
Pria itu adalah Dosen dari kampus anaknya, dia bercerita kalau anaknya sudah sebulan tidak masuk kuliah tanpa alasan. Jadi, dari pihak kampus terpaksa mengeluarkannya.
Andra sangat geram. Pasalnya dia hanya punya anak satu-satunya, tapi anaknya ini hanya bisa membuang-buang uang. Sudah masalah keuangan di kantornya berantakan sekarang anaknya, lengkap sudah masalahnya. ππ
πππ
Sore harinya, ayah dan ibu Rendi datang dan masuk ke ruangan VVIP. Terlihat tangan Rendi yang sedang di infus, Rendi duduk sambil memegang mangkuk berisi bubur, yang baru saja suster antarkan.
"Ren kamu kenapa? Apa anak tampan Mamah ini baik-baik saja?" tanya ibunya yang datang langsung memeluk Rendi.
"Rendi tidak apa-apa Mah, Mamah kok tau Rendi di sini?" tanya Rendi yang heran melihat ibu dan ayahnya tiba-tiba datang.
"Iya Mamah di beritahu Rio. Kenapa kau sampai ke Karawang? Ada keperluan apa?"
"Ah... Itu..."
Apa aku harus kasih tau Mamah? Tapi nanti Mamah pasti bakal marahin Rio.
Batin Rendi.
"Mas...." Kata Indah yang baru saja masuk, dia baru sadar kalau mertuanya juga ada di sana
"Lho ada Indah di sini juga? Mamah kira Rendi di sini karena ada kerjaan." Kata Santi dan kemudian menghampiri Indah lalu merangkulnya.
"Mah sebenernya, kita di sini gara-gara..."
"Ingin bulan madu." Sahut Rendi menyela perkataan Indah.
"Wah serius kamu Ren? Tapi kenapa harus di Karawang, tidak di Bali atau ke luar negeri gitu." Jawab Mawan memberikan referensi.
Kenapa Mas Rendi berbohong?
Batin Indah sambil memandangi wajah Rendi.
"Ah itu sudah biasa kan Pah. Rendi ingin mencari suasana baru." Kata Rendi sambil mengusap tengkuknya.
"Terus kenapa kamu bisa masuk rumah sakit?" tanya Santi sambil melihat dan memegangi tubuh Rendi yang memang tidak ada luka apapun.
"Kata Dokter Mas Rendi kelelahan Mah, untuk sementara di rawat dulu di sini." Jawab Indah berkata jujur.
__ADS_1
"Wow... Sepertinya kita sebentar lagi akan punya cucu Pah." Antusias Santi sambil menyenggol lengan suaminya untuk menggoda Rendi, "Tapi tetap saja kamu ini malu-maluin. Masa kamu bisa selemah ini dan masuk rumah sakit, memangnya tidak pakai persiapan dulu?" tanyanya.
"Iya Ren... Kalau ingin beberapa ronde harusnya kamu minum obat kuat dulu, kenapa kamu nggak nanya Papah juga. Kan nanti Papah bisa rekomendasi obat kuat yang topcer." Timpal Mawan sambil terkekeh.
Sepertinya aku salah kasih alasan, jadi salah paham begini deh.
Batin Rendi sambil mengepak jidatnya, entah kenapa omongan orang tuanya menjerumus ke hal-hal yang berbau intim. Sedangkan dia sendiri belum merasakan hangatnya malam pertama bersama istrinya.
"Lalu kamu dan Indah sampai kapan di sini Ren?" tanya Santi.
"Ah mungkin kita pulang kalau Rendi sudah keluar dari rumah sakit Mah." Sahut Rendi.
Ibu dan ayah Rendi saling memandang satu sama lain dan mengedipkan kedua matanya memberikan isyarat. "Ya sudah Mamah dan Papah pergi dulu sebentar ya,"
"Mau kemana Mah?" tanya Rendi.
"Ada yang mau Mamah beli. Sayang Indah jagain Rendi dulu ya." Ucap Santi mengelus rambut menantunya.
"Iya Mah." Sahut Indah sambil tersenyum, ayah dan ibu mertuanya berlalu pergi.
"Mas bagaimana dengan kepalamu apa masih sakit?" tanya Indah yang kini duduk di kursi kecil sebelah Rendi.
"Tidak Ndah. Oya dimana Rio?" tanya Rendi sambil melihat sekeliling, karena sejak tadi dia tidak melihat kehadiran adiknya.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Rendi.
"Sudah Mas."
"Indah duduk sini." Kata Rendi sambil menepuk kasur di sebelah tempat ia duduki.
"Aku di sini saja Mas." Kata Indah menolak.
Rendi mencoba meraih tangan Indah namun terlihat kesusahan, "Ya sudah aku duduk di situ." Ucap Indah yang langsung naik ke tempat tidur Rendi.
Mereka kini sangat dekat, Rendi memeluk Indah dari belakang dan mengenggam tangannya, "Indah. Jadi keputusanmu adalah memilihku?" Lirih Rendi. Indah menjawab dengan anggukkan kepala
"Terima kasih." Katanya, jari tangan Rendi menyelipkan rambut Indah ke telinganya kemudian mengecup pipinya.
CUP.....
__ADS_1
"Aku mencintaimu Ndah." Bisik nya di telinga Indah.
Deg....
Deg....
Deg...
Debaran jantung yang selalu saja datang ketika mereka saling mendekat.
Apa aku tidak salah dengar?
Indah hanya diam dan terkesima dengan apa yang Rendi ucapkan.
"Kamu tidak percaya padaku?" tanya Rendi sambil menggeser wajah Indah supaya bisa saling memandangi, dari bola matanya terlihat tulus. Apa benar Rendi mencintai Indah?
"Apa kamu....."
Cup... Langsung saja Rendi mencium bibirnya tanpa basa-basi. "Aku mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu." Ucapnya lagi.
Ini seperti kalimat pernyataan cinta.
Cup... Rendi melanjutkan ciumannya, Rendi membuka bibirnya dan langsung mengisap bibir manis Indah. Dia mencari-cari lidah Indah dan memainkannya, Saliva mereka saling menyatu dan sepertinya kali ini Indah sangat menikmati permainan yang Rendi lakukan.
Kepala Rendi kini turun di leher Indah, dan langsung menjilat dan mengecupnya dengan mesra dan gigitan nakalnya membuat bercak merah yang tertinggal.
"Aaahhhhh." Desis Indah, kini tangan Rendi menyusup masuk kedalam dress yang Indah kenakan. Meskipun salah satu tangannya masih menempel jarum infusan. Tapi tidak menghalangi langkah Rendi untuk menyentuh buah dada kenyal milik istri perawannya itu.
Rendi meremas lembut buah dada Indah, yang masih berlapis bra. "Aaahhhhh.... Mas, geli....." Desahnya sambil menggeliat. Rendi tersenyum kecil dan melepaskan aktivitasnya, dia langsung menurunkan kakinya ke bawah dan berjalan sambil mendorong alat infusan.
"Mas kamu mau kemana?" tanya Indah yang kebingungan, kenapa di saat Indah mulai bergairah justru Rendi pergi?
"Kamu tunggu di situ dulu dan minum air putih di meja. Supaya nanti tidak kehausan." Ujar Rendi seraya membuka pintu.
Kok tiba-tiba Mas Rendi menyuruhku minum. Kenapa?
Batin Indah yang keheranan, tapi dia tidak ambil pusing dan menuangkan air kedalam gelas lalu meminumnya, karena memang ciuman membuatnya cepat haus.
Terlihat Harun sedang duduk sembari memainkan ponselnya di depan kamar VVIP. Rendi melambaikan tangannya ke arah pengacara pribadinya itu supaya dia menghampiri dirinya, Rendi membisikkan sesuatu dan langsung di anggukan kepada Harun. Harun berlari kecil meninggalkan Rendi dan tidak menunggu lama dia menghampiri Rendi kembali sambil menyerahkan salep pereda nyeri dan plester.
__ADS_1
...πΎπΎπΎπΎπΎ...
Yuk dukung Author dengan cara like, komen, vote dan gift. Terimakasih sudah membaca β€οΈ