Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 185. Mengajak Clara


__ADS_3

...(POV Author)...


Melihat sidang sudah berakhir, segera Indah bangun dari duduknya dan berlari menghampiri Mawan, memeluk pundaknya dari belakang, mencium rambutnya.


"Papah ... apa Papah baik-baik saja?" tanya Indah dengan hangat.


Mawan menoleh dan menyentuh lengan anaknya yang baru saja terlepas dari pundaknya, ia menatap wajah Indah sambil tersenyum getir. Kedua pipi Indah sudah basah lantaran air mata. Mungkin hanya dirinya yang mengerti perasaan Mawan saat ini, ikut merasakan sedih yang Mawan alami.


"Maafkan Papahmu ini Sayang ... Papah selama ini tidak pernah menghargai orang-orang yang Papah sayangi sampai akhirnya mereka satu persatu menjauh dan meninggalkan Papah." Bukannya menjawab pertanyaan Indah, Mawan justru mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya. "Tapi Papah senang, karena masih ada kamu di sisi Papah, kamu satu-satunya orang yang Papah miliki di dunia."


"Papah juga sangat bersyukur, sifat jelek Papah tidak menurun padamu. Kamu selalu memaafkan kesalahan Papah, meskipun Papah sering sekali menyakitimu," tambah Mawan lagi.


Indah kembali memeluk Mawan. "Papah, aku sayang Papah, sayang sekali. Papah bukan hanya punya aku, tapi Clara ... Bayu dan juga Caca, kita sayang Papah."


Clara. Oh, benar. Aku sampai melupakan anak keduaku. Aku bahkan sama sekali tidak menyukainya, aku benar-benar orang tua yang tidak berguna' batin Mawan.


"Sayang ... apa boleh Papah minta Clara dan kamu ke rumah sakit? Papah ingin minta maaf padanya." Mawan mengangkat tangannya, demi menyentuh rambut Indah, mengelusnya perlahan.


"Kita ke rumah Rio saja, aku juga akan ke sana."


"Tidak boleh, aku tidak mengizinkannya." Rio yang sudah berada di samping Santi bersama Reymond langsung menyahuti Indah, mereka bertiga berdiri agak berjarak dengan mereka.


Setelah pelukan Indah terlepas dengan Mawan,


Indah langsung menoleh pada Rio, tapi hanya Indah saja, Mawan tidak. Ia seakan tak berani menatap wajah Rio. Sudah terbayang akan wajah emosi dari pria tampan itu.


"Kenapa tidak boleh? Clara 'kan anak Papah dan dia adikku."


"Dia saja tidak mengakui kalau itu adalah anaknya, bagaimana bisa kamu mengatakan Clara adalah anaknya?" tanya Rio dengan angkuhnya.

__ADS_1


"Tapi Rio, dia--"


"Sayang ...," sela Reymond seraya menghampiri Indah. Ia tak mau jika Indah dan Rio beradu mulut, apalagi ia sempat melihat wajah Rio yang sudah mulai emosi.


Reymond mendekatkan bibirnya pada telinga kiri Indah seraya berbisik. "Kamu bisa ikut bersama Papah dan Jojo ke rumah sakit, nanti aku menyusul bersama Bayu, Clara dan Caca. Bagaimana?" ia menyeka air mata istrinya dan mencium kedua pipinya, merayu supaya Indah menurut.


"Lebih baik kita ke rumah sakit saja, Indah. Papah tidak kuat lama-lama berada di sini." Suara Mawan terdengar begitu lirih, ia juga menundukkan kepalanya.


"Ya sudah, Mas. Aku ke rumah sakit dengan Papah dan Om Jojo." Indah menagngguki ucapan dari Reymond. Ia langsung membelokkan kursi roda yang Mawan taiki. Mendorongnya hingga meninggalkan gedung pengadilan bersama Jojo dan Arif yang ikut membuntut di belakangnya.


Setelah kepergian mereka, Reymond, Rio dan Santi menaiki mobil. Reymond yang menyetir dan Santi di sampingnya, sedangkan Rio duduk di belakang.


Reymond sesekali menoleh pada Santi, ia melihat sang mamah sedari tadi diam saja dan sikapnya begitu tenang. Perlahan Reymond mengulurkan lengannya, mendaratkan tangannya pada punggung tangan Santi.


"Mamah kenapa diam saja?"


Santi menoleh dan tersenyum menatap wajah Reymond. "Mamah tidak apa-apa kok."


"Kenapa Kakak bicara seperti itu? Jelas Mamah yakin, Mamah 'kan punya pendirian." Rio menyahut dari belakang, seakan tak terima dengan pertanyaan sang kakak.


"Aku bukan tanya kau! Aku tanya Mamah!" tegas Reymond seraya menatap kaca depan mobilnya yang mampu melihat wajah Rio dari belakang.


"Mamah yakin kok, Rey. Mamah sudah memikirkannya matang-matang," jawab Santi.


"Oh ya sudah, aku akan mendukung Mamah. Semoga keputusan yang Mamah ambil adalah yang terbaik ya, Mah?"


"Amin, Rey."


*

__ADS_1


Setelah mengantarkan Rio dan Santi ke rumah Rio, Reymond pergi ke rumahnya sendiri untuk mengajak Caca, Bayu dan Susi sang baby sitter. Ia juga meminta Irwan untuk menyetir. Namun sebelum pergi ke rumah sakit, mereka ke rumah Wahyu dulu untuk mengajak Clara.


Dan kebetulan sekali, saat Reymond baru turun dari mobilnya yang terparkir di depan rumah Wahyu___ia melihat Wahyu dan Clara baru saja keluar rumah.


"Pak Reymond, kok Bapak ada di sini?" tanya Wahyu saat melihat Reymond datang menghampiri.


"Pak Wahyu, boleh saya izin membawa Clara ke rumah sakit?" tanya Reymond seraya mengelus pucuk rambut Clara, saat gadis kecil itu selesai mencium punggung tangannya.


"Rumah sakit? Memang siapa yang sakit?"


"Papah Mawan, Pak. Dia juga meminta ingin bertemu Clara."


Mendengar nama yang baru saja Reymond sebutkan, Clara langsung berlari ke belakang tubuh Wahyu, memeluknya dari belakang.


"Ayah, aku tidak mau bertemu orang itu." Clara menggeleng cepat dengan wajah takut. Meskipun ia jarang ketemu atau mungkin bisa dikatakan sudah lama tak bertemu, tapi tetap saja___ia merasa ketakutan saat berhadapan langsung dengan Mawan. Baginya Mawan hanya orang yang jahat dan suka marah-marah, ia memang tidak pernah kuat mendengar seseorang yang selalu mengatakan dengan nada tinggi.


Maklum saja, selama Wahyu merawatnya bersama Wulan hingga di umurnya yang sekarang, ia sama sekali tak pernah mendengar Wahyu bicara dengan nada tinggi. Meski Wahyu sedang marah sekalipun.


"Boleh ya, Pak. Aku ajak Clara, hanya sebentar saja dan tidak akan menginap," mohon Reymond.


"Aku tidak mau ketemu orang itu, Kak," tolak Clara.


"Kaka Lala!" Bayu berteriak pada jendela mobil yang baru saja turun, ia berdiri di kursi mobil supaya mampu melihat orang yang berada di luar.


Mendengar suara Bayu, Reymond segera menghampiri putranya untuk ia gendong. Kemudian, balik lagi menghampiri Wahyu dan Clara yang masih berdiri diposisi yang sama.


"Kita ke rumah sakit bersama Bayu dan Dede Caca, masa kamu tidak ikut?" Reymond menatap wajah Clara.


Wahyu menurunkan pandangannya tepat pada Clara yang tengah memeluknya dari belakang, ia mengelus rambut panjang putrinya. "Kamu ikut Kak Reymond sebentar, dan mulai sekarang panggil Pak Mawan Papah. Dia juga Papah kamu, Sayang. Sama seperti Ayah."

__ADS_1


Jangan lupa like 💕


TBC


__ADS_2