidak mungkin, Mah. Aku dan dia itu subur, Indah pasti hamil. Mungkin alatnya rusak, Mamah antar saja Indah ke Dokter," sergah Reymond.
"Mamah juga berfikir seperti itu, mungkin alatnya rusak. Mamah sudah mengajak dia ke Dokter tapi Indah tidak mau."
"Kenapa?" tanya Reymond.
"Katanya dia bilang, dia tidak hamil. Sepertinya Indah kecewa, dia terlihat begitu sedih Rey."
Reymond menghela nafas gusar. "Tapi aku yakin kok. Indah hamil anakku, Mah. Sekarang dia dimana? Aku ingin bicara padanya."
"Dia sedang makan ditemani Antoni. Sedari tadi dia menanggis, baru bisa tertawa ketika sama Ayah tirinya, Mamah tidak enak mengganggunya, Rey."
"Yasudah tidak apa, Mah. Nanti bilang saja aku rindu, padanya."
"Iya. Oya, kamu lain kali hati-hati jika ingin menjebak Siska. Rio seperti tahu," tutur Santi.
"Tahu? Tahu apa?"
"Tahu kamu semalam merayu Siska, dia mengirim foto pada Papah. Tapi untung Mamah segera menghapusnya."
Perasaan semalam aku sudah cek, tidak ada siapa-siapa di sekitarku. Kenapa Rio bisa memergokiku? Gawat kalau Papah tau! Dia makin membenciku.
Batin Reymond.
"Mamah tidak tau, Rey. Tapi hari ini Rio juga akan menemui Papah. Mungkin dia sudah mengatakan semuanya."
Anak itu sedari dulu tidak pernah melupakan Indah, apa lagi lihat aku sekarang yang jadi orang lain. Kesal sekali aku padanya!
Gerutu Reymond.
"Kau cepat urus si Jalang, Rey. Mamah takut Papah berbuat nekat. Ingin segera menikahkan Indah dengan Rio."
"Iya, Mah. Mamah tenang saja, aku hanya berpesan untuk selalu menjauhkan Rio dari Indah, ya?"
"Iya, yasudah Mamah tutup teleponnya."
***
Sebuah Mall yang cukup besar dan dikerubungi banyak orang, menjadi pusat utama surga para wanita.
Siska berjalan melangkah sambil melihat-lihat barang pada etalase toko, tapi hari ini dia merasa sangat bosan, karena pergi ke Mall tidak ada yang menemani.
Belum ada satupun barang yang ia beli, entah binggung atau apa. Siska memutuskan untuk mampir dulu ke Cafe yang berada didalam Mall.
Siska sudah duduk dan melihat buku menu, tangannya terangkat untuk memanggil pelayan yang tengah berdiri habis mengantar pesanan pada meja di sebelahnya.
"Pelayan!" pekik Siska.
__ADS_1
Pelayan itu datang menghampirinya, "Mau pesan apa, Mbak?"
"Aku pesan. Es kelapa muda satu." Siska sudah memamerkan jari telunjuknya keatas.
"Aku, juga satu. Mbak," ucap seorang pria tiba-tiba.
Entah datangnya darimana, tapi dia sudah duduk di kursi berhadapan dengan Siska. Mata Siska terkejut bercampur kaget.
Pria itu adalah Reymond. Tadi pada saat dia selesai di telepon oleh Ibunya, Reymond diberitahu oleh Hersa kalau Siska pergi ke Mall. Orang suruhannya masih memantau kediaman Haris, Reymond masih terus mengincar Siska sampai dapat dan berhasil dijebak.
"Baik, saya akan segera kembali." Pelayan cafe itu mencatat kedua pesanan dan berlalu pergi.
Reymond tersenyum dan melambaikan tangan pada wanita didepannya, "Hai cantik. Kita ketemu lagi disini."
Siska mengerutkan dahi. "Reymond?! Kenapa kau ada disini? Kau mengikutiku?"
Tangan Reymond meraih punggung tangan Siska diatas meja. Dia mengelusnya, "Mengikutimu bagaimana? Kan kau tahu aku pria kesepian. Memang salah kalau aku ada di Mall?"
Salah satu mata Reymond berkedip, masih berusaha menggodanya. "Ya maksudku, kenapa bisa tiba-tiba ada disini?" tanya Siska malu-malu.
"Aku tadi tidak sengaja melihat kamu sendirian. Awalannya aku hanya ingin menemanimu, tapi kalau kamu tidak mau. Yasudah." Bokongnya sudah dia angkat. "Aku pergi saja kalau begitu."
Reymond sudah melangkah hendak pergi, tapi tiba-tiba lengannya dicegah oleh Siska. "Oh, boleh kok. Aku juga memang lagi sendirian."
Yes! Sabar Rendi. Sebentar lagi, aku bisa menjebaknya.
Batin Reymond.
"Benarkah? Aku tidak mau kalau kau merasa terganggu padaku, cantik," ucap Reymond berakting sedih.
"Tidak. Kau tidak menggangguku, duduklah," pinta Siska seraya menarik lengan Reymond untuk duduk dihadapan-nya.
Tak lama pelayan datang membawa dua gelas es kelapa muda dan menaruhnya diatas meja. Mereka berdua menyedot air es itu secara bersamaan.
"Oya, memang hari ini kau tidak kerja?" tanya Siska.
Reymond menyenderkan punggungnya pada penyangga kursi, tangannya masih sibuk memainkan sedotan dalam gelas.
"Aku bekerja, tapi aku ingin cari hiburan dulu. Capek terus-menerus kerja," jawab Reymond dengan santai.
"Iya, benar juga," timpal Siska sambil tersenyum.
Tubuh Reymond membungkuk dan mendekatkan padanya, "Tentang ajakkanku semalam. Apa kau sama sekali tidak tertarik?" tanya Reymond sedikit memicingkan matanya, menatap wajah Siska.
Deg.....
Mas Haris sedang pergi, dia juga perginya lama, selama seminggu. Apa aku terima ajakkan Reymond saja? Dia sepertinya memang menyukaiku.
Batin Siska.
__ADS_1