Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 3) 172. Geli, lucu, aneh


__ADS_3

Ceklek~


Mengetahui dokter keluar dari ruangan bersalin itu, Wahyu dan Santi segera bangun dari duduknya. Mereka menghampiri dokter wanita tersebut.


"Bagaimana Wulan, Dokter?" tanya Santi.


"Di mana Pak Rio, Bu?" Dokter itu malah berbalik tanya, ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Rio. Namun tidak melihat batang hidungnya.


"Memang kenapa Dokter? Ada yang serius? Saya Ayahnya Wulan." Wahyu menyentuh dadanya sendiri.


"Tidak kok, Pak. Mbak Wulan baik-baik saja. Hanya kondisinya sangat lemah, harus banyak istirahat pasca melahirkan. Tadi saya sudah menjahit bagian intimnya yang robek, sekarang hanya tunggu pemulihan saja. Nanti saya akan beri vitamin." Dokter itu melihat ke arah Santi. "Ibu ini, Ibunya Mbak Wulan?"


"Saya mertuanya, Dok," jawab Santi.


"Oh, nanti Ibu bisa mengajarkannya cara menyusui bayi. Dan bisa dicampur susu formula. Karena takutnya dari ASI saja, mereka tidak cukup," papar Dokter.


"Baik, Dok." Santi mengangguk.


"Bilang pada suaminya juga, jangan ajak dia bercinta dulu." Dokter tau betul seperti apa Rio ini, jadi tidak ada salahnya untuk memberitahu pada pihak keluarga. Takut Rio khilaf.


"Ah." Santi terkekeh. "Dia pasti mengerti Dokter, Dokter tenang saja."


"Bagus itu. Oya, sekarang Mbak Wulan dan kedua anaknya akan di pindahkan ke kamar VVIP nomor 198. Ibu dan Bapak, juga suaminya bisa ikut ke sana."


"Baik, Dok."


Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Santi segera menemui Rio ke kamar inap. Ia melihat Rio tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, wajahnya begitu cemberut.


"Rio, ayok ikut Mamah. Wulan dan si Kembar sudah dipindahkan ke kamar inap," ajak Santi seraya menarik lengan Rio.


Wajah cemberut Rio seketika berubah menjadi berseri. Ia mengangguk dan pergi bersama Santi menuju ruangan itu.


Ceklek~


Keduanya masuk ke kamar inap, sudah ada Wulan tengah berbaring sambil disuapi bubur oleh Wahyu. Wanita itu sudah memakai seragam biru pasien.


Clara berdiri sambil memandangi dua keponakannya yang tengah tertidur dalam box.

__ADS_1


"Manis, bagaimana keadaanmu?" Rio langsung menghampiri Wulan yang tengah mengunyah, ia mengecup kening istrinya dengan lembut.


Wulan terbelalak dan langsung terkekeh melihat pakaian mencolok yang Rio pakai. "Hahahaha ... astaga Mas Rio, apa yang Mas Rio pakai?" Wulan memegangi perutnya yang terasa sakit akibat terguncang.


"Ish, kau ini kenapa malah tertawa? Aku 'kan mencemaskan keadaanmu." Rio mendengus kesal. Ia mendudukkan bokongnya pada tempat tidur didekat Wulan.


"Maaf-maaf, Mas. Habis Mas Rio ini lucu sekali." Wulan menyentuh jas yang Rio kenakan sambil kembali terkekeh.


"Kenapa semua orang merasa aneh saat aku memakai pakaian ini? Bukannya ini bagus, kan?" Rio lagi-lagi memuji pakaian dan dirinya sendiri. "Aku sangat tampan memakai inikan, Wulan?"


"Iya, Mas Rio tampan. Tapi alasan memakai pakaian seperti itu apa, Mas? Aku baru tau Mas Rio punya setelan jas kuning mencolok seperti ini." Wulan masih menahan tawa dan memegangi perutnya.


"Ini pakaian baru, Indra yang membelinya. Katanya ... ini sangat cocok untuk menggambarkan hariku yang berbunga-bunga. Tentunya aku memakai pakaian seperti ini demi menyambut si Kembar lahir ke dunia, Manis." Rio tersenyum dengan penuh percaya diri.


Walau terkesan lebay, namun Wulan bisa memakluminya. Mungkin apa yang Rio lakukan sekarang adalah bentuk kebahagiaannya.


Wulan menoleh ke arah box bayi yang tengah di perhatikan oleh Santi.


Ya, saat masuk Santi langsung melihat kedua cucunya. Sebelum salah satu dari mereka Santi gendong, Santi lebih dulu memperhatikan wajahnya. Ia mengingat ucapan dari Wahyu tadi.


Setelah diamati, wajah si Kembar begitu mirip dengan Rio. Tapi memang ada wajah lain yang mirip dengan mereka. Tapi bukan Mawan, melainkan Bayu. Dan Bayu adalah cucunya Mawan, ada kemiripan sedikit diantara mereka.


Santi mengusap-usap dadanya dan menghela nafas dengan lega.


Alhamdulilah, mungkin memang Pak Wahyu hanya salah membedakan saja' batin Santi.


Santi mengambil salah satu dari mereka untuk ia gendong. "Aduh, aduh. Ini Abang atau Adik, ya?" Santi mengecup seluruh wajah si bayi.


"Kamu benar anaknya Ayah Rio? Apa kamu sudah melihat pakaian yang Ayahmu kenakan?" Santi mengobrol dengan bayi mungil itu sambil melihat ke arah Rio. "Mata kamu tidak sakit, kan? Saat melihatnya?"


"Mamah apaan sih?" Rio menimpalinya dengan tatapan tidak suka, mengarah pada Santi.


"Hahahaha ... Ayahmu lebay Sayang. Kamu jangan mirip sifatnya, ya? Sifat dia jelek semua. Tidak ada bagus-bagusnya, kelebihannya hanya tampan saja." Santi kembali mengoceh sambil membawa bayi itu menuju sofa.


"Mamah kok malah menjelek-jelekkan aku di depan anakku, sih? Jangan begitulah Mah." Rio merajuk, lantas dirinya berpindah posisi duduk di sofa, di samping Santi.


"Memang kenapa? Memang itu benar, kan?"

__ADS_1


"Tidak benar. Aku pria yang bersifat baik. Berhati lembut dan penyayang." Rio mencium kening anaknya dan seketika itupun, anaknya terisak tangis.


"Oe ... oe ... oe." Padahal tadi ia tengah tertidur mesti Santi terus mengoceh. Anehnya disaat dicium Rio, ia langsung bangun sambil menangis.


Santi kembali bergelak tawa. "Hahahaha ... anakmu saja tidak percaya, buktinya dia menangis." Santi segera menimang-nimangnya.


"Enak saja Mamah kalau bicara. Dia itu setuju apa yang aku katakan, hanya saja dia belum bisa bicara. Kalau dia sudah bisa, pasti dia selalu memanggilku," sangkal Rio.


"Ayah ... Ayah, kenapa Ayah tampan sekali memakai setelan jas ini? Aku jadi ingin memakainya juga." Rio berbicara dengan nada suara anak kecil, seolah-olah menjadi anaknya sendiri, merengek meminta pakaian yang sama.


Wulan hanya geleng-geleng kepala melihat apa yang Rio ucapkan.


"Hahahaha ... kepedean sekali kau, Rio. Mamah geli deh sama kamu, kamu ganti baju sana." Santi mendorong pelan dada anaknya.


"Geli, lucu, aneh. Kenapa semua orang mengatakan hal itu? Ini pakaian terbagus yang aku punya, aku cocok memakai ini. Bahkan aku akan membelinya lagi, dengan warna yang berbeda!" Rio merasa tak terima dan kesal. Lantas dirinya bangun dari duduk dan keluar dari kamar inap itu.


Ceklek~


"Indra sini kau!" Rio memekik pada Indra yang baru saja lewat.


Pria plontos itu segera menghampiri bosnya, ia menahan tawanya dalam hati saat melihat pakaian yang ia beli untuk Rio.


Kok dia lucu sekali' batin Indra.


"Indra, aku ingin kau jujur padaku."


"Jujur apa, Pak?"


"Apa aku terlihat lucu, aneh dan geli?" Rio memperhatikan penampilannya dan melihat ke arah Indra. Banyaknya orang yang berkomentar, membuat rasa percaya diri Rio memudar.


"Tidak, Pak," jawab Indra berbohong.


"Kau bohong, kan?" tuduh Rio tak percaya.


"Saya jujur, ngapain bohong? Kenapa juga Pak Rio bisa lucu, aneh dan geli? Apa sebabnya?" Indra berpura-pura tidak mengerti.


"Soal jasku ini. Padahal aku sangat menyukainya. Tapi Ayah, Mamah dan bahkan Wulan. Mereka menertawai aku, Ndra," keluh Rio.

__ADS_1


Jangan lupa like 💕


__ADS_2