Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 76. Papah mau mengajak kamu liburan


__ADS_3

Mawan melepaskan pelukan dan menyeka air mata Indah, dia memegangi kedua pipi mulus itu.


"Sudah jangan menanggis, Papah punya kabar gembira buat kamu, sayang."


Indah langsung menarik senyum, matanya ikut berbinar-binar. "Kabar gembira? Apa itu, Pah?" wajahnya begitu antusias.


"Papah mau mengajak kamu liburan ke Bandung, bagaimana? Kau mau, tidak?"


Indah mengangguk semangat, "Berapa hari dan kapan, Pah?"


"Sekarang kita berangkat, Papah nanti akan sewa Hotel untuk kita menginap. Kalau masalah berapa hari, terserah kamu saja. Maunya sampai kapan."


"Kerjaan Papah bagaimana?" tanya Indah.


"Itu gampang, kamu tidak perlu mikirin itu."


Indah langsung mengangkat bokongnya hendak berjalan meninggalkan Mawan namun dicegah. "Kamu mau kemana?"


"Aku mau mau packing baju aku dan Bayu yang ada disini, Pah."


Mawan ikut berdiri. "Kita pergi berdua saja, Bayu tidak usah diajak."


Deg.....


Indah menatap wajah Ayahnya, "Kok berdua saja? Kenapa Bayu tidak diajak? Papah tega sekali!"


"Bukan seperti itu sayang, Papah hanya ingin menghabiskan waktu berdua denganmu. Apa kau tidak rindu? Kita berdua bahkan sudah lama sekali tidak pergi sama-sama," pinta Mawan.


Papah benar juga, aku juga rindu pergi jalan-jalan berdua dengannya. Sudah lama sekali, terakhir mungkin dulu, sebelum Papah berselingkuh dengan Siska. Aku terima saja tawaran Papah kalau begitu.


Batin Indah.


"Aku dan Papah saja?" tanya Indah memastikan.


"Iya."


"Jadi, Mamah juga tidak diajak dong?"


Mawan terkekeh. "Iyalah. Kan Papah bilang berdua, kamu tidak perlu packing pakaian kamu juga. Papa sudah siapkan semuanya."


"Tapi nanti Bayu sama siapa? Kalau dia menanggis gara-gara ditinggal sama aku bagaimana, Pah?" tanya Indah dengan sendu.


Mawan merangkul bahu Indah dan mengajaknya masuk ke rumah Antoni.


"Tidak, sayang. Begini saja, kita jangan lama-lama liburannya, dua hari atau tiga hari saja," ucap Mawan merayu.

__ADS_1


"Iya, deh."


Mereka berdua menemui Bayu dan Antoni yang tengah bermain mobil-mobilan di atas sofa ruang tamu. Indah duduk berjongkok menghampiri Bayu, dia menciumi pipi kanan dan kiri anaknya.


"Bayu sayang, Bunda sama Opa mau pergi. Bayu tidak apa-apa 'kan ditinggal?" tanya Indah seraya mengusap rambut anaknya.


Mata Bayu menatap wajah Indah. "Bunda mau mana cama Opa Wawan?"


"Bunda sama Opa kerja sayang, paling sebentar. Beberapa hari juga kita pulang," sahut Mawan.


"Iya, api Bayu mau ingal cama Opa Oni dicini, ya?" tanya Bayu.


"Boleh. Tapi nanti kalau Oma Santi jemput kamu pulang. Kamu harus mau ya?" tanya Mawan.


Bayu mengangguk, dia anak yang penurut sekali memang. Indah justru yang tidak rela karena tidak mengajak Bayu liburan, rasanya kasihan melihat anaknya. Indah terus menciumi pipi kanan dan kiri Bayu secara bolak-balik.


"Antoni, kalau Bayu mau menginap semalam disini tidak apa. Tapi nanti kalau Santi menjemput, biarkan Bayu pulang saja," ucap Mawan pada Antoni.


"Iya, Pak."


Setelah selesai dengan Bayu, Indah beralih memeluk tubuh Antoni yang sudah berdiri.


Dia hanya diajak liburan tapi seperti hendak berperang saja.


Antoni membalas pelukan dari anaknya, "Iya sayang, kau tenang saja."


"Papah tidak ingin mengucapkan aku hati-hati di jalan?" tanya Indah dengan nada manja.


Antoni malah terkekeh. "Kamu ini, belum juga berangkat. Iya, deh kamu hati-hati di jalan sayang." Bibirnya mengecup rambut Indah.


Sabar-sabar.


Batin Mawan sambil mengelus dada.


"Pah, kapan-kapan Papah juga ajak aku liburan, ya? Tapi sama Bayu juga," pinta Indah.


"Iya, nanti kalau di kantor tidak sibuk, Papah akan izin dengan Pak Rio. Mengajakmu liburan."


Tak tahan melihat Indah berlama-lama memeluk Antoni. Mawan langsung melepaskan pelukan diantara keduanya.


"Sudah, kita berangkat sekarang," ucap Mawan.


Indah mengangguk, tangannya melambai pada Bayu seiring dia masuk kedalam mobil Mawan.


"Dadah Bunda, Opa," ucap Bayu melambaikan tangan.

__ADS_1


"Dadah sayang," sahut Indah dan Mawan.


Mawan dan Indah duduk di kursi belakang bersebelahan, tadi Indah sempat mengambil tasnya juga didalam kamar dan dia bawa sekarang.


Aku mau telepon Mas Reymond, tapi ada Papah.


Batin Indah, matanya melirik kearah Mawan sekilas.


Mawan ikut melihat padanya, dia memeluk Indah supaya lebih dekat. "Kamu kenapa? Laper?"


"Tidak, Pah."


"Tadi, makan sama apa?"


"Rendang, Rendangnya enak sekali, Pah! Sama persis dengan buatan Mamah. Aku tidak menyangka, Papah Antoni jago masak. Papah Antoni memang hebat! Aku yang wanita saja tidak bisa," jelas Indah dengan sendu.


Mawan mengusap-usap rambut anaknya, "Sudah, tidak perlu dipikirkan. Langsung makan saja lebih enak sayang, tinggal beli. Papah bisa membeli semua yang kamu mau."


"Tapi beda tahu, Pah. Membuat sendiri rasanya lebih spesial."


Kayaknya memang Indah jauh lebih sayang dengan Antoni dari pada aku. Apa yang aku tidak punya dari Antoni? Aku punya segalanya! Ya, walaupun memang dulu aku pernah menyakiti Indah dan Ibunya, tapi sekarang aku sudah berubah. Aku jauh lebih menyayangi Indah ketimbang Antoni, aku juga akan membahagiakan dia.


Batin Mawan.


Semakin lamanya perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, mata Indah menjadi sangat lelah dan sayup. Dia mulai memejamkan mata dan tertidur dalam dekapan Ayahnya.


***


Di sebuah gedung besar dengan satu atap, bukan gedung kosong dan kumuh. Gedung ini adalah tempat pariwisata dan perkumpulan banyaknya buaya.


Sesuai dengan ucapan Rendi dulu. Kalau Siska menganggu rumah tangga dia dan Indah, Rendi akan melemparkannya pada penangkaran buaya. Rendi sudah memboking tempat ini, menyewanya selama satu bulan.


Siska sudah mencelakai dirinya, melukai secara fisik maupun mental. Bukankah itu sama saja menganggu rumah tangga? Karena sejatinya, menganggu rumah tangga bukan hanya masalah merebut cinta saja. merebut kebahagiaan dan ketentraman rumah tangga seseorang juga bisa disebut menganggu rumah tangga, kan?


Ali dan Aldi memasukkan tubuh Siska kedalam gedung itu. Mereka mendudukkan tubuhnya dan menyenderkan Siska pada kursi kecil, tidak lupa mereka kembali melilit tali pada tubuh wanita itu pada kursi, supaya bisa menyatu jadi satu.


Dibelakang Siska sudah ada kolam buaya besar. Sesuai dengan kolamnya, buayanya juga sangat besar dan banyak, tidak terhitung dengan jumlahnya.


Kolam itu mempunyai penghalang tembok yang lumayan tinggi, setinggi dada orang dewasa.


Ada dua bodyguard lagi didepan, selain Ali dan Aldi. Mereka berjaga di pintu masuk dan berkeliling, memantau sekitar. Gedung ini juga sepi, jauh dari pemukiman warga.


Selain para bodyguard, Hersa juga ada didalam sana, dia sudah menyiapkan beberapa pelaratan yang Reymond minta. Hersa meletakkannya diatas meja, sepasang sarung tangan medis, korek api gas, serta pisau dengan ujung lancip dan tajam.


Mereka semua menunggu kedatangan Reymond, terlihat Siska juga belum sadarkan diri dari pingsannya.

__ADS_1


__ADS_2