
Belum sempat Dokter itu melanjutkan omongannya, Mawan sudah menghampiri sambil mencengkram lehernya, "DOKTER! SAYA BILANG PASANG YA PASANG!! JANGAN SAMPAI NYAWA DOKTER IKUT MELAYANG!!" Pekik Mawan dengan tatapan nyalang.
"Oke, oke," bibir Dokter itu seakan bergetar melihat tatapan dari Mawan, wajahnya terlihat begitu menyeramkan.
Bagi Dokter permintaan anak dan ayah itu terdengar sangat konyol, jelas sekali dia yang tadi menanggani Sarah dengan nyawa yang sudah tidak tertolong. Tapi dia tetap menuruti kemauan mereka.
Dia kembali memasang ventilator dan menyambungkan bedside monitor.
Dokter itu kembali memeriksa semua organ pernapasan dan jantung. Matanya membulat sempurna, entah ada keajaiban apa semuanya kembali berfungsi walau terlihat begitu lemah.
"Bagaimana Dokter?" tanya Mawan.
"Wah ... Alhamdulilah Pak, ini sungguh keajaiban. Bu Sarah hidup kembali, namun jantungnya begitu lemah."
"Papah benarkan kata Indah, Mamah tidak mungkin meninggalkan kita," ucap Indah dengan mata yang berbinar-binar, dia begitu sangat yakin kalau ibunya tidak akan meninggalkan dia secepat ini.
Santi memeluk tubuh Indah. "Iya sayang, kau benar."
"Bapak dan Ibu silahkan tunggu di luar. Saya akan periksa lagi keadaan Bu Sarah," ucap Dokter.
Mereka berempat keluar dari ruang UGD, hati dan pikiran Indah begitu merasa tenang. Mereka semua kembali duduk dan menunggu di kursi panjang di depan UGD.
Antoni berdiri menghampiri Indah yang sudah duduk sambil memangku Bayu, "Indah sayang ... Bagaimana keadaan Mamah?"
"Papah ... Mamah baik-baik saja, kita hanya menunggu dia sadar," sahut Indah seraya tersenyum bahagia.
"Syukurlah," Antoni mengelus dada dan menghela nafas lega.
Antoni mencium kening anak sambung dan cucunya itu, "Kamu bagaimana? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Antoni. Matanya terbelalak melihat leher Indah begitu banyak tanda merah.
"Siapa yang menculik mu sayang? Apa dia melecehkan mu, apa lehermu sakit?"
"Diam kau Antoni! Kau tidak berhak bertanya apapun tentang Indah, dia begini gara-gara kau bodoh!" Pekik Mawan marah-marah, dia juga duduk tepat di sebelah Indah.
Indah meraih tangan Antoni, "Papah ... Indah tidak apa-apa," dia memegangi lehernya. "Ini tidak sakit, ini bukti cinta," ucap Indah.
__ADS_1
Mawan menarik lengan Indah supaya Indah melihat kearahnya, "Hei apa yang kamu katakan? Dia pria mesum yang sudah melecehkan mu. Tapi kau masih bilang itu bukti cinta?" dahi Mawan begitu berkerut, dia benar-benar tak habis pikir dengan ucapan anaknya itu.
"Papah sudah hentikan. Jangan marahi Indah," sahut Santi memegang lengan Mawan.
"Indah sayang ... Mamah boleh bicara sebentar dengan kamu?" tanya Santi dengan lemah lembut.
Indah mengangguk. "Boleh Mah."
Santi mengajak Indah mengobrol di sebuah kantin rumah sakit, hanya berdua. Karena tadi Bayu ingin bersama para kakeknya.
Mereka memesan minuman terlebih dahulu baru memulai percakapan, Santi sudah melihat wajah Indah. Indah seperti sedang jatuh cinta, pipinya bersemu merah dan tampak terlihat bahagia. Tapi bercak di lehernya membuat pasang mata yang melihat menjadi curiga dan salah paham, salah satunya adalah dirinya.
Santi mengulurkan tangannya meraih tangan Indah di atas meja. "Indah sayang ... Eemm, Mamah boleh tanya sama kamu?" Indah mengangguk.
"Kamu semalam di culik siapa? Apa kamu tahu penculiknya?"
"Dia Pak Rizky dan Mas Reymond."
Mata Santi terbelalak. "APA?! Bedebah sialan itu?! Lalu siapa yang lakukan ini padamu?" Santi bangun dan menghampiri Indah, dia mengelus rambutnya. "Kamu di apakan sama mereka, lehermu karena ulah seorang pria kan? Siapa dia? Rizky atau Reymond?"
"Mah..." Indah memegangi lengan Santi.
"Apa?! Omong kosong apa yang kamu katakan sayang?" Santi begitu tak menyangka dengan apa yang Indah katakan, dia memegangi dahi Indah. Mengecek apa dahinya terasa panas atau tidak, tapi sepertinya Indah baik-baik saja.
"Sayang apa semalam kau terbentur? Kepalamu ada yang sakit?"
"Tidak Mah, aku baik-baik saja. Sangat baik malah," sahut Indah sambil tersenyum.
"Lalu maksud omongan mu apa? Sejak kapan kamu pacaran dengan dia? Kenapa Mamah tidak di beritahu? Lagian dia bukan pria yang baik sayang. Dia pernah menculik Bayu dan sekarang menculik kalian berdua, apa kamu tidak curiga padanya?"
Aku ingin bilang Reymond adalah Mas Rendi, tapi Mamah nanti tidak akan percaya padaku. Maafkan aku Mah.
Batin Indah.
"Indah, pasti Reymond semalam memberikanmu obat yang mengandung pencuci otak. Kamu ikut Mamah periksa ke Dokter ya, kondisimu sepertinya kurang baik," Santi menarik tangan Indah untuk bangun.
__ADS_1
"Mamah ... Aku kan bilang nggak kenapa-kenapa, Mas Reymond tidak memberikan ku apa-apa. Aku mencintainya Mah."
"Indah ..." Panggil Mawan yang baru datang menghampiri mereka berdua sambil menggendong Bayu, Bayu langsung di gendong oleh Santi.
"Papah pergi ke kantor dulu ya, kamu mau pulang atau gimana? Papah sudah telepon Irwan untuk menjemputmu."
"Tidak Pah, aku mau di sini nungguin Mamah Sarah sadar," sahut Indah.
Santi memegang tangan Mawan. "Iya Pah, Indah biar sama Mamah di sini nungguin Bu Sarah."
Mawan mengangguk, dia memeluk tubuh Indah. "Apa badanmu ada yang sakit? Perlu di periksa?" tanya Mawan.
Nggak Mamah, nggak Papah. Mereka terus menyuruhku periksa. Orang aku tidak sakit apa-apa.
Oh iya, aku baru ingat Mas Rendi di bawa ke kantor polisi dengan Pak Rizky, apa Papah jadi memenjarakan mereka?
Batin Indah.
"Papah apa Mas Reymond dan Pak Rizky Papah penjarakan?" tanya Indah.
"Hei sejak kapan kamu panggil pria mesum itu dengan panggilan 'Mas? Itu tidak pantas Indah, Papah geli mendengarnya," ucap Mawan sambil merinding.
"Papah ... Aku mencintainya Pah, Papah tidak memenjarakan mereka kan?" tanya Indah makin penasaran.
"Jelas Papah memenjarakan mereka. Mereka sudah terbukti bersalah."
"Tapi Pah ... Aku rasa itu tidak perlu, lagian aku..."
"Sudah! Papah ingin pergi ke kantor ada meeting penting. Kamu dan Mamah di sini, kalau capek pulang dan istirahatlah," ucap Mawan seraya mencium kening Indah, dia begitu tak suka dengan apa yang Indah bicarakan, apa lagi mengenai Reymond.
"Tapi Pah, Mas Reymond di bawa ke kantor polisi mana? Aku..."
"Mas Reymond ... Mas Reymond, berhenti mengatakan nama itu lagi! Papah tidak suka!" Pekik Mawan berlalu pergi meninggalkan mereka.
Wajah Indah seketika menjadi murung dan tidak bergairah, mereka kembali berjalan menuju depan ruangan UGD. Antoni dan Vinno juga pamit ingin pergi ke kantor.
__ADS_1
Alhasil hanya ada Indah, Santi dan juga Bayu yang menunggu Sarah. Tapi tak lama Irwan datang untuk menjaga Indah, takut sewaktu-waktu Indah membutuhkan sesuatu.
Hati Indah terus saja memikirkan Rendi di kantor polisi, dia ingin ke sana membebaskan Rendi. Tapi dia tidak tahu Rendi di bawa ke kantor polisi mana.