Menikah Di Atas Perjanjian

Menikah Di Atas Perjanjian
(Season 2) 98. Rio menyebalkan


__ADS_3

"Mamah ini ada apa? Kok tiba-tiba datang langsung menamparku?" tanya Rio seraya menelan saliva begitu kasar.


Santi langsung menerobos masuk dan melihat seisi ruangan Rio, namun kedua matanya tidak menemukan sosok seorangpun didalam.


"Dimana perempuan itu?" tanya Santi menatap mata Rio penuh curiga.


Rio langsung menutup pintu dan menghampiri Santi. "Perempuan? Perempuan siapa? Disini aku hanya sendiri, Mah."


"Kau bohong!" Santi langsung berjalan cepat menuju kamar mandi dan meraih gagang pintu, tapi pintunya dikunci dari dalam.


Tok ... Tok ... Tok.


"Siapa kau didalam?! Cepat buka!" pekik Santi seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


Rio memakai jas yang ia taruh pada senderan kursi putar. "Mamah, Rio sudah bilang tidak ada siapa-siapa didalam."


Tangan Santi langsung mencengkeram leher Rio. "Jangan buat kesabaran Mamah habis! Kenapa sekarang kau begitu menyebalkan Rio!" teriak Santi.


Deg......


"Buka pintunya!" pekik Rio.


Ceklek......


Seseorang itu keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan seragam OB, perempuan berambut pendek sebahu, berkulit putih dan tinggi semampai. Wajahnya tidak terlalu cantik, namun manis. Mempunyai hidung mungil. Dari usianya seperti seumuran dengan Indah.


Rambutnya terlihat berantakan, wajahnya memerah dengan mata yang becek. Ia seperti habis menanggis dan menahan sesuatu. Salah satu tangannya memegang pintu dan yang satunya memegangi perut bagian bawah.


Santi memegangi kedua lengan perempuan itu. "Apa yang Rio lakukan padamu? Apa dia melecehkanmu?"


Deg.....


Perempuan itu hanya diam saja, namun air matanya kini lolos dan ia segera menyeka.


Santi merangkul bahunya mengajak ia untuk duduk di sofa. Namun baru satu kali melangkah ia merasa kesakitan.


"Auw!" Langkah kaki itu tidak jadi di teruskan.


Mata Santi menatap tajam pada Rio, ia seperti sudah mengerti situasi apa saat ini. Namun anaknya itu masih bersikap santai, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Kau pergi dari ruanganku!" usir Rio pada perempuan itu.


Perempuan itu mengangguk, ingin melangkah lagi namun lengannya dipengang erat oleh Santi.


"Kau jangan pergi sebelum jujur padaku! Apa yang Rio perbuat padamu?"


"Maaf, Bu. Tapi saya harus segera ke rumah sakit."


"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Santi.


"Adik saya, Bu. Saya harus segera kesana," jawabnya dengan wajah memelas.


"Oke, tapi jawab dulu pertanyaanku. Apa Rio melecehkanmu?"


"Mamah ini apaan sih? Rio tidak melakukan apa-apa padanya!" tegas Rio.


"Cepat katakan!" desak Santi, tangannya menggenggam erat perempuan itu.


Perempuan itu mendongak, melihat mata Rio yang sedang melotot padanya, membuat bibirnya seakan bergetar.


"Ti-tidak, Bu. Pak Rio ... Tidak melakukan apa-apa padaku," jawabnya dengan rasa ketakutan.


Santi melihat wajah perempuan itu dan wajah Rio, keduanya seperti sedang menutupi sesuatu.


Perempuan ini seperti diancam oleh Rio, kurang ajar sekali dia. Berani-beraninya mengancam perempuan.


Batin Santi.

__ADS_1


"Bu, Pak Rio. Saya permisi," ucapnya pamit.


Kaki itu melangkah dan mencoba untuk menahan rasa sakit pada area sensitifnya.


"Tunggu dulu." Santi langsung menghampiri dia yang baru saja hendak keluar.


Perempuan itu menghentikan langkahnya untuk menoleh. "Adikmu sakit, kan?" tanya Santi lagi.


"Iya."


"Sekarang kita ke rumah sakit, aku ikut." Santi menarik tangannya untuk keluar dari ruangan Rio.


Rio sempat mengejar dan menahan ibunya, namun kedua wanita itu sudah masuk kedalam lift.


Bugghhhh......


Rio menonjok tembok seraya berkata. "Kacau! Kenapa Mamah bisa ada disini!"


***


"Siapa namamu?" tanya Santi.


"Wulan, Bu."


"Kau sudah lama bekerja di sini?"


"Satu tahun."


Ting.....


Bunyi pintu lift itu terbuka mereka langsung berjalan keluar.


"Kau tunggu aku di luar kantor, jangan pergi dulu. Aku ingin menemui anak dan cucuku sebenar," ucap Santi berjalan dari arah lobby menuju ruang HRD.


Wulan berjalan keluar dan menunggunya didepan kantor.


Baru juga sampai kedepan pintu, Santi bahkan belum sempat mengetuk. Antoni sudah keluar dari ruangannya.


"Antoni, dimana Indah?"


Indah langsung menampakkan dirinya disebelah Antoni. "Iya, Mah. Kenapa?"


"Sayang, kamu disini dulu ya? Mamah ada urusan sebentar," ucap Santi seraya mengecup kening.


"Iya, Mamah hati-hati."


"Antoni, kau jaga Indah dan Bayu," ucap Santi.


"Iya, Bu," jawab Antoni.


Santi langsung berlalu pergi meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri di ambang pintu.


Mamah seperti ada masalah? Ada apa ya? Semoga saja semuanya baik-baik saja.


Batin Indah.


"Sayang, jadi tidak kita jalan-jalannya?" tanya Antoni.


"Jadi dong, Pah. Kita sekalian makan siang bareng," sahut Indah.


"Sebentar, Papah mau izin dulu sama Pak Rio, ya?"


"Oke, Pah."


Antoni sudah melangkah pergi, Indah masuk lagi kedalam ruangan Antoni dan menghampiri Bayu yang sedang bermain mobil-mobilan di sofa, Indah duduk disebelahnya.


Tiba-tiba bunyi suara deringan ponsel dari dalam tas jinjing miliknya, ia segera mengambil dan mengangkatnya.

__ADS_1


"Sayang! Kamu ada dimana? Aku sekarang ada di jalan, arah pulang. Kita bisa makan siang bareng, kamu mau makan apa? Biar sekalian aku beliin?" tanya Reymond.


"Aku lagi di kantor kamu, Mas."


"Kantor aku?! Maksud kamu di kantor Rizky?"


"Bukan, kantor Rio maksudku."


"Hei, kamu ngapain kesana. Aku sudah bilang tidak boleh bertemu Rio, bukannya kamu juga bilang takut padanya?"


"Iya, Mas. Tapi aku kesini mau bertemu Papah Antoni. Dan tadi kesini sama Mamah."


"Yasudah sekarang pulang saja, aku tunggu kamu di rumah. Ya?"


"Mas, aku ingin jalan-jalan sama Papah Antoni. Dia mengajakku ke taman. Yang dulu aku, kamu dan Mamah Sarah waktu itu. Aku juga mau kesana Mas, sudah lama sekali. Bagaimana kita ketemu disana saja, sekalian makan siang bareng."


"Sayang, ini darurat. Aku ingin sekali tempur denganmu. Aku sudah tidak tahan rasanya, sekarang aku ke kantor Rio dan menjemputmu, ya?"


"Tapi, Mas ....,"


Tut ... Tut ... Tut.


Sambungan telepon itu langsung terputus dan tak lama Antoni datang. Tapi bersama dengan Rio.


Mata Indah terbelalak, wajahnya seperti tak menyukai kehadiran Rio.


Rio tersenyum kearah Indah. "Indah, kamu ingin ke taman? Kebetulan aku juga ingin kesana, sekalian menjernihkan otak. Aku ikut bersama kamu, Bayu dan Pak Antoni, ya," pinta Rio.


"Aku tidak jadi kesana," jawab Indah.


"Kenapa sayang? Kamu ingin pindah tempat? Kemana?" tanya Antoni.


"Kayaknya jangan hari ini deh, Pah. Lain kali saja, lagian aku inginnya pergi bertiga dengan Papah dan Bayu. Tidak mau mengajak orang lain," ucap Indah seraya melirik sekilas pada wajah Rio.


"Yasudah, kamu mau pulang atau bagaimana? Tadi Bayu bilang bosen."


"Bayu mau ulang, Opa," jawab Bayu.


Rio mendekati Bayu seraya mengendong-nya, "Biar Om Rio yang antar ya?"


"Iya, Om," sahut Bayu.


Indah bangun dari duduknya, "Tidak, usah. Aku di jemput Mas Reymond."


"Ngapain minta di jemput orang yang belum datang, lebih baik aku saja yang mengantar kamu dan Bayu pulang," ujar Rio seraya berjalan keluar dari ruangan Antoni sambil menggendong Bayu.


"Rio, tunggu ....," panggil Indah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Yuk mumpung hari Senin, yang banyak poinnya dan ikhlas untuk mendukung karya Author silahkan di berikan. Berupa vote, hadiah dan likenya.... Terima kasih ❤️


^^^Kata: 1040^^^


__ADS_2