Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 67. Ayah, maafkan aku


__ADS_3

Rio ingin mendekatinya lagi, melangkah maju. Namun lengannya dipegang oleh polisi. "Anda ikut kami sekarang!" tegasnya.


Rio mengangguk pelan. Santi mengusap-usap punggung Rio sebelum anaknya berlalu pergi bersama polisi dan pria kekar itu.


Ayah, maafkan aku. Tolong jangan tambah rasa benci Ayah padaku.


Batinnya.


Polisi yang satunya mendekati Wahyu, ia mengusap-usap punggung pria yang masih berderai air mata.


"Bapak yang sabar, Pak. Semuanya sudah terjadi. Sekarang kita hanya perlu mendo'akan, semoga putri Bapak selamat," ucap polisi, mencoba menenangkannya.


Santi dan Indah mendekati Wahyu. "Pak Wahyu, atas nama Rio saya minta maaf. Saya sangat malu, Pak. Saya malu karena belum bisa mendidik Rio dengan benar," lirihnya dengan bola mata yang berkaca-kaca.


Indah mengusap-usap punggung Santi dengan lembut.


Wahyu menyeka air matanya dengan cepat, namun kepalanya menunduk. "Itu bukan salah Ibu."


"Lebih baik Bapak ikut saya ke kantor polisi. Biar semuanya jelas, Pak," ajak Pak Polisi.


"Saya tidak usah ikut, Pak. Saya ingin menunggu putri saya saja. Kedua putri saya tidak sadarkan diri," tolaknya pelan.


Kalau Pak Wahyu tidak ke kantor polisi, nanti dia makin membenci Rio dan hanya menduga maksud Rio sebenarnya. Aku tau Rio salah besar dalam hal ini. Tapi dia pasti punya alasan.


Batin Santi.


"Biar saya dan Indah yang menunggu, Pak. Bapak lebih baik ikut saja, supaya lebih jelas dan tau semuanya. Bapak juga boleh melakukan apapun terhadap Rio disana nanti, tapi yang penting, jangan sampai membunuhnya," terang Santi dengan nada lembut.


"Tidak perlu, Bu. Terima kasih, saya ingin disini saja. Silahkan Ibu, Pak Polisi dan Nona Indah tinggalkan saya," usirnya.


Indah menatap lekat wajah Santi, ia seperti mencemaskan sesuatu. Karena merasa tak tega, Indah langsung mendudukkan bokongnya disebelah Wahyu. Tangannya perlahan menggenggamnya dengan hangat, mencoba membujuknya.


"Pak Wahyu, aku tau ini sangat berat untuk Bapak. Tapi aku yakin ... semuanya akan bisa terlewati. Wulan adalah wanita yang kuat, Pak. Sama halnya dengan Clara. Aku akan menunggu mereka disini dengan Mamah." Wahyu menoleh kearah Indah dan menarik senyuman tipis.

__ADS_1


Indah membalasnya dengan senyuman manis. "Mereka akan baik-baik saja. Bapak harus ikut ke kantor polisi dan mendengarkan penjelasan dari Rio, supaya Bapak tidak salah paham padanya." Ia hendak menyeka air mata yang baru mengalir pada pipi Wahyu, namun pria itu langsung mencegah dan menyeka air matanya sendiri.


"Yasudah, saya ikut dengan Pak Polisi, terima kasih Nona." Wahyu melihat kearah Santi. "Terima kasih, Bu. Kalian sudah mau menjaga Wulan dan Clara."


"Sama-sama," sahut Indah dan Santi sambil melemparkan senyuman.


***


Sampainya di kantor polisi, mereka semua masuk kedalam Ruang Keluhan. Dua pria berbadan kekar dan dua pria memakai topi sudah berdiri dengan tangan yang di borgol. Mereka ditemani dua polisi pada samping kanan dan kiri.


Sedangkan Wahyu duduk bersebelahan dengan polisi, didepan mereka sudah ada Rio dan Harun. Rio sudah mengganti pakaian dan membersihkan dirinya, supaya tidak ada bau amis darah.


Sebelum datang kesini, Rio sudah menceritakan semuanya pada Harun.


"Baik, sekarang coba jelaskan saudara Rio. Kenapa Anda membuat poster orang hilang? Wulan Priyanka adalah anak dari Pak Wahyu dan dia juga tidak hilang," jelas polisi seraya menyodorkan poster kearah Rio didepan.


Rio menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Dia memang tidak hilang, Pak. Tapi dia pergi meninggalkanku. Wulan adalah istriku. Ya ... mungkin ini juga salahku, salahku telah menyakiti hatinya." Rio menatap sendu kearah Wahyu yang memilih tidak menatapnya.


"Lalu kenapa Anda membuat poster info orang hilang dan memberikan imbalan 40 juta? Itu nominal yang sangat besar," balas Pak Polisi.


"Tapi Anda sudah mencoba menghubunginya? Menghubungi Pak Wahyu atau Wulan istri, Anda?"


Rio mengangguk cepat. "Aku selalu bertanya pada Wulan, menelepon dan mengirimkan pesan padanya. Tapi aku tak mendapatkan jawaban, Pak. Wulan mengabaikanku."


"Anda tidak menghubungi Pak Wahyu?" tanya Pak Polisi lagi.


"Saya menghubungi, tapi nomornya selalu tidak aktif."


Polisi itu menoleh kearah Wahyu. "Kenapa nomor Bapak tidak aktif?"


"Nomor mana yang kamu punya, Rio?" tanya Wahyu, kini matanya baru melihat kearah Rio.


Rio mengambil ponselnya pada kantong celana, dan memperlihatkan nomor Wahyu yang ia simpan.

__ADS_1


"Ini."


"Itu nomor lama Ayah, Rio. Ayah sudah lama mengganti kartu karena ponsel Ayah hilang," terang Wahyu.


"Apa selama Wulan tinggal dengan Ayah ... Ayah sama sekali tidak bertanya tentangku?" tanya Rio menatap mata Wahyu dengan lekat.


"Ayah selalu bertanya padanya, Wulan hanya bilang sedang berantem denganmu dan meminta tinggal bersama Ayah untuk memenangkan diri."


"Apa Ayah juga tanya pada Wulan, apakah aku tau Ayah pindah rumah, atau tidak?"


"Iya, Ayah tidak bilang padanya untuk memberitahumu kami pindah. Ayah pikir dia sudah memberitahumu. Dan nyata Ayah salah, justru dia mengabaikanmu."


"Lalu keempat orang itu siapa Anda saudara Rio?" tanya Pak Polisi seraya menunjuk pria yang tengah berdiri dibelakang.


Rio memutar badan, kearah mereka. "Dua orang yang berbadan kekar itu anak buah saya, Pak. Dia yang menyebarkan poster dan menghubungi saya jika sudah bertemu dengan Wulan." Rio menunjuk pria yang dimaksud.


"Lalu yang memakai topi itu siapa?" lanjut Pak Polisi lagi.


"Dua orang itu mungkin yang menemukan Wulan," terka Rio.


"Iya, Pak. Saya bertemu dengan Mbak Wulan didalam angkot. Saya dan teman saya tergiur dengan uang 40 juta, mangkanya kita menangkap Mbak Wulan," terang pria bertopi.


"Tapi sayangnya saat saya menangkap Mbak Wulan, dia justru melarikan diri, setelah tau ada anak buah Pak Rio datang. Mungkin dia lari karena ketakutan," tambahnya lagi.


"Maaf, saya ingin ikut bicara," ucap Harun tiba-tiba.


"Silahkan, Pak," ucap Pak Polisi.


"Saat Nona Wulan berlari, tidak sengaja Pak Rio menabraknya. Pak Rio ini datang ke lokasi karena sudah diberitahu oleh anak buahnya. Tapi dia tidak tau kalau akhirnya Nona Wulan melarikan diri. Tapi tidak ada sedikitpun keniatan Pak Rio untuk mencelakai Nona Wulan," terang Harun.


"Saya ingatkan sekali lagi, kalau Nona Wulan adalah istrinya. Pak Rio juga sedang mencarinya, masa istri sudah ketemu dia celakai?! Itu tidak mungkin, Pak. Semuanya murni karena kecelakaan. Tidak ada maksud dari sebuah kejahatan. Mungkin memang caranya yang salah. Tapi saya harap, Bapak dan Pak Wahyu memaklumi, karena Pak Rio begitu stres mencari Nona Wulan yang tak kunjung ketemu," tambah Harun.


"Betul Pak ... Ayah, aku tidak mungkin mencelakai Wulan, Ayah juga tau aku ingin mengajaknya pulang ke rumah. Jadi tidak mungkin aku melakukan perbuatan itu," jelas Rio. Tangannya perlahan menyentuh punggung tangan sang mertua. "Mungkin kata maaf saja tidak bisa mengobati rasa luka di hati Ayah. Jujur, aku juga sangat menyesal. Apalagi setelah tau kalau Wulan hamil. Tapi aku sendiri yang justru membunuh anakku. Hatiku juga sangat sakit, Yah."

__ADS_1


"Ayah bisa menghukumku apa saja, aku akan menerimanya. Tapi aku mohon jangan memintaku untuk bercerai dengan putri, Ayah. Aku ingin bersamanya," pinta Rio dengan tatapan tulus.


^^^Kata: 1102^^^


__ADS_2